TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
44. Derana Yang Polos


__ADS_3

Dehan mengacak-acak rambutnya frustasi bahkan ia membanting bantal di kasur, dia sangat marah dengan ucapan Rania tadi barusan. Jujur saja Dehan tidak ingin bertemu Rangga lagi, dia marah jika berhadapan dengan Rangga karena mereka berdua sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah.


"Papaaaa!!!!" Panggil Derana di depan pintu kamar Dehan


Dehan yang tadinya marah mendengar suara putranya itu sedikit mereda, ia berjalan ke depan cermin lalu berusaha terlihat baik-baik saja.


'*Jaga emosimu di depan pangeran kecil Dehan Kavindra P*erdana' batinnya


Ia membuka pintu kamar lalu muncullah anak kecil yang tampan dengan wajah belepotan penuh coklat.


"Aduuuh.... Derana, kamu ngapain bos?"


Dehan menggendong anak berusia 3 tahun itu sambil turun ke bawah menuruni tangga untuk mengambil tisu basah.


"Derana abis makan coklat pah, terus Oma ngejar aku katanya masih pagi ga boleh makan coklat nanti sakit perut"


Celotehnya membuat Dehan gemas, Dehan kemudian mengelap wajah Derana yang penuh dengan coklat dan tak lupa tangannya juga.


"Lain kali nurut kata Oma ya, selagi Mama ga ada kamu dengerin apa kata Oma sama Opa"


Dehan menatap wajah tampan Derana sambil mengecup jidatnya sekilas.


"Papa emang Mama kemana? Kok belum pulang sih?" tanya Derana polos


"Mama nginep di rumah nenek, om Rangga sama Tante Lisa"


"Kok aku gak diajak pah?"


Dehan sedikit berpikir alasan apalagi yang harus ia lontarkan pada anaknya ini.


"Ga tau ya, Papa juga ga diajak Mama... Hmmm mungkin Mama ada urusan lain, tapi nanti Papa jemput Mama sayang"


Derana diam tak mengoceh lagi setelah mendengar jawaban Papa nya, kemudian ia minta turun dari gendongan Dehan karena dipanggil oleh bunda.


"Deranaaa!!!! Makan dulu sayang!! Cucu Oma yang paling ganteng!!!"


Dehan menyusul langkah kaki kecil Derana, anak itu berusaha naik ke atas meja makan karena tidak kuat Dehan membantunya.


"Makasih Papa"


"Sama-sama cium dulu dong?"


Dehan sedikit merendahkan tubuhnya agar dicium oleh Derana, kemudian ia juga membalas ciuman Derana sambil mengelusnya.


"Rania belum pulang?" Tanya bunda


"Belum Bun, tadi barusan telfon aku suruh jemput dia ke sana. Aku sih ogah"


Bunda yang tadinya menyuapi Derana mengubah pandangannya pada Dehan.


"Tinggal jemput saja apa susahnya Dehan??!!"


"Aku malas bund, ada kak Rangga.. Pasti dia akan menghajar ku lagi!"


"Papa emang om Rangga galak?" tanya Derana polos


Ia lupa ternyata ada anaknya di sini, betapa bodohnya Dehan membicarakan om nya dihadapan Derana.

__ADS_1


"Ee... Enggak sayang.... Om Rangga baik banget, tapi Papa takut sama om Rangga"


"Kenapa?"


"Om rangga suka gigit Papa, makanya Papa takut"


"Gitu ya.... Aku mau telepon Mama"


"Derana makan dulu ya?? Oma udah ambil nasi loh buat dede makan" ucap bunda agar Derana tidak bicara lagi


"Iiihh... Aku mau telepon Mama dulu Oma!!!"


Bunda memberi isyarat pada Dehan agar mengambil handphonenya agar Derana menelfon Rania, mau tak mau Dehan menuruti perintah bunda. Ia mulai mencari kontak Rania dan menelpon


"APALAGI??" Jawab Rania ketus


"Bukan aku yang mau ngobrol tapi Derana"


Dehan memberikan ponselnya pada Derana


"Assalamualaikum Mama!!"


"Walaikumsalam anak Mama yang paling ganteng! Dede lagi apa ini sekarang?"


"Dede lagi makan Ma, disuapin Oma..."


"Boleh Mama liat sayang??"


Derana memberikan handphonenya pada Dehan


"Papa.. Aku mau pake kamera liatin ke Mama"


"Galak amat bos hihihi" ucap Dehan sambil mengelus rambut Derana


"*Ini Mah... Dede makan ini apa Oma?"


