Takdir Untukku

Takdir Untukku
Masih Penasaran


__ADS_3

Reno tidak bisa membuat Chelsea tetap dirawat sehari lagi di rumah sakit. Begitu kembali ke kamar bersama Papi, istrinya itu sudah selesai mandi dan tidak ada lagi selang infus menancap di tangannya.


“Sea, sehari lagi ya, biar kondisimu benar-benar pulih,” bujuk Reno dengan wajah penuh harap.


”Reno, aku tuh udah berasa sehat dan dokter bilang kondisiku baik-baik aja. Dokter hanya pesan supaya aku jangan banyak pikiran dan tegang supaya debay bisa tumbuh dengan baik,” kekeuh Chelsea.


Mami, Papi, Mama dan Revan yang datang membesuk tidak berani ikut campur dengan perdebatan suami istri itu.


“Aku kan pingin tidur nyaman di atas ranjang kita sambil dipeluk sama kamu,” Chelsea berubah manja membujuk suaminya.


”Bobo pelukan di sini nggak enak, sempit. Tadi pagi badan aku pegal-pegal karen hanya bisa bergerak ke satu arah. Kalau di rumah kan ranjangnya gede, mau peluk kanan kiri juga nggak masalah. Boleh ya, please.”


Chelsea mengerjap dan menatap Reno dengan puppy eyes nya membuat Reno menghela nafas panjang.


“Tapi belum boleh kerja dulu sampai hari Minggu. Senin baru boleh masuk kantor lagi !”


Chelsea mengerutkan dahi, menghitung dengan gerakan jarinya. Ia pun mengangguk dengan senyuman manis.


“Deal !” Chelsea mengulurkan tangannya memberi isyarat mata pada Reno supaya pria itu menjabat tangannya.


Reno hanya mencibir dan melewati Chelsea yang terkekeh. Revan tertawa sambil geleng-geleng kepala karena sejak dulu Chelsea selalu berhasil membuat adiknya kesal namun tidak pernah bisa bilang tidak padanya.


Tidak lama Papa Robert masuk ke dalam kamar sedangkan Dio langsung kembali ke kantor.


Sambil menunggu urusan administrasi selesai, Chelsea yang duduk di sofa diapit Mami dan Mama mulai bercerita soal kronologis penculikannya, situasi di rumah si penculik sampai pria yang menolongnya kabur.


“Kamu beneran nggak disakiti sama Mike atau anak buahnya kan, Sea ?” tanya Mama Siska dengan wajah khawatir.


“Selama Sea sadar sih nggak diapa-apain, Ma, hanya tanganku sempat diikat, nggak tahu deh waktu aku dibuat pingsan setelah dibawa ke mobil dari rumah sakit.”


“Tadi kamu bilang pas kamu selesai mandi, cowok itu bisik-bisik dekat banget kayak nempel. Kamu yakin kalau dia hanya berbisik dan nggak cium-cium kamu ?” tanya Reno dengan nada posesif.


“Kalau itu aku sedang sadar banget, Reno, jadi pasti berasa kalau dia menciumku. Lagian dia bisik-bisik supaya nggak kelihatan di CCTV.”


“Kamu nggak ganti baju di luar kamar mandi, kan ? Terus baju kotor kamu dikemanain ?”


“Tuh ada yang lagi cemburu, Sea,” ledek Revan sambil menertawakan ekspresi wajah adiknya. Chelsea mengangguk sambil mencibir.


“Masa iya aku ganti baju di depan dia, Reno. Kalau soal baju kotor, aku nggak ingat bagaimana nasibnya, suasana sempat heboh dan aku sendiri fokus mengikuti pria itu untuk keluar dari rumah si penculik. Nggak apa-apalah kehilangan sepasang baju daripada aku kenapa-napa.”

__ADS_1


“Iya tapi kan…”


“Udah nggak usah ribut masalah pakaian, siapa juga yang mikir mau kirim guna-guna lewat baju bekas. Yang penting istri dan anakmu selamat,” potong Pap Robert yang disambut tawa Revan dan ejekan Papi Agam.


“Reno, kamu yakin nggak bisa menemukan informasi siapa pria yang menolongku ?”


“Kamu aja nggak bisa mendeskripsikan detil wajahnya, bagaimana aku bisa mencari tahu siapa dia. Tapi yang pasti dia itu bagian tim kepolisian dan tidak diperbolehkan bertemu siapapun.”


“Agen rahasia dong,” ujar Chelsea. Reno hanya mengangkat kedua bahunya dan menyiapkan tas pakaian yang sudah dirapikan Chelsea.


“Sea, kamu tuh udah jadi istrinya Reno, masa panggilnya masih Reno Reno aja,” ledek Revan.


“Penting banget apa punya panggilan khusus ? Yang penting itu cinta, kepercayaan dan tanggungjawab,” sahut Chelsea.


