
“Kita ke pantai ?” tanya Chelsea saat mobil Reno masuk kawasan wisata yang ada di utara kota Jakarta.
“Kamu udah nggak suka pantai ?”
Chelsea terdiam membuka jendela di sampingnya dan mengeluarkan tangannya.
“Maaf aku lupa kalau pantai bisa mengingatkan kamu dengan….”
“Bukan, bukan masalsh itu kok,” Chelsea menoleh ke arah Reno sambil menggeleng dan tersenyum.
“Tapi mataharinya agak terik, nanti kulitku tambah gelap. Nih lihat tanganku,” Chelsea menjulurkan tangannya ke arah Reno.
“Gara-gara 2 hari kemarin aku menginap di daerah pantai dan lupa diri karena terlalu indah suasananya, lihat kulitku jadi gelap.”
“Nggak apa-apa, mau segelap apapun aku tetap cinta kok,” sahut Reno sambil tergelak.
“Kamu doang yang cinta, cowok lain ogah lihat cewek yang kulitnya belang begini. Kayak zebra,” gerutu Chelsea dengan bibir mengerucut.
“Awas coba cari perhatian sama cowok lain ! Kamu itu jodohku, milikku seorang, sudah terbukti kalau akulah takdirmu,” tegas Reno membuat Chelsea mencebikkan mulutnya.
Dasar Chelsea, begitu mobil Reno berhenti di parkiran daerah pantai, tanpa mengenakan alas kaki Chelsea langsung membuka pintu dan turun.
Reno geleng-geleng karena belum sempat mengambilkan sandal karet untuk Chelsea yang selalu ada di mobilnya.
Reno tersenyum saat wajah Chelsea tampak berbinar bermain di bibir pantai. Celana panjangnya sudah digulung hingga lutut dan kakinya dibiarkan tersapu deburan ombak.
“Pakai sandalnya, Sea.”
“Nanti aja, aku lagi merasakan air laut di kaki. Nggak akan terasa kalau pakai alas kaki. Coba kamu lepas sandal juga, rasanya akan berbeda.”
Reno menurut dan menenteng kedua sandal dengan sebelah tangannya sementara tangan satunya lagi menggenggam jemari Chelsea.
Chelsea menoleh dan menatap Reno sambil tersenyum. Posisi badannya ikut berbelok, sekarang berhadapan dengan Reno sambil mendongak.
“Aku mencintaimu, Sea, sangat mencintaimu. Aku tidak akan memintamu sekedar menjadi kekasihku tapi sebagai istriku dan ibu dari anak-anakku. Kamu bersedia, Sea ?”
“Kamu nrmbak apa melamar aku ?” ledek Chelsea sambil cekikikan.
“Apapun istilahnya, aku ingin kita selalu bersama, Sea. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi dan nggak akan membiarkan cowok lain mendekatimu lagi.”
__ADS_1
Chelsea tertawa dan pandangannya beralih ke arah lautan lepas yang terlihat menyatu di ujung cakrawala.
“Bas, cowok galak ini akhirnya mau jadi pacarku dan minta aku menikahinya. Menurut kamu gimana ? Kira-kira Reno bakalan galak dan menyebalkan nggak kayak dulu lagi ?”
Reno mengerutkan dahi, sedikit bingung dengan sikap Chelsea yang bicara seolah Bastian ada di dekatnya.
Chelsea menunduk saat sapuan sisa ombak membasahi kakinya dan sebuah benda membentur telapak kirinya. Tangannya terulur mengambil cangkang kerang yang menempel di kakinya dan ia pun kembali menatap Reno sambil tersenyum.
“Sepertinya Bastian setuju dengan hatiku,” ujar Chelsea menyodorkan cangkang tadi pada Reno.
“Tapi awas aja kamu berani galak-galak sama aku apalagi bikin sandiwara atau beneran selingkuh dariku. Nggak perlu nunggu Papi, aku sendiri yang akan buat masa depanmu suram karena nggak akan ada wanita lain yang mau sama kadal buntung.”
Reno tertawa melihat wajah Chelsea yang mengomel dengan bibir manyun yang bergerak-gerak seperti mulut ikan.
Sedetik kemudian Reno dikejutkan karena Chelsea langsung memeluknya, tangan gadis itu melingkar di pinggang Reno dan kepalanya menempel di dada.
“Aku mau jadi pacarmu terus istrimu lanjut jadi ibu anak-anakmu,” sahut Chelsea dengan kepala masih bersandar di dada bidang Reno.
Reno hanya bisa balas memeluk Chelsea dengan sebelah tangan dan ia mencium puncak kepala Chelsea dengan penuh kasih sayang.
“Terima kasih sudah memberi aku kesempatan kedua, Sea. Perjalanan kita mungkin nggak akan selalu mulus tapi aku pastikan kalau kamu tidak akan sampai terjatuh apalagi terluka saat kaki kita terantuk kerikil-kerikil hidup.”
