TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
60. Curhat


__ADS_3

Selama 3 hari Rania di rawat akhirnya ia bisa pulang juga ke rumah, Derana sudah sembuh sebelum Rania lepas infus. Dehan menuntun tubuh Rania karena ia masih sedikit lemas


"Sayang duduk sini dulu ya, aku buatin minuman buat kamu"


Dehan membuat minuman detox yang ia racik sendiri pagi tadi sebelum Rania pulang ke rumah, sembari menunggu Dehan ia juga bermain dengan Derana.


"Ini sayang diminum. Aku bikin nya dengan susah payah loh"


Terbukti, karena Rania melihat potongan jeruk lemon yang tidak rata serta sereh yang di geprek sampai hancur membuat minuman itu terlihat seperti air kobokan.


"Serius ini minuman?"


"Iya"


Rania pergi ke dapur untuk menyaring minuman yang dibuat oleh Dehan, setelah itu Rania meminum nya.


"Ini baru minuman"


Dehan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia malu sendiri karena minumannya.


"Tapi gak apa-apa mas, aku hargain usaha kamu buat minuman detox ini. Makasih ya"


Rania mencium pipi Dehan, ia melihat rak makanan dan membuka kulkas. Ternyata sudah banyak snacks, susu Ibu hamil, susu Derana, bahkan sampai minuman kesukaan Rania juga Dehan membelinya banyak.


"Kamu beli susu ibu hamil juga?"


"Iya sayang, aku beli buat kamu"


Rania memeluk Dehan, ia sangat terharu pasalnya dulu saat hamil Derana ia sama sekali tidak dipedulikan oleh Dehan.


"Mas, aku sayang kamu. Jangan tinggalin aku lagi, baru kali ini aku hamil ditemenin suami"


"Maafin aku yang kemarin ya, aku khilaf Rania. Sekarang aku mau nebus semuanya, aku mau bahagia in kamu sama Derana"


Dehan mengelus rambut Rania


"Kamu makin cantik kalo lagi hamil"


Dehan menghapus air mata istrinya dengan lembut sesekali ia juga menciumi wajah cantik Rania. Di tengah mereka bermesraan, telfon Rania berbunyi dengan cepat ia mengambilnya, tertera nama Lisa di sana.


"*Hallo Lis? Ada apa? Ibu baik-baik saja kan?"


"Ran.... Ibu pendarahan*"


"HAH APA??? AKU SEGERA KE SANA YA!"


Rania mematikan telfonnya, kemudian memanggil Dehan


"Mas ayo ke rumah sakit sekarang!"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Ibu pendarahan"


Dengan segera Dehan membereskan baju serta menyiapkan mobil, siang itu juga mereka berangkat ke Jakarta. Padahal Rania baru pulang dari rumah sakit, selama perjalanan Rania berdoa kepada Tuhan agar ibunya baik-baik saja.


...****************...


Benar saja Ibu sedang melakukan transfusi darah dengan keadaan koma. Rania hanya bisa menangis melihat keadaan ibunya, Dehan terus berada di samping Rania untuk menenangkannya. Sedangkan Derana, Lisa ajak ke rumah karena masih kecil.


"Ibu bangun, Rania lagi hamil lagi hikss..."


Rania masih menangis terisak-isak, ia ingin sekali melihat ibunya sehat kembali seperti dulu. Dehan juga ikut mengelus tangan Ibu mertuanya


"Ibu maafkan Dehan yang dulu, aku ingin kembali menjadi pria yang pernah Ibu banggakan seperti dulu. Dehan janji akan menjadi suami yang baik untuk Rania, aku sangat mencintai nya bu"


Ibu masih saja betah dengan keadaan koma nya disusul dengan pendarahan yang tiba-tiba terjadi. Ditengah menangis Rania merasa pusing dan lemas, ia pingsan saat itu juga


"Sayang, kamu kenapa? Kak Rangga aku bawa Rania sebentar ya"


Dehan membopong tubuh Rania ke ruangan UGD karena ia takut janin dalam kandungan Rania kenapa-napa. Rania dibaringkan di ranjang kemudian dokter memeriksa, ternyata Rania hanya kecapekan maka Dehan menunggu Rania siuman.


Setelah beberapa saat Rania bangun dari pingsan melihat ke arah Dehan


"Mas, Ibu mana?"


