Takdir Untukku

Takdir Untukku
Seperti Layang-layang


__ADS_3

“Chelsea aman sampai rumah, kan ? Kok muka elo kayak ditekuk begitu ?” ledek Dio saat melihat wajah bossnya lesu dan kehilangan semangat.


“Aman tapi sikapnya makin keras menolak gue. Nada suaranya bukan naik 1 oktaf lagi, tapi udah kelas seriosa.”


Dio tergelak sementara Reno langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di ruangannya.


“Kalau begitu harus pakai cara layang-layang,” ujar Dio sambil duduk di hadapan Reno.


“Layang-layang ?” tanya Reno sambil mengerutkan dahinya.


“Tarik ulur, Bro. Sekali-sekali acuhin dan jaim sama Chelsea seolah elo nggak akan maksa dia untuk cinta sama elo lagi. Kalau menurut gue, Chelsea tambah galak karena persaannya mulai galau sama elo.”


Reno masih mengerutkan dahinya menatap Dio dengan wajah bingung.


“Chelsea mulai merasakan cinta lagi sama elo tapi dia masih ragu atau merasa bersalah sama Bastian karena belum setahun calon suaminya meninggal.”


“Terus gue harus gimana ?”


“Jalanin kerjaan seperti biasa tapi jangan terlalu agresif, dibawa santai aja. Kalau Chelsea malah tambah uring-uringan berarti fixed dia mulai mersakan getaran cinta.”


Reno tersenyum dan mengangguk-anggukan kepala. Berharap ucapan Dio benar kalau Chelsea sudah mulai jatuh cinta padanya.


“Tapi kalau omongan gue salah jangan marah-marah ya !”


”Bujukin Nia buat bantuin gue demi kebahagiaan bersama, dong.”


“Mau modalin buat nyogok pacar gue ?” Dio menaikkan alisnya sebelah.


“Sama sahabat sendiri perhitungan banget,” gerutu Reno beranjak bangun dan berjalan menuju ke meja kerjanya.


Dio tergelak, rasanya menyenangkan bisa menggoda Reno yang sudah bucin akut pada Chelsea.


***


Chelsea bergegas turun dari mobil begitu sampai di lokasi proyek. Dia sudah terlambat 10 menit dari jadwal rapat di lokasi proyek.


Chelsea berpikir Reno akan menjemputnya seperti biasa tapi cowok itu tidak memberi kabar kalau hari ini Reno langsung ke lokasi.


Salah Chelsea juga yang gengsi bertanya langsung pada Reno. 45 menit sebelum waktu rapat, Chelsea baru minta bantuan Nia untuk bertanya pada Dio.


Akhirnya Chelsea minta sopir Papi untuk megantarnya ke lokasi yang jaraknya cukup jauh dari kantor. Chelsea berencana pulangnya ikut mobil Reno.


“Maaf saya terlambat,” ujar Chelsea dengan wajah tidak enak karena semua mata memandangnya begitu ia muncul di pintu.


”Masuk aja Nyonya Reno,” ledek Pak Burhan, kepala proyek yang bertanggungjawab di lapangan.


Peserta rapat yang kebanyakan karyawan lapangan ikut senyum-senyum karena status Chelsea bukan berita baru untuk mereka.


Chelsea membalasnya dengan senyuman canggung dan langsung duduk di kursi kosong yang ternyatasudah disiapkan di sebelah Reno.


Rapat akhirnya selesai 1 jam kemudian. Baru saja Chelsea ingin bilang kalau ia pulang dengan Reno, pria itu memanggil seorang wanita muda seumuran Chelsea.


“Kenalkan ini Karina, arsitek baru di perusahaan yang akan membantu pekerjaanku di lapangan.”


Gadis berpenampilan hitam manis itu tersenyum, menganggukan kepala dan mengulurkan tangannya pada Chelsea.

__ADS_1


“Ini…”


“Calon istri, Bapak kan ?” potong Karina sambil tersenyum. “Tadi saya dengar waktu Pak Burhan bilang kalau Ibu adalah calon istri Pak Reno.”


“Kita langsung ke Cikupa saja, saya sudah menghubungi Pak Imam dan memberitahu kita akan ke sana,” ujar Reno yang terlihat tidak ingin membahas lebih jauh soal hubungannya dengan Chelsea.


“Siap Pak, saya ada perlu sebentar dengan Pak Burhan. Saya keluar duluan, Pak, Bu,” Karina kembali menganggukan kepala dan tersenyum sebelum meninggalkan Reno dan Chelsea.


Reno terlihat santai dan acuh pada Chelsea yang berdiri di sampingnya sementara ia merapikan laptop dan berkas-berkas rapat hari ini.


“Aku pergi dulu, Sea, mau lanjut ke proyek lagi.”


Chelsea masih berdiri di depan kursi saat Reno berjalan menuju pintu ruang rapat


Kenapa juga Papa harus mencari arsitek perempuan untuk membantu Reno ? Apa nggak ada arsitek lelaki kayak Dio ? gerutu Chelsea dalam hati.


Chelsea menghela nafas dan wajahnya terlihat kesal saat Reno mengabaikannya.


“Kamu nggak pulang ?” tanya Reno dengan dahi berkerut saat melihat Chelsea bergeming di samping meja.


“Aku kemari diantar sopir tapi nggak ditungguin.”


“Aku akan minta tolong Pak Burhan mencarikan taksi untukmu. Agak sulit kalau mencari taksi online. Kamu mau tunggu di sini atau di ruangan Pak Burhan ?”


Chelsea kembali menghela nafas dengan bibir sedikit mengerucut. Reno hampir saja tergelak melihat ekspresi gadis itu. Sebetulnya Reno menunggu Chelsea bilang sendiri kalau ia ingin pulang dengannya.


