
Setelah menemani Ibu selama tiga hari, keluarga kecil Rania berpamitan untuk pulang ke Bandung. Menjalani aktifitas layaknya ibu-ibu rumah tangga, di lain sisi Dehan sedang istirahat ia membuka ponsel dan melihat ada email masuk.
*Gmail
"Hallo Dehan! Apa kabar?? Masih ingat tidak dengan ku hahaha.... Aku mengundang mu untuk acara Reuni Akbar SMA ****** angkatan 2013"
Dehan menangkap layar isi pesan tersebut dan memberikannya ke Rania untuk meminta izin. Semenit kemudian Rania membalas hanya dengan kalimat 'terserah' Dehan segera membereskan pekerjaannya dan pulang ke rumah untuk membujuk istrinya.
"Assalamualaikum sayang, aku pulang"
Dehan membawa kresek berisikan makanan kesukaan Rania yaitu cookies, susu uht, yogurt strawberry, dan ice cream coklat untuk Derana.
"Lihat aku bawa apa"
Rania sedang fokus menonton film, melirik ke arah Dehan
"Ngapain beli makanan banyak-banyak, kemarin yang kamu beli aja belum abis"
"Buat kamu sama Derana sayang"
Rania mendekati Dehan untuk mengambil kresek, Dehan malah mencium pipi Rania sambil berbisik
"Boleh gak aku dateng ke acara reunian?"
"Terserah"
Kata terserah dari seorang wanita bisa mengandung banyak makna antara boleh/tidak, iya/tidak, bisa juga ia sedang bimbang memberikan pandangannya.
"Maksudnya terserah itu aku boleh atau tidak sayang?"
"Aku bilang kan terserah, itu pilihan kamu mas. Kalo kamu mau ke sana yaudah aku ga larang juga tapi..."
"Tapi apa?"
"Aku takut kamu pacaran lagi"
Setelah mengatakan itu Rania memeluk tubuh Dehan sambil menangis, ia takut jika Dehan meninggalkan seperti saat hamil Derana. Sekarang juga ia sedang hamil muda anak kedua takut jika kejadiannya terulang kembali.
"Sayang... Aku tidak akan mengulangi kesalahanku yang dulu, sekarang dirimu dan anak-anak kita sudah cukup untuk membuat ku bahagia"
Dehan mengelus rambut coklat Rania dengan lembut dan ia sesekali menciuminya, Rania mendongak menatap wajah Dehan
"Janji ya mas?" tanya Rania
"Janji bumil cantik ku"
Dehan meraup bibir mungil Rania, mereka berciuman dengan penuh kasih sayang. Tak sadar jika ada Derana yang menyaksikannya
"MAMA PAPAAA!!! GAK BOLEH DOSAA!!!"
Refleks Rania melepaskan tautan bibirnya dengan Dehan dengan wajah memerah malu, Dehan hanya tersenyum malu di hadapan anaknya.
"Sekarang kayanya susah banget ya Mah, kalo Papa mau mesra-mesraan"
Dehan menggendong Derana kemudian mengajaknya ke ruang tamu.
"Dede.. Papa sama Mama itu suami istri yang udah sah dan halal buat ngelakuin hal-hal kaya tadi"
__ADS_1
Derana nampak berpikir keras
"Tapi nanti dimarahin Tuhan loh pahhh"
"Iya kalau belum menikah dimarahin Tuhan, Mama Papa kan udah nikah. Udah punya kamu sama adik bayi yang di perut Mama jadi udah halal sayang"
Dehan menjelaskan tentang hubungan cintanya dengan Rania ke Derana. Bagaimana ia bertemu, menikah hingga saat ini masih bersama. Derana mengerti tapi namanya anak-anak ada banyak pertanyaan di benaknya, Rania membawa ice cream coklat untuk anaknya.
Karena Rania sudah mendengar penuturan Dehan yang kemana-mana, ia takut jika suaminya itu membicarakan tentang hubungan ranjangnya ke anak mereka.
"Nahh.. Sekarang dede udah tau kan? Ini Mama bawa ice cream buat dede"
Derana teralihkan oleh ice cream, sehingga anak itu langsung mendekati Rania untuk mengambil ice cream nya. Rania duduk di sebelah Dehan
"Jangan ngomong macem-macem mas, Derana masih kecil belum boleh tau hal-hal kaya gitu!"
