
Suasana pesta pernikahan Reno dan Chelsea dipenuhi dengan para undangan yang jumlahnya lebih dari 1000 orang.
Suasana terasa lebih meriah dibandingkan dengan pesta pernikahan Revan-Dita dan Carmila-Leo sebrlumnya.
“Kok tamunya kayak nggak habis-habis, Ren ?” keluh Chelsea yang mulai pegal karena menggunakan sepatu tinggi.
“Itu artinya banyak orang menghargai undangan kita, Sayang. Kamu capek banget ?”
“Kaki doang yang pegel, aku kan nggak biass pakai sepatu tinggi lama-lama. Kamu tahu sendri kan kalau aku lebih suka pakai sepatu keds selama di lapangan.”
“Aku minta ambilin ganti, ya ?” Chelsea pun mengangguk dan Reno langsung memanggil salah satu staf WO.
“Nanti malam aku pijitin dari ujung kepala sampai ujung kaki,” bisik Reno.
“Memangnya kamu nggak pegel ?”
“Asal dapat bonus malam pertama, mau diulang pijitannya sampai 2 kali aku masih kuat,” sahut Reno sambil terkekeh.
Wajah Chelsea sudah merona, hatinya berdebar dan rasanya canggung kalau memikirkan malam pertama dengan Reno. Mengingat kejadian tidur di kamar Reno saja membuat Chelsea merasa sangat malu.
“Jangan berpikir terlalu keras bagaimana caranya dan sakitnya nanti malam karena saat menghadapinya langsung, setiap orang pasti akan bisa dengan sendirinya,” bisik Reno sambil meniup telinga Chelsea membuat mata gadis itu membola dan wajahnya makin memerah.
Reno tertawa pelan, membayangkan Chelsea malu-malu saat mereka tidur sekamar untuk pertama kalinya dengan status sebagai suami istri.
Tidak lama 2 staf WO membawakan sepatu datar untuk Chelsea. Pengantin wanita itu tampak lega karena tamu-tamu yang baru datang sudah membentuk antrian untuk memberikan selamat.
Setelah hampir 2 jam di pelaminan, akhirnya Reno membawa Chelsea turun dan menyapa beberapa kenalan mereka.
“Reno, Chelsea, selamat, ya.”
Sepasang mempelai itu langsung menoleh dan mendapati Sherly berdiri di belakang mereka sambil menggandeng seorang bocah perempuan berusia sekitar 5 tahun dan di belakangnya berdiri pria yang sedikit lebih tua dari Reno sedang menggendong bocah laki-laki berusia sekitar 2 tahun.
“Aku senang karena akhirnya Reno bisa sama kamu,” ujar Sherly sambil memeluk Chelsea yang diam tanpa membalas pelukan mantan rivalnya.
“Maafkan perbuatanku padamu. Aku sangat menyesal apalagi melihat Reno patah hati saat kamu pergi meninggalkannya.”
“Kalau sekedar maaf, aku sudah memberi maaf untukmu dan Reno, tapi jujur tidak mudah bagiku untuk melupakannya karena apa yang terjadi di kamar hotel itu adalah pengalaman pertama yang membuatku sangat terluka.”
Sherly tersenyum canggung dan semakin tidak enak meskipun wajah Chelsea terlihat datar, tidak ada tatapan dendam di matanya.
“Apa kabar Haris ?” Reno menyapa pria di samping Sherly untuk mencairkan suasana yang terasa canggung itu.
“Baik dan selamat atas pernikahan kalian,” pria itu langsung menjabat tangan Reno bahkan menyuruh putranya ikut menyalami Reno juga.
__ADS_1
“Sayang, kenalkan ini Haris, suaminya Sherly,” ujar Reno membuat Chelsea mengalihkan tatapannya dan gantian menjabat tangan suami Sherly.
“Terima kasih karena sudah menyempatkan diri datang,” ujar Chelsea dengan ramah.
Akhirnya Haris berpamitan meninggalkan pasangan pengantin baru itu. Terlihat Reno menghela nafas. Meski Chelsea tidak menunjukkan emosi yang berlebih, namun Reno tahu kalau kehadiran Sherly mengusik ingatannya tentang kebodohan Reno.
Untung saja Nia dan Dio yang memperhatikan kejadian itu sejak tadi sengaja mengajak Tomi dan Edo untuk menghampiri sahabat mereka.
Sementara itu di salah satu sudut ruangan, terlihat seorang wanita masih memusatkan perhatiannya pada kedua pengantin.
“Sepertinya kita membenci orang yang sama,” ujar seorang pria membuat wanita itu menoleh dan menautkan alisnya mencoba mengenali pria yang sekarang berdiri di hadapannya.
“Perkenalkan namaku Mike,” pria itu mengulurkan tangan namun diabaikan oleh wanita itu.
Mike tertawa dan menarik tangannya membuat wanita itu kembali mengerutkan dahinya.
“Aku tahu kalau kamu sangat mencintai Reno dan berpikir kalau saja Chelsea tidak kembali padanya, pasti masih ada kesempatan untuk membuat Reno jatuh cinta padamu.”
“Jangan asal menebak,” ketus si wanita.
“Aku bisa melihat dari caramu menatapnya,” pria itu tertawa menyindir.
“Aku bisa merasakan auranya karena sama persis dengan apa yang aku rasakan juga. Aku ingin membuat perempuan itu paham apa artinya penderitaan.”
