
Sebulan berlalu sejak Chelsea memutuskan untuk memulai hubungannya dengan Bastian sebagai teman dan melepaskan Reno dari dalam hatinya.
Chelsea pun menepati janjinya pada Reno untuk meminimalkan pertemuan mereka dalam urusan pekerjaan apalagi keduanya semakin terlihat canggung saat bertemu.
Seperti hari ini, selesai rapat di lokasi proyek cluster baru, Chelsea berusaha tidak mempedulikan tatapan Reno yang sejak tadi terus memperhatikannya. Ia segera merapikan laptop dan berkas-berkasnya.
Chelsea tidak mau terpancing dengan cerita Nia beberapa hari yang lalu tentang bagaimana kondisi Reno belakangan ini.
“Sudah selesai rapatnya, Sayang ?”
Chlesea dan Reno yang tinggal berdua di dalam ruangan langsung menoleh ke arah pintu.
“Kamu…. Kok bisa udah sampai sini aja ?”
Chelsea nampak terkejut tapi sekaligus bahagia saat melihat Bastian yang datang menjemputnya, padahal ia tidak minta dijemput dan Bastian sendiri tidak memberitahu kalau akan menjemput.
“Apa kabar Reno ?” sapa Bastian begitu berdiri di samping Chelsea.
“Baik,” sahut Reno dengan senyuman canggung.
Tanpa diminta, Bastian langsung mengambil tas laptop milik Chelsea dan tangan Chelsea sendiri langsung merangkul lengan Bastian, membuat hati Reno perih.
“Kami balik duluan, Ren,” pamit Bastian.
Chelsea sendiri tidak lagi bersuara hanya menganggukan kepala saat pamit pada Reno.
Keduanya tampak bahagia dan Reno hanya bisa menatapnya dari kejauhan sampai akhirnya mereka meninggalkan lokasi dengan mobil Bastian.
“Memangnya kamu nggak kerja sampai bisa kabur dari kantor ?” tanya Chelsea saat mobil sudah mulai masuk ke jalan raya.
“Nggak kabur, udah ijin sama Papa. Mana mungkin nggak dikasih kalau alasannya mau ketemu calon menantunya Papa.”
“Iihhh calon menantu darimana ? Jadi pacar aja belum, tahu-tahu udah jadi calon menantu aja. Lagipula baru juga sebulan jalan bareng setelah kenalan.”
“Memangnya sebulan ini nggak berasa kayak orang pacaran ?” Bastian menggenggam jemari Chelsea dengan satu tangannya.
“TTM belum pacar,” sahut Chelsea sambil terkekeh.
”Belum ditembak jadi nggak berasa pacar.”
“Dasar abege !” Bastian mengacak rambut Chelsea dengan gemas dan keduanya tertawa.
“Mau ditembaknya pakai apa ? Peluru cat, air atau gas air mata ?”
“Nggak ada pilihan yang manis dan romantis gitu ? Kok kayak lagi bubarin pendemo ?”
“Lagian udah ditembaki dengan cinta setiap hari masih nggak berasa juga ?” Bastian mencibir dan Chelsea tertawa melihat wajah Bastian yang menggemaskan.
“Kita makan di sini ya ?” tanya Bastian yang sudah menghentikan mobil di area parkir satu rumah makan dengan tulisan makanan sunda.
“Tahu darimana tempat ini ? Kayaknya jauh dari mana-mana,” Chelsea memperhatikan sekeliling restoran dari dalam mobil.
“Dari medsos, katanya menu makanannya enak dan harga nggak terlalu mahal.”
Chelsea hanya mengangguk-angguk dan langsung membuka pintu saat mesin mobil sudah dimatikan.
__ADS_1
“Tadi Reno nggak ngapa-ngapain kamu, kan ?” tanya Bastian dengan nada posesif saat keduanya berjalan masuk ke dalam rumah makan.
Chelsea tidak menolak setiap kali Bastian menggandengnya, malah merasa nyaman dan hatinya tenang saat tangan Bastisn menggenggamnya.
“Cemburu ya ?” ledek Chelsea sambil bergelayut manja.
“Iya, cemburu banget,” jawab Bastian jujur dengan wajah serius.