Reno berusaha bersikap santai meskipun hatinya sedikit deg deg kan, khawatir Chelsea nekat menerima tawaran Reno untuk pulang naik taksi. Tentu saja Reno tidak akan membiarkan hal itu terjadi, mana mungkin ia rela membiarkan Chelsea pulang sendirian.


Reno meletakkan kembali tas ranselnya di atas meja dan mengeluarkan handphonenya.


“Coba pesan taksi online buat kamu.”


Chelsea menghela nafas saat merasa yakin kalau Reno sedang menjaga jarak sesuai permintaan Chelsea kemarin pagi.


Ayo bilang kalau kamu mau ikut, Sea. Jangan keras kepala dan nekat pulang sendiri, batin Reno dengan perasaan harap-harap cemas.


“Nggak usah pesan taksi untukku,” ujar Chelsea dengan nada kesal.


Deg !


Reno makin deg deg kan tapi sebisa mungkin wajahnya terihat tenang meski dahinya berkerut.


“Mau dipanggilkan taksi biasa saja ?”


“Nggak ! Aku takut pulang sendiri apalagi naik taksi online. Aku mau ikut kamu aja.”


Yes. Yes. Yes. Itu jawaban yang aku tunggu, Sea.


“Aku mau ke lokasi proyek dulu di Cikupa, kamu nggak masalah kalau sampai rumah agak malam ?”


“Nggak apa-apa. Kamu keberatan kalau aku ikut karena mau pergi dengan arsitek baru itu ?”


“Kamu cemburu sama Karina ?” Reno memicingkan mata, mencoba menahan diri untuk tidak tertawa mendengar nada bicara Chelsea seperti orang sedang cemburu.


“Kenapa aku harus cemburu ?” Chelsea membalas tatapan Reno, ingin menunjukkan kalau dugaan pria itu salah.

__ADS_1


“Nada kamu kayak pacar yang lagi cemburu,” sahut Reno dengan wajah santai dan tersenyum tipis.


“Kita jalan sekarang, biar pulangnya nggak kesorean,” lanjut Reno tanpa memberi kesempatan Chelsea membantah ucapannya.


Chelsea bergegas mengikuti langkah Reno keluar dari bangunan kantor sementara. Pria itu sempat memberi instruksi pada beberap staf lalu mengajak Chelsea menuju mobilnya.


Chelsea yang baru sadar kalau masih memakai sepatu hak tinggi mengutuki dirinya. Langkahnya sedikit sulit melewati jalan yang masih agak berbatu, belum diaspal seluruhnya.


Reno tersenyum tipis saat melihat Chelsea tertinggal di belakangnya. Ia pun berbalik dan menggandeng lengan Chelsea.


“Tumben pakai sepatu heels ke proyek.”


“Tadi aku buru-buru karena nunggu kamu nggak datang-datang. Akhirnya aku terpaksa minta diantar sopir dan lupa kalau pakai mobil Papi, sepatuku ada di mobil yang biasa aku pakai.”


“Memangnya kita janjian mau berangkat bareng ?”Reno sengaja mengajukan pertanyaan yang membuat Chelsea bingung menjawabnya.


Reno kembali tersenyum tipis saat melirik wajah Chelsea yang terlihat bingung bagaimana harus menjawab.


“Nggak, tapi kamu kan biasa jemput aku kalau lagi ada jadwal meeting bareng,” sahut Chelsea dengan suara pelan.


“Besok-besok telepon aja kalau kamu mau berangkat bareng.”


“Kamu tadi berangkat bareng sama Karina ?” Chelsea mengutuki dirinya saat tidak bisa menahan diri untuk mencari tahu soal Karina.


“Nggak.”


Chelsea tersenyum tipis dan hatinya merasa lega mendengar jawaban Reno. Pria itu sendiri tidak mau bertanya-tanya lagi, takut membuat Chelsea malu.


“Duduknya begini dulu,” perintah Reno saat membukakan pintu mobil dan memberi isyarat pada Chelsea soal posisi duduknya.


Meskipun bingung tapi Chelsea menurut, duduknya sengaja miring dengan kaki masih menapak di jalan.


Reno berjongkok di depan Chelsea setelah mengambil sesuatu dari bagasi mobil. Ia melepas sepatu tinggi Chelsea dan menggantinya dengan sandal berbahan karet.


“Punya siapa ?”


“Kamu.”


Chelsea mengerutkan dahi sementara Reno menaruh sepatu Chelsea di bagian belakang.


“Kan tadi kamu bilang kita akan sering pergi berdua terutama ke lokasi proyek. Aku sengaja siapin kalau mendadak hujan dan kamu butuh alas kaki pengganti karena sepatumu basah.”


Wajah Chelsea langsung berbinar dan senyuman mengembang di bibirnya.


“Terima kasih,” ujar Chelsea dengan tulus.


“Sama-sama,” sahut Reno kalem dan hanya tersenyum tipis


Padahal dalam hatinya, Reno bersorak kegirangan dan hampir tidak bisa menahan diri untuk memeluk Chelsea. Reno akan berterima kasih pada Dio yang memberi saran jitu.


Ternyata menghadapi perasaan Chelsea memang perlu ditarik ulur seperti bermain layang-layang, mengikuti arah dan kecepatan angin supaya layangan bisa tetap terbang indah di langit yang cerah.


Chelsea makin tersenyum lebar saat Reno membantunya memakai sabuk pengaman. Ia sudah tidak terlalu khawatir lagi saat Karina datang dan duduk di kursi penumpang belakang.


Tetaplah menari dengan indah di tengah cerahnya langit, layangan cintaku, batin Reno.

__ADS_1


__ADS_2