
Suasana hati Chelsea kembali melow saat Reno akhirnya pergi lagi ke Surabaya. Entah kenapa kali ini rasanya begiu berat melepas suaminya pergi tugas.
”Elo kenapa lagi sih, Sea ? Reno kan udah janji nggak bakaln lama pergi ke Surabaya-nya. Jangan melow terus, dong. Suami kan lagi cari nafkah demi segenggam berlian buat elo,” ledek Nia sambil terkekeh.
“Maunya gue juga nggak begini, Ni. Tapi hati gue nggak enak aja sejak nganter Reno ke bandara, ada sesuatu yang ganjel.”
“Elo tambah bucin banget sih sama Reno sampai nggak bisa jauh sama sekali dari dia,” Nia kembali meledek sambil tertawa.
“Kali ini bukan soal bucin, Ni, tapi lebih ke firasat istri,” sahut Chelsea sendu dan tidak peduli dengan ledekan Nia.
“Ya udah sekarang elo telepon Reno dulu sebelum dia sibuk di lapangan. Gue urus kerjaan dulu, nanti kita makan siang di luar aja biar elo nggak melow di kantor melulu.”
Chelsea menggangguk dan membiarkan Nia meninggalkannya sendirian di ruang kerja.
“Reno,” desis Chelsea dengan wajah bahagia saat nama suaminya terpampang di layar.
“Aku baru sampai, Sea. Rencananya langsung ke proyek, check in hotelnya nanti sore.”
“Jangan lupa bekal yang aku bawakan dimakan.”
“Iya, Sayang, pasti aku makan dalam perjalanan ke proyek. Maaf kalau nanti aku agak lama balas pesan atau nggak angkat telepon. Kamu juga jaga kesehatan dan hati-hati, jangan pergi tanpa Hanum lagi.”
“Iya, rencananya siang ini mau makan di luar sama Nia dan Hanum pasti aku ajak.”
Reno tertawa renyah membuat hati Chelsea berdesir. Rasa debar itu belum banyak berubah meski mereka sudah menikah dan sebentar lagi akan menjadi orang tua.
“Sea, aku matikan teleponnya dulu, sudah di mobil. Aku mau sarapan bekal darimu sekalian membahas soal pekerjaan.”
“Hmmm”
“I love you, Sea.”
“Love you too.”
Chelsea menghela nafas saat menutup panggilan telepon Reno. Ada sesuatu yang aneh di dalam hatinya, bukan sekedar kerinduan atau keinginan berada di dekat Reno terus.
Chelsea kembali menghela nafas, sulit menggambarkan apa yang dirasakannya saat ini dengan kata-kata.
__ADS_1
***
“Chelsea !”
Hanum yang berjalan di belakang Chelsea dan Nia bergegas menghalangi Tamara yang datang dari lobby depan, hendak mendekati Chelsea.
Sore ini kantor sudah mulai sepi karena Chelsea ditemani Nia baru turun ke lobby sekitar jam 18.30.
“Chelsea, aku mohon, berikan aku kesempatan untuk bicara. Ini soal Mike.”
“Maaf Nona, Tuan Reno melarang anda berada di dekat Nona Chelsea,” pinta Hanum sopan namun masih menghalangi Tamara untuk mendekat.
“Aku mohon, Chelsea.”
Tamara menangkup kedua tangannya di depan wajah dengan tatapan memohon.
“Kita ngobrol di sana aja,” ujar Chelsea yang langsung mengangguk saat Hanum menatapnya.
Nia duduk di sofa terpisah sementara Tamara duduk di sebelah Chelsea, sedangkan Hanum berdiri tidak jauh dari ketiganya.
“Aku baru dapat info kalau Sena punya adik angkat yang cukup dekat dengannya. Selama ini dia kulaih di luar kota dan akhirnya menetap kembali di Jakarta sekitar 2 tahun ysng lalu namun menolak tinggal serumah dengan keluarga Sena.”
“Adik angkat Sena ini perempuan atau laki-laki ? Darimana kamu tahu soal dia ?” tanya Chelsea dengan dahi berkerut.
“Dua hari lalu aku bertemu dengan teman-teman SMA-ku dan akhirnya perbincangan kami sampai masalah pekerjaan. Intinya salah satu temanku bercerita tentang teman adiknya yang mengalami kisah seperti Sena. Aku penasaran dan mencoba mencari tahu detilnya, hingga kemarin temanku memastikan kalau teman adiknya itu memang masih ada hubungan dengan Sena dengan status adik angkat.”
“Maaf aku masih agak bingung,” ujar Chelsea. “Lalu apa hubungannya dengan Mike dan diriku ?”
“Menurut adik temanku, adik angkat Sena sangat membenci Bastian dan menganggap pria itu telah menelantarkan anak dan istrinya bahkan sampai membiarkan anak Sena meninggal. Sena sempat depresi saat Bastian dan Jeremi meninggal dan seperti yang Mike pernah bilang padaku kalau ia akan membuatmu merasakan penderitaan Sena karena mereka menganggap kalau dirimulah yang menyebabkan Bastian menolak menjadi pendonor hingga terlambat menolong Jeremi.”
“Aku sudah katakan pada Mike kalau aku tidak pernah mempengaruhi apalagi melarang Bastian untuk menjadi pendonor bagi putranya sendiri.”
“Aku tahu soal itu, Chelsea, tapi orang-orang seperti Mike dan adik Sena bahkan mungkin Sena sendiri akan selalu mencari kambing hitam dan membenarkanan pikiran mereka tanpa mau menerima takdir.”
“Mike gagal menyakitimu dan anak kalian. Dia akan sulit melanjutkan rencananya karena sedang berada di penjara, jadi aku yakin kalau adik angkat Sena yang akan melanjutkan rencana itu.”
“Heran gue, menyakiti Chelsea nggak bakal membuat Bastian dan Jeremi hidup kembali.”
__ADS_1
“Itulah yang namanya dendam,” sahut Tamara sambil tersenyum tipis.
“Selama pikiran mereka belum bisa menerima takdir dan membiarkan rasa benci terus tumbuh subur dalam hati maka semuanya tidak akan berhenti sampai tujuan mereka berhasil.”
“Apakah kamu pernah punya perasaan seperti itu padaku dan Reno ?” Mata Chelsea menyipit, menelisik ekspresi Tamara.
“Aku sempat iri dan sakit hati, Chelsea, tapi tidak bisa sampai menyimpan benci apalagi ingin mencelakaimu dan Reno.”
Chelsea hanya tertawa pelan mendengar jawaban Tamara.
“Apa kamu sudah tahu nama adik angkatnya Sena ?” tanya Chelsea.
“Namanya Serena tapi bagaimana bentuk wajahnya sayangnya temanku tidak memiliki fotonya. Menurut adik temanku, Serena tidak punya akun sosial media.”
”Terima kasih atas perhatianmu, Tamara. Aku akan membicarakannya dengan Reno setelah ia pulang dari Surabaya dan mempertimbangkan segala kemungkinan yang akan Serena lakukan untuk membalas sakit hati kakaknya.”
“Terima kasih juga sudah mau mendengarkan aku, Chelsea. Aku pasti akan mengabarimu saat dapat info lainnya.”
“Ya,” Chelsea mengangguk sambil tersenyum tipis.
Ketiganya beranjak bangun dan berjalan menuju lobby diikuti oleh Hanum. Chelsea terkejut saat Tamara memeluknya begitu mereka berdiri di depan lobby.
“Aku sekarang mengerti alasan Reno begitu mencintaimu. Setulus hati aku bisa melepaskan perasaanku pada Reno dan berharap kalian akan selalu bahagia.”
Tamara melerai pelukannya dan tersenyum pada Chelsea yang balas tersenyum.
“Aku juga mendoakan supaya kamu segera menemukan pria yang lebih baik dari Reno dan sangat mencintaimu.”
Tamara mengangguk sambil tersenyum. Ia pun pakimit pada Nia dan Hanum sebelum berjalan ke parkiran mobil.
“Elo percaya begitu aja dengan ceritanya, Sea ?”
“Iya, gue percaya. Suara hati gue bilang kalau Tamata itu gadis yang baik meskipun dia sedikit terobsesi pada Reno.”
“Elo memang gampang dipengaruhi, Sea,” cibir Nia. “Nggak aneh kalau bisa balik sama Reno meskipun dia sudah pernah nyakitin elo.”
”Kalau soal itu beda lagi, namanya juga cinta. Kayak elo nggak bakalan begitu aja sama Dio,” sahut Chelsea sambil mencibir.
__ADS_1
“Mama bucinnya Reno,” ledek Nia yang dibalas dengan tawa Chelsea.