“Duh bahagianya ada yang bilang cemburu. Tapi tenang aja, Sayang, aku tidak pernah memberi celah untuk Reno dan udah nggak ada rasa lagi biar dekat-dekat sama dia.”
“Kasih tahu aku kalau Reno berani macam-macam sama kamu.”
“Iya, Sayang. Iya,” sahut Chelsea sambil tertawa pelan.
“Katanya belum berasa jadi pacar karena belum ditembak, tapi dari tadi panggilnya sayang-sayang terus.”
“Lidah tidak bertulang, Sayang, susah untuk dikendalikan,” sahut Chelsea sambil tertawa.
”Pintar aja ngeles kayak bajaj,” ledek Reno sambil mencibir. Chelsea tergelak dan menyandarkan lundaknya ke bahu Bastian.
Keduanya duduk di bagian lesehan dengan pemandangan danau buatan yang menenangkan hati. Berada di tengah-tengah area yang dipenuhi pepohonan membuat tempat inu terasa sejuk.
Bastian memperhatikan Chelsea yang sejak tadi asyik bercerita sambil menikmati makanannya. Selalu saja ada hal-hal baru yang membuat Bastian semakin jatuh cinta pada gadis di depannya.
Mereka memang baru sebulan berkenalan tapi Chelsea membuat Bastian merasa seperti sudah mengenal gadis itu bertahun-tahun.
Setelah 5 tshun bergulat dengan hatinya yang hancur karena dikhianati wanita yang dicintainya, Bastian seperti menemukan kembali perasaan cinta yang sudah lama menghilang.
“Bas… Bastian,” Chelsea mengibaskan tangannya di depan wajah Bastian yang menatapnya sambil tersenyum.
“Aaww…” Bastian meringis, tersadar dari lamunannya.
“Kamu kesambet apa gimana sih ?” gerutu Chelsea. “Atau jangan-jangan kamu bosan mendengar aku ngomong ?”
“Nggak Sayang, aku nggak bosan,” Bastian mengusap wajah Chelsea sambil tersenyum.
“Aku lagi terpesona dan bahagia. Sudah 5 tahun terakhir aku kehilangan rasa untuk mencintai dan setelah bertemu denganmu, semua rasa itu muncul kembali.”
“Kamu pernah patah hati juga ? Kamu belum pernah cerita apapun tentang masa lalumu.”
“Yakin kamu nggak bosan mendengar aku cerita ? Aku nggak bisa kayak kamu kalau bicara bisa lancar bicara tentang banyak hal, aku hanya mahir kalau bicara soal bisnis.”
“Nanti aku ajarin, aku tularin kebiasaan bawelku biar kamu tambah pintar kalau lagi negosiasi sama klien.”
Chelsea bergaya menyombongkan dirinya membuat Bastian tertawa. Rasanya ingin cepat-cepat menghalalkan hubungan mereka.
“Sea, kalau aku langsung mengajak kamu nikah dan pacarannya sesudah nikah aja gimana ?”
“Memangnya kamu udah yakin kalau kita pasti cocok meski belum lama saling kenal ?” dahi Chelsea berkerut.
“Aku yakin, Sea, pakai banget. Kamu sendiri gimana ? Apa kamu ragu kalau aku bisa membahagiakanmu ?”
“Boleh aku jujur ?” mata Chelsea mengerjap, ada keraguan dalam tatapannya.
“Sekalipun tidak enak dibicarakan, akan lebih baik kalau kita membahasnya di awal hubungan supaya dapat mencari jalan keluarnya.”
__ADS_1
“Setelah 2 kali dikhianati cowok yang berstatus tunangan rasanya aku masih sedikit trauma saat mau serius menjalin hubungan dengan cowok. Dan sama seperti kamu, setelah Reno menghancurkan semua mimpiku 4.5 tahun yang lalu, aku tidak lagi antusias untuk bicara cinta. Lalu datang masalah Revan yang seperti membuat aku de javu dengan perbuatan Reno.”
“Kita sama-sama orang yang pernah patah hati karena dikhianati, Sea, jadi aku yakin kita sama-sama akan menjaga perasaan satu sama lain supaya tidak merasakan kembali sebuah pengkhianatan.”
