
Setelah sehari menenangkan diri tanpa siapapun juga akhirnya Revan memberanikan diri memenuhi panggilan Papa.
Revan menghela nafas sambil masuk ke dalam rumah orangtuanya dan langsung menuju ruang makan karena mendengar dentingan piring dari arah sana. Memang waktunya makan malam dan ia sendiri enggan untuk duduk bersama seperti biasanya.
Terlihat suasana begitu tegang bukan hanya karena masalahnya dengan Chelsea namun Papa memang sudah jarang berbincang santai dengan Reno sejak kejadian 4.5 tahun yang lalu.
“Sudah makan, Van ?” tanya Mama Siska yang baru saja kembali dari dapur menaruh piring kotor.
“Sudah, Ma.”
Papa Robert sendiri langsung beranjak bangun, berjalan menuju ruang tengah. Tanpa banyak bicara, Revan mengikuti Papa dan duduk berhadapan di sofa.
Reno yang semula ingin langsung kembali ke kamarnya diminta Mama untuk ikut ke ruang keluarga, karena sekalipun Papa tidak terlalu mempedulikan Reno, bagi Mama Reno tetap bagian dari keluarga itu.
“Chelsea bilang kamu yang akan mengatakan alasan kenapa sampai pertunangan kalian putus,” ujar Papa Robert di saar semuanya sudah berkumpul di ruang tengah.
“Ada sedikit salah paham, Pa. Chelsea melihatku sedang berdiskusi dengan klien, wanita cantik dan dewasa. Chelsea langsung emosi dan memutuskan pertunangan kami. Aku akan mencoba bicara lagi dengan Chelsea.”
“Kamu yakin ?” Papa menelisik ekspresi Revan yang terlihat biasa saja.
Reno mengepalkan kedua tangannya dan menekannya ke sofa, menahan emosi mendengar ucapan Revan yang memutarbalikan fakta.
“Papa tidak yakin padaku ? Atau karena Reno mengatakan sesuatu tentangku ?” Revan melirik adiknya sambil tersenyum sinis.
“Kenapa Kakak jadi membawa-bawa aku ?”
Revan kembali tersenyum sinis membuat Papa mengerutkan dahi dan tatapan tajamnya terpusat pada Reno.
“Bukankah kamu bersama dengan Chelsea saat bertemu denganku ?” sindir Revan.
“Apa maksudmu, Revan ?” tanya Papa. “Apa maksud kakakmu, Reno ?”
Suara Papa semakin meninggi dan tidak sabar menuntut penjelasan.
“Jadi kamu sedang pergi bersama Sea saat bertemu dengan Kakakmu ? Jangan bilang kalian pergi berdua karena urusan pekerjaan !” bentak Papa dengan suara semakin meninggi.
“Pa, tujuan malam ini adalah mendengar penjelasan dari Kak Revan, bukan mendengarkan alasan kenapa aku bisa bersama Sea saat bertemu dengan Kak Revan,” protes Reno yang mulai keberatan karena Revan mulai mengalihkan topik.
Reno tidak lagi menutupi rasa kecewanya karena sikap Papa masih saja keras padanya meski kali ini bukan dirinya yang bersalah.
“Apakah kamu benar-benar masih menyukai Sea atau hanya karena merasa tidak terima karena Sea adalah tunanganku ?” tantang Revan dengan wajah liciknya.
Reno mengepalkan tangannya kembali sambil berusaha mengatur emosinya. Sungguh ia tidak menyangka kalau kakak yang selalu menjadi idola dan panutannya memiliki sifat yang buruk seperti ini.
__ADS_1
“Kenapa sekarang aku yang menjadi tersangkanya ? Bukankah seharusnya Kakak yang memberikan penjelasan di sini ?”
“Bukan tersangka tapi kamulah sumber kekacauan semua ini , Reno,” kecam Revan dengan wajah penuh emosi.
“Kalau saja kamu tidak ikut campur dalam hubunganku dengan Chelsea, hubungan kami akan berjalan dengan baik bahkan mungkin sebentar lagi aku akan menikah dengannya. Kehadiranmu, kata-kata rayuanmu membuat Chelsea kembali bimbang dan meragukan ketulusanku !”
“Aku memang masih mencintai Sea tapi tidak pernah terlintas sedikit pun untuk merebutnya dari Kakak !” pekik Reno sambil menggebrak meja dan berdiri.
“Reno,” Mama berusaha menenangkan putra bungsu yang duduk di sebelahnya.
“Jadi benar kamu masih menyukai Sea ?” tanya Papa dengan nada kecewa dan senyuman sinis.
“Iya, aku masih menyukai Chelsea dan sangat mencintainya,” sahut Reno dengan penuh keyakinan
“Tapi kalau memang bersama Kak Revan bisa membuat Sea lebih bahagia, aku rela melepaskannya, Pa.”
“Aku tidak yakin kamu rela melepaskan Sea untukku,” sindir Revan dengan senyuman sinis. “Aku tahu kamu sering datang ke kantornya dan terus memintanya untuk memikirkan kembali permintaanku untuk menikahinya.”
