TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
50. Liburan yang tidak tenang (2)


__ADS_3

Sore hari Derana bermain di pantai bersama kedua orangtuanya, sungguh pemandangan yang indah bagi sebagian orang. Keluarga yang harmonis dan bahagia, sekali seumur hidup baru di rasakan Rania masa lalu kelam mengajarkan nya bahwa di depan pasti akan indah.


Mereka tertawa-tawa sambil bermain ombak, Dehan sesekali menggendong Rania yang takut dengan ombak agar Ibu satu anak itu tidak penakut lagi. Sebesar apapun kekuatan Rania memberontak namun Dehan berhasil mengalahkan nya, Derana yang menyaksikan itu malah menarik tangan Rania agar ikut berenang bersama-sama.


"Mama sini.. Ayok! Belenang sama dede"


"Mama takut aaahahaha"


Derana memakai pelampung khusus snak kecil, setelah dirasa cukup Rania memberanikan diri untuk berenang kapan lagi pikirnya bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini.


"Asyiiik Mama udah belenang!! Papa liatt"


Dehan tersenyum bangga dengan keberanian Rania, satu tangannya ia memegang pelampung Derana satu tangannya lagi memegang pinggang ramping Rania agar wanita tersayangnya tidak tenggelam.


"Jangan takut air, selagi ada aku kamu aman cantik"


"iih bukan gitu mas, waktu aku SD pernah terbawa ombak pas berenang di pantai"


"Sekarang kamu punya aku.. Aku pastikan ga akan ada yang bisa membahayakan kamu"


Rania menatap Dehan, Dehan juga tersenyum saat memandang wajah istrinya.


"PAPA LIAT DI BAWAH KAKI AKU ADA KEPITING KECIL"


Teriakan Derana membuyarkan suasana romantis suami-istri tersebut


"Kita harus tau waktu kalo mau romantis mas!"


Gagal sudah membuat Rania salah tingkah, Dehan tadinya ingin memeluk tubuh Rania di dalam air sambil berciuman seperti di film-film yang pernah ia lihat, namun mungkin ia hanya bisa berimajinasi pasalnya sekarang sudah ada anak dan Rania takut dengan ombak.


"Oh iya ada kepiting, Dede mau ambil?" tanya Dehan


Derana mengangguk antusias, Dehan menyelam mengambil kepiting kecil lalu memberikannya ke Derana.


"Jangan pegang tangan nya ya nanti kamu di gigit, pegang ini nya nih de"


Derana mengikuti saran Papa nya dan ia pun mulai sibuk sendiri bermain kepiting, Rania hanya diam saja. Dehan yang peka mulai menarik tangan Rania


"Sudah ya kita berenangnya, lebih baik main pasir kita bikin istana oke?"


"Ayooooo!!!" teriak Derana senang


Dehan menyeret tubuh Rania ke tepian, sebelah tangan kanan ia gunakan menyeret pelampung Derana. Ia melepaskan pelampung di tubuh mungil Derana, sepersekian detik kemudian anak itu langsung mengambil mainannya lalu bermain pasir sendirian.

__ADS_1


"Sayang kamu gak apa-apa?" tanya Dehan


Rania hanya terdiam sejenak


"Aku lemas mas dari tadi"


"Kita balik ke kamar aja ya? kamu masih kuat gak?"


Rania menggeleng


"Aku duduk di saung aja sambil nunggu kalian main, kita ke kamar barengan "


Dehan menggendong tubuh Rania lalu membawanya ke saung. Rania mulai menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan, ia takut dengan air laut namun ia akan belajar untuk mengendalikannya demi Derana. Sambil menunggu anak dan ayah itu bermain Rania hanya memandang pemandangan laut yang indah lengkap dengan handuk yang menyelimuti tubuh nya, ia juga sesekali makan snack.


Setelah selesai bermain pasir, mereka bersih-bersih di hotel sambil menantikan sunset Rania membuat cemilan untuk keluarganya. Mereka bertiga memandang langit senja yang indah lengkap dengan Derana di tengahnya


"Papa, matahari nya pergi kemana?"


