TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)

TAKDIR CINTA DERAN (Dehan Rania)
24. Koma


__ADS_3

"No! Bunda masih pake jarum ga boleh keluar!"


Ucap Sara sambil mencegah Rania di depan pintu, tapi Rania berusaha membujuknya hingga akhirnya Sara bisa mengerti juga.


Rania, Shelly dan Sara jalan bersamaan ke ruangan Dehan sudah banyak keluarga lain yang mengerumuni ruangan Dehan. Perasaan Rania sudah tidak enak, lantas ia mendekati Lisa dan kak Rangga.


"Ada apa? Kenapa mas Dehan??"


Lisa memeluk tubuh Rania erat sambil menangis


"Rania... Dehan..."


"Kenapa mas Dehan??"


"Koma" jawab kak Rangga di sebrang sana


Rania yang mendengar itu langsung menangis sesenggukan, kemudian ia masuk kedalam untuk melihat suaminya. Betapa sakit hatinya melihat sekujur tubuh Dehan dipasang selang-selang dan oksigen, Rania memeluk Dehan


"Mas Dehan... Aku udah berhasil hamil dan sebentar lagi kamu akan jadi Papa, tapi kenapa malah gini??"


Bunda Dehan mendekat ke arah Rania


"Sayang, waktu dokter operasi ternyata Dehan punya tumor otak dan hal itu yang buat Dehan koma"


Rania lemas bukan main, dia tidak tahu selama ini suaminya menderita penyakit tumor otak. Mengapa disaat Rania sudah memiliki kebahagiaan Dehan malah semakin jauh dengan dirinya.


"Bunda, Rania pengen tidur di sini sampe mas Dehan bangun! Rania pengen deketin cabang bayi sama Papa nya!"


Mereka semua mengangguk keinginan Rania, walau bagaimanapun Rania juga istri Dehan. Pasti sakit rasanya jika berjauhan dengan orang yang kita cintai, apalagi perasaan Rania sedang sensitif karena hamil dan sangat mencitai Dehan meski Dehan telah membuatnya sakit hati. Tapi lebih sakit melihat Dehan seperti ini.



Sudah berjalan sebulan lebih Rania tidur di rumah sakit menunggu Dehan sadar dari koma nya tapi Dehan belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Jika siang Lisa, bunda dan Ibu menemani Rania di rumah sakit bagian malam hari kak Rangga yang menjaga Rania karena takut-takut hal yang tidak diinginkan terjadi pada Rania dan bayinya.



"Rania, jika perlu apa-apa hubungi aku saja oke?! Jangan sungkan, aku kan sahabat mu"



Shelly hampir setiap hari datang kemari untuk menjenguk Rania dan Dehan, bahkan Shelly juga sering memberikan Rania vitamin dan buah-buahan untuk kandungan Rania.

__ADS_1



"Tenang saja Shelly.. Mungkin jika mas Dehan bangun yang paling perhatian pasti dia" ucap Rania gemetar



Shelly memeluk Rania, dia tahu betul perasaan Rania sekarang sehancur apa ditambah lagi dia sedang hamil.



"Sudah jangan sedih-sedih lagi... Kau harus bahagia demi si kecil yang di sini" ucap Shelly sambil mengusap perut Rania



Rania tersenyum manis, ia tersadar bahwa sekarang yang harus diperhatikan ialah bayinya. Dia tidak ingin saat hari lahiran nanti bayinya tidak sehat karena Rania stress, dia harus melewatinya dengan kekuatan. Siang berganti dengan malam kak Rangga datang ke rumah sakit untuk menemani Rania, selama itu pula ia selalu membawa pekerjaan di sana.



Rania merasa kasihan melihat kakaknya dengan inisiatif Rania mendekati Rangga



"Kak, apa Rania boleh bantu?"




"Ini sebenarnya pekerjaan si Dehan"



Dengan sigap Rania merebut dokumen-dokumen di tangan kak Rangga, ia melihat secara detail apa saja yang tertera.



"Kak ini bagaimana caranya? Tolong ajari aku"



Rangga mengajari Rania bagaimana mengerjakan dokumen-dokumen di perusahaan Dehan, ia ingin membantu usaha suaminya. Ia mengerjakan dokumen pekerjaan itu sampai tengah malam, Rania mengantuk dan tertidur di pangkuan Rangga.

