
Setelah menginap semalam di rumah bunda, keluarga kecil Dehan pulang ke rumahnya. Rania semakin manja dengan Dehan, entahlah mungkin bawaan hamil. Dehan masih saja dikirimi pesan teror padahal semalam sudah meminta bantuan teman ayahnya.
"Kenapa mas?"
Tanya Rania
"Gak apa-apa kok sayang, ini aku lagi check saham. Ternyata saham ku turun 10%"
Rania hanya mengangguk sambil mengelus tangan Dehan
"Jangan sedih gitu dong mukanya mas, itu cuma saham.. Nanti kan kita bisa cari uang lagi, insyaallah rezeki gak kemana"
Dehan tersenyum getir melihat Rania, ia tidak ingin istrinya khawatir dengan keadaan nya.
"Iya sayang... Kamu udah minum susu ibu hamil belum?"
"Udah, aku bareng minum nya sama Derana tadi"
Rania memeluk tubuh Dehan, terasa nyaman hingga Dehan melupakan beban pikirannya sesaat. Ia mencium rambut coklat Rania kemudian mengelus lembut perut Rania
"Aku mencintaimu Rania sayang, aku merasa nyaman jika kita seperti ini"
"Aku juga mas Dehan"
Rania semakin mengeratkan pelukannya, tapi dua menit kemudian ponsel Dehan berdering nyaring tanda ada panggilan masuk. Dehan meraih nya ternyata itu dari perusahaan nya.
"Hallo?"
"PAK DEHAN!! GAWAT PAK!! KANTOR KEBOBOLAN MALING PAK!!"
"APA??! Saya segera ke sana!"
Dehan mematikan ponselnya, kemudian melihat wajah Rania
"Sayang, aku ke kantor dulu ada urusan mendadak. Kamu jaga rumah sama Derana, bentar lagi bi Ijah datang"
Dehan mengecup kening Rania sekejap, langsung pergi berlari ke kamar untuk mengambil jaket dan celana jeans. Tak lupa ia juga mengambil kunci mobilnya di laci meja kerja.
"Mas Dehan kenapa? Kok buru-buru amat?"
Rania masih bingung dengan sikap suaminya sendiri, tapi mungkin itu hal yang sangat penting. Dehan menyalakan mobilnya lantas langsung tancap gas menuju ke kantornya.
"Please... Jangan macet"
Dehan khawatir jika yang diambil itu berkas-berkas penting seperti cek perusahaan, data tentang perusahaan atau yang lebih parah keuangan dari beberapa direksi yang sudah memasok saham pada perusahaan nya. Setelah sampai di kantor, satpam beserta dua orang staff menyambut Dehan
"Bagaimana? Ada yang hilang?"
Tanya Dehan
__ADS_1
"Itu pak... Data klien yang kemarin hilang, laporan keuangan perusahaan, dan berkas-berkas penting untuk eksportir hilang juga pak"
Dehan lemas mendengar penuturan dari staff, pasalnya semua itu dokumen berharga bagi Dehan. Ia berspekulasi bahwa pencurinya bukan orang biasa pasti orang itu tahu seluk beluk perusahaan Dehan.
"Pak boleh cek cctv?"
"Boleh pak bos, silahkan"
Satpam mengantarkan Dehan ke ruangan cctv, hasilnya nihil. Di saat pencuri itu melakukan aksinya cctv tidak merekam bahkan listrik perusahaan padam dan menyala di waktu subuh. Dehan frustasi ia mengacak-acak rambut serta wajahnya.
"Lalu kita harus bagaimana pak?"
Tanya salah satu staff
"Laporkan pada polisi, biar dokumen jadi tanggungjawab saya"
Dehan melangkah pergi ke ruangannya. Di sana ia menangis tersedu atas kejadian yang menimpa perusahaan nya, Dehan mengirimkan email kepada para direktur serta klien untuk diadakan meeting lusa depan. Ia akan menjelaskan tentang perusahaan yang baru dibobol oleh penjahat.
"Aku harus bagaimana hikss...."
Di tengah tangisannya, ponsel Dehan menyala tanda ada pesan masuk. Lantas ia membacanya
"Bagaimana rasanya diambang kebangkrutan?"
Lagi-lagi Dehan menerima pesan yang membuat nya makin naik pitam. Ia menghajar meja kerja yang membuat jari Dehan berdarah, tak puas di situ Dehan melampiaskan kekesalannya pada dinding tembok.
