
Chelsea menyipitkan mata saat melihat sepasang manusia yang dikenalnya masuk dan duduk di salah satu meja.
Chelsea menghela nafas, berusaha menahan emosinya yang sudah gatal ingin menghampiri kedua orang yang sedang asyik mengobrol itu. Tapi kalau ia bertindak sekarang, tidak ada bukti adik tiri Sena itu berniat jahat pada Reno.
Tidak lama 3 orang pria asing menghampiri meja mereka dan bergabung untuk msksn malam sesuai info dari Dio.
Antara lelah dan ngantuk, mata Chelsea mengawasi kelima orang yang masih asyik berbincang dan sesekali tertawa, hingga akhirnya sekitar jam 9 malam, kelima orang itu pindah ke bar & lounge yang ada di dekat lobby hotel.
Chelsea yang sudah tidak bisa menahan kantuk sempat tertidur dalam posisi duduk hingga kepalanya terantuk.
Matanya membola saat melihat meja yang ditempati Reno sudah kosong. Sesudah membayar minumannya, Chelsea bergegas keluar, berniat menanyakan kemana Reno dan tamunya pergi.
“Nona Chelsea,” seorang pria bertubuh tegap menyapanya begitu Chelsea keluar dari bar.
”Tuan Reno sudah menunggu Nona di atas.”
Chelsea mengerutkan dahi, bingung dengan ucapan pria itu. Apa iya Reno mengetahui keberadaannya di sini dan sengaja menyuruh orang untuk menjemputnya ?
“Lebih baik anda cepat menyusul sebelum semuanya terlambat. Penyesalan selalu ada di belakang.”
Kalimat itu bagaikan kata kunci di telinga Chelsea. Ia ingat Tamara pernah mengucapkan kalimat yang mirip-mirip seperti itu.
Chelsea pun mengangguk dan mengikuti pria itu yang berjalan di depannya menuju lift. Hatinya sedikit berdebar, pengalaman diculik membuat Chelsea sedikit parno terhadap orang asing, terutama pria berbadan tegap.
Chelsea melirik saat pintu lift terbuka di lantai 10. Ternyata ada pria lain yang berdiri menunggu mereka dengan pakaian yang sama dengan pria pertama.
“Silakan Nona,” pria pertama mempersilakan Chelsea mengikuti pria kedua yang akhirnya berhenti di depan pintu kamar 1025.
Pria itu langsung menempelkan kartu akses dan membuka pintu. Terdengar suara percakapan pria dan wanita yang membuat jantung Chelsea berdebar. Ia pun bergegas masuk.
“Karina !”
Chelsea langsung mendorong tubuh gadis itu. Kemejanya sudah tergeletak di lantai, hanya menyisakan tanktop dengan tali kecil.
Kemeja Reno pun sudah terlepas begitu juga dengan kaos dalaman putih yang biasa dipakai Reno.
“Jangan coba-coba merayu suami saya !”
Chelsea berusaha melepaskan tangan Reno yang menarik-narik tubuhnya. Reno pun terus meracau kepanasan.
“Ngapain kamu ada di sini !” pekik Karina dengan wajah memerah, efek dari rasa marah dan minuman alkohol yang tercium dari mulutnya.
“Bukan urusanmu !”
Karina pun bangkit kembali dan hendak mendekati Chelsea namun pria kedua langsung menahannya.
“Lebih baik Nona urus Tuan Reno, biar pelakor ini jadi urusan kami.”
“Pelakor ? Jangan kurang ajar kamu !”
Pria pertama memungut kemeja Karina dan pria kedua mengikat tangan Karina dengan kabel tis karena perempuan itu terus meronta.
“Besok pagi akan kami kirimkan alamat ke nomor lama Nona untuk menyelesaikan urusan anda dengan pelakor ini.”
__ADS_1
“Jangan kurang ajar kamu !” Karina masih berteriak minta dilepaskan namun kedua pria itu tidak peduli bahkan sekarang ia digendong ala karung beras.
“Kami permisi Nona,” pria pertama menyerahkan kartu akses pada Chelsea dan keluar membawa Karina.
Mata Chelsea membola saat melihat Reno sudah melepaskan celana jeansnya, hanya tersisa boxer.
“Sea…”
Chelsea menghela nafas, sepertinya dosis obat perangsang yang diberikan Karina tidak main-main. Untung saja Reno masih menurut saat Chelsea menariknya ke kamar mandi, masuk ke dalam bilik shower.
Hanya berpegang pada informasi yang pernah dibacanya di internet, Chelsea langsung menyalakan air dingin untuk mengguyur seluruh tubuh Reno.
Tanpa terduga, pria itu menarik tubuh Chelsea yang masih berpakaian lengkap hingga ikut terguyur di bawah kucuran shower.
“Reno !”
“Sea, badan aku nggak enak.”
Chelsea hanya bisa menghela nafas dan membiarkan Reno mulai menciumi bibirnya dengan kasar.
“Reno, jangan di sini. Dingin. Aku ganti pakaian dulu sekalian mengambil bajumu.”
“Sea, aku…”
“Jangan dimatikan showernya supaya badanmu tidak kepanasan lagi ! Sebentar aku kembali.”
Chelsea menghela nafas dan mengganti pakaiannya yang basah dengan jubah mandi. Ia sengaja mendiamkan Reno hingga 3 menit sebelum menghampiri pria itu lagi sambil membawakan handuk dan jubah mandi.
Bibir Reno mulai pucat dan tubuhnya menggigil. Chelsea pun membantu Reno dengan telaten dan memakaikan jubah mandi.
“Habiskan !” Reno yang semula ingin menolak akhirnya menurut saat melihat mata Chelsea melotot.
“Sea, badan aku masih nggak nyaman,” lirih Reno yang sudah duduk di tepi ranjang.
“Aku akan memberikan solusinya, tapi tidak boleh main kasar karena ada debay di sini,” Chelsea mengusap perutnya.
Reno mengangguk dengan tatapan sendu. Chelsea pun menarik jubah mandi Reno dan menempelkan bibirnya pada pria itu.
*****
Chelsea menggeliat di balik selimut. Tubuhnya sedikit remuk karena tidak cukup sekali Reno melakukannya semalam.
“Selamat pagi, Sayang.”
Mata Chelsea menyipit, menatap Reno yang sedang memandangnya dengan posisi miring dan kepala bertopang pada tangannya.
“Udah bangun dari tadi ?”
“Jadi kamu pergi kemari nggak bilang-bilang ? Papi udah kayak kebakaran jenggot. Tadi pagi Mama hubungi aku, kasih kabar kalau kamu menghilang.”
“Demi menyelamatkan kamu ! Untung aja aku tepat waktu,” sahut Chelsea dengan raut muka kesal.
“Menyelamatkan aku gimana ?” Dahi Reno berkerut
__ADS_1
“Kamu sama sekali nggak ingat dengan kejadian semalam ?”
“Ingat, aku ada acara makan dengan klien dari Singapura, kami makan lalu minum sebentar di lounge sampai akhirnya aku sedikit mabuk. Tapi sungguh aku nggak ingat bagaimana kamu bisa membawa aku ke kamar ini.”
Chelsea mendengus sebal dan beranjak bangun sambil memegang selimutnya, wajahnya terlihat kesal menatap Reno.
“Kenapa baju kamu basah semua ?” tanya Reno.
“Parah ! Untung aku memutuskan untuk datang mencarimu kemari. Kalau nggak habis sudah nasibmu terikat sama Karina.”
“Karina ? Kenapa ? Jangan bilang kamu masih cemburu sama dia.”
Chelsea meminta Reno mengambilkan tasnya. Chelsea langsung mengaktifkan handphone lamanya.
“Karina adalah adik tirinya Sena.”
Mata Reno membulat karena tidak percaya namun belum sempat berkomentar, Chelsea langsung menunjukkan handphonenya.
Bukan hanya pesan dari Tamara tapi pesan terbaru dari nomor asing yang berisi alamat tempat Karina disekap.
Tanpa menunda, Chelsea pun mulai menceritakan semuanya, mulai dari pertemuannya dengan Tamara, kecurigaan mereka serta info dari Tamara soal foto adik tiri Sena.
“Kenapa Sena begitu ingin menghancurkanmu dan terus mengusik kita ?” gumam Reno.
“Sudah pasti ada hubungannya dengan Bastian, lalu kekecewaan karena kehilangan Jeremi dan alasan lain yang belum terpikirkan olehku.”
“Aneh, kenapa Mike dan Karina begitu bersemangat menjalankan rencana mereka sampai sejauh ini,” ujar Reno sambil menautkan alisnya.
”Hal lain yang membuat aku bingung adalah kehadiran 2 pria yang membawaku ke kamar ini, dimana kamu hampir saja diper**kosa oleh Karina. Sepertinya dia juga mengkonsumsi sedikit obat supaya bisa mengimbangimu.”
“Kita ke tempat Karina sekarang dan kamu bisa bertanya langsung pada kedua pria itu.”
Dengan penuh semangat, Reno yang hanya mengenakan boxer turun dari ranjang.
“Kamu nggak mandi ?” tanya Reno mengerutkan dahi saat melihat Chelsea diam saja.
“Kamu lupa kalau aku ini pelarian ? Datang ingin menolong suami tanpa persiapan ? Kamu juga sama, check in di hotel tanpa bawa baju ganti.”
“Aku masih bisa pakai baju yang semalam dulu.”
“Nggak boleh ! Buang aja kemeja dan kaosnya,” tegas Chelsea dengan nada ketus.
“Loh, itu kan hadiah dari kamu.”
“Nggak masalah, nanti aku beliin yang sama lagi kalau perlu selusin. Aku nggak mau ada jejak Karina di situ.”
Reno tertawa lalu mendekati Chelsea yang cemberut.
“Jadi kita ketemu Karina pakai jubah mandi aja ?”
“Dasar norak, kayak nggak bisa suruh orang untuk membelikan yang baru aja.”
“Aku nggak rela orang lain membelikan pakaian dalam untuk istriku,” tegas Reno.
__ADS_1
“Ya udah, kamu pergi sekarang beliin baju dan pakaian dalam untukku, habis itu mandi lagi. Aku bisa muntah kalau mencium bau-bau Karina.”
Reno tertawa melihat wajah Chelsea ditekuk dan bibirnya mengerucut.