"Tenang sayang, kamu jangan terlalu dibikin panik. Kasian adik yang di sini"


Dehan mengelus perut Rania yang belum besar, Rania yang menyadari langsung terdiam


"Maaf ya mas, aku terlalu khawatir ke Ibu padahal aku lupa kalau aku juga sedang hamil"


"Bu, jangan bikin Rania panik lagi ya? Aku takut ibu kenapa-napa. Ibu harus bertahan lama untuk melihat anak kedua Rania"


Rangga melotot ke arah Rania, ia baru tahu jika Rania hamil. Mungkin Lisa tidak memberitahu Rangga atau lupa


"APA??! KAU HAMIL LAGI??"


Ucap kak Rangga kaget


"Iya kak aku hamil lagi"


Rangga menarik kerah kaos Dehan, kemudian menyeretnya ke dinding


"Bisa-bisanya kau membuat adik kesayanganku tokcer lagi? Pakai apa kau??!"


"Sa---bar kak, nanti aku kasih tipsnya"


Rania memisahkan tom and jerry


"KAK RANGGAAA!!! Jangan gitu ke mas Dehan!"


"Ran, sumpah kamu kok bisa??"

__ADS_1


Rangga masih heran dengan Rania, karena setahu dia Rania itu bermasalah di rahimnya.


"Ya bisa lah, mungkin udah kuasa Tuhan. Mas Dehan juga hebat mainnya, ditambah aku lepas KB dua bulan lalu"


Rangga menarik tangan Dehan


"Sepertinya kita harus bicara sebagai laki-laki"


Kemudian Rangga melihat ke arah Rania


"Rania, aku pinjam Dehan dulu. Aku janji tidak akan memukulnya"


Dehan dan Rangga pergi meninggalkan ruangan Ibu, hanya tinggal Rania seorang diri. Maka ia meraih tangan Ibu sambil mengelus-elus


"Ibu... Rania sayang banget sama ibu, ibu bangun ya? Rania pengen buatin Ibu kue lagi, buatin jamu lagi, kita curhat kaya dulu pas Derana masih kecil. Ibu, aku hamil anak kedua dari mas Dehan. Sekarang mas Dehan juga jagain aku bahkan dia beli sayur+buah banyak buat bumil katanya. Hihi... Mas Dehan gemes ya bu, dia perhatian sama aku"


"Oh ya, ini juga kehamilan pertama aku bisa rasain kasih sayang dari suami. Ibu kan tau waktu aku hamil Derana, mas Dehan masih brengsek. Tapi bagiku Derana juga anak spesial, karna nya aku belajar jadi Mama yang baik dan ia juga penyemangat ku. Do'akan aku ya bu, semoga anakku perempuan lemah lembut seperti Ibu"


Rania terus menerus curhat masalah hidupnya sekarang yang mulai bahagia dengan Dehan. Selang beberapa menit kemudian Dehan dan Rangga masuk ke ruangan ibu, Rangga menyuruh mereka untuk pulang.


"Sudah sore, kalian pulang gih! Pasti capek kan"


"Aku mau tinggal di rumah kak Rangga dulu!"


Rania ingin tinggal beberapa hari di Jakarta


"Terus nanti sekolah Derana bagaimana?" tanya Dehan


"Sekolah Derana kan bisa hybrid, nanti aku telfon gurunya kok mas"


Ucap Rania masih ngotot


"Okey, kalo itu mau kamu. Aku ke Bandung sendiri"


Dehan tidak memaksa Rania kali ini, ia harus mengalah demi kesenangan Rania. Lagipula di rumah Rangga banyak art jadi Dehan tenang meninggalkan istrinya untuk sementara waktu


"Sayang, aku pergi dulu ya? Kalo ada waktu luang/kantor ga padat aku pasti ke sini buat tengokin kamu sama Derana"


"Kok berdua doang sih?"


Dehan menyatukan alisnya heran


"Apanya?"


"Sekarang absen aku nya 2 kali mas, liat nih"


Rania meraih tangan Dehan untuk mengelus perutnya


"Iya.. Papa juga bakal tengokin calon adik Derana juga kok"


Dehan memeluk tubuh Rania, mencium aroma tubuhnya penuh hasrat serta mengecup bibir Rania sekilas

__ADS_1


"Aku mencintaimu, jangan nakal. Aku akan kembali beberapa hari lagi ya Mama Rania"


"Hati-hati di jalan papa Dehan sayang"


__ADS_2