“Terkadang aku merasa aneh melihat kamu romantis, puitis dan baik banget sama aku. Mungkin karena bertahun-tahun biasa melihat kamu sebsgai cowok jutek, galak dsn nyebelin gitu.”
“Itu aku yang lagi bersandiwara soalnya malu mengakui kalau aku juga tertarik padamu,” sahut Reno sambil menjawil hidung Chelsea.
“Sekarang aku sudah jadi Reno yang asli, cowok romantis, perhatian dan puitis.”
Chelsea mencibir membuat bibir mungilnya menggoda hingga Reno pun mencuri kecupan di bibir itu.
“Sekarang suka mencuri-curi ciuman. Nggak bisa lebih gentle ?”
Mata Reno menyipit, mecoba mengartikan gerutuan Chelsea yang mulutnya komat kamit seperti mulut ikan.
“Kalau memang aku calon istri kamu, harusnya kayak gini.”
Mata Reno langsung membola saat Chelsea menarik kerah kemejanya dan langsung mencium bibir Reno, lebih dari sekedar kecupan biasa.
Reno tersenyum dalam hati dan mulai membalas ciuman Chelsea dan terhenti karena perut Chelsea berbunyi.
__ADS_1
“Haiisss nggak tahu waktu banget sih cacing,” gerutu Chelsea.
Reno langsung tergelak dan menggandeng jemari Chelsea menyusuri pantai, di atas pasir yang masih terjangkau deburan ombak.
“Kita makan dulu, kamu kan belum sarapan. Habis itu boleh main di pantai lagi.”
Chelsea menurut dan memakai sandal yang dibawakan Reno lalu mengikuti pria itu ke salah satu warung tenda.
“Ini adalah surat pertama dan terakhir yang Bastian berikan.”
Chelsea meletakkan amplop putih itu di depan Reno.
“Surat ini dititipkan Bastian pada assitennya sebelum berangkat ke Medan dan diberikan padaku saat Bastian masuk kamar operasi tapi srmua itu tidak terjadi. Saat asisten Bastian berniat menyerahkannya padaku, Sena melihat dan memintanya dengan janji ia akan menyerahkan sendiri padaku.”
“Dan setelsh 9 bulan, dia baru menyerahkannya padamu ? Kayak orang hamil aja menunggu 9 bulan,” Reno tertawa sambil geleng-geleng kepala.
Pesanan roti panggang, pisang goreng dan susu cokelat disajikan di meja.
“Kamu tahu aja kalau aku sangat lapar,” ujar Chelsea sambil tertawa dan wajahnya berbinar.
“Sebetulnya sejak dulu aku hafal kebiasaan dan kesukaanmu, tapi otakku tertahan oleh gengsi.”
Chelsea hanya tertawa karena mulutnya mulai mengunyah potongan pisang goreng.
“Dua hari kemarin aku pergi ke Medan sendirian dan menginap di daerah Pantai Kuala Putri. Setelah membaca surat pertama dan terakhir yang Bastian berikan, akhirnya aku bisa melepaskan kepergiannya dengan tulus ikhlas. Aku tidak lagi berharap ada keajaiban datang, malah aku berdoa supaya Bastian bisa masuk ke dalam keabadian dengan tenang. Apa yang terjadi padanya adalah takdir dan sesuai harapannya, saat meninggal Bastian ingin tubuh fananya menyatu dengan laut, karena laut memiliki arti khusus baginya, sesuai dengan nama panggilanku : Sea.”
“Aku sempat khawatir saat mendengar cerita Dio kalau kamu bertemu dengan Sena.”
“Sena menceritakan semuanya dan akhirnya aku mengerti apa yang membuat Bastian khawatir dan cemas dengan kehadiran Sena.
Hidup Bastian masih diatur dan berada di bawah kekuasaan orang tuanya, kondisi itu dimanfaatkan Sena untuk mengikat Bastian melalui Jeremi. Mungkin itu sebabnya Tuhan mengambil Jeremi kembali dari sisi Sena supaya tidak ada lagi jejak Bastian yang membuat keluarganya terikat dengan Sena seumur hidup.”
“Bastian pasti bangga padamu karena bisa mengerti apa yang dirasakannya dan melepasnya dengan tulus ikhlas.”
“Dan kalau dia bisa bicara dalam mimpiku pasti dia akan bilang : sudah aku duga kalau kamu gampang dibujuk rayu sama Reno ! Kalau dia masih galak padamu, jangan mau ditindas lagi, cari yang baru,”
canda Chelsea dengan mengubah suaranya seperti pria.
“Bukan dibujuk rayu, tapi Bastian akan bilang : aku sudah menduga dan bersyukur karena takdirnu adalah Reno. Aku percaya dia adalah lelaki yang baik dan setia.”
__ADS_1
“Haiiiss… anda pe-de sekali Tuan Reno,” Chelsea mencebik dan Reno hanya terbahak melihat wajah Chelsea yang menggemaskan.