
Tiga hari berlalu sejak pertengkarannya dengan Revan di kantor dan tunangannya itu pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan.
Revan tidak lagi menemui Chelsea dan hanya berpamitan lewat pesan handphone saja.
Siang ini, Chelsea sedang bekerja di ruangannya. Papi Agam meminta putri sulungnya itu kembali bekerja di ruangan miliknya untuk membantu menangani beberapa pekerjaan Papi.
Chelsea merenggangkan tubuh sambil menekan layar handphoneya. Sudah mendekati jam makan siang. Sebetulnya Chelsea enggan pergi keluar tapi rasa jenuh membuat hatinya tergoda untuk mengajak Nia makan siang di luar.
Chelsea mengambil handphone yang tergeletak di atas mejanya. Tidak ada pesan masuk dari Revan ataupun Reno..
Terakhir tunangannya mengirmkan pesan 3 hari yang lalu hanya untuk pamitan sekaligus mengabarkan kalau ia akan tugas ke beberapa kota di Sumatera selama 2 minggu.
Kata-kata Revan sangat manis, meminta Chelsea mendoakannya supaya urusan dengan para calon klien dapat gol semuanya demi masa depan mereka, begitu tulis Revan. Tapi hati kecil Chelsea tidak pernah tersentuh apalagi terharu.
Entah kenapa semakin hari perasaannya pada Revan semakin hambar apalagi sejak Revan mulai terus mendesaknya untuk segera menikah dan bersikap kasar serta memaksakan kehendaknya.
“Sea, mau makan siang di luar ?” kepala Nia melongok ke dalam ruangan Chelsea.
Sejak tadi Nia sudah mengetuk pintu ruangan Chelsea sebelum membukanya, tapi sahabat sekaligus boss nya itu tidak menjawab apa-apa. Nia yakin kalau gadis cantik itu sedang memikirkan Reno bukan merindukan Revan.
“Sebetulnya gue malas keluar, panas banget. Tapi duduk di sini juga bikin bosan,” sahut Chelsea yang masih duduk di kursi kerjanya.
Nia tertawa sambil berjalan mendekati meja Chelsea.
“Jangan bilang elo gelisah karena Reno nggak kirim pesan. Bukannya kangen sama calon suami malah mikirin calon adik ipar,” ledek Nia di sela- sela tawanya.
“Haiiss siapa juga yang mikirin Reno, gue justru lagi mikirin kenapa Revan nggak kasih kabar apa-apa selama 3 hari ini, padahal biasanya dia paling rajin kirim pesan ke gue.”
“Jadi mulai kangen beneran nih sama calon suami ?”
“Bukan begitu, tapi berasa aneh aja, Terakhir pas mau berangkat kirim pesannya manis banget sampai bikin gue takut dikerubutin semut, eh habis itu kayak menghilang begitu aja.”
“Elo balas pesannya semanis madu nggak ?” ledek Nia.
“Madu apa dimadu ?” sahut Chelsea sambil terkekeh.
“Jadi elo nggak masalah kalau dimadu Revan ? Mentang-mentang udah punya Reno sebagai cadangan ?”
“Nggak begitu lah. Gue tuh masih jaga jarak dan jaga hati sama Reno, tapi tuh cowok nempel terus lebih dari cicak-cicak di dinding,” gerutu Chelsea.
“Cicak yang diam-diam merayap, ya ?” Nia tergelak.
“Jadi sebetulnya hati elo cintanya sama siapa ? Sama Revan atau adiknya ?” ledek Nia.
“Penting banget nanya begitu,” gerutu Chelsea sambil mematikan laptopnya. Ia pun mengambil tas tangannya dan bersiap-siap untuk pergi keluar makan siang denga Nia.
__ADS_1
“Kalau ingat bagaimana Revan menatap gue malam itu, mata dan senyumannya benar-benar bikin bulu kuduk merinding.”
“Kenapa ? Bikin hati berdebar dan tubuh panas dingin ?”
“Gue nggak melihat ada cinta biar sedikit juga saat itu. Mendadak gue teringat sama ucapan Reno kalau semua yang dilakukan Revan itu hanya sandiwara, dia hanya memanfaatkan gue untuk mendapatkan kepercayaan dan dukungan Papa.”
“Tuh kan ujung-ujungnya Reno juga,” ledek Nia sambil tertawa. “Gue yakin kalau elo gelisah bukan karena Revan nggak menanggapi pesan elo, tapi karena bayangan Reno belum bisa elo hapus dari dalam hati dan ingatan elo.”
“Nggak begitu juga, Nia,” mata Chelsea langsung melotot menatap Nia yang masih saja tertawa meledeknya.
“Udah yuk kita jalan makan siang dulu, gue yang traktir.”
Chelsea memberi isyarat pada Nia supaya bangun dari kursinya dan pergi makan siang di luar untuk menenangkan pikirannya yang sedang mumet.
Baru sampai di lobby, handphone Chelsea berbunyi notifikasi pesan masuk. Gadis itu segera mengambil dari dalam tasnya dan terlihat nama Revan.
