
Bukan hanya Nia yang harus berbohong, Hanum pun dipaksa mematikan handphonenya saat Chelsea sudah bertekad menemui Tamara.
Wanita yang masih mencintai Reno itu datang belakangan dan langsung menghampiri meja Chelsea.
“Senang rasanya melihatmu bisa kembali dalam keadaan baik-baik saja,” Tamara tersenyum canggung.
“Tidak sesuai harapanmu ?” sindir Chelsea sambil tersenyum tipis.
”Chelsea, aku tahu kalau kamu dan Reno tidak akan percaya kalau aku tidak pernah punya niat membuatmu sampai celaka apalagi saat tahu kamu sedang hamil. Aku justru berpikir, kalau aku mundur, Mike pasti mencari orang lain dan aku tidak akan pernah tahu rencananya padamu. Aku tidak mau Mike mencelakai dirimu.”
“Bukankah kamu sempat bertemu dengannya beberapa kali ?”
“Iya dan Mike memang sempat menceritakan rencananya padaku tapi tidak menyinggung soal penculikan. ia hanya bilang akan membuatmu sedih dan merasakan apa yang dialami Sena tentang bagaimana rasanya kehilangan buah hati.”
“Dan kamu tidak mencoba memberitahu Reno ?”
“Maaf kalau aku terlambat memberitahu Reno. Tapi aku sungguh-sungguh tidak ingin kamu sampai kenapa-napa.”
Chelsea terdiam, ia menarik piring makanannya dan mulai menyuapnya sesendok. Sejak kandungannya bertambah besar, Chelsea mudah lapar.
“Chelsea, maaf karena aku sempat berniat tidak baik padamu. Aku merasa iri karena Reno sangat mencintaimu sejak dulu dan mau melakukan apapun demi cintanya. Saat kamu memutuskan memilih Bastian, kami sempat coba pacaran tapi ternyata gagal. Aku bahkan rela menjadi seperti dirimu, tapi Reno tetap tidak bisa mencintaiku.”
“Beneran kalian sempat pacaran ? Reno nggak pernah menyinggung masalah ini padaku,” Mata Chelsea membola sambil tertawa pelan padahal dalam hatinya ia memaki karena Reno tidak pernah menceritakan masalah ini.
“Mungkin karena dianggapnya tidak penting karena hubungan kami tidak seperti orang pacaran,” sahut Tamara sambil tertawa getir.
“Niat Reno hanya ingin membuatmu cemburu sementara aku berharap dan berusaha keras agar Reno bisa berpaling kepadaku, tapi belum genap 2 bulan, Reno menyerah. Hidupnya tidak tenang saat kamu jalan dengan Bastian.”
“Padahal dulu Reno selalu galak dan bicara pedas sama aku, bahkan dia sampai melakukan hal konyol,” gerutu Chelsea.
“Reno nggak sadar kalau kamu sudah membuatnya membentengi hatinya dari perempuan lain.”
Chelsea kembali terdiam dan menghabiskan makanannya.
“Chelsea, Mike mungkin sudah ditangkap dan dipenjara untuk jangka waktu lama, tapi aku yakin kalau dia tidak sendirian. Tetaplah waspada sampai semuanya jelas.”
“Maksudmu Mike punya kaki tangan ?” tanya Chelsea dengan dahi berkerut.
“Aku pikir…. Reno !”
“Maksudmu Reno tahu siapa kaki tangannya Mike ?” tanya Chelsea dengan nada penasaran.
Wajah Tamara menegang karena sosok pria yang berdiri di belakang Chelsea sedang menatap tajam ke arahnya.
“Tamara ?” Chelsea mengerutkan dahi saat melihat wajah Tamara mendadak kaku.
Chelsea meraih gelas dan meneguknya sedikit lalu perlahan kepalanya memutar ke belakang dan saking kagetnya, air yang ada di mulutnya menyembur keluar hingga membasahi sebagian kemeja dan celana Reno.
“Maaf, maaf,” Chelsea buru-buru mengambil tisu dan membersihkan air yang membasahi Reno.
“Kamu kok bisa ada di sini ? Lagi sama Dio ?”
Reno ganti menatap tajam ke arah istrinya yang sedang nyengir kuda sambil mengerjapkan matanya.
