
Rania dan Lisa berbincang-bincang layaknya perempuan pada umumnya, tak terasa waktu menunjukkan pukul lima sore. Yang artinya Rangga akan pulang sebentar lagi dan benar saja Rangga sudah berdiri di sebelah mereka.
"RANIA??!!"
Panggil Rangga pada Rania hingga membuat nya tersentak dan menoleh pada Rangga.
"Kak Rangga?"
"Kamu ngapain ke sini lagi??"
"Ini loh mas, Rania kangen sama aku... Jadi aku undang dia ke sini" jawab Lisa
"Aku ga nanya ke kamu. Aku tanya ke Rania, Jawab kakak!!"
Rania menarik nafas dan menghembusnya
"Huffft.... Kak Rangga aku kesini karena aku kangen sama kalian, apa kabar kak?"
"BAIK, MANA SI DEDEMIT ITU?? GA BERANI LIAT GUE?!"
"Mas Dehan sama Derana di Bandung, aku sengaja datang sendirian ke sini"
"TETEP AJA GA BISA JAGA ADIK GUE! TERUS KAMU MAU NGAPAIN? JANGAN HARAP KAKAK RESTUIN KAMU RAN"
Bentak Rangga pada Rania, jujur saja Rania sedikit takut akan ucapan kak Rangga tapi dia mau bagaimana lagi.
"Kak, aku ke sini mau silaturahmi aja kok.. Tapi Ibu malah nolak aku"
"Ya udah kamu nginep aja di sini SELAMANYA!"
"HAH??!"
Rania kaget mendengar kalimat Rangga yang terakhir
"Iya, kamu ga usah balik lagi sama dedemit! Rania kakak sayang banget sama kamu... Udah ya? Kakak gak mau liat kamu menderita lagi"
"Kakak tapi kalo aku malem ini nginep selamanya, Derana gimana??"
"Biarin aja! Kaka belum liat si dedemit serius sama kamu"
Setelah mengucapkan itu Rangga pergi ke kamar karena kedatangan Rania yang tiba-tiba membuat Rangga pusing. Dia stress memikirkan adiknya itu, ditambah sekarang ia sudah memiliki keluarga yang harus ia lindungi juga. Lisa yang peka datang untuk menenangkan suaminya.
"Mas.."
"Ralis mana?"
"Udah tidur mas, tadi dia nanyain kamu"
Ralis adalah nama anak perempuan Lisa dan Rangga, andai saja anak mereka laki-laki bisa menjadi bestie untuk Derana.
"Mas, kamu jangan gitu ke Rania.. Kamu terlalu keras tau ke dia"
"Demi kebaikan Rania, dia juga salah sendiri kemarin kabur milih Dehan sialan!"
Lisa diam sejenak untuk membujuk Rangga memaafkan Rania.
"Jadi kamu maafin Rania gak?"
"Ga tau, aku ngantuk mau tidur jangan ganggu!"
Rania membuat sarapan pagi untuk keluarganya, Ibu yang melihat langsung turun selera makannya.
"Ibu tidak ingin makan?" tanya Rania
Ibu membuang muka lalu pergi meninggalkan Rania yang tengah menata meja makan, Rangga turun dari lantai atas sudah siap untuk pergi bekerja. Ia melihat Rania duduk di meja makan sendirian dengan makanan yang ditata banyak di sana, namun penghuni rumah ini tak satupun yang makan masakan Rania.
Rangga yang merasa kasian terhadap adiknya itu langsung menghampiri Rania dan duduk, ia mulai mengambil nasi goreng beserta lauk pauk yang Rania buat. Tentu saja hal itu membuat Rania tersenyum bahagia, meskipun Rangga masih diam belum berbicara. Di tengah makan nya Rangga memanggil Lisa dan semuanya.
"LISAAAA!!!! RALISSS!!! IBUUUU!!!! SINI TURUN KITA MAKAN!!!"
Panggil Rangga, selang beberapa menit Lisa datang sambil menggendong Ralis yang baru berusia 1 tahunan itu.
"Wahh!! Ini Rania yang masak?"
Rangga mengangguk sambil mengunyah makanan, Lisa duduk di sebelah Rangga hingga Rania mengambilkan Lisa makanan.
__ADS_1
"Aduh Ran... Aku udah lama ga makan masakan kamu, besok buatin aku kue biji ketapang ya?"
"I know i'ts your favorite hihi" Jawab Rania dengan cekikikan
"Hahaha tau aja kamu. Mas Rangga juga suka tuh kalo yang masak kamu"
UHUK
UHUK
Rangga terbatuk-batuk mendengar penuturan dari Lisa. Dirinya merasa malu karena memang benar, dulu saat Rania tinggal di sini ia selalu menjadi koki untuk keluarganya termasuk Rangga yang memuji tangan Rania. Masakan Rania memang benar-benar lezat tidak sia-sia Rania belajar memasak dulu.