“Kamu tahu kenapa aku langsung klik sama kamu, Bas ? Ngomong-ngomong kamu nggak keberatan kalau aku panggil nama tanpa embel-embel kakak atau Mas atau apapun, kan ?”
“Nggak, aku malah senang setiap kali mendengar suaramu memanggil namaku,” Bastian mengangguk pasti
“Terus kenapa kamu bisa langsung klik ?”
“Karena aku merasakan debaran dan sensasi yang sama seperti yang aku rasakan waktu menyukai Reno saat pertama kalinya. Sebelumnya tidak ada pria yang bisa membuatku begitu bahkan Revan sekalipun. Itu sebabnya aku merasa senang akhirnya hatiku langsung merasa sesuatu yang berbeda dan membuatku bersemangat lagi.”
“Terima kasih, Sayang. Tapi bukan berarti aku sama dengan Reno, kan ?” Bastian kembali mengusap kepala Chelsea dengan penuh cinta.
“Tuh kan aku langsung berdebar lagi dan tentu saja kamu beda banget sama Reno. Kamu selalu memanjakan aku dan membuat aku merasa istimewa,”ujar Chelsea dengan wajah merona dan tersipu. Bastian tertawa dan mencubit pipi Chelsea dengan gemas.
“I love you, Sea. Bersediakah kamu menikah denganku dan menjadi teman hidupku hingga ajal memisahkan kita ?”
“Bas, kok aku berasa kayak lagi mau nikahan aja,” Chelsea terkekeh.
“Iya, kalau kamu mau, dua bulan lagi aku akan minta kedua orangtuaku datang melamarmu, Sea. Kita benar-benar menikah.”
Chelsea terdiam, hatinya masih ragu. Ada sedikit rasa cemas apakah semuanya bisa berjalan dengan baik.
“Sea,” tanpa sadar Bastian sudah beranjak dari kursi dan mengulurkan tangannya.
“Jangan jadikan permintaanku itu beban di hatimu. Kita jalani dulu, saling mengenal dan memahami sambil menata hati kita berdua yang pernah dibuat berantakan oleh cinta.”
Chlesea tersenyum dan menggenggam jemari Bastian, membiarkan pria itu menggandengnya keluar rumah makan.
“Beri aku waktu sedikit saja, Bas, aku hanya ingin memastikan kalau hatiku baik-baik saja supaya tidak akan menyusahkanmu saat kita sudah menikah nanti. Aku tidak ingin kehilanganmu,” suara Chelsea makin pelan dan terdengar malu-malu membuat Bastian tersenyum.
“Aku akan sabar menunggu, Sea, asal jangan terlalu lama karena tahun ini usiaku tambah satu angka di belakang angka 3.”
“Beneran tahun ini kamu sudah 31 ? Aku berpikir kamu masih di bawah 30.”
“Jangan meledek, Sea, semua orang yang melihatku sudah bisa membaca kalau usianya sekitar 30,” cibir Bastian sambil tertawa.
“Mungkin karena aku langsung jatuh hati saat melihatmu makanya di mataku kamu masih muda, jauh di bawah usiamu yang sebenarnya.”
“Gombal kamu, Sea,” Bastian kembali tertawa sambil membukakan pintu mobil untuk Chesea sebelum ia sendiri masuk ke kursi penumpang.
“Mau kemana kita sekarang, Bas ?”
“Kamu nggak perlu balik kantor untuk laporan buat meeting hari ini ?”
“Nggak perlu, aku bisa mengerjakannya nanti di rumah karena baru besok harus aku laporkan sama Papi.”
“Kalau begitu panas begini enaknya bobo-bobo siang di horel,” lirik Bastian.
“Dasar lelaki, ada peluang sedikit langsung ngajaknya ke kamar,” Chelsea memukul bahu Bastian dari samping.
Bastian tergelak melihat ekspresi Chelsea dan gadis itu sendiri terpesona melihat wajah Bastian yang semakin tampan.
“Jangan dilihatin begitu, kalau aku makin nggak sabar, minggu depan aku minta Papa dan Mama melamarmu,” ledek Bastian di sela tawanya.
__ADS_1
Chelsea tersipu karena ketahuan sedang terpesona pada pria di sampingnya, Buru-buru ia memakai sabuk pengaman dan duduk dengan tegak menatap ke depan.