“Sudah aku bilang jangan coba-coba mendekati istriku ! Tidak cukup hanya sampai di ruang interogasi di kantor polisi ?” Tatapan tajam Reno kembali menatap Tamara.
“Reno, jangan salah paham. Aku yang minta bertemu dengan Tamara.”
“Udah selesai makannya, kan ?” tanya Reno dengan nada dingin dan tatapannya begitu galak. Chelsea pun menganggukan kepala.
“Bangun ! Pulang sekarang.”
__ADS_1
Chelsea sempat cemberut namun akhirnya menurut saat Reno masih menatapnya dengan galak tanpa bisa negosiassi.
“Aku percaya padamu,” bisik Chelsea dari seberang Tamara sambil tersenyum.
“Sea !” panggil Reno dengan suara tegas.
Chelsea melambaikan tangan pada Tamaran dan mengikuti Reno yang langsung menuju ke pintu kafe.
“Aku bayar…”
“Sudah aku bayar. Pulang sekarang !”
Reno menarik tangan Chelsea dengan seidkit kasar dan langsung membawanya ke mobil. Hanum mengikuti dari belakang dan pulang dengan mobil milik Chelsea.
“Masuk !”
Chelsea menghela nafas dan wajahnya cemberut karena kesal dengan sikap Reno yang sok galak.
“Reno, maaf karena aku menyuruh Nia berbohong soal pertemuanku dengan Tamara.”
Reno hanya diam. Rahangnya mengeras menandakan pria itu benar-benar marah.
“Reno, aku hanya ketemu Tamara bukan berselingkuh dengan pria lain, kenapa kamu harus sampai marah begini ?” protes Chelsea dengan nada yang mulai kesal.
Namun Reno tetap diam saja dan masih fokus menatap ke depan, tidak menanggapi semua ucapan Chelsea.
“Reno ! Aku tuh ngomong sama kamu bukan ke tembok. Susah banget sih tinggal jawab doang !”
“Apa bedanya sama kamu ?” tanya Reno dengan sinis namun tatapannya masih ke depan.
“Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan sama Tamara.”
“Aku memang nggak dapat jawaban soal Mike, tapi aku baru tahu kalau kamu pernah pacaran sama dia. Kenapa nggak cerita ?”
Bibir Chelsea mengerucut dan menatap Reno dengan wajah kesal.
“Memangnya waktu kamu lagi tergila-gila sama Bastian, kamu masih butuh ceritaku ? Aku wajib lapor sama kamu ? Nggak ingat kalau kamu suruh aku menjauh dan melupakanmu ? Bahkan saat tahu Bastian sudah punya anak kamu tetap memilihnya.”
Suara Reno yang meledak-ledak membuat Chelsea hanya diam mendengarkan dan beberapa kali menghela nafas.
Chelsea pun kembali pada posisi duduk tegak tapi tidak lama ia menyenderkan kepala di pintu sambil menatap ke samping sementara kedua tangannya memegang sabuk pengaman.
Reno kembali diam dan terus memacu mobilnya.
“Kok kemari ?” tanya Chelsea dengan dahi berkerut menatap Reno.
Reno tetap diam dan memarkir mobilnya di depan hotel.
“Mau turun apa tetap di mobil ?”
“Memangnya kita mau ngapain di sini ?”
“Ngamar.”
Chelsea masih bingung tapi Reno sudah turun dari mobil dan membuka bagasi. Chelsea yang masih penasaran akhirnya turun dan menautkan alisnya saat Reno menurunkan satu koper dari bagasi.
“Dalam rangka apa kita menginap di sini, Reno ?”
“Bisa nggak kamu diam aja dan nurut sama suami ?” ketus Reno tanpa menatap Chelsea.
Chelsea sempat menggerutu sendiri sambil mengikuti Reno yang langsung berjalan ke front desk. Limabelas menit kemudian, suami istri itu sudah masuk ke dalam kamar yang dipesan Reno.
__ADS_1
Meski dalam hatinya masih bertanya-tanya, Chelsea tidak bicara apa-apa. Ia langsung menuju jendela besar yang tertutup tirai tipis dan wajahnya berbinar saat menyibak kain tirai. Hamparan laut luas menjadi pemandangan indah dari lantai 15.