“Jadi benar Kakak memata-matai Sea,” Reno balik tersenyum sinis. “Padahal Kakak tahu apa penyebab aku mencegah Sea untuk cepat-cepat menikah dengan Kakak.”
“Kamu sangat mengecewakan, Reno. Setelah menyia-nyiakan kesempatan dan membuatnya kacau 4 tahun yang lalu, sekarang kamu bilang cinta sama Chelsea ? Kamu sadar kalau kamu sudah menjilat ludah yang kamu buang ke tanah ?”
“Pa…” Reno semakin kecewa mendengar ucapan Papa
“Sudah Papa katakan berhentilah menjadi pria yang penuh dengan rasa iri dan dengki terutama pada kakakmu sendiri !”
“Tapi sungguh Pa…”
“Jangan sampai Papa mengusirmu dari rumah dan membuatmu jadi laki-laki tidak berharga tanpa kekayaan orangtuamu !”
Reno tertawa miris mendengar ucapan Papa.
“Aku tidak takut hidup susah tanpa bayang-bayang kekuasaan dan kekayaan Papa,” sahut Reno dengan suara pelan. Tatapannya penuh luka memandang Papa yang masih mengeraskan hatinya.
“Kalau memang Papa menganggap itu yang terbaik untukku, aku akan pergi meninggalkan rumah dan perusahaan. Akan aku buktikan kalau aku tidak seburuk yang Papa pikirkan.”
”Reno, jangan bicara begitu,” ujar Mama Siska.
“Melarikan diri tidak akan menyelesaikan inti masalahnya, Reno,” suara Chelsea dari arah luar membuat keempat orang yang ada di ruang tengah menoleh.
Chelsea tidak datang sendirian tapi bersama Papi Agam. Sebetulnya sudah hampir 10 menit mereka berdiri di balik tembok, mendengarkan perdebatan antar keluarga itu.
Chelsea bergegas ingin ke rumah Robert dan Siska begitu melihat mobil Revan tiba karena sudah menduga kalau mantan tunangannya akan berkelit dan menyalahkan Reno.
__ADS_1
“Malam Om, Tante,” sapa Chelsea sopan saat posisinya sudah dekat.
Robert dan Siska mengerutkan dahi mendengar panggilan Chelsea. Mereka terlihat kaget karena Chelsea merubah panggilannya, bukan Papa Mama lagi. Padahal setelah pertunangannya dengan Reno batal, Chelsea tetap memanggil Robert dan Siska dengan sebutan Papa Mama.
Agam sendiri hanya menganggukan kepala sebagai sapaan, tatapannya terlihat sinis saat menatap Revan.
“Sea, aku sudah bilang sama Papa kalau kamu hanya salah paham denganku,” ujar Revan saat semuanya sudah kembali duduk.
Chelsea tersenyum sinis dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Salah paham ?” sinis Chelsea. “Lalu ini apa ?”
Chelsea mengeluarkan 2 alat penyadap dan satu kamera kecil yang ditemui di dalam ruang kerjanya.
Setelah mendengar ucapan Papa Robert soal pertengkarannya dengan Reno di ruang kerja, Chelsea yang didukung oleh Papi Agam mencari tahu sumber informasinya.
“Kamu menuduhku, Sea ?”
“Atau Om Robert yang memasang semua ini ?” Chelsea tidak menjawab pertanyaan Revan malah menoleh ke arah Papa Robert dan sengaja menatap Papa dengan wajah curiga.
“Kamu pasti mengenal Papa, Sea, mana mungkin menggunakan cara kotor begini pada kamu.”
“Kamu dengar sendiri kan Kak Revan ?” Chelsea melirik Revan sambil tersenyum sinis.
“Oke aku mengaku kalau sudah memasang alat penyadap di ruanganmu, tapi itu semua karena aku mencintaimu. Aku tahu kalau Reno masih menaruh hati padamu dan gencar berusaha membuat hatimu jatuh cinta lagi padanya. Bagaimana aku tidak khawatir, Sea ? Aku mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu.”
“Berhenti bilang cinta !” bentak Chelsea membuat yang lainnya langsung terkejut. Belum pernah melihat Chelsea seperti ini.
“Jijik aku mendengar ucapan cinta dari mulut Kak Revan.”
“Kenapa ? Karena bagimu hanya kata-kata cinta Reno yang paling indah ?” tantang Revan sambil melotot.
“Jangan suka menjadikan orang lain kambing hitam untuk membuat diri Kakak terlihat putih,” Chelsea tersenyum sinis.
“Apa perlu aku membawa Nuri untuk membuatnya mengakui di depan semuanya kalau selama ini dia adalah kaki tangan Kak Revan ?”
Revan langsung membelalakan matanya karena tidak menyangka kalau posisi Nuri ikut terungkap.
Robert, Siska dan Reno juga ikut terkejut. Ketiganya mengenal baik siapa Nuri, sekretaris yang sudah lama bekerja di perusahaan dan merupakan saah satu orang kepercayaan Agam.
“Apa maksud semua ini, Sea ?” tanya Papa Robert penasaran.
Robert sempat menatap sahabatnya dengan wajah penuh tanda tanya, tapi Agam hanya melirik dan kembali menatap tajam sambil tersenyum sinis ke arah Revan.
__ADS_1