"Apaan, aku cuma ngasih tau kalo kita ciuman itu halal hehehe"
Canda Dehan, Rania malah memukul tangan Dehan. Yang di pukul malah cekikikan
"Muka kamu lucu kalo lagi malu"
Kata Dehan sambil menatap wajah Rania, wanita itu pura-pura kesal dengan ucapan Dehan
"Apalagi kalo lagi ngambek gini... Ya ampun pengen ajak buat anak lagi"
"Udah ya mas! Aku lagi HAMIL' jangan macem-macem!!"
"Kalo aku mau macem-macem gimana sayang?"
Rania menggigit jari Dehan, ia meringis sambil memanggil nama Derana
"AAAA TIDAAKK TOLONG!!! PAPA DIGIGIT MONSTER"
Derana datang dengan pakaian superhero ala-ala anak kecil
"Swesshhh... Hey monster, tidak boleh mengigit Papa aku!!"
Derana menarik tangan Rania, lantas memukulnya
"Oh jadi dede udah berani sama Mama?"
Rania melotot ke wajah Derana, anak itu tidak bisa melawan karena ia juga takut dengan Rania.
"Maaf Papa, dede takut kalo sama Mama"
Dehan memasang wajah sedikit sedih
"Gimana sih, masa superhero takut sama Mama.. Papa kesakitan ini aduuhh"
Derana mendekati Dehan, lalu mengelus tangan Papa nya. Ia menciuminya hingga bercanda, tentu Rania cemburu
"Mama gak disayang"
Rania memasang wajah bt nya, ia cemberut melihat Derana.
"Sayang Mama jugaa.. I love you Mama cantikkk"
__ADS_1
Derana memeluk Rania, menciumi pipinya berkali-kali dan mengatakan mencintai Mama.
"Papa juga gak disayang gitu?"
Derana mulai berunjuk ke Dehan, melakukan hal yang sama dengan Rania tadi. Rania memeluk tubuh anak serta suaminya
"Mama pengen kita semua kaya gini terus"
Tak terasa Rania meneteskan air matanya sedikit
"Mama jangan nangis"
Derana mengelus air mata Mama nya dengan lembut
"Mama nangis bahagia sayang, adik bayi kamu juga gerak-gerak di perut Mama"
Dehan mendekatkan telinganya ke perut Rania
"Hallo adik bayi... Papa sama kakak Derana lagi di sini loh, kamu lagi apa di dalam sana??"
Seakan mengerti, bayi di dalam perut Rania menendangkan kaki nya sehingga Dehan mendengar suara deg'
"Hahaha kayanya anak kita mau jadi sepak bola mah" canda Dehan
"Apa sih mas, aku mau anak kita cewek"
"Kalo laki-laki lagi gimana?"
Rania terdiam sejenak kemudian membalas
"Aku terima apapun gender anak aku nantinya"
Dehan melanjutkan mendengar suara perut Rania, begitupun dengan Derana
"Papa, dede bayi nya bunyi loh krukkruk gitu"
"Mama lagi laper kali?"
"Nggak ya, aku udah makan tadi barusan"
Dehan sangat sayang dengan Rania apalagi ia sedang hamil anak keduanya, maka Dehan akan memenuhi apapun keinginan Rania. Tak terkecuali barang mahal sekalipun
"Sayang, bayi kita nanti kasih nama apa ya?"
"Kalo cewek Raline, Rahaya, Rachmaniar. Kalo cowok Davin, Devatra, Diandra"
"Kenapa susah-susah namanya? Aku malah punya nama khusus buat anak kita nanti"
"Ya udah aku pasrah aja sama kamu mas"
Dehan menjelaskan tentang arti nama dengan Rania, ia sangat antusias mendengar penuturan suaminya. Sedangkan Derana masih sibuk dengan perut Rania daritadi anak itu menyapa adiknya yang belum lahir ke dunia. Rania menyenderkan kepalanya di bahu lebar Dehan, sambil mendengar suaminya bicara sungguh inilah kebahagian untuk Rania.
"Mas, aku tidak mau berpisah lagi. Aku ingin terus seperti ini sampai kita tua ya?"
Dehan mengelus rambut Rania di bahu nya
"Aku juga ingin seperti ini, melihat anak-anak kita tumbuh kembang dan mungkin aku akan menjadi Papa yang protektif jika nanti mereka membawa pasangannya ke rumah"
__ADS_1