“Siapa ?”
“Revan.”
“Panjang umur banget tuh caion suami elo. Kupingnya langsung panas begitu calon istri mulai bilang khawatir karena nggak ada kiriman pesan.”
REVAN
Kamu lagi ngapain, Sayang ? Maaf aku baru kirim pesan lagi. Aku lagi di Dumai. Beberapa lokasi proyek sering nggak dapat sinyal.
CHELSEA
Lagi mau keluar makan sama Nia. Nggak apa-apa, yang penting Mas Revan sehat.
REVAN
Duh senangnya dikhawatirin sama calon istri hahahaha. Ya udah hati-hati dan jangan banyak melirik cowok lain. Ingat calon suamimu ini pencemburu.
CHELSEA
Iya, ada Nia yang bakal jagain aku. Aku setir mobil dulu.
Chelsea berbohong padahal posisinya masih berdiri di lobby gedung. Ia pun segera memasukkan handphonenya kembali, tidak ingin memperpanjang urusan pesan dengan Revan karena ujung-ujungnya cowok itu akan menutupnya dengan kata I LOVE YOU dan Chelsea sendiri merasa canggung untuk menjawabnya dengan kata yang sama.
“Kita mau kemana ?” tanya Nia sambil menautkan alisnya saat melihat Chelsea mengeluarkan kunci mobil menuju parkiran.
__ADS_1
“Kita makan jauhan sedikit. Gue mau cari tempat yang sedikit tenang buat ngobrol. Gue udah titip pesan sama Mbak Nuri kalau kita akan keluar makan siang sekaligus meeting.”
“Ya ampun, Sea, ternyata elo tambah pintar berbohong ya ?” gerutu Nia sambil masuk ke dalam mobil Chelsea.
“Nggak berbohong cuma nggak perlu terlalu jujur sama karyawan. Gue udah pamit juga sama Papi dan nggak masalah keluar makan siang sampai jam 2.”
Nia hanya geleng-geleng kepala dan mengikuti kemana Chelsea akan membawanya. Hingga sekitar 20 menit kemudian, mobil Chelsea masuk ke dalam pelataran sebuah hotel.
“Sea…”
“Kan tadi gue udah bilang kalau gue yang bayar. Sekali-kali kita bergaya kayak holang kaya dong,” sahut Chelsea sambil tertawa.
“Jangan sok lupa deh kalau elo memang anak orang kaya,” cebik Nia dan Chelsea hanya tertawa.
Keduanya langsung menuju lobby dan lanjut ke restoran yang ada di hotel. Chelsea sengaja mengajak Nia makan ala buffet untuk menu makan siang mereka hari ini.
Keduanya menikmati hampir semua jenis makanan yang disediakan oleh restoran sambil berbincang banyak hal. Mulai dari kekasih, masa sekolah dan cerita-cerita kuliah di masing-masing kampus yang berbeda negara.
“Sejak kuliah terus kerja, kita memang jarang ya menghabiskan waktu berdua sambil ngobrol-ngobrol begini,” ujar Chelsea sambil melihat ke arah luar jendela.
“Tuntuntan tugas dan tanggungjawabnya udah beda, Sea. Waktu luangnya semakin sedikit karena yang harus dipikirkan dan dikerjakan bukan PR dan tugas makalah doang. Nggak ada jamkos kayak sekolah atau kuliah lagi.”
“Iya, kadang gue merasa kalau selama 4 tahun kuliah di Amerika, gue kurang menikmati waktu sebagai mahasiswa, sibuk menghapus kenangan pahit gue sama Reno,” ujar Chelsea sambil tertawa miris.
“Elo kan memang udah cinta mati sama Reno sejak jaman kita masih pakai putih biru,” cibir Nia sambil terkekeh.
Chelsea terdiam dan padangannya masih ke arah luar jendela yang menghadap ke taman dan tidak jauh ada kolam renang. Matanya terpaku menatap pria dan wanita yang sedang berpelukan di sana.
Nia yang merasa ocehannya tidak ditanggapi akhirnya mengikuti arah pandangan Chelsea. Matanya langsung membola dan tangannya menutupi mulut yang menganga.
“Sea…”
Chelsea terdiam dan tidak bicara apa-apa. Tubuhnya menegang dan hatinya terasa sakit melihat pemandangan di luar sana. Chelsea sempat memejamkan mata berharap setelah membukanya kembali semua yang dilihatnya sudah tidak ada, hanya ilusi saja.
Tapi Chelsea hanya bisa menggigit bibirnya karena pasangan itu masih tetap berada di sana dalam posisi berpelukan. Tangan si pria menepuk-nepuk bahu wanita yang ada dalam dekapannya.
“Kita cari tempat lain aja, Ni.”
Nia mengangguk dan mengikuti Chelsea yang sudah beranjak bangun. Setelah membayar tagihan makanan mereka, keduanya keluar dari restoran menuju parkiran mobil.
__ADS_1