"Mas gapapa??"
Tanya Lisa sambil menyodorkan air minum pada Rangga
"Jangan ngomong gitu sayang"
"Maaf... Tapi bener kan kamu suka nanyain Rania kapan pulang? Buat dibikinin makanan"
Rangga terdiam sejenak kemudian melanjutkan makannya tanpa menjawab pertanyaan dari Lisa. Sedangkan Rania, dia malah mengasuh Ralis untuk menyuapinya bubur buatan Rania khusus anak bayi. Dulu Derana juga suka dibuatkan bubur tapi sekarang anak itu sudah besar, bisa makan apa saja asal dalam pengawasan Rania.
Sedari tadi Ibu hanya mengintip dari balik pintu kamar, ia mau makan tapi malas karena ada Rania di sana. Sudah berapa kali Ibu memberikan surat cerai pada Rania tapi ia tak pernah sekalipun menyentuh surat-surat itu. Padahal Ibu ingin sekali Rania bercerai dengan Dehan
"Maaf nyonya, apa saya harus mengambil makanan untuk sarapan nyonya?"
Lantas suster tadi menghampiri Rania untuk meminta makanan, kemudian Rania mengambilkan beberapa lauk pauk serta membuatkan Ibu minuman ramuan. Rania sering membuatkan Ibu minuman serai, kunyit, dan lemon agar asam urat serta diabetes tak kambuh lagi.
"Sus, Nanti jika aku pulang buatkan Ibu seperti ini ya? Aku baru melihatmu pasti kau suster yang baru kak Rangga pekerjakan"
"Betul nona, saya baru bekerja seminggu"
Setelah Rania meracik itu kemudian suster membawanya ke kamar Ibu, Rangga yang memperhatikan mulai membuka suaranya
"Ehem..... Rania sepertinya Ibu sangat kesal denganmu, Aku dan Ibu juga sepakat untuk membuatmu bercerai dengan Dehan"
Rania mulai duduk lagi berhadapan dengan Rangga dan Lisa.
"Kak Rangga, aku gak mau cerai"
"Tapi tetap keputusanku kau harus cerai"
Rania diam tak berani menjawab pertanyaan Rangga
"Mulai sekarang aku akan mengurung mu di rumah ini, biar Dehan yang menjemputmu kemari. Sekalian aku ingin berbicara dengan dedemit itu!"
Rangga berdiri dari meja makan kemudian membenarkan dasinya
__ADS_1
"Lisa sayang, aku pamit dulu... Ralis, ayah pergi cari uang dulu ya buat kamu beli rumah hehe"
Rangga bercanda dengan Ralis sambil menciuminya berkali-kali, setelah melihat ke arah Rania ia langsung memasang wajah jutek.
"Ingat kata-kata kakak tadi, suruh Dehan yang menjemputmu kemari!"
Setelah itu Rangga pergi keluar rumah untuk bekerja, Lisa hanya mengantarkannya lalu kembali.
"Ran... Kamu gak apa-apa??"
Tanya Lisa sambil menggendong Ralis
"Gak apa-apa kok.. Aku mau nelfon mas Dehan dulu ya bentar"
Rania beranjak ke taman belakang rumahnya, ia mencari kontak Dehan lalu memencet tombol *call*'
"*Hallo sayang!! Kamu kapan pulang?? Semalam nginep di sana kan*??"
"*Mas Dehan... Kamu mau jemput aku gak ke sini*?"
Hening sesaat kemudian Dehan menjawab
"*Bisa, sekarang ya?"
"Tapi kamu harus berhadapan sama kak Rangga dulu"
"Huffftt.... Sayang.... Kenapa sih harus bawa-bawa kak Rangga? Tujuan kamu ke sana kan silaturahmi doang, udah beres kan? Kalo pulang tinggal pulang aja dong... Siapa yang suruh kamu nginep??"
"Kak Rangga"
"Kamu gak usah dengerin Rangga! Udah pulang aja sekarang kabur!"
"AKU GAK MAU CARI MASALAH LAGI MAS!"
"KAMU NURUT KE AKU ATAU SI RANGGA SIH?! INGET RANIA AKU INI SUAMI MU, AKU YANG HARUS KAMI TURUTIN BUKAN KAK RANGGA*!!!"
Dehan naik pitam begitupun dengan Rania
"*YA KALO KAMU TAKUT BILANG AJA GAK USAH PAKE ALIBI SUAMI SEGALA!! MAS DEHAN KAMU JUGA SALAH GAK MINTA MAAF KE IBU DAN KAK RANGGA*!!"
"*TERSERAHLAH*!!"
"*JADI LAKI ITU HARUS*-----"
TUT
TUT
TUT
__ADS_1
Belum selesai Rania berbicara, Dehan mematikan telefon secara sepihak. Rania tau suaminya itu marah besar begitupun Rania yang kesal dengan Dehan yang tidak ada usahanya sama sekali untuk keluarganya.