
Reno dan Chelsea berdiri di depan rumah baru dengan bentuk bangunan minimalis.
“Sepertinya selera kamu banget,” ujar Reno setelah mengedarkan pandangan ke segala penjuru rumah dan bangunan utama.
“Aku nggak pernah minta rumah apalagi sampai detil modelnya segala sama Bastian,” protes Chelsea. “Kesepakatannya kami akan tinggal di apartemen setelah menikah.”
Reno tertawa pelan dan menggandeng tangan Chelsea, mengajak calon istrinya masuk ke dalam rumah saat melihat 2 orang keluar melalui pintu utama.
“Selamat datang Nona Chelsea, Tuan Reno,” sapa seorang pria baya dengan sopan.
“Kok si Bapak kenal sama kamu ?” tanya Chelsea dengan dahi berkerut dan Reno hanya tertawa pelan.
Keduanya masuk ke dalam rumah diantar oleh Pak Maman, pria baya yang menyapa mereka.
Chelsea langsung berkeliling dan sekali-kali terlihat dahinya berkerut bahkan saat masuk ke kamar utama yang ada di lantai 2 dan membuka jendela, pikirannya langsung menangkap ada sesuatu yang tidak beres.
“Sini !” Chelsea menarik tangan Reno dan membawanya ke depan jendela besar.
“Hanya ada satu orang yang tahu rumah impianku,” mata Chelsea menyipit dan menatap tajam ke arah Reno penuh selidik.
”Jangan pura-pura tidak tahu karena aku yakin seribu persen kalau kamulah yang dipercaya Bastian untuk membangun rumah ini. Jadi ini alasan kamu memaksa aku menemui orangtuanya ?”
Chelsea menatap Reno sambil bertolak pinggang dan mata melotot, tapi pria di depannya lagi-lagi hanya tertawa.
”Sok pede, deh,” Reno menjepit hidung Chelsea dengan gemas. “Memangnya kapan kita pernah bicara soal rumah impian kamu ? Sejak dulu sampai sekarang seperrtinya kita nggak pernah duduk bareng untuk membahas soal rumah.”
”Reno, aku nggak akan lupa kalau aku suka ngoceh soal mimpi-mimpiku di masa depan denganmu sebelum pergi ke Amerika. Aku tidak peduli kamu mengabaikanku, tapi ternyata diam-diam kamu merekamnya dalam ingatanmu, Iya kan ?”
“Chelsea, Sayang,” Reno memeluk dan mencium pucuk kepala tunangannya itu.
“Bagaimana mungkin setiap kalimatmu tidak tersimpan dengan baik dalam memori otakku. Kamu suka lupa waktu dan tempat kalau sudah seru dengan ocehanmu biarpun aku sering marah-marah dan cuek padamu. Kadang aku berpikir kalau kamu cocok jadi penyiar radio yang tetap bicara dan tidak peduli bagaimana ekspresi orang karena tidak melihat ekspresi mereka.”
”Jadi beneran kamu yang bangun rumah ini, kan ? Kamu juga yang memberi masukan pada Bastian soal design rumahnya juga.”
Chelsea mengomel namun tidak melepaskan diri dari pelukan Reno sampai pria itu melerainya.
“Iya, bener banget kalau Bastian yang memintaku atau lebih tepatnya memaksa untuk membangun rumah ini meskipun berkali-kali aku menolaknya, karena bagaimana mungkin aku bisa membangun rumah impian wanita yang aku cintai untuk ditempati bersama pria lain,” ujar Reno dengan tawa getir saat mengingat kedatangan Bastian ke kantornya untuk membicarakan soal rumah ini.
__ADS_1
(Flashback on)
“Maaf kalau aku tidak membuat janji dulu denganmu dan mengganggu jadwalmu yang padat,” ujar Sebastian saat Reno terpaksa mengijinkannya masuk ke ruangan karena calon suami Chelsea itu sudah ada di lobby kantor.
“Ada masalah apa lagi soal Chelsea ?” tanya Reno dengan wajah datar sementara Bastian malah tertawa.
“Ternyata kamu sangat mencintai Chelsea,” ujar Bastian sambil tertawa pelan.
“Padahal Sea banyak bercerita soal sikapmu yang sering mengabaikannya bahkan sampai bikin sandiwara untuk menyingkirkan Sea dari hadapanmu.”
Reno melengos dengan wajah kesal membuat Bastian kembali tertawa pelan.
“Kamu sadar kalau jadwalku padat, kan ? Jadi tolong jangan banyak basa-basi karena aku harus pergi lagi.”
“Maaf, maaf,” ujar Bastian dengan senyuman yang terlihat seperti sedang mengejeknya.
“Kamu tahu kan kalau sebentar lagi kami akan menikah dan aku sudah menyiapkan lahan untuk membangun rumah impian Chelsea.”
“Lalu apa hubungannya denganku ?”
“Kamu sendiri tadi bilang kan kalau aku sering mengabaikannya, jadi aku pun tidak tahu seperti apa rumah impian Chelsea,” tolak Reno.
Rasanya hatinya bagai ditusuk puluhan anak panah saat Bastian menyebutkan kalimat pernikahan kami. Rasanya Reno ingin protes dan bilang kalau dia tidak ingin pernikahan itu terjadi dan masih berharap bisa kembali pada Chelsea.
“Maaf, bukan maksudku ingin pamer apalagi membuatmu sakit hati, tapi aku sangat mencintai Chelsea. Aku pastikan padamu kalau aku akan menjaganya dengan sepenuh hati. Sea bukanlah cinta pertamaku, tapi ia akan menjadi yang terakhir bagiku. Aku akan membuktikannya dan menyingkirkan semua penghalang cinta kami, aku janji padamu tidak akan pernah membiarkannya sakit hati lagi karena cinta.”
“Aku bukan tempat curhat dan aku tegaskan kalau aku tidak bisa menerima permintaanmu karena aku tidak tahu rumah seperti apa yang diinginkan Chelsea.”
“Aku mohon, tolonglah aku Reno karena aku sangat yakin kalau kamu yang paling tahu dan mengerti bagaimana selera Chelsea. Aku yakin kalau hanya kamu yang bisa membantuku mendirikan rumah tinggal yang nyaman untuknya dan anak-anak kami kelak.”
Rasanya Reno ingin menggebrak meja saat Bastian menyinggung soal anak-anak, tapi Reno masih bisa mengendalikan emosinya dan hanya mengepalkan satu tangannya di bawah meja sementara tangan lainnya memegang handphone.
“Jadikan bangunan rumah itu sebagai hadiah terbaik dan bentuk ketulusanmu untuk membuat Chelsea bahagia meskipun kamu tidak bisa memilikinya.”
Mata Reno membola, bagaimana mungkin Bastian bisa mengucapkan kata-kata seperti itu, apa dia tidak memikirkan perasaan Reno yang bertambah sakit.
“Kalau kamu sungguh-sungguh mencintai Chelsea, kamu pasti ingin membuatnya bahagia sekalipun dia tidak di sisimu. Tolong bantu aku membuat Sea semakin bahagia.”
__ADS_1
Reno terdiam dan menarik nafas dalam-dalam karena sulit membantah ucapan Bastian barusan.
Kenapa begini berat karma yang harus ditanggungnya karena bertahun-tahun bersikap jahat pada Chelsea dan bersikeras menolak ketutulusan cinta gadis itu ?
Apa ini waktunya untuk merasakan kembali semua yang dirasakan Chelsea saat mengerjarnya ?
Reno menghela nafas dan menatap mata Bastian yang sejak tadi dihindarinya. Bagaikan terhipnotis, kalimat Reno bukan lagi mengucapkan penolakan.
“Aku perlu melihat lokasi dan seluas apa tanah yang kamu siapkan itu.”
“Terima kasih, Reno, terima kasih. Kamu memang selalu tahu yang terbaik untuk Sea. Demi seluruh hidupku Reno, aku berjanji akan membahagiakan Chelsea dan tidak akan membuatmu kecewa.”
(Flashback off)
“Jadi sejak awal kamu sudah tahu kalau rumah ini akan diberikan untukku ?”
Reno melerai pelukannya dan mengangguk sambil membelai kepala Chelsea dengan senyuman di wajahnya.
“Kalau masalah warisan aku nggak tahu sama sekali, Sea. Aku tidak pernah menanyakan apapun soal rumah ini karena terlalu sibuk menata hatiku yang berantakan.”
“Aku semakin yakin kalau Bastian sangat setuju kalau aku memilihmu untuk menjadi suamiku,” Chelsea memeluk pinggang Reno dengan manja.
“Sama seperti kamu percaya Bastian bisa membahagiakan aku, Bastian pun percaya kalau hanya kamu satu-satunya pria yang paling mengerti aku dan sangat mencintaiku.”
“Jadi ?” Reno menatap Chelsea sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Apanya ?”
“Kita terima rumah ini sebagai hadiah dari Bastian dan kita segera menikah supaya bisa menempatinya berdua. Gimana ?”
Chelsea mengangguk dan merebahkan kepalanya di dada Reno yang balas memeluknya sambil menatap keluar jendela.
Sama sepertimu yang yakin akan membahagiakan Sea dengan segenap jiwa ragamu, aku pun akan membahagiakannya dan memberikan cintaku hanya untuknya setiap hari, Bas.
Terima kasih karena kamu sudah memaksaku untuk membangun rumah impiannya yang ternyata benar-benar kamu siapkan untuk Sea. Maaf dan aku ikut sedih karena kamu tidak bisa berada di sisinya untuk membangun mimpi-mimpi Sea yang lain di dalam perjalanan hidupnya.
Aku pastikan kamu tenang di alam sana, Bastian karena aku akan menjadikan Chelsea satu-satunya cintaku dan hembusan nafasku sampai maut memisahkan kami.
__ADS_1