"Pergi ke belahan bumi lain, di dunia ini ada siang dan malam"


Derana memandang wajah Dehan kebingungan


"Hahaha nanti dede kalo belajar ngerti kok sayang, sekarang yang penting dede tau ada siang dan malam"


Dehan gemas dengan tingkah laku Derana, bagaimanapun ia masih anak kecil berumur tiga tahun.


Tanya Rania penasaran


"Kakak! Dede mau dipanggil kakak kaya olang gede"


Rania dan Dehan tertawa mendengar penuturan anaknya, lalu di balas dengan pertanyaan Dehan


"kakak nanti mau punya adik berapa?"


"Lima!" jawab Derana sambil menunjukkan jari tangan nya


"Iih banyak banget, nanti Mama capek dong"


Rania membalas perkataan Derana menggunakan ekspresi cemberut.


"Kan ada mbak, nanti Papa pekerjakan mbak yang banyak buat adik-adik Derana ya"


Ayah dan anak sama saja, tidak ada bedanya. Rania berdoa agar Tuhan tidak mengabulkan doa mereka semua. Mereka berbincang mengenai banyak hal istilah jaman sekarang seperti deep talk, Dehan senderan di bahu Rania sambil curhat tentang bisnisnya.

__ADS_1


"Sayang, aku harus bagaimana ya? Aku ingin menanam saham di perusahaan A, tapi CEO di sana tak ingin menerimaku"


"Tidak usah di pikirkan, kita sedang berlibur di sini"


Rania mencoba menenangkan Dehan mengusap kepala suaminya itu dengan lembut. Tak terasa mereka bertiga memandang sunset selama sejam lebih, sehingga memasuki waktu magrib. Mereka melakukan sholat magrib berjamaah, Derana sebelahan dengan Dehan.


Setelah melaksanakan sholat magrib mereka turun ke bawah untuk makan malam bersama, ponsel Rania daritadi terus berdering tapi pemiliknya tidak membawa ponsel ia tinggalkan di kamar hotel.


"Mama aku mau makan sosis"


"Makan nasi sayang"


"GAK MAU!"


Derana merengek meminta sosis dengan terpaksa Rania memberikan sosis kepada anaknya. Sedangkan ia juga menyuapi Derana agar mau makan nasi, Dehan daritadi sibuk dengan pekerjaan nya.


"Katanya mau liburan, kok masih kerja?" Sindir Rania


"Sebentar sayang, aku lagi atur jadwal meeting. Aku mau buka franchise di kota lain"


Rania sebal dengan Dehan bahkan makanan di depannya belum tersentuh, akhirnya ia juga yang menyuapi suami serta anaknya.


"Aku seperti memiliki dua bayi yang satu besar yang satu kecil"


"Siapa Mama?" tanya Derana polos


"Papa kamu itu bayi besar" jawab Rania


"Tapi papa kan ga pake popok "


"Iya ya dede.. Papa mah udah besar, mama cuma sayang sama Papa makan nya di suapin ammm"


Dehan membela dirinya sendiri sambil membuka mulutnya lebar-lebar lalu memasukkan makanan ke mulutnya.


"Ishh dasar! Awas aja kalo selingkuh lagi, ga akan aku maafin"


"Iya sayangku, cintaku" ucap nya dengan mencium pipi Rania


Keluarga yang harmonis hanya milik Derana, Rania bahkan tidak rela jika suatu saat kehilangan Dehan. Ia akan mempertahankan keluarga nya seperti ini, meskipun tidak bisa mendapatkan restu dari Ibu tapi ia berusaha.


Selesai makan malam mereka kembali ke kamar hotel, Rania langsung melihat handphonenya ada 20 panggilan tak terjawab dari Lisa. Lantas, Rania menelpon balik tapi belum ada jawaban dari Lisa.


"Duuhh.. Angkat dong Lis, ada apa ini?"

__ADS_1


Rania daritadi mondar-mandir di balkon hotel sambil melihat handphonenya, ia sangat khawatir takut terjadi sesuatu pada Ibu. Walau bagaimanapun yang menemaninya dari kecil itu Ibunya, Dehan menghampiri Rania sambil memeluknya dari belakang.


"Kenapa sayang? Ayo cerita" ucapnya lembut


__ADS_2