Takdir Untukku

Takdir Untukku
Penyangkalan


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu sejak masalah dengan Revan berlalu dan pria itu masih belum bisa menemukan keberadaan Dita dan Radit.


Bagi Revan masalah itu belum selesai karena kedua orangtuanya masih memaksa untuk mencari Dita dan Radit.


Sementara Chelsea sendiri mulai menghindari Reno dan meminta Papi Agam untuk mencari penggantinya mengurus proyek yang berhubungan dengan Reno.


“Beneran nih udah rela melepaskan Reno ?” ledek Nia saat keduanya sedang berjalan menuju kafe yang ada di dekat kantor untuk makan siang.


“Iya beneran. Biar di dunia ini jumlah wanita lebih banyak daripada prianya, wanita masih tetap punya hak untuk menentukan laki-laki mana yang pantas dicintainya, biar para lelaki nggak seenaknya memperlakukan wanita.”


“Berarti Reno masih bisa lah masuk nominasi karena masih single,” ledek Nia sambil mengedipkan matanya.


“Bisa berhenti membahas soal Reno nggak ? Siang ini udah cukup panas dengan terik matahari, jangan bikin udara tambah gerah deh,” gerutu Chelsea.


Nia masih tertawa dan masuk ke dalam kafe yang dituju. Lumayan ramai karena waktunya makan siang namun tidak seramai tempat makan lainnya karena harga menu di kafe ini sedikit di atas rata-rata.


Chelsea sempat terpaku di tempatnya padahal seorang pelayan sudah menanyakan lebih dari 2 kali. Nia pun mengikuti arah tatapan Chelsea dan langsung meihat Reno tengah berbincang dengan seorang wanita cantik dengan pakaian wanita kantoran seperti Chelsea dan Nia. Tidak ada Dio yang menemani, hanya mereka berdua.


Keduanya terlihat akrab dan wanita itu terlihat begitu elegan membuat jantung Chelsea berdegup tidak karuan.


“Sea, duduk dulu, kalau mau labrak nanti aja,” bisik Nia sambil menepuk bahu sahabatnya.


”Dih ngapain juga pake acara ngelabrak, pacar juga bukan jadi nggak ada urusan,” sahut Chelsea sambil mencibir dan nadanya sedikit sewot.


Nia hanya tertawa kecil dan menggandeng Chelsea untuk mengikuti pelayan yang mengantar mereka ke meja yang kosong.


Suara Chelsea tidak cukup keras untuk didengar pengunjung lainnya, tapi telinga Reno yang terbiasa dengan suara gadis itu dan memorinya yang sudah menyimpan baik-baik setiap cara bicara Chelsea, membuat Reno langsung mengedarkan padangannya.


Reno ingin memastikan kalau dirinya bukan sedang berhalusinasi dan berharap benar-benar menemukan sosok Chelsea di situ.


Kedua sudut bibirnya langsung tertarik ke atas saat melihat punggung gadis yang dihafalnya luar kepala berada beberapa langkah darinya.


“Kamu kenapa Ren ?” tanya wanita di depannya sambil menautkan alis karena melihat lawan bicaranya mendadak senyum-senyum sendiri.


“Eh… nggak apa-apa,” Reno menoleh masih dengan senyuman.


Begitu sadar kalau lawan bicaranya wanita cantik yang bisa bikin salah paham, ide jahil langsung muncul di kepala Reno.


”Kamu mau pesan kopi atau minuman lain nggak ?” tanya Reno yang baru sadar kalau makanan mereka sudah habis sejak beberapa menit lalu.


“Boleh deh, aku mau pesan kopi.”


“Kita pindah tempat,” ujar Reno sambil beranjak bangun.


“Memangnya ada tempat ngopi lain yang enak dekat sini ?”


Reno tidak menjawab karena sudah sibuk berbincang dengan seorang pelayan yang terlihat megangguk-anggukan kepalanya.


“Ren, katanya mau pindah,” gadis cantik itu bergegas menyusul Reno dan berjalan di sampingnya.


Ia sedikit heran karena Reno bukannya berjalan ke arah pintu malah ke meja lain dan masih di dalam kafe.


Kedua gadis yang hendak didatanginya sedang bingung karena mendadak 2 pelayan setelah minta ijin dengan sopan langsung menambah 1 meja dan 2 kursi menempel pada meja Nia dan Chelsea.


“Terima kasih,” Reno yang sudah berdiri dekat situ menganggukan kepala sekilas setelah kedua pelayan itu selesai dengan permintaannya.


“Kamu ngapain di sini ?” suara Chelsea yang ketus langsung menyambut Reno yang tanpa ijin duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Gadis cantik yang datang bersama Reno terlihat bingung namun setelah melihat isyarat dari Reno, ia pun duduk di sebelah Nia.


“Kenalkan ini partner baruku yang akan menangani proyek apartemen di Kuningan,” ujar Reno sambil menatap Chelsea.


Gadis itu mengulurkan tangan, mula-mula pada Nia yang duduk di sebelahnya setelah itu ia berpindah pada Chelsea yang tanpa sadar masih memasang wajah kesal.


“Tamara,” gadis cantik dan ramah itu menyunggingkan senyum manisnya membuat hati Chelsea mendadak nano-nano.


“Chelsea,” dengan senyum terpaksa, ia menyebutkan namanya dan mencoba bersikap ramah.


“Chelsea ini putrinya Om Agam yang bertanggungjawab memasarkan proyek-proyek yang aku kerjakan. Bukan hanya proyek apartemen itu, tapi hampir semua proyek yang aku pegang.”


“Wah pantas saja selama ini penjualannya selalu laris manis, penanggungjawabnya cantik begini,” puji Tamara tulus namun membuat Chelsea justru tersenyum canggung.


“Apartemen ?” Chelsea mengerutkan dahi karena saat rapat tadi pagi, Papi Agam tidak menyinggung soal proyek baru yang jadi tugasnya.


“Ke depannya, kemungkinan besar Tamara akan menjadi partner kerjaku. Perusahaan tempatnya bekerja sedang menjajaki kerjasama dengan perusahaan Papa,” ujar Reno tanpa menjawab kebingungan Chelsea soal apartemen.


Chelsea hanya senyum dipaksakan sambil mengangguk-angguk, padahal hatinya kesal dan merasa tidak perlu mendengar penjelasan apapun.


Lagipula Papi Agam sudah setuju untuk mencarj penggantinya yang mengurusi semua kerjasama dengan perusahaan Papa Robert.


Dua orang pelayan mengantarkan pesanan mereka,


2 menu makanan dan 2 gelas kopi pesanan Reno dan Tamara.


“Kalau nggak makan ngapain pindah kemari ?” ketus Chelsea sambil menatap Reno dengan dahi berkerut.


“Kok tahu kalau kami pindah ? Kamu udah lihat kami berdua sebelumnya ?” Reno balik bertanya dengan alis terangkat sebelah dan wajah dibuat sedatar mungkin.


Chelsea tidak menjawab, dengan senyum terpaksa ia berbasa basi dengan Tamara sebelum menikmati makanannya. Sepiring spaghetti aglio olio.


Sebetulnya Tamara adalah salah satu tim konsultan yang digunakan oleh pemilik lahan untuk membangun apartemen di kawasan strategis di Jakarta dan pemasarannya bukan dipegang oleh perusahaan Papi Agam


Chelsea tidak sadar kalau sedang dikerjai Reno karena pria itu tahu kalau fokus Chelsea adalah hatinya sendiri yang terlihat cemburu saat melihat Reno berdua dengan wanita lain.


“Kamu tahu nggak sih kalau kamu tuh malah mengganggu niat aku makan siang sama Nia,” gerutu Chelsea saat keempatnya sudah selesai dan keluar dari kafe.


“Aku nggak melakukan apa-apa, kenapa jadi mengganggu kalian ?” lagi-lagi Reno balik bertanya dengan wajah datar.


“Aku tuh jadi nggak bisa ngobrol santai sama Nia,” ketus Chelsea.


“Nggak bisa ngobrol apa nggak bisa gibahin aku ?” Reno mengangkat alisnya sebelah dan menyipitkan matanya.


“Ngapain gibahin kamu ? Nggak ingat kalau aku nggak mau lagi berurusan sama anak-anak Om dan Tante.”


“Yakin ?” Reno malah mendekatkan wajahnya ke hadapan Chelsea. Gadis itu terkejut dan wajahnya langsung merona.


“Ya…kin. Aku yakin banget !” Chelsea nendorong bahu Reno yang tersenyum mengejek.


“Mau taruhan ?” tantang Reno.


“Ogah…Udah aku bilang kalau aku nggak mau lagi berurusan dengan kalian berdua, terus ngapain juga aku harus taruhan denganmu.”


“Benar nih ?” Reno menyipitkan mata, menatap Chelsea dengan tajam.


Tamara yang sebetulnya memang menaruh hati pada Reno sejak lama memperhatikan interaksi keduanya yang terlihat tidak biasa.

__ADS_1


“Iya, yakin,” Chelsea mengangguk mantap.


“Yakin nggak nyesel ?” Reno mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Chelsea membuat bulu kuduk gadis itu meremang.


”Ke…kenapa harus nyesel ?” suara Chelsea yang terbata membuat Reno bersorak dalan hatinya.


“Kalau kamu sudah memastikan begitu, aku nggak akan ragu lagi untuk memikirkan wanita lain,” bisikan Reno kembali membuat Chelsea bergedik.


“Tamara maksudmu ?” Chelsea mengutuki dirinya saat menyebut nama gadis cantik yang bersama Reno.


“Memangnya urusan apa aku memberitahu sama kamu ?” Reno yang sudah kembali berdiri tegak di hadapan Chelsea menatap gadis di depannya sambil menautkan alis.


“Nggak ada dan nggak penting ! Kalau begitu jangan suka samperin orang lagi kalau memang cuma mau pamer doang !” omel Chelsea balas melotot.


“Bukan mau pamer tapi minta pendapat. Kan di sini bukan hanya ada kamu doang, ada Nia yang bisa membantuku memberi saran.”


Chelsea mendengus kesal dan membuang pandangan ke sembarang arah.


Chelsea mencebik dan langsung membalikkan badannya mendekati Nia yang berdiri sambil nbobrol dengan Tamara.


“Saya balik dulu, Kak Tamara,” pamit Chelsea dengan senyum dipaksakan.


“Nggak sekalian aja diantar Reno ?”


”Nggak usah, kalau naik mobil nggak bisa cuci mata,” tolak Chelsea dengan sopan.


“Biarin aja, Ra. Dia lagi mau buka lowongan cari jodoh,” ledek Reno tanpa senyum.


“Bagus kalau kamu udah tahu,” cibir Chelsea.


Chelsea langsung memberi isyarat pada Nia untuk kembali ke kantor sementara Reno berjalan menuju parkiran mobil diikuti Tamara.


”Kayaknya hubungan kalian bukan sekedar partner bisnis,” ujar Tamara saat keduanya sudah di dalam mobil.


“Iya,” sahut Reno tanpa menoleh. “Dia calon istriku.”


Reno sengaja menyatakannya pada Tamara karena tahu kalau gadis cantik yang baru ditemuinya lagi setelah 5 tahun berpisah, menaruh hati pada Reno sejak masih berseragam putih abu-abu.


Tapi entah kenapa, Reno tidak bisa benar-benar membuka hatinya untuk perempuan lain padahal saat itu hubungannya dengan Chelsea tidak pernah akur. Sikap Chelsea yang terus mengatakan cinta padanya membuat Reno kesal dan terganggu, namun tanpa sadar membuat hatinya justu penuh dengan Chelsea.


Tamara terlihat kecewa mendengar ucapan Reno yang tegas dan meyakinkan. Padahal Tamara sudah mencari tahu soal Reno dan memastikan kalau posisi Reno saat ini adalah pria single.


Reno membuka kaca di samping Tamara saat mobilnya berada di dekat Chelsea.


“Hati-hati disangka jadi-jadian melihat perempuan elegan, tapi mukanya jelek dan menyeramkan melebihi mbah kunti,” ledek Reno sambil tersenyum sinis.


Chelsea melotot dan belum sempat menjawab, Reno sudah melajukan mobilnya sambil menutup kaca.


“Reno si**lan !” maki Chelsea sambil mengepalkan tinju di udara.


Nia langsung tergelak membuat beberapa orang menatap ke arah mereka.


“Cemburu bilang Neng, jangan dilawan, nanti bisa bikin sakit kepala, sakit hati dan sakit gigi,” ledek Nia di sela-sela tawanya.


“Siapa yang cemburu ?” tukas Chelsea dengan ketua.


“Dasar gengsi ! Mulut sama wajah nggak sinkron masih berani bilang nggak !”

__ADS_1


Chelsea menarik nafas dengan wajah cemberut, memaki dirinya sendiri yang tidak mampu menutupi perasaan dan emosinya sendiri.


__ADS_2