__ADS_1



Keesokan harinya, Rania pergi ke TK untuk berhenti bekerja ia hanya ingin membantu perusahaan suaminya. Di tengah hamil muda, Rania setiap pagi pergi ke perusahaan, ia juga memecat Gladys karena kesal dan kerjaan Gladys juga hanya berdandan saja benar-benar tidak kompeten dalam perusahaan.


"JANGAN KARENA HUBUNGAN GUE SAMA DEHAN LO SEENAKNYA PECAT GUE?! MENTANG-MENTANG SI DEHAN KOMA LO GINI YE DASAR ******!"


PLAAKK!!


Rania menampar wajah Gladys keras di depan semua karyawan. Sungguh ia sangat kesal dengan ucapannya!


"BUKAN KARENA MAS DEHAN KOMA ATAU GW AMBIL ALIH! INI TENTANG PERUSAHAAN SUAMI GW!!! LO CUMA SEKEDAR KARYAWAN JANGAN BELAGU SAMA CEO!!!"


Mereka berdua beradu mulut di depan banyak orang. Kak Rangga yang mendengar informasi itu langsung pergi ke perusahaan Dehan dengan cepat, ia melihat pemandangan tak mengenakan dimana Gladys dan Rania sedang saling berjambak rambut.


"STOP!!!"


Rania melihat ke arah kak Rangga yang datang, dengan segera ia memisahkan mereka berdua.


"Rania kau sedang hamil! Jangan melakukan hal macam-macam!!"


Rangga membawa Rania keluar perusahaan Dehan, tapi Rania terus menolak untuk diajak pulang.


"Iiihh kak Rangga lepasin!!! Rania mau jambak si jablay itu lagi!!!"


"Rania diem!! Kita pulang sekarang!!"


"Aku mau ke rumah sakit sama mas Dehan! Kak Rangga!!!"


Rania hanya bisa pasrah dibawa oleh Rangga, Lisa menyusul untuk menemani Rania. Untungnya Lisa selalu menemani Rania, semenjak Rania hamil pun Lisa mengurusnya dari mulai membeli susu ibu hamil dan memperhatikan makanan yang dikonsumsi Rania. Kak Rangga yang menyuruh Lisa untuk selalu menemani adiknya, Rania juga keras kepala semenjak Dehan koma.


Sesampainya di ruangan Dehan, Rania bercerita tentang Gladys meskipun Dehan belum sadar tapi setiap ada sesuatu Rania selalu bercerita padanya seakan-akan Dehan mendengarnya.


"Mas, tadi Gladys dorong aku terus juga jambak rambut ini. Kayanya kalo kamu ada pasti dia bakal babak belur apalagi aku sekarang lagi hamil anak kita... Makanya mas cepet bangun aku mau ke pantai lagi sama dede bayi kita"


Lisa yang mendengarnya sangat sedih bahkan ia meneteskan air mata, tapi bagaimanapun ia harus bangkit dari kesedihan. Adik iparnya tengah hamil jadi sebisa mungkin ia akan merawatnya.


"Rania... Kita jalan-jalan yuk! Kamu mau kemana aku yang traktir" panggil Lisa


"Lisa, aku maunya ke pantai tapi sama mas Dehan"


"Hmmm.... Tapi mas Dehan belum sadar, nanti aja ya"

__ADS_1


Entah sampai kapan Dehan akan tertidur di atas kasur rumah sakit, Rania selalu berharap Dehan terbangun karena bagaimanapun ia ingin anaknya kelak melihat sang ayah. Berlari-larian bersama keluarga kecilnya sambil sesekali Rania membayangkan ia belanja bersama Dehan dan bayinya di mall. Mendengar rengekan permintaan anak kecil sambil menarik-narik tangannya, Dehan yang tidak terlalu suka anak kecil mungkin akan berubah jadi penyayang anak ia juga pasti bahagia dengan kehadiran anak-anak.


Semoga saja Tuhan segera membalikan Dehan padanya Rania sangat mencintai suaminya itu ditambah sekarang ada darah daging Dehan. Rania sangat berharap hari indah itu akan terwujud bukan angan-angan semata, meskipun Dehan telah berulangkali menyakiti hatinya tapi Rania berusaha untuk membuka pintu maaf untuk Dehan. Dengannya ia bisa merasakan bahagia, sedih dan kesal di waktu bersamaan.


__ADS_2