“Benar juga sih yang dikatakan Revan, Sea,” ujar Mami sambil membelai kepala putrinya.


“Aneh banget Mi, sejak kecil aja nggak pernah panggil pakai sebutan kakak, beda sama Kak Revan yang memang udah Sea panggil pakai sebutan kakak.”


“Panggil Mas Reno juga boleh,” ujar Mama Siska sambil tertawa pelan.


“Aneh kenderangannya, Ma,” ujar Chelsea sambil mengerutkan dahi.


“Iya nggak Mas Reno ?” ledek Chelsea sambil terkekeh.


“Udah Sea, suami kamu tuh cocoknya dipanggil Rendang,” celetuk Papi Agam sambil tertawa meledek Reno yang langsung membulatkan bola matanya.


“Nggak bakal ada istri yang panggil suaminya rendang,” lanjut Papi.


Chelsea langsung berdiri, bertolak pinggang dan melotot menatap papi yang duduk di kursi lain.


“Papi mau bikin Sea kesal lagi ? Suami Chelsea ganteng begitu sampai direbutin cewek-cewek masa dipanggil rendang ?”


Spontan Reno terbahak dan yang lainnya juga tertawa melihat wajah Papi Agam memerah karena diomeli putri kesayangannya.


“Awas kamu !” geram Papi Agam sambil mengepalkan tangannya ke arah Reno yang pura-pura tidak tahu.


*****


Chelsea langsung mengajak Nia ke teras belakang saat asisten sekaligus sahabatnya itu datang membesuk sekaligus membahas soal pekerjaan.

__ADS_1


“Jadi beneran Dio nggak tahu soal pria-pria berbaju dan masker hitam itu ?”


“Dio udah konfirmasi langsung dengan tim buser ditemani Pak Ramadhan, anggota polisi kenalan Om Robert. Mereka bilang pria serba hitam itu termasuk pasukan elit yang nggak boleh diketahui identitasnya.”


Chelsea menarik nafas dalam-dalam dan raut wajahnya terlihat kecewa.


“Memangnya kenapa sih elo penasaran banget selain karena dia tertembak ?”


Chelsea terdiam sedang mempetimbangkan apakah akan memberitahu Nia atau menyimpannya sendiri.


“Jangan bilang jantung elo berdebar saat dia nempel-nempel atau pas dia gandeng elo kabur dari rumah ?” ledek Nia sambil tertawa.


“Haiisss sampai saat ini belum ada cowok yang bisa bikin gue berdebar selain Reno dan Bastian. Lagian bisa-bisa baby ngamuk kalau tahu maminya main hati dengan cowok lain,” sahut Chelsea sambil mencibir.


“Dih bucinnya Reno.”


“Terus Tamara gimana kabarnya, Ni ?”


“Dia sempat masuk ruang interogasi polisi bahkan sebelumnya disidang oleh Reno, Om Agam dan Om Robert di ruang rapat lantai 7. Tamara nangis-nangis sampai berani sumpah kalau dia sama sekali tidak tahu menahu soal penculikan elo.”


“Nggak tahu kenapa gue percaya kalau Tamara itu sebenarnya nggak jahat,” ujar Chelsea.


“Gue percaya sama firasat elo, biasanya selalu tepat. Terus sekarang elo mau gimana ?”


“Bisa aturin supaya gue bisa ketemu Tamara tanpa sepengetahuan Reno dan Dio ?”


“Buat apa lagi ? Mike kan udah ditangkap dan kasus penculikan elo akan menambah daftar tuntutannya.”


“Nia, gue nggak yakin kalau semua tindakan Mike ini hanya demi membalas budi Sena yang sudah merawatnya dan saat bertemu dengan Sena, perempuan itu tidak menunjukkan tanda-tanda orang stres. Ada alasan lain yang gue yakin masih ada hubungannya dengan Bastian.”


“Sea, yang penting Mike udah ditangkap jadi mau ada hubungannya dengan Bastian atau siapa pun, Mike nggak bakal gangguin elo lagi sementara Sena masih ada di Amerika.”


Chelsea menarik nafas panjang sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman.


“Pokoknya gue mau ketemu sama Tamara, pingin dengar cerita soal Mike dari mulut Tamara langsung. Awas aja kalau elo bocorin sama Dio karena udah pasti dia bakal laporan sama Reno.”


“Iya.. iya.. Nanti gue aturin pas jam makan siang.”


“Thanks.”

__ADS_1


Chelsea menengadah ke langit, menatap awan yang terlihat tebal bergelung di langit yang sedikti gelap. Sepertinya hujan akan turun sebentar lagi.


Bas, seandainya semua ini ada hubungannya sama kamu, tolong aku kasih petunjuk. Jangan biarkan Sena, Mike atau siapapun mengacaukan hidup aku lagi dengan alasan kamu yang sudah bahagia di sana, batin Chelsea.


__ADS_2