“Bukan tapi dia sudah membuat mantan istriku menderita karena harus kehilangan putra tunggalnya. Kalau saja perempuan itu tidak menghalangi ayah anak itu untuk menolongnya, mantan istriku pasti tidak akan menderita seperti ini.”
“Ceritamu sangat berbelit dan susah untuk dimengerti. Lagipula untuk apa kamu peduli dengan mantain istrimu lagi ?”
“Aku menikah dengan wanita yang mengaku hamil olehku, ternyata begitu anak lahir, hasil tes DNA membuktikan kalau anak itu bukanlah anak kandungku tetapi milik mantan kekasihnya. Dan belum lama ini anak itu membutuhkan donor dari ayah kandungnya, tapi sayang rencana itu terhambat karena perempuan itu hingga nyawa si anak tidak sempat tertolong.”
“Jangan bilang kalau anak itu adalah putra Bastian,” ujar si wanita.
“Jadi kamu mengenal Bastian juga ?” mata Mike menyipit, menelisik ekspresi wanita di depannya yang mengangguk.
“Tapi bukan Chelsea yang membuat Bastian meninggal.”
“Kalau saja Bastian tidak bersama Chelsea saat itu, dia pasti tidak akan ragu dan mengulur waktu untuk menjadi pendonor bagi putra kandungnya. Hubungannya dengan Chelsea membuat Bastian menundanya dan berpikir lebih lama hingga akhirnya ia meninggal dan tidak sempat menolong putranya.”
Wanita itu menghela nafas dalam-dalam dan mencoba menenangkan hatinya agar tidak terpengaruh dengan ucapan Mike.
“Bukankah kamu berpikiran sama ? Kalau saja Chelsea tetap dengan pendiriannya menolak Reno kembali ke dalam hidupnya setelah Bastian meninggal, bukan dia yang akan berdiri di samping Reno, tapi kamulah yang akan menjadi pilihan Reno,” ucapan Mike kembali mencoba memprovokasi pikiran si wanita.
Wanita itu kembali menghela nafas dan merasa semakin tidak nyaman dengan ucapan yang keluar dari mulut Mike.
__ADS_1
“Setidaknya kita bisa melihat sejauh mana takdir mereka berbicara,” ujar Mike sambil mengikuti si wanita.
“Aku tidak paham dengan ucapanmu,” ketus si wanita.
“Kita akan bekerjsama untuk membuat Chelsea merasakan bagaimana rasanya menderita karena cinta dan harus merelakan suaminya yang akan memilihmu daripada istrinya sendiri.”
“Chelsea sudah pernah dibuat patah hati oleh Reno bertahun-tahun lalu, jadi masalah-masalah kecil tidak akan membuatnya langsung patah hati.”
“Setiap manusia punya kelemahan, begitu juga dengan Reno dan si sok tangguh Chelsea. Kamu pasti sudah hafal dengan kebiasaan Reno karena sudah lama kamu mengejar cintanya. Carilah kelemahan pria itu yang bisa membuatnya melupakan Chelsea sejenak dan jadikan itu kesempatan baik untukmu.”
Wanita itu terlihat ragu-ragu namun ada ketertarikan dengan ajakan Mike.
“Siapa tahu Reno bisa menjadi milikmu dan mencintaimu lebih daripada cintamu kepadanya.”
Wanita itu masih terdiam, meneguk minuman yang baru saja diambilnya. Pikirannya berkelana dan hatinya sedang menimbang-nimbang ucapan pria yang baru saja dikenalnya dengan nama Mike itu.
“Sea, kamu kenapa ?” tanya Reno sambil menyentuh bahu Chelsea yang sempat mengabaikan Reno dan memandang ke satu arah penuh konsentrasi.
“Sepertinya aku melihat Mike ada di sini. Apa kamu mengundangnya ?”
“Mike siapa ? Aku tidak punya teman yang namanya Mike.”
“Mike itu sahabat Bastian yang merebut Sena darinya. Tiga bulan yang lalu, saat aku bertemu dengan Sena, dia bilang Mike sedang sakit dan Sena hendak menyusul sekaligus merawatnya di Amerika. Tapi tadi aku yakin melihatnya.”
“Bersama Sena ? Kamu pernah bertemu dengan Mike sebelumnya ?”
“Belum,” Chelsea menggeleng. “Bastian pernah memperlihatkan foto Mike padaku dan memintaku mengingat-ingat wajah itu untuk jaga-jaga kalau suatu saat aku bertemu dengannya. Bastian hanya ingin aku waspada padanya karena Mike bukan sekedar casanova tapi senang menghancurkan hubungan cinta orang lain.”
“Beritahu aku kalau kamu melihatnya lagi, jangan coba-coba menghadapinya sendirian karena sekarang aku adalah suamimu. Sudah kewajibanku menjaga dan melindungimu.”
Chelsea memutar tubuhnya berhadapan dengan Reno dan dipegangnya kedua pinggang Reno.
“Sejujurnya aku memang sedikit takut kalau sampai harus berhadapan dengannya.”
“Jangan takut selama kita menghadapinya berdua. Aku tidak akan membiarkan apapun memisahkan kita lagi.”
Chelsea tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Terima kasih, suamiku,” Chelsea mengedipkan sebelah matanya membuat Reno tertawa pelan.
“Aku sangat mencintaimu, istriku.”
Chelsea melebarkan senyumannya, berusaha menenangkan hatinya yang sedikit gelisah karena yakin melihat sosok Mike di tengah pestanya.
__ADS_1