Takdir Untukku

Takdir Untukku
Aku akan Selalu Ada


__ADS_3

Enam bulan berlalu.


Chelsea berdiri di sudut ruangan setelah menyapa beberapa kolega dan kenalan orangtuanya yang datang ke pernikahan Carmila dan Leo.


Chelsea menatap sendu ke arah pelaminan, masih