“Reno…”
Pria itu sudah melepaskan celana kerja dan kemejanya, hanya tersisa boxer dan kaos putih ketat. Tanpa bicara apa-apa, Reno langsung merebahkan diri di dalam selimut lalu dan matanya terpejam dengan tangan menjadi bantalan kepalanya.
Chelsea bertambah bingung namun ranjang empuk yang ada di depannya begitu menggoda untuk ditiduri hingga akhirnya Chelsea memutuskan untuk berganti pakaian. Matanya membola saat membuka koper karena Reno sudah menyiapkan semuanya termasuk peralatan pribadi Chelsea.
“Reno, maaf banget ya, aku nggak bermaksud bikin kamu marah kayak begini,” ucap Chelsea pelan sambil merebahkan kepalanya di dada Reno.
Dengan mata masih terpejam, Reno merentangkan tangan lalu memeluk Chelsea dengan sebelah tangannya.
“Reno jangan marah lagi.”
Chelsea mendongak, tangannya mengusap pipi Reno yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
“Jangan diulang lagi,” sahut Reno dengan tegas tapi sudah tidak galak lagi. Matanya terbuka dan membalas tatapan Chelsea.
“Urusan dengan Mike sepertinya belum tuntas. Dua hari lalu Pak Ramadhan menghubungi Papa dan membetitahu masalah Mike. Sepertinya dia nggak kerja sendirian karena niat awalnya memang ingin mencelakai kamu dan anak kita. Pak Ramadhan minta supaya kamu benar-benar dijaga sampai semuanya jelas.”
“Tadi Tamara juga bilang begitu, dia yakin kalau Mike tidak sendirian.”
“Ya dia sendiri partnernya,” ujar Reno sambil tersenyum sinis.
“Sepertinya bukan. Aku percaya sama Tamara dan firasatku mengatakan bukan dia. Memangnya Pak Ramadhan bilang kalau partnernya perempuan ?”
“Nggak.”
Chelsea terdiam, tangannya bermain-main di dada Reno membuat pria itu menghela nafas.
“Jangan mudah percaya sama orang terutama saat-saat ini.”
“Terus kenapa kita pakai menginap di sini ?”
“Takut nggak bisa menahan emosi sama Papi. Kepalaku pusing dan tegang kalau memikirkan Mike, belum lagi masalah pekerjaan yang sudah terhambat dan sebagian lagi sudah deadline.”
“Atau sebaiknya kita pindah ke rumah sendiri aja ? Jadi kamu nggak perlu sering-sering ketemu sama papi dan akhirnya kesal.”
“Untuk saat ini tidak mungkin kita pindah. Biar bagaimana aku lebih tenang kalau kamu nggak tinggal sendirian. Kedua orangtua kita bisa gantian temani kamu.”
“Sorry soal Papi, kapan-kapan aku akan bicara, minta papi supaya nggak suka mancing emosi kamu. Dan soal tadi, sorry karena aku udah bikin kamu tambah tegang.”
“Jangan diulang lagi.”
“Terus gimana ceritanya kamu bisa sampai tahu aku di situ ? Nia nggak tahu aku makan dimana dan handphone Hanum aku sita dalam keadaan mati.”
Reno hanya tertawa pelan membuat Chelsea langsung cemberut.
“R-A-H-A-S-I-A. Sekarang waktuya kamu menerima hukuman karena sudah melanggar perintah suami !”
Reno menggeser posisi tidurnya dan siap mengukung Chelsea.
“Aku nggak mau kalau kamu belum kasih tahu gimana caranya menemukan aku.”
“Dibilang rahasia dan mana bisa orang salah menolak hukuman.”
Bibir Chelsea mengerucut membuat Reno yang gemas langsung menciumnya lalu melancarkan aksinya yang membuat Chelsea hanya bisa pasrah dan ikut menikmati perlakuan khusus Reno.
“Tolong kali ini kamu turuti semua permintaanku,” pinta Reno sambil mengecup kening Chelsea.
Chelsea hanya mengangguk pasrah karena lelah dengan aktivitasnya bersama Reno yang baru saja usai dan membuatnya lupa diri karena Reno selalu pandai memanjakannya.
__ADS_1