
“Kamu kemana aja hari ini seharian ?” tanya Papi Agam dengan suara tegas, menatap Chelsea yang baru saja masuk ke ruang tengah.
Chelsea terkejut karena kedua orangtuanya masih terjaga padahal waktu sudah menunjukkan jam 10.30 malam. Biasanya Mami dan Papi sudah masuk kamar sekitar jam 9.30 atau 10 malam.
“Reno belum lama pulang. Dia khawatir karena handphone kamu mati seharian dan Nia tidak tahu kamu pergi kemana,” ujar Mami menimpali.
”Reno laporan apa sama Papi Mami ? Nggak sadar apa kalau dia yang bikin Sea kesal,” gerutu Chelsea dengan bibir cemberut.
Chelsea menghempaskan tubuhnya di sofa dengan wajah ditekuk dan terlihat lelah.
“Sea, kamu belum menjawab pertanyaan Papi !” suara tegas Papi Agam kembali terdengar.
“Sea ketemu klien di daerah Tangerang, habis itu kunjungan ke lokasi proyek yang baru buka lahan dan setelah semua pekejaan beres, Sea jalan-jalan di Mal yang ada dekat situ. Sea pulang jam 8 ternyata jalanan masih macet. Sea tadi mampir ke tukang martabak langganan dulu yang ada di depan. Papi sama Mami mau martabaknya ?”
”Bukan martabak yang penting tapi kenapa handphone harus dimatikan seharian ? Kamu nggak sadar kalau udah bikin banyak orang khawatir dan bukan hanya Reno saja ?” tegas Papi Agam kembali.
“Sorry, Pi, Sea lupa kabarin Papi atau Mami,” sahut Chelsea dengan wajah menyesal.
“Sea lagi kesal sama Reno. Memangnya Papi beneran udah bilang kalau Reno boleh pacaran lagi sama Sea ?”
“Sejak Bastian meninggal, hidupmu sedikit berantakan, Papi dan Mami khawatir melihat kondisimu yang tanpa sadar sampai depresi. Papi lihat Reno memang sudah berubah dan tulus mencintaimu jadi Papi percaya dia bisa membantumu mengikhlaskan Bastian. Papi nggak suruh kamu dan Reno untuk pacaran lagi tapi kalau memang kalian merasa berjodoh, Papi Mami akan memberikan restu.”
“Papi tahu gara-gara dikasih ijin untuk dekat sama Sea, Reno suka seenaknya peluk-peluk Sea. Apalagi sejak kejadian di pestanya Kak Mila, Reno makin berani bilang ke orang-orang kalau Sea ini calon istrinya, my future wife. Sekarang hampir semua orang di lapangan menganggap Sea ini tunangannya Reno. Nyebelin !”
Wajah Chelsea ditekuk dan bibirnya mengerucut sambil mengoceh. Papi Agam ingin tertawa melihat wajah putrinya yang sudah lama tidak ngambek begini, namun hanya senyuman tipis yang terlihat di wajahnya.
Tanpa sadar, emosi Chelsea mulai perlahan kembali pada sifat aslinya. Berarti kehadiran Reno bisa membuat hidup Chelsea mulai berwarna lagi.
“Kamu tinggal bilang sama Reno kalau kamu nggak suka dengan perlakuannya. Kok malah kabur begitu ?” tanya Mami Nina di sela senyumannya.
“Reno itu udah beda, Mi, nggak kayak dulu. Udah nggak jaim lagi malah suka nyeleneh, bikin sebal aja. Reno bilang dia bakalan bilang kata cinta terus dan sabar menunggu sampai Chelsea cinta lagi sama Reno kayak dulu.”
“Jadi sekarang mau kamu gimana ? Papi bisa minta papamu memindahkan Reno ke Surabaya. Kebetulan ada proyek di sana. Reno sempat minta dipindah ke sana tapi batal karena dia masih dibutuhkan di sini.”
Papi Agam tidak ingin memberitahu kalau alasan batalnya penempatan Reno di Surabaya adalah meninggalnya Bastian dalam kecelakaan pesawat.
__ADS_1
Setelah Reno kembali dari Medan bersama Chelsea, pria itu langsung bicara dengan Papi Agam dan Papa Robert supaya tetap diijinkan berada di dekat Chelsea yang sangat terpukul saat itu. Kedua ayah itu setuju dan menganggap memang Reno yang cocok berada di samping Chelsea.
“Sea, kamu kok nggak jawab pertanyaan Papi ?” ‘Mami Nina kembali bertanya saat Chelsea diam saja dan wajahnya terlihat gusar.
”Terserah Papi dan Papa aja, nggak ada pengaruhnya buat Sea,” sahut Chelsea berusaha terlihat biasa saja.
“Udah malam, Sea mau mandi dulu. Badan juga lengket semua,” lanjut Chelsea sambil beranjak bangun.
Langkahnya sedikit gontai saat naik ke kamarnya di lantai 2. Suasana makin sepi karena Carmila tidak lagi tinggal di rumah ini. Leo membawanya ke Singapura dan menetap di sana.
Papi Agam dan Mami Nina sama-sama tersenyum saat melihat putri bungsunya nampak terkejut mendengar kabar kalau Reno bisa ditugaskan ke Surabaya.
