TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
7. Obat alternatif


__ADS_3

"Dari mana saja jam segini baru pulang?"


Dehan sudah berdiri di depan pintu rumah sambil menyimpangkan tangannya di dada. Tak lupa dia juga memberi sorot mata seakan mengintimidasi ku yang baru pulang dari rumah tabib.


"Kan aku bilang pergi ke rumah tabib bersama Shelly" jawabku menatap matanya


"Masuk!"


Dia menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumah lalu menjatuhkan tubuhku di atas sofa, kemudian Dehan menindihnya.


"Kau tahu suamimu ini sedang lapar?"


Aku hanya mengangguk mengerti, hendak berdiri tapi di tahan oleh Dehan.


"Siapa tabib itu? perempuan atau laki-laki??"


"Perempuan"


Dehan sedang cemburu. Tak biasanya dia seperti ini, asal kau tahu Dehan! aku juga cemburu saat mengingat pesan kemarin.


"Oh, lantas itu apa di tanganmu?"


Aku langsung menjelaskan apa yang terjadi saat tadi pergi ke tabib, wajah Dehan yang tadinya kesal berubah menjadi tersenyum sambil mengelus rambutku.


"Sekarang kita tidur yuk? Aku ngantuk tau ga ada yang bisa dipeluk"


"Dasar modus!" ucapku bercanda


Lalu kamipun segera masuk kamar, tak lupa sebelumnya aku juga membersihkan diri sembari rebahan aku bercerita tentang Shelly dan anaknya Sara tadi. Dehan hanya mendengarkan tapi tak lama kemudian dia tak ada respon lagi, saat kulihat wajahnya ternyata sudah tidur tanganku mengelus wajah tampan Dehan yang sudah masuk ke alam mimpi betapa tampannya suamiku.


"Mas Dehan.. Ku harap semua pikiran buruk ku tentang mu itu hanya khayalan. Tetaplah menjadi Dehan yang ku kenal dua tahun lalu"


Aku berbicara sendiri sambil menatap wajahnya dan tak lupa mengecup bibir serta jidat Dehan sekilas, hingga akhirnya aku mengantuk dan tertidur pulas.



Aktifitas kami seperti biasa, Dehan yang sudah siap dengan peralatan kantornya dan aku yang sedang menguncir rambut di depan meja rias. Walaupun aku bangun subuh untuk sholat tapi nyatanya aku lebih suka santai terlebih dahulu sebelum jam 6, setelah itu baru siap-siap untuk bekerja.



Dehan mengantarku ke TK, hari ini aku tidak membawa mobil karena pas pagi saat aku menyalakannya malah tidak bisa.



"Sayang. Siang ini jangan mengantarkan makanan lagi ya, aku sudah bisa pergi ke kantin sendiri" kata Dehan



"Iya, tapi mas jangan makan sembarangan nanti sakit perut"


__ADS_1


"iya sayang ku"



Dehan mencium bibirku sekilas dan aku pun membalasnya singkat, karena sudah siang Dehan langsung pergi meninggalkanku begitu saja. Lantas, aku masuk ke dalam gedung sekolahan menghirup nafas kasar dan membuangnya. Oh astaga! Aku sangat mencintai pekerjaanku menjadi guru anak-anak saat ini.



"Selamat pagi bunda Rania!" ucap anak kecil di samping ku



"Pagi juga Sara! Kau semakin cantik saja hihi"



Aku menyukai anak Shelly bukan karna dia anak sahabatku saat di sekolah, karena Sara ini cerdas dan kreatif. Meskipun dia baru pindah aku melihat catatannya dulu dia pernah ikut lomba bernyanyi, menggambar dan matematika.



"Bunda, ini dari Mama aku"



Sara memberikan paper bag kecil untukku, saat aku membukanya ternyata itu adalah obat-obatan. Ada secarik kertas di sana kemudian aku membacanya dalam hati




Kata-kata dari Shelly membuatku tersentuh tak terasa air mataku menetes sedikit dan membuat Sara memeluk ku.



"Bunda? Mama kasih hadiah bohongan ya?" tanya nya polos



Aku langsung berjongkok lalu memeluk Sara dan menatap matanya



"Sara sayang, bunda sangat senang sekali memiliki teman seperti Mama mu dia orang baik bunda suka sekali hadiahnya. Bilang ke Mama ya kalo bunda suka"



"Asyiiik!!!" Sara berucap seperti itu sambil berlari-lari kecil menuju kelasnya



Aku masih memperhatikan gadis kecil itu sampai masuk ke kelasnya, mungkin jika aku memiliki anak suatu saat nanti akan seperti Sara. Entahlah, aku hanya berharap pada Tuhan

__ADS_1



Sesampainya di kantor Dehan langsung memanggil Gladys untuk segera keruangan nya.