"Sayur sop sama nasi dicampur kecap" jawab bunda di sebelah Derana


"Waahh enak banget ya!! Mama jadi pengen makan bareng dede"


"Mama kata Papa om Rangga jahat suka gigit Papa... Mama di gigit nggak?"


Rania tertawa karena ucapan Derana yang polos, sejak kapan Rangga menggigit manusia?


"HAHAHAHA SEJAK KAPAN OM RANGGA GIGIT MAMA?? PAPA ITU BOHONG SAYANG, KAK RANGGA BAIK TAU"


"Kata Papa om Rangga suka gigit Papa..... Mama cepet pulang"


"Bilangin ke Papa, jemput Mama gitu ya??"


"Iya Mamaaaa...."


"Dede mau ngobrol sama Tante Lisa gak? Ada adik Ralis loh di sini"


Rania mengalihkan handphonenya pada Ralis, Derana mengajaknya bermain seakan Derana sudah besar. Padahal mereka berdua sama-sama bayi, Dehan yang melihat mereka hanya tersenyum gemas berkali-kali ia mencium pipi Derana begitupun dengan Rania yang mencium Ralis.


"Papa aku mau punya adik bayi kaya Ralis ya?"

__ADS_1


Ucapan Derana membuat Dehan terdiam sejenak untuk memandang Rania di layar handphone, yang dipandang juga sama bingung nya.


"Deranaaa... Kamu masih kecil sayang, ntar kalo udah sekolah ya punya adiknya?". jawab Rania lembut


" Emang punya dede bayi gimana mah?" tanya Derana polos


"Gini.... Papa sama Mama harus tidur dulu di kamar ga diganggu kamu, terus tidurnya harus lama biar Mama hamil"


Derana mengalihkan perhatiannya pada Papa nya


"Kalo hamil emang harus bobo?"


"Iya dong! Bobonya harus sama pasangan yang udah nikah"


"STOP!!" Rania menghentikan Dehan yang tengah berbicara


" PAPA KAMU APAAN SIH NGOMONG GITU DI DEPAN DERANA??! AKU GAK MAU YA DENGER OMONGAN GITU LAGI!!!"


"Iya maaf mah... Papa salah, Derana udah dulu ya telfon Mama nya kamu lanjut makan lagi oke?!"


"Oke Babay Mamaaa.... Muaaahhhh" ucap Derana


Dehan membawa ponselnya menjauh dari Derana, namun belum mematikan panggilannya dengan Rania.


"Sayang...."


"MAS KAMU APAAN SIH NGOMONG GITU??! AKU GAK SUKA YA KALO DERANA TAU HAL-HAL TABU SEBELUM USIANYA!!!!"


"*Iya maaf...."


"JANGAN LUPA JEMPUT AKU! AWAS AJA KALO NGGAK! YAUDAH AKU TUTUP TELFONNYA ASSALAMUALAIKUM!".


TUT


TUT


TUT*


Dehan menarik nafasnya panjang, dia masih marah tapi sebisa mungkin tidak terpancing emosi karena Derana. Ia ingin terlihat baik-baik saja di depan sang anak, saat Derana tadi meminta adik bayi jujur saja Dehan sudah gatal ingin mengatakan cara membuat anak. Tapi ia juga harus tahu bahwa Derana baru berusia 3 tahun belum cukup umur untuk diajarkan edukasi seksual'.


"Mungkin nanti jika Derana sudah sekolah aku akan mengajarkannya bahaya **** dan perlindungan diri sendiri agar tidak terjadi pelecehan seksual, aku harus mendidik Derana anak-anak ku agar tidak salah jalan."


Dehan kembali menemani Derana makan, bunda menyuapi Derana lantas melihat ke arah Dehan.


"Gimana?"


"Dehan akan jemput Rania besok atau lusa bunda... Itu pun kalo kerjaan di kantor udah renggang"


"Tadi bunda denger, Derana mau punya adik bayi... Nah, gimana juga tuh yang itu???"


Bunda menggoda Dehan dengan menaik turunkan alisnya, Dehan jadi salah tingkah.


"Apa sih bun... Hahahaha... Derana masih kecil belum masuk TK"


"Dehan, Dehan... Derana udah besar 3 tahun, bunda tau karakter Rania gimana dia wanita rajin dan telaten ngurus anak kecil.. Bunda percaya kok Rania bisa ngasuh anak banyak apalagi dia mantan guru TK"


"Liat nanti ya bund.... Aku gak maksa Rania buat hamil lagi, aku bebasin dia punya anak berapapun itu karena aku sayang sama Rania aku gak mau buat tubuhnya sakit"

__ADS_1


Bunda mengangguk mengerti kemudian meninggalkan Dehan


__ADS_2