“Papi sudah yakin setuju kalau Chelsea balik lagi sama Reno ?” tanya Mami Nina.
Keduanya ikut bangun lalu mematikan televisi dan lampu di ruang tengah. Mereka sengaja menunggu Chelsea dan sempat khawatir karena seharian Chelsea tidak memberi kabar.
“Mami lihat sendiri kalau Reno memang berubah. Dia menunjukkan penyesalannya dan gigih membuktikan cintanya pada Sea. Setelah kejadian Revan dan Bastian, Papi pikir memberikan kesempatan untuk Reno bukanlah keputusan yang buruk. Dari ketiganya, cuma Reno yang terbukti tidak punya anak dengan perempuan lain. Hanya karena gengsi mengakui kalau dia juga cinta sama Sea, anak bodoh itu membuat sandiwara gila.”
“Mami lihat juga begitu. Tapi kenapa untuk sampai pada Reno, Sea sampai harus merasakan sakit hati karena Revan dan Bastian.”
“Itu namanya rahasia cinta, Mi.”
*****
“Ya ampun Reno !” pekik Chelsea yang terkejut saat mendapati Reno sedang berdiri sambil tolak pinggang di depan pintu kamarnya.
“Kamu kemana aja kemarin ?” tanya Reno dengan tatapan tajam.
“Aku udah ngomong sama Papi Mami dan nggak perlu laporan sana kamu,” sahut Chelsea dengan nada ketus.
Chelsea berniat melewari Reno dan turun ke bawah tapi tangan pria iru malah menariknya masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintunya.
Reno masih menatap Chelsea dengan tajam dan mendekati gadis itu hingga tubuh Chelsea menempel di pintu.
“Kamu tahu sudah bikin aku hampir gila karena khawatir kamu kenapa-napa ? Kalau memang kamu nggak mau aku ikuti kemana-mana tinggal bilang, bukan kabur begitu !”
__ADS_1
“Memangnya bisa minta kamu nggak mengangguku terus ?” Chelsea membalas tatapan Reno dengan tajam pula.
Hatinya kembali berdesir saat posisi Reno begitu dekat mengukung Chelsea. Harum tubuh Reno yang Chelsea suka sejak lama membuat degup jantungnya sedikit tidak beraturan. Wangi yang lebih Chelsea suka daripada wangi kamar Bastian yang terlalu maskulin dan menyengat.
“Aku pernah bilang akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku, Sea. Aku tidak akan melepaskanmu kecuali kamu memintaku karena ada cinta yang lain mengisi hatimu.”
Chelsea sempat terdiam begitu juga dengan Reno, keduanya hanya saling menatap tajam dan terlihat datar padahal degup jantung mereka mulai tidak beraturan.
“Menjauhlah dariku, Reno,” Chelsea yang sudah tidak tahan dengan debaran jatungnya mendorong tubuh Reno.
“Kamu sudah membuat aku sesak dengan segala kelakuanmu yang bilang pada semua orang kalau aku ini calon istrimu. Terlalu sering kamu bilang begitu, mereka menganggap aku ini benar-benar calon istrimu dan mengira kita sudah bertunangan.”
“Kamu keberatan ?”
”Ya, sangat-sangat keberatan !” tegas Chelsea sambil menajamkan tatapannya.
“Aku melakukan ini bukan untuk membayar rasa bersalahku, Sea, tapi karena aku sungguh-sungguh mencintaimu.”
“Udah tahu !” ketus Chelsea.
“Udah tahu tapi kamu masih keberatan ?”
“Iya dan kemarin kamu sudah buat aku kesal sampai seharian. Susah bicara bahasa manusia sama kamu, udah dikasih penjelasan baik-baik tetap aja ngotot, malah makin sengaja kasih pengumuman ke orang-orang tanpa peduli aku suka atau nggak, aku setuju atau menolaknya !”
Suara Chelsea makin meninggi dan tatapannya menghunus hati Reno.
“Maaf kalau aku membuatmu merasakan semua itu.”
“Sudah aku bilang kalau sekedar maaf itu gampang, tapi melupakan itu susah.”
Reno terdiam dan membuang pandangan ke samping. Terdengar helaan nafas panjangnya membuat hati Chelsea malah deg deg kan, khawatir Reno tersinggung dengan ucapannya.
Mata Chelsea membola saat Reno langsung membuka pintu dan meninggalkan Chelsea tanpa bicara apapun. Chelsea terpaku di tempatnya, hatinya sedikit tercubit. Sudah 6 bulan ini Chelsea memang sering bersikap ketus dan menolak kebaikan Reno.
Sejujurnya Chelsea merasa nyaman karena merasakan kalau Reno begitu memahami kegundahan hatinya sejak Bastian pergi. Reno selalu ada di sampingnya saat ia membutuhkan tempat untuk bersandar bahkan Chelsea sering merasa terhibur dengan sikap Reno yang suka nyeleneh.
__ADS_1
Kepribadian Reno memang sudah berubah, tidak jaim seperti dulu malah cenderung bawel dan ekspresif. Reno tidak ragu mengucapkan rasa cinta dan menunjukkan sikapnya yang membuat hati Chelsea sering mendadak berdesir.
Chelsea menghela nafas panjang, berharap Reno hanya ngambek dan tidak serius menanggapi kekesalan Chelsea seperti biasanya.