"Ada apa sih yang? Puas kamu kemarin liburan sama si mandul?" ucap Gladys sambil cemberut manja


"Jangan bikin aku pusing by bisa gak?!" jawab Dehan dengan nada sedikit membentak


"YA LAGIAN KAMU KAPAN PISAH SAMA CEWEK KAYA RANIA SIH??"


"KITA PUTUS!"


Dehan pergi meninggalkan Gladys di ruangannya sendirian. sedangkan wanita itu masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan kekasihnya itu. Dengan perasaan sakit hati Gladys membuka aplikasi sosial media di ponselnya, kemudian mencari Instagram Rania untuk mengirimkan foto dirinya tengah bermesraan dengan Dehan.



"Apakah orang seperti ini pantas dijadikan suami? Hey wanita mandul! Dia sering tidur denganku dan kami sudan bersama sejak satu tahun terakhir"


Gladys mengetik pesan itu lantaran sakit hati, memang wanita tidak tahu malu!


Disisi lain Rania sedang sibuk mengajar anak-anak TK di ruang kelas musik, Rania memang wanita multitalenta walaupun dia tidak pandai dalam urusan rumah tapi dia akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Dehan. Setelah beberapa jam kemudian, kelas musik pun berakhir. Rania mengecek handphonenya dan melihat DM Instagram dari baby sinner


Sontak kedua mata Rania membelak kaget dan penasaran dengan apa yang ia kirimkan, saat membuka file dia melihat Dehan sedang memeluk wanita.


DEG!


Hati Rania langsung sakit dan sesak. Bagaimana tidak, dia mati-matian menepis pikiran buruk tentang suaminya sendiri bahkan dia menahan rasa kecurigaannya selama bertahun-tahun. Tapi sekarang? Sepertinya takdir sedang mempermainkan perasaan Rania. Dia langsung berlari ke toilet dan menangis kencang berharap bisa meredakan sakit hatinya, namun tidak sama sekali.


"Hiks... A--ku sudah mendapatkan jalan... Un--tuk hamil mas... Tapi... Mas Dehan huhu hiks..."


Rania tidak kuat lagi, dia menjadi tidak mood untuk mengajar kelas selanjutnya. Maka ia segera menghapus air matanya dan pergi ke ruang guru untuk izin selama dua hari, kemudian Rania memangil taksi dan membawanya ke rumah Ibu. Dia tidak ingin pulang ke rumah bahkan untuk melihat Dehan pun rasanya malas sekali, selama perjalanan Rania hanya bisa menangis sesenggukan sambil melihat ke arah jendela.


...'Mas Dehan.. Jika kau sudah kecewa terhadapku karna anak mengapa kau melakukan jalan seperti ini? Aku merasa gagal menjadi seorang wanita'. batinku...


Setelah sampai aku langsung masuk ke dalam rumah dan mencari Ibu. Ternyata dia sedang memandang ke arah sawah ditemani dengan pengasuh yang sengaja dipekerjakan oleh Dehan untuknya.


"Ibuuu...."


Aku memanggilnya kencang sambil menangis menghampiri ibu, tapi sayang pendengaran Ibu tidak sejernih dulu karena sekarang ia sakit-sakitan. Aku memeluk tubuh ibu dan dia kaget dengan kedatanganku yang tiba-tiba


"Rania?? Kapan kau datang sayang?"


Pertanyaan ibu tidak ku jawab, aku masih ingin memeluknya sambil menangis kencang.


"Kau kenapa? Kemana suami mu?"


Aku mengangkat wajahku untuk melihat wajah keriput yang sangat ku sayangi


"Ibu.. Rania ingin tinggal di sini bersama ibu saja tanpa mas Dehan boleh ya?"


Ibu sedikit heran, biasanya aku berkunjung ke sini bersama suamiku tapi kini mungkin hanya aku sendirian. Bahkan ibu dari tadi mencari-cari keberadaan Dehan, karena baginya Dehan itu menantu yang tersayang sudah dianggap anak sendiri dan Dehan pula lah yang Ibu percaya untuk mengasuh Rania.

__ADS_1


__ADS_2