Takdir Untukku

Takdir Untukku
Masih Galau


__ADS_3

Sejak pagi Chelsea sudah mulai urung-uringan di kantor. Masalahnya kejadian di saat ulangtahun Mama hanya dianggap candaan semata.


Seusai mandi dan kembali ke rumah Reno dengan penampilan yang sedikit berbeda, semua kembali normal bahkan Papi tidak menyinggung lagi soal kesanggupan Reno untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya pada Chelsea.


Minggu pagi-pagi Chelsea bertekad menemui Reno dan berbicara dengan pria itu karena Chelsea merasa sudah dianggap cewek gampangan, nyatanya sejak jam 6 pagi Reno pergi dan tidak ada satu pesan Chelsea yang dibalasnya, hanya dibaca saja.


Seharian kemarin Chelsea menunggu Reno seperti oran bo**doh dan akhirnya ia malah tertidur saat Reno sampai di rumah.


“Mungkin Om Agam memang bermaksud meledek elo berdua, Sea, bukan nyuruh Reno beneran langsung nikahin elo,” hibur Nia saat keduanya pergi makan siang di kafe dekat kantor.


”Iya, ngeselin ! Dan bisa-bisanya Reno memasang tampang serius mengiyakan permintaan Papi sampai gue berpikir kalau dia beneran akan menikahi gue,” gerutu Chelsea.


“Jadi elo mau kalau sampai Reno melamar elo dalam waktu dekat ini,” Nia mengerling dan tersenyum menggoda Chelsea.


“Berubah pikiran ! Sekarang udah nggak mau lagi.”


“Terus elo maunya gimana ?”


“Nggak gimana-gimana cuma mau ketemu Reno dan menegaskan sama dia supaya jangan gampang menghumbar kata cinta apalagi sampai bilang siap melamar segala.”


Nia tertawa pelan melihat wajah Chelsea ditekuk dan bibirnya mengerucut. Nafsu makan Chelsea tidak berkurang malah seperti tidak pernah kenyang kalau sedang emosi level 30 begini.


“Sea, elo masih suka Reno, ya ?” Nia mencondongkan tubuhnya ke arah Chelsea dan bertanya pelan dengan mata memicing.


“Udah gue bilang sekarang nggak lagi. Gue kesel banget sama Reno.”


“Jadi kemarin-kemarin elo masih suka sama dia ?”


Chelsea menghela nafas dan meneguk minumannya sedikit untuk membuat hatinya sedikit tenang.


“Gue nggak tahu, Nia, tapi pas jalan sama Bastian tanpa sadar gue suka membandingkan Bastian sama Reno. Saat itu gue berpikir memang susah menghapus bersih ingatan soal Reno. Gue udah suka sama tuh cowok dari SMP berarti perasaan gue awet sampai 10 tahun, apalagi pas kejadian Kak Revan, perhatian Reno bikin jantung gue sering nggak beraturan.”


“Dan sekarang elo maunya gimana, Sea ?”


“Gue nggak tahu, Nia,” Chelsea menggeleng. “Di satu sisi gue pingin dekat-dekat sama Reno dan di sisi lain gue takut untuk memulai hubungan lagi dengan cowok karena sudah 3 kali gagal.”


Nia tersenyum tipis mencoba memahami perasaan Chelsea yang hidupnya bagai roller coaster. Sebagai sahabat, Nia dan Dio berharap keduanya bisa bersatu.

__ADS_1


”Reno ada bilang nggak kalau dia akan ditugaskan ke Surabaya ?” tanya Nia setelah keduanya terdiam beberapa saat.


”Pesan gue hanya dibaca dan nggak dibalas dari kemarin dan soal ke Surabaya, gue tahunya nggak sengaja. Pas Mama ulangtahun, gue dengar Papa meminta Reno pergi ke Surabaya.”


“Coba elo kirim lagi. Barusan Dio info ke gue kalaReno akan berangkat ke Surabaya hari ini, nggak jadi besok.”


Chelsea menuruti permintaan Nia dan langsung mengetik pesan untuk Reno, namun niatnya terhenti saat ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


Nia menautkan alis saat melihat tatapan Chelsea terpaku pada layar handphonenya.


“Kenapa Sea ?”


“Sena mengirim pesan, minta waktu ketemu besok pagi.”


“Kok tumben ?”


Chelsea menghela nafas berat, isi pesan itu membuat hatinya mendadak melow lagi.


“Sena bilang ada hal penting yang mau dia sampaikan ke gue dan menyerahkan satu surat yang ditinggalkan Bastian buat gue.”