Dehan mengumpat kesal, dia benci siapapun yang telah menghancurkan perusahaan. Semenit kemudian ponselnya berbunyi lagi, orang itu mengirimkan pesan
"Sekarang tinggal membereskan istri dan anakmu. Rania dan Derana, sumber bahagia mu akan lenyap sebentar lagi"
Dehan yang kesal tiba-tiba meraih ponselnya dan menelfon nomer yang mengirim pesan seperti tadi. Namun nomor tersebut tidak aktif lagi, Dehan semakin gusar lantas ia menelepon istrinya
"Hall--"
"SAYANG KAMU DIMANA? KAMU GAK KENAPA-KENAPA KAN? DERANA SAMA KAMU GAK??"
Teriak Dehan sambil khawatir
"Aku di rumah mas sama Derana juga. Oh iya, bi Iroh baru aja datang. Itu pembantu rumah kita yang baru kan?"
Dehan menghembuskan nafasnya, ia merasa tenang jika istri dan anaknya di rumah.
"Syukurlah... Aku takut kamu kenapa-kenapa, iya sayang bi Iroh pembantu baru aku dapet rekomendasi dari teman kerjaku. Kamu jangan keluar rumah sebelum aku pulang ya sayang, Derana juga gak boleh main sepeda dulu sama teman-teman komplek nya okey??"
Rania terdiam sejenak, kemudian membalas
"Iya mas sayang... Kamu gak usah khawatir aku baik-baik aja kok hihi... Mas di kantor aman kan?"
Dehan tersenyum di balik ponselnya
__ADS_1
"Aman kok, cuma ada problem sih sedikit tapi aku pasti bisa handle semuanya"
Dehan berbohong pada istrinya, karena jika ia jujur pasti akan membuat Rania makin khawatir. Apalagi Rania itu tipe orang yang selalu kepikiran sepanjang waktu, ia akan memikirkan semuanya sendirian. Makanya Dehan tidak ingin menambah beban istrinya apalagi ia sedang hamil besar.
"Semangat terus suamiku!! Aku sama anak-anak selalu dukung kamu mas Dehan sayang!! I love you so much Papaaa!!"
Karena ucapan itu hati Dehan mulai tenang kembali, ia baru merasakan sakit di tangannya.
"Aaaarrghh ssshhh.."
"Kamu kenapa?" tanya Rania
"Oh, ini tadi aku abis jatuh di tangga karena buru-buru"
"Iihh.. Mas mah ada-ada aja, ada p3k kan di kantor kamu?"
"Ada sayang"
"Ya udah, sementara pake itu aja dulu. Nanti di rumah aku obatin ya mas, sekalian dapet plus-plus nya"
Dehan yang mendengar penuturan Rania langsung tersenyum mesum
"Hehehe boleh dong nanti balik ngantor kita---"
"Boleh dong, udah sana kerja! Biar cepat kelar kerjaannya. BYE! Assalamualaikum!"
"Walaikumsa---"
Belum selesai menjawab salam Rania, sambungannya sudah dimatikan duluan oleh Rania. Dehan tersenyum manis sekali ia merasa lega mendengar suara istrinya, di waktu itu pun luka di tangan Dehan mulai terasa sakit sekali. Dehan melihat tangannya sudah berlumuran darah
"Aaaarrghh.. Pantas saja perih, ada serpihan kaca menancap di jariku"
Dehan langsung pergi ke ruangan kesehatan, ia memanggil staff yang ada di sana untuk membereskan lukanya di tangan kanan. Staff laki-laki itu dengan perlahan membersihkan luka Dehan, sedangkan ia hanya bisa meringis kesakitan.
"Pelan-pelan, aarrgghh perih..."
"Sebentar bos Dehan, kenapa bisa jadi begini pak?"
Dehan diam saja sambil meringis kesakitan
"Tidak usah dijawab pak, saya sudah bisa memprediksi emosi bapak"
Sambil membersihkan luka, Dehan bertanya kepada stafnya
"Kamu tau ga sama nomor di sini?"
Dehan menunjukkan nomor yang akhir-akhir ini meneror keluarganya.
"Tidak tau pak, itu kayanya nomor dari luar negeri. Tapi nanti saya tanyakan pada bagian IT untuk melacaknya"
__ADS_1