
Setelah 3 hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Reno diperbolehkan pulang ke rumah. Hatinya srmpat kecewa karena Chelsea tidak datang dan menemaninya sejak kejadian hari pertama.
Semua pesan Reno hanya dibaca tanpa ada yang dibalas dan telepon Reno tidak diangkat.
“Wuuihhh akhirnya pahlawan kesiangan pulang juga ke rumah,” ledek Revan yang ternyata sudah ada di rumah bersama istri dan anaknya.
“Pahlawan dari mana ?” gerutu Reno.
“Aku dengar kamu menyelamatkan cewek cantik di lokasi proyek,” Revan makin tertawa melihat wajah kesal Reno.
Revan tahu kalau adiknya kesal karena Chelsea tidak terlihat batang hidungnya di rumah menyambutnya dan sejak datang mata Reno menyapu ke sekeliling ruangan mencari sosok kekasihnya.
“Berita hoax kegemaran para penggosip,” cibir Reno yang langsung naik ke kamarnya dengan wajah masam.
Revan masih tertawa meski beberapa kali Dita mencubit lengan suaminya untuk berhenti menggoda adiknya yang sedang kesal.
“Jangan suka iseng kalau orang lagi bete, apalagi Reno kan sedang dibuat kesal sama Chelsea.”
“Kamu nggak lihat tampang Reno sejak turun dari mobil ? Sudah kesal tambah ditekuk karena cari-cari Sea tapi nggak ketemu. Reno nggak tahu aja kalau Sea lagi enak-enakan di salon.”
“Ya udah biarin aja, kalau memang Reno mau tahu kan dia tinggal nyeberang jalan.”
“Nah itu dia kebiasaan Reno, bukan langsung ke sumber emosinya malah uring-uringan sendiri.”
Dita geleng-geleng melihat suaminya semakim jahil bukan hanya pada Reno tapi Radit pun sering dibuat kesal oleh papanya.
Di kamarnya Reno kembali berusaha menghubungi Chelsea namun hingga beberapa kali berakhir di kotak suara dan akhirnya Reno memilih beristirahat kembali di atas kasurnya.
Pikirannya teringat dengan kejadian Chelsea tertidur di kamarnya saat Reno diam-diam berangkat ke Surabaya. Rasanya ingin cepat-cepat meresmikan hubungan mereka hingga setiap malam Reno bisa memeluk Chelsea dan melihat wajah cantik gadis itu setiap membuka mata di pagi hari.
Sedang asyik melamun tentang Chelsea, pintu kamar Reno diketuk dan tidak lama Mama masuk membawa satu kemeja tangan panjang berwarna peach.
”Kemeja siapa, Ma ?” tanya Reno yang sudah dalam posisi duduk di atas ranjang.
“Punya kamu, nanti dipakai sesudah mandi sore karena rencananya kita mau foto keluarga.”
“Kok tumben banget ? Kenapa mendadak dan nggak ngomong dari kemarin-kemarin ?”
“Mama mau kasih tahu pas kamu kecelakaan dan masuk rumah sakit, jadi akhirnya Mama memutuskan untuk menundanya setelah kamu sembuh. Ternyata Mama lupa dan baru ingat saat melihat Revan datang kemari.”
“Jam berapa, Ma ?”
“Rencananya jalan jam 6 dari rumah. Mandi dan dandan yang rapi soalnya foto ini akan dipajang seumur hidup.”
Reno hanya mengangguk dengan wajah malas. Tidak ada gunanya membantah apalagi Revan sudah di bawah bersama istri dan anaknya.
Sekitar jam 6 kurang 10 menit Revan turun ke bawah dengan memakai kemeja yang diberikan oleh Mama dan memakai celana panjang sopan berwarna hitam.
“Kok Kak Revan beda warnanya ? Katanya mau bikin foto keluarga ?”
“Memang ada 2 warna biar lebih cerah,” sahut Revan asal dan meninggalkan Reno. Ia enggan berdebat lebih lama dengan Reno karena takut mulutnya yang jahil tergoda untuk mengisengi Reno.
“Papa dan Mama kemana, Kak ?” Reno yang tadi sempat masuk kamar orangtuanya, lalu melewati ruang tengah sebelum sampai di dapur bertemu Revan, tidak menemukan keberadaan Papa dan Mama.
“Lagi ke seberang, nungguin kamu kelamaan nggak turun-turun.”
__ADS_1
“Kok ke rumah Sea nggak ajak-ajak aku,” gerutu Reno sambil berjalan ke arah pintu keluar.
“Eehh tunggu,” Revan menahan lengan Reno. “Kamu mau kemana ?”
“Nyusul Papa Mama.”
“Sebentar, bareng sama aku dan Dita aja. Tolong pegangin Radit dulu soalnya Dita lagi kambuh manjanya.”
Reno menghela nafas namun menuruti permintaan kakaknya, padahal kaki dan mulutnya sudah gatal ingin menemui Chelsea dan menanyakan kepadanya soal sikap Chelsea 3 hari ini.
Tidak lama Dita sudah menyusul di ruang tengah bersama Radit. Ketiganya memakai pakaian dengan warna biru laut.
Reno sedikit tergesa menggendong Radit menyeberang jalan menuju rumah Agam dan Nina. Revan hanya senyum-senyum sambil menggelengkan kepala.
“Nah ini calon pengantinnya sudah datang,” ujar Mama Siska saat Reno masuk ke ruang tamu sambil menggendong Radit.
Wajah Reno tampak bingung karena melihat Papa Mama sedang berbincang dengan Papi Mami yang berpakaian senada, bahkan senada juga dengan Revan dan keluarganya.
“Kok bisa…”
“Masuk sini, Reno. Kita semua sedang nunggu kamu. Hari ini Papa Mama mau melamar Sea untuk kamu, gimana kamu mau atau masih pikir-pikir ?” tanya Mama Siska yang makin tersenyum melihat wajah bingung putranya.
”Kalau Reno nggak mau hari ini, lebih baik suruh Sea cari-cari cowok lain,” ledek Revan dari belakang tubuh Reno.
Bersama Dita, keduanya menyapa Papi dan Mami yang membalasnya dengan sapaan dan senyuman.
“Siapa yang menolak ?” sahut Reno dengan nada sewot.
Bukan hanya Revan tapi semua yang ada di situ ikut tertawa kecuali Radit yang melihat ke arah Om nya dengan dahi berkerut sambil geleng-geleng kepala.
“Jadi Gam, Nina, sekali lagi aku kemari ingin melamar putrimu untuk anak bungsuku, Reno,” ujar Papa dengan wajah serius.
Papi Agam menyampaikan omongan Papa Robert untuk mendengar langsung jawaban putrinya. Terlihat Chelsea diam sejenak membuat hati Reno jadi berdebar tidak karuan.
“Sea, kamu masih marah sama aku ? Kamu nggak mau menerima aku jadi calon suami kamu ? Maaf Sea, beneran deh soal kejadian di rumah sakit memang idenya Dio bukan aku. Mana mungkin aku yang beneran kesakitan sampai mikir mau isengin kamu,” ujar Reno dengan wajah memelas.
“Kebiasaan baru, ya,” gerutu Chelsea dengan wajah cemberut. “Namanya juga cewek lagi dilamar kalau langsung dijawab kesannya gampangan banget. Kamu tuh nethink aja, deh. Aku belum ngucapin satu kata, pikiranmu udah kemana-mana.”
“Habis kamu kok diamnya lama banget, kayak ragu-ragu atau ogah menerimaku jadi calon suammu.”
“Nggak sadar kalau ini lamaran jadi calon istri kamu yang kedua kalinya ?” tanya Chelsea dengan mata melotot yang dibalas dengan cengiran di wajah Reno.
“Diterima kan, Sea ? Jangan ngambek lagi dan kali ini aku nggak bakalan macam-macam sama kamu,” Reno senyum-senyum sambil menangkup tangan di depan wajahnya.
”Nggak ingat omongan Papi kalau sampai kamu berani macam-macam sama aku, Papi akan…”
Reno yang duduk berhadapan dengan Chelsea langsung beranjak bangun dan membekap mulut kekasihnya.
“Rahasia suami istri, nggak boleh dibicarakan di depan umum,” bisik Reno di telinga Chelsea.
Chelsea mencebik namun menurut. Revan hampir saja tidak bisa menahan diri untuk terbahak karena tidak menyangka kalau hubungan adiknya dan mantan tunangannya ini jadi kocak begini.
“Jadi gimana, Sea, kamu terima lamaran Papa dan Mama untuk menjadi calon istri Reno ?” tanya Papa Robert langsung ke yang bersangkutan.
Chelsea melirik Reno yang senyum-senyum sambil menaik turunkan alisnya. Tangannya melepaskan jemari Reno yang masih membekap mulutnya.
__ADS_1
“Chelsea terima, Pa, Ma tapi dengan catatan kalau Reno macam-macam lagi, kali ini bukan Sea yang akan pergi tapi Reno yang akan Sea tendang sampai ke Kutub Utara.”
“Terima kasih, Sayang,” Reno langsung memeluk Chelsea dengan wajah sumringah. Hampir saja ia terjungkal karena lupa kalau posisinya dan Chelsea dibatasi oleh meja.
“Papi dan Mami belum bilang setuju !” tegas Papi Agam dengan wajah galak menatap Reno.
Reno melerai pelukannya dan menatap calon mertuanya yang sekarang galaknya sampai level 30.
“Reno mohon restunya untuk menjadikan Chelsea satu-satunya istri kesayangan Reno,” ujar Reno memasang wajah sopan dan senyuman manis.
“Memangnya sebelum ini kamu berminat punya istri lebih dari satu ?” tanya Mami Nina dengan mata memicing.
“Eh nggak Mi, satu aja nggak bakalan habis seumur hidup, masa mau tambah terus. Yang ada bukan tambah dicinta sama istri malah babak belur dikeroyok pendukung Chelsea.”
“Dasar ngawur !” Chelsea memukul punggung Reno yang langsung memekik dan mengusap punggungnya yang masih sakit.
“Jangan sadis dong, Sea. Aku memang nggak sampai amnesia, tapi punggung aku beneran lebam dan memar karena tertimpa balok.”
“Siapa suruh sok jadi pahlawan buat pelakor,” gerutu Chelsea.
“Kamu tambah cantik aja kalau lagi ngambek karena cemburu gitu, Sea,” ledek Reno sambil menoel dagu Chelsea.
Revan, Carmila dan Leo tertawa. Acara pertunangan malam ini lebih mirip dagelan karena lebih banyak guyonan daripada seriusnya.
Akhirnya Mama kembali memberikan kalung dan gelang sebagai tanda pengikat untuk Chelsea. Bukan perhiasan yang pernah diberikan pada gadis itu 5 tahun yang lalu, tapi perhiasan baru yang disiapkan oleh Mama sejak Reno kembali menjalin hubungan dengan Chelsea.
Acara keluarga itu pun dilanjutkan dengan makan malam dan foto bersama. Kali ini acara lamaran untuk Chelsea terlihat lebih serius dibandingkan 2 kali sebelumnya.
“Kamu kenapa nggak besuk aku selama di rumah sakit ?” tanya Reno dengan nada agak kesal.
Keduanya sedang berdiri di halaman belakang, agak menjauh dari keramaian. Di dalam kedua ibu sedang berbicara dengan Dita dan Carmila yang tengah hamil.
“Nggak ingat kalau kamu udah bikin aku kesal ?” ketus Chelsea.
“Iya, tapi kamu tuh tega banget, pacar lagi sakit beneran, jangankan ditemani, ditengok aja nggak. Aku kirim pesan dan telepon berkali-kali nggak ditanggapi.”
“Sengaja,” sahut Chelsea sambil tertawa pelan.
“Maksudnya ?”
“Sepertinya Papa khawatir anaknya kenapa-napa setelah tertimpa balok makanya langsung menemui Papi dan minta pertunangan kita dipercepat. Papi bilang tergantung aku dan sama seperti kamu, tiba-tiba aja terlintas untuk isengin kamu. Lagian seharusnya kamu bahagia karena begitu keluar rumah sakit langsung dapat kejutan acara lamaran ini.”
Reno melotot sambil bertolak pinggang menatap Chelsea yang mencibir sambil tertawa.
“Apa mau dibatalkan ?” mata Chelsea menyipit menatap Reno.
Reno langsung menarik pinggang Chelsea hingga posisi keduanya menempel. Mata Chelsea langsung membola dan wajahnya reflek mundur saat wajah Reno semakin dekat di depannya.
“Takut ? Padahal aku sudah siap membuatmu hamil duluan kalau berani kabur dariku,” bisik Reno dengan posisi yang terlihat sangat intim dari kejauhan.
Chelsea menggeliat kegelian dan matanya semakin membelalak. Tangannya sulit untuk memukul Reno karena posisi mereka menempel.
“Reenooo !” Pekikan Papi dari teras belakang tidak membuat Reno melepaskan pelukannya.
“Kalau Papi mau suruh Reno menikahi Sea besok, Reno siap kok, Pi,” sahut Reno dengan suara cukup keras.
__ADS_1
Wajah Papi memerah dan tangannya terkepal di udara membuat yang lainnya langsung tertawa.
Sepertinya Papi tidak boleh tinggal dekat-dekat dengan Reno dan Chelsea saat keduanya sudah menikah karena bisa-bisa Papi mendadak kena darah tinggi atau Reno wajib belajar ekstra sabar menghadapi mertua lelakinya yang selalu kepo mengawasi si putri bungsu.