“Gila ! Fixed cewek itu memang punya niat jelek sama elo dan Bastian, Sea. Kalau memang ada surat Bastian buat elo, kenapa setelah 9 bulan dia baru kasih tahu dan menyerahkannya sama elo ?” omel Nia dengan wajah kesal.


“Sea, elo mau ketemu Sena ? Mau gue temenin ? Jangan langsung percaya kalau surat dari Bastian itu asli, siapa tahu cuma bisa-bisanya Sena.”


“Gue akan menemuinya dan nggak usah elo temenin. Thankyou tawarannya tapi gue pasti bisa menghadapinya sendirian.”


“Sea…”


“Gue nggak apa-apa, Nia,” Chelsea tersenyum tipis. “Nggak ada ruginya juga gue ketemu sama Sena. Nggak ada yang perlu diperebutkan dan dikhawatirkan lagi. Bahkan Jeremi yang dipastikan anak Bastian ikut dibawa pergi hingga tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi.”


“Terus elo jadi hubungi Reno ?”


Chelsea memperlihatkan layar handphonenya pada Nia.


“Cuma centang satu.”


“Gue hubungi Dio.”

__ADS_1


“Nggak usah, gue mau balik kantor sekarang. Beresin kerjaan terus gue ke kantor Reno.”


Nia bergegas bangun, mengikuti Chelsea yang berjalan ke arah pintu keluar menuju meja kasir.


****


“Elo yakin nggak mau hubungi Chelsea sebelum berangkat ?” tanya Dio saat mengantar Reno ke bandara.


“Nia udah kasih tahu kalau gue bakal berangkat ke Surabaya, kan ? Chelsea nggak menghubungi gue, berarti dia tetap bersikeras menyangkal perasaannya sendiri.”


“Chelsea lagi uring-uringan dari tadi pagi.”


“Salah dia sendiri, bisanya cuma marah-marah dan kesal, setiap kali gue ajak ngomong soal perasaannya dia terus membantah. Lagian pas Sabtu kemarin wajahnya suntuk terus, pasti lagi keingetan lagi sama mantan calon suaminya,”gerutu Reno dengan wajah kesal.


“Elo cemburu sama orang yang sudah meninggal,” ledek Dio sambil tertawa.


“Elo tahu sendiri gimana sifat Chelsea, kalau udah suka apalagi cinta sama cowok susah merubah perasaannya. Kerjaan kita terlalu banyak akhir-akhir ini, rasanya gue nggak punya sisa tenaga untuk membujuk-bujuk Sea.”


“Tapi Reno…”


“Gue mau istirahat sebentar, ngantuk banget. Sementara jangan bahas Chelsea dulu, kepala gue udah penuh dengan urusan di Surabaya.”


Dio mengangguk-angguk dan membiarkan Reno memejamkan mata dengan posisi setengah berbaring.


Tepat jam 3 sore, pesawat yang ditumpangi Reno meninggalkan Jakarta. Reno langsung memejamkan mata kembali karena merasa harus mengumpulkan tenaga sebelum bekerja keras lagi di Surabaya.


Namun hatinya tidak tenang dan matanya tidak bisa terpejam. Bayangan Chelsea menganggu pikirannya. Reno mengambil handphonenya yang sudah dirubah ke mode pesawat. Ia hanya mengecek pesan yang dikirim Chelsea kemarin.


Isinya hanya sekedar menanyakan keberadaan Reno, tidak menyinggung masalah Chelsea ingin bertemu dengannya apalagi membahas soal perasaan Chelsea.


Reno tersenyum tipis dsn memasukkan kembali handphonenya lalu mencob memejamkan mata. Perjalanan 1 jam lebih ke Surabaya bisa dimanfaatkannya untuk beristirahat.


Sementara di Jakarta, Chelsea harus kembali kecewa saat seorang staf di kantor Reno memberi tahu kalau pria itu sudah berangkat ke Surabaya dengan pesawat jam 3 sore.


Chelsea melihat layar handphoneya, sudah jam 15.35, tidak mungkin juga menyusul pria itu ke bandara.


Setelah mengucapkan terima kasih, Chelsea berjalan keluar kantor Reno. Begitu sampai di samping pintu mobilnya, Chelsea mendongak ke langit, menatap kumpulan awan yang bergerak di birunya langit sore ini.

__ADS_1


Kenapa bayanganmu mengusik hatiku lagi, Bas ? Apa kamu marah karena hatiku mulai kembali menyukai Reno ? batin Chelsea.


__ADS_2