
Dehan telah mendapatkan tiket kereta menuju Yogyakarta, ia memilih kereta pagi hari karena permintaan Rania yang tidak ingin pergi malam. Rania menyiapkan baju-baju Derana serta dirinya untuk berlibur di Jogja, sedangkan Dehan menyiapkan keperluannya sendiri. Bunda dan ayah mengantar mereka ke stasiun Bandung
"Hati-hati ya nak Rania kamu lagi hamil"
Bunda memeluk tubuh Rania erat sambil mengelus perut hamilnya, kemudian beralih menggendong Derana
"Cucuuu omaa mau ke Jogja ya? Cium dulu"
Derana mencium pipi bunda, bunda tak henti-hentinya memeluk Derana. Begitupun yang dilakukan oleh ayah Dehan kepada Derana, ayah hanya mengelus rambut Rania ketika hendak berpisah.
"Hati-hati ya nak Rania, Dehan jaga baik-baik menantu kesayangan dan cucu tersayang ayah bunda. Jangan terlalu capek di sana, Rania lagi hamil"
Ucap ayah memperingati Dehan
"Iya ayaaahh... Dehan berangkat dulu ya, assalamualaikum"
Rania, Dehan dan Derana mengecup tangan kedua orang tua Dehan. Derana untungnya sudah terbiasa berjalan kaki, dulu ia sangat dimanja Rania yang kemanapun harus memakai stroller baby untungnya anak itu cepat dewasa. Dehan membawa dua koper berukuran besar sedangkan Rania hanya membawa tas selempang, Derana membawa tasnya sendiri berisi mainan dan ndot susu formula nya.
Saat kereta datang, Derana berteriak kegirangan karena bahagia akan bertamasya
"HOREEEE!!!! KERETANYA DATANG MAH, PAH.."
Dehan jalan terlebih dahulu memasuki gerbong kereta, diikuti Derana dan Rania di belakangnya.
"Dede mau duduk deket jendela sama Papa!!"
Derana sudah lebih dulu duduk di kursi dekat jendela, sebelahnya Dehan. Rania terpisah sendiri, beberapa saat kemudian ada seorang laki-laki yang kursinya sebelahan dengan Rania
"Permisi, saya duduk di kursi ini"
"Oh iya kak, silahkan"
Rania berdiri agar orang tersebut duduk di dekat jendela, hendak duduk kembali Rania dicegah Dehan
"Sayang, biar aku duduk di sana. Kamu sama Derana aja ya"
Mau tidak mau Rania menuruti perintah suaminya, padahal Dehan cemburu pada pria yang duduk di sebelah kursi Rania. Saat Rania hendak pindah tempat duduk, ia berbisik di telinga Dehan
"Cemburu ya mas??"
Rania cekikikan kemudian beralih ke Derana, Dehan menatap Rania. Memang benar ia sedang cemburu, tidak ingin wanitanya dekat dengan siapapun.
"Mama liat ada sawah, ada orang Mama lagi tanam padi"
"Mama... Dede suka naik kereta, kita mau kemana sih mah?"
"Mama, ada air sungai. Kita lewat jembatan tinutinutinuu... Awas-awas kereta dede mau lewat"
Derana terus mengoceh selama perjalanan, Rania hanya bisa mendengarkan ucapan anaknya. Derana ada diam ketika tidur dan makan itupun hanya sebentar, ia lanjutkan lagi melihat ke arah jendela. Sedangkan Dehan, ia memasangkan AirPods di telinganya.
"Mas?"
__ADS_1
Rania menyentuh bahu Dehan
"Iya kenapa sayang?"
"Aku kebelet kencing, jagain Derana dulu ya di sini"
"Oke"
Dehan menukar posisinya di sebelah Derana, Rania pergi ke toilet sebentar. Setelah selesai Dehan kembali duduk bersama penumpang lain, berkali-kali Dehan menawarkan Rania makan tapi Rania tidak nafsu jadi ia hanya bisa ngemil saja.
...****************...
Setelah menempuh perjalanan jauh di kereta, akhirnya mereka sampai juga di Jogja. Dehan sudah memesan hotel jauh-jauh hari untuk keluarga kecilnya, bahkan ia juga menyewa mobil selama di Jogja. Mereka istirahat sebentar untuk memulihkan tubuh dan bersih-bersih.
"Habis ini kita mau kemana?"
Tanya Dehan sambil memeluk Rania dari belakang
"Ini kan udah magrib, kita cari makan malam aja dulu. Besok ke sanggar tari bu Dwi, aku mau kenalin anak-anak kita ke beliau"
"Jadi biar anak-anak kita tau gitu kalo bu Dwi itu saksi cinta kita dulu, atau kosan kamu pas pertama ketemu aku??"
"Ishh apa sih mas, mesum kamu!"
Rania melepas pelukan Dehan, tapi Dehan tak peduli ia terus memeluknya
"Emang ga boleh mesum sama istri sendiri hmm??"
Dehan beralih mengelus perut Rania
"Maafin Papa ya... Papa cuma kangen masa-masa dulu pacaran sebelum ada kaka Derana dan kamu"
Derana datang ke kamar dengan handuk yang sudah melekat di tubuhnya. Anak itu sudah mandi dan meminta Rania untuk memakaikan baju nya
"Mama, aku udah mandi"
Rania beranjak dari kasur untuk mengelap tubuh Derana, ia memakaikan anaknya baju
"Dede laper gak?"
"Laper"
"Mau makan apa?"
"Chicken"
Setelah selesai berpakaian, Rania menyuruh Dehan untuk bersiap-siap makan malam.
"Cepat ganti baju!! Derana sama aku udah laper"
"Siap sayang!"
__ADS_1
Mereka pergi ke tempat makan yang dulu pernah datangi saat Rania dan Dehan belum memiliki Derana. Tapi anak itu tidak menyukai makanan pedas jadi Derana hanya makan sayur bayam dan ayam goreng
"Mama aku gak mau mamam"
Rengek Derana dengan tangan yang masih memainkan tablet nya
"Makan de, kamu mau nanti sakit terus liat Mama sedih"
Ucap Rania sambil cemberut, Dehan pun ikut menyuapi Derana makan
"Sini, biar Papa yang suapin ya? Nanti besok kita mau ke candi Borobudur loh"
"Candi itu apa?" tanya Derana polos
"Tempat ibadah umat Hindu-Buddha, juga tempat wisata. Dede belum pernah kan ke sana"
Derana hanya mengangguk sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
"Makan yang banyak ya anak Mama yang paling ganteng"
Rania berucap lembut kepada anaknya sambil mengelus-elus rambutnya.
"Papa juga mau mah dielus kaya dede"
"Iihh Papa udah besar, Mama ga nyampe nanti"
Dehan cemberut karna ucapan Derana, maka Rania tiba-tiba mencium pipi Dehan
"Iya, Papa kan suami Mama.. Jadi Papa disayang nya pake cara yang beda, Mama sayang kalian semua"
Keluarga kecil itu menikmati makan malam di Jogja dengan hangat, Dehan tak henti-hentinya menjahili anaknya. Rania senang dengan adanya Derana, dulu saat masih belum beranak Rania ke Jogja untuk menghindar dari Dehan. Sampai akhirnya Dehan menemukan Rania di Jogja dan berakhir rujuk kembali, ia juga berhutang kepada Shelly yang memberinya obat untuk hamil.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, lantas Dehan membawa anak dan istrinya kembali ke hotel untuk istirahat. Namun sebelum pergi tidur ia ke balkon kamar untuk sekedar merokok sambil menikmati angin Jogja, Rania tidak bisa tidur maka ia memutuskan menyusul Dehan di balkon.
"Eh, sayang kamu belum tidur?"
Ucap Dehan yang terburu-buru mematikan rokoknya
"Aku gak bisa tidur mas"
Rania ikut duduk di kursi sebelah Dehan, ia menyenderkan kepalanya di bahu lebar Dehan
"Mas inget gak dulu aku pernah kabur gara-gara Gladys ke Jogja?"
"Inget sayang"
"Kamu mau gak kalo aku kabur lagi?"
Dehan melirik ke wajah Rania
"Gak akan pernah terjadi, kamu akan selamanya di sisi aku"
__ADS_1