
Aku memulai kehidupan baru di Jogjakarta, setiap pagi-sore hari Senin-Jumat bekerja di pabrik. Lalu weekend nya mengajar para turis menari di sanggar milik Bu Dwi. Setidaknya selama dua minggu ini aku menikmatinya dengan tenang tanpa Dehan, meskipun aku merindukannya sesekali tapi aku menepis pikiran itu. Soal kehamilan? Aku rajin meminum jamu tradisional dan obat yang diberikan oleh Shelly, meskipun aku belum melakukannya dengan Dehan mungkin nanti.
Selama itu juga, aku ke sana kemari mencari keberadaan kakak ku bahkan aku mencari nama-nama yang mengandung nama Rangga Gandhi Wardhana. Kak Rangga, aku yakin akan menemukan mu suatu hari nanti.
"Rania! Kemari nak!"
Ibu Dwi memanggilku untuk mengajarkan tarian kepada tamunya.
"Tolong ajarkan tarian pada tamu spesial ku"
Seorang wanita cantik sedang tersenyum ke arahku, lalu menjabat tangannya.
"Hay! Namaku Lisa"
"Aku Rania, senang bertemu denganmu dan aku akan mengajarkan mu tarian selama di sini. Semoga kita bisa berteman baik ya"
Ucapku ramah dan kami juga saling tersenyum manis. Aku juga melihat Lisa dari ujung rambut hingga kaki, sepertinya wanita ini bukan dari kalangan orang bawah bahkan bajunya saja bermerek Gucci dan dia juga kemari menggunakan mobil Range Rover. Tanpa pedulikan itu, aku langsung saja mengajari Lisa tata cara menari dari gerakan dasar hingga yang sulit.
Lisa benar-benar lentur sudah seperti penari profesional hingga membuatku takjub dan bertanya
"Gerakan mu bagus. Apa sebelumnya kau sudah menari?"
Lisa mengangguk
"Iya Ran, aku dulu sering balet di Amerika. Tapi karena aku sudah menyelesaikan pekerjaan di sana dan pindah membuka usaha di Indonesia."
Aku mengerti sekarang kenapa pakaian dan mobil Lisa mewah ternyata dia seorang pengusaha.
"Lalu apa alasanmu belajar menari di sini?"
Lisa tersenyum manis sambil menatap ku
"Sebentar lagi aku akan menikah dengan seorang pria yang sangat ku cintai, dan aku sangat ingin menari tradisional di pernikahan kami"
Aku membalas senyuman Lisa dan langsung teringat akan pernikahan ku dulu bersama Dehan, saat itu aku tidak ingin menjadi seorang istri tapi lama-kelamaan aku mulai mencintai Dehan. Tak terasa air mataku menetes jika mengingat Dehan dan sekarang aku membencinya karena kelakuannya
"Rania jangan menangis... Kenapa? Apa ada hal yang membuatmu trauma dengan pernikahan? Atau apa kau sudah menikah?" tanya Lisa panjang lebar
"Lisa... Sebenarnya aku sudah menikah selama dua tahun, tapi saat ini aku sedang menghindari suamiku. Aku pergi dari Bandung dan tinggal di sini sendirian, bahkan aku mengganti nomor telepon agar ia tidak menghubungi ku lagi tapi hari ini aku merindukannya"
Lisa mengusap bahu dan menegangkan ku
"Jika kau masih mencintainya tak apa untuk kembali bersama, tapi jika dia sudah membuat hatimu sakit lebih baik tinggalkan saja. Apakah kalian sudah berbicara kata cerai atau talak?"
Tanyanya membuatku sedikit kaget, benar juga aku belum pernah berpisah dengan Dehan.
__ADS_1
"Belum"
"Rania... Aku akan membantumu jika ada kesulitan, kita harus berteman hari ini oke?!"
Lisa sangat baik padaku, bahkan dia melihatku sebagai teman padahal ini hari pertama kami bertemu.
"Kita baru bertemu sehari.. Masa kau dengan mudahnya mengganggap orang lain sebagai temanmu?"
"Aku tidak peduli tentang hari, usia, profesi atau apapun itu aku melihat pancaran matamu dan hatimu. Kau orang yang baik Rania lagipula kita hanya berbeda beberapa tahun kok"
Aku hanya mengangguk mengerti, Lisa benar-benar orang yang baik. Kami bertukar nomor ponsel dan mengobrol tentang banyak hal, tapi aku tidak ingin membicarakan tentang pasangan kami yang jelas Lisa adalah teman keduaku di Jogja setelah Bu Dwi.
Tak terasa hari sudah mulai malam, sebelum pulang ke kosan kami makan bersama di angkringan. Kau tahu, angkringan yang kami datangi ini adalah angkringan yang kemarin aku dan Dehan kunjungi. Aku makan di sini sambil mengingat Dehan, jujur saja aku merindukannya sangat!
"Rania! Jangan melamun saja, nanti nasinya nangis loh"
Suara Lisa membuyarkan lamunanku
"Eh... Maaf aku hanya memikirkan sesuatu"
"Sudah yuk makan!"
Kami makan bersama sambil mengobrol sesekali, setelah itu Lisa mengantarkan ku pulang ke kosan. Dia bilang akan mengajak ku kerja di tempatnya, daripada menjadi buruh di pabrik. Aku sangat senang sekali bisa mengenal Lisa bahkan aku telah berhutang budi banyak padanya.
"Hallo? Ini siapa?"
Tanya Galih sopan
"Ini aku Dehan Kavindra! Yang kemarin kita bertemu di Palembang"
"Oh Dehan itu hahaha... Iya aku baru ingat, ada apa pak Dehan?"
__ADS_1
Aku sedikit menarik nafasku dan membuangnya sebelum meminta bantuan dari Galih
"Jadi begini... Bisakah aku meminta tolong darimu?"
Sempat tidak ada jawaban sesaat dari Galih, membuat Dehan sedikit ragu tuk meminta bantuannya.
"Boleh saja, apa yang harus ku lakukan?"
"Istriku sudah dua minggu kabur dari rumah, aku sudah mencarinya kemana-mana tapi nihil bahkan pihak polisi akan menutup kasus ini. Aku meminta tolong padamu untuk mencari Rania, lagipula kau pasti banyak kenalan bisnis di setiap daerah. Tolong aku Galih"
Hanya Galih satu-satunya harapanku untuk mencari Rania, ku mohon Tuhan kali ini saja berikan Rania padaku. Berat badan ku turun lima kilo karena memikirkan Rania, aku sudah memutuskan hubungan gelap dengan Gladys.
"Oke! Tenang saja aku akan membantumu brother"
Akhirnya ucapan ini yang ku tunggu-tunggu dari Galih.
"Alhamdulillah... Terimakasih Galih!! Aku sangat berhutang budi padamu"
"Tenang saja pak Dehan.. Istrimu akan segera bertemu dengan rekan-rekan bisnis ku"
Aku banyak mengucapkan terimakasih kepada Galih, bahkan tak henti-hentinya bersyukur atas apa yang tengah terjadi. Lantas aku segera menemui bunda dan ayah untuk memberitahu bahwa temanku akan membantu mencarikan Rania, mengingat kedua orangtuaku juga sangat khawatir terhadap Rania. Bagi mereka Rania menantu yang baik dan bisa diandalkan, walaupun istriku tidak jago memasak setidaknya dia sudah belajar menjadi wanita yang baik, aku sering merasa tidak pantas dijadikan suami.
Rania walau bagaimanapun Dehan akan setia dan tidak pernah ada kata cerai di pernikahan kalian. TIDAK! Dehan tidak akan pernah melepaskan Rania sampai kapanpun, dia wanita terbaik diantara yang baik bagi Dehan. Dehan serasa tak pantas disebut sebagai suami tapi meskipun begitu, ia akan berusaha keras untuk menjadi pria sejati kali ini.
__ADS_1
Semoga saja ucapnya terbukti dengan tindakan bukan dengan kata-kata seperti buaya di jaman sekarang.