Takdir Untukku

Takdir Untukku
Janji Reno


__ADS_3

Chelsea kembali memeriksa handphonenya, sudah 2 hari ini Revan tidak ada kabar sama sekali. Sudah hampir sepuluh hari Revan pergi dan terakhir mengabarkan kalau jadwal kepulangannya akan kembali tertunda.


Chelsea menghela nafas saat panggilan dari Reno masuk ke handphonenya. Hari ini adalah hari ke-3 yang dijanjikan oleh Reno.


(Reno) Aku tunggu di bawah Sea dan jangan bilang kalau kamu akan pergi denganku. Biar hanya Nia dan Om Agam yang tahu.


(Chelsea) Oke, aku turun sekarang.


Chelsea yang sudah siap-siap sejak 10 menit yang lalu bergegas turun setelah pamit pada Nia dan Nuri.


Posisi mobil Reno berada di luar gedung, entah kenapa memberi kesan misterius bagi Chelsea.


“Kenapa kayaknya rahasia banget sih ?” keluh Chelsea yang langsung mengambil tisu karena keningnya dibanjiri peluh.


“Maaf,” Reno mengambil saputangan miliknya dan membantu mengusap keringat Chelsea membuat gadis itu sedikit terkejut.


”Biarkan aku membantu. Lebih baik memakai saputangan daripada tisu. Saputangannya masih baru,” ujar Reno sambil tersenyum membuat Chelsea akhirnya mengalah dan membiarkan pria itu mengelap keringatnya.


“Biar aku yang cuci, nanti aku kembalikan,” dengan cepat Chelsea mengambil saputangan Reno dan menyimpan di dalam tasnya.


“Masih suka dengan saputanganku, ya ?” ledek Reno sambil tertawa dan menyalakan mobilnya.


Chelsea mendecih dengan bibir cemberut. Ternyata Reno masih ingat kalau Chelsea suka meminjam saputangan Reno dan sering tidak mengembalikan pada pemiliknya lagi, membuat Reno marah-marah karena stok saputangannya semakin menipis.


“Kita mau kemana ?”


“Kamu ikut aja dan setelah ini kita makan siang, ya ?”


Chelsea hanya diam dan tidak membantah, mengikuti kemana pun Reno akan membawanya.


Perjalanan cukup jauh dan baru 1 jam kemudian mobil Reno memasuki satu gerbang bangunan apartemen yang terbilang mewah namun letaknya bukan lagi di wilayah Jakarta.


“Ini kunci apartemen untuk naik lift dan membuka kamar unit 715. Sejauh yang aku tahu pemiliknya sedang tidak ada di tempat.”


“Jadi kamu mau nyuruh aku jadi pencuri ? Diam-diam masuk ke apartemen orang dan untuk apa ?”


“Bukan untuk mencuri, Sea tapi untuk melihat-lihat apa yang ada di sana. Kamu akan menemukan semua yang aku maksud selama ini.”


“Tapi Reno….”


“Aku akan menyusul tapi jangan sampai CCTV melihat kita masuk berdua.”

__ADS_1


“Pakai apa ?” Chelsea mengerutkan dahi karena sadar Reno menyerahkan kunci apartemen padanya.


“Tenang aja, aku sudah atur semuanya hari ini. Turun sana, sebentar lagi bakal disamperin satpam karena curiga kita kelamaan di mobil,” ujar Reno sambil terkekeh.


Chelsea masih terlihat ragu namun Reno menganggukan kepala untuk meyakinkan Chelsea.


“Kalau kamu ditanya satpam di lobby, bilang aja kamu adiknya aku ya,”


Chelsea mengangguk dan berjalan sendirian menuju lobby. Ternyata tidak ada seorang pun yang menghentikannya, hanya sekedar menyapa dan memberikan salam.


Chelsea mengikuti instruksi Reno dan menempelkan kartu akses pada bagian yang ada di bagian tombol-tombol lift dan secara otomatis angka 7 langsung menyala.


Chelsea menautkan kedua jemarinya untuk menghalau kegelisahan yang ada di dalam hatinya. Ada penyesalan karena tidak bertanya lebih detil pada Reno tentang rencananya dan apartemen siapa yang akan dikunjungi oleh Chelsea.


Chelsea menghela nafas panjang sebelum keluar dari lift. Ia berusaha tenang dan percaya diri karena sadar ada CCTV yang memantaunya mulai dari dalam lift dan di sepanjang lorong menuju unit 715.


Sampai di depan pintu Chelsea kembali menghela nafas sebelum menempelkan kartu akses dan jantungnya berdebar kencang saat pintu terrbuka.


Perlahan Chelsea masuk ke dalam apartemen dengan jantung yang semakin berdebar kencang karena merasa telah masuk ke apartemen orang tanpa ijin.


Dahinya berkerut saat melihat sepasang sepatu laki-laki yang mengganggu pikirannya. Akhirnya didorong dengan rasa penasaran, Chelsea semakin masuk ke dalam ruangan apartemen yang cukup luas dan mewah itu.


Pandangannya berkeliling dan akhirnya ia memutuskan untuk mendekati satu meja bufet dimana banyak foto-foto dalam bingkai kecil disusun dengan apik di sana.


Rasa penasaran semakin mendorong Chelsea untuk melihat lebih jauh isi apartemen dan tatapannya tertegun saat memandang pigura yang digantung dekat meja makan.


Chelsea mengigit bibirnya, berharap Reno ada di sisinya sehingga ia tidak sendirian untuk memeriksa apartemen ini.


Saat sedang menenangkan hatinya, sayup-sayup Chelsea mendengar suara dari dalam kamar. Bukan hanya 1 orang tapi sahutan yang semakin kencang itu membuat Chelsea sadar adegan apa yang sedang terjadi di balik pintu kamar itu.


Entah apa yang mendorong Chelsea bukan menjauh malah semakin mendekati pintu kamar hingga telinganya menangkap suara ******* dan pekikan kenikmatan makin jelas terdengar.


Seluruh tubuhnya bergetar dan keringat dingin mulai terasa di kedua telapak tangannya. Jemarinya terulur memegang handel pintu namun ragu untuk membukanya.


Sementara Reno yang menunggu di parkiran basemen baru saja selesai menerima panggilan telepon dari Dio.


Baru saja ia ingin merebahkan sandaran kursi, matanya menangkap mobil yang sangat dikenalinya.


Reno bergegas turun untuk memastikan plat nomor mobil yang terhalang oleh mobil lain.


“Sh**t !” maki Reno yang langsung berlari setelah mengambil kartu akses dan mengunci mobilnya.

__ADS_1


Dengan tidak sabar, Reno berulang kali menekan tombol lift yang masih terus bergerak. Tidak mungkin naik lewat tangga darurat karena alasan keamanan, tidak ada yang bisa mengakses pintu itu dari area parkiran basement.


Reno kembali menekan-nekan angka 7 yang sudah otomatis menyala. Rasanya tidak sabar karena bukan hanya dia yang berada di dalam lift.


3 penghuni lain yang berhenti di lantai 3 dan 5 ikut masuk ke dalam lift dari lobby. Reno makin gelisah, berharap Chelsea baik-baik saja.


Reno langsung berlari begitu lift berhenti di lantai 7 menuju unit 715 yang dituju oleh Chelsea. Ia menarik nafas lega karena ternyata Chelsea tidak menutup pintu apartemen dengan benar hingga ada celah yang membuatnya bisa masuk ke dalam apartemen.


Tanpa melepas sepatu snickersnya, Reno melihat Chelsea yang berdiri di depan pintu kamar yang terbuka dengan posisi membeku.


“Jangan dilihat !” Reno langsung menarik tangan Chelsea dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


Kedua orang yang sedang tumpang tindih itu langsung menoleh saat mendengar suara Reno bahkan si perempuan langsung berteriak dan menarik selimut yang sudah acak-acakan.


“Maaf Sea, maaf. Bukan tujuanku untuk membuatmu berada dalam situasi ini,” bisik Reno mengusap-usap punggung Chlesea dan menciumi pucuk kepala gadis itu berkali,-kali.


Tidak ada isakan namun Reno bisa merasakan kalau tubuh Chelsea bergetar.


“Mau ngapain kalian di sini !” pekikan Revan membuat Chelsea malah memeluk Reno dan membenamkan kepalanya ke dada bidang pria itu.


“Bukankah seharusnya kami yang bertanya kenapa Kakak ada di sini dan bukan di Sumatera seperti yang Kakak bilang pada Sea ?”


Revan yang hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya menatap Reno dengan wajah memerah dan mata menyalang karena marah.


“Tunggu di situ, urusan kita tidak selesai sampai di sini !” perintah Revan.


“Tidak perlu !” sahut Chelsea yang melepaskan pelukannya dari Reno, berusaha berani menghadapi kenyataan yang ada di depan matanya


“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi karena semuanya sudah jelas. Pertunangan kita batal dan lupakan tentang pernikahan !”


Chelsea melepaskan cincin yang diberikan Revan saat melamarnya dan dilemparnya ke arah Revan ta pa peduli jatuh dimana.


“Chelsea !” bentak Revan.


“Aku yang akan bicara langsung dengan Papa dan Papi. Tolong jangan mencari-cari alasan lagi untuk membuat pernikahan kita terjadi dan Papa tidak akan tahu masalah ini dari mulutku,” tegas Chelsea.


“Tolong bawa aku pergi dari sini,” pinta Chelsea menatap Reno dengan wajah memohon bahkan Chelsea langsung menggamit lengan Reno.


Revan memaki-maki sendiri dengan penuh emosi saat Reno dan Chelsea menutup apartemennya.


Perempuan yang bersamanya mendekati Revan dan memeluk pria itu dari belakang dengan tubuh yang berbalul selimut tipis.

__ADS_1


“Mungkin sudah saatnya kamu bicara jujur pada orangtuamu,” bisik perempuan itu sambil menciumi punggung Revan yang terbuka.


“Jangan gila !” maki Revan sambil meninggalkan perempuan itu yang terhentak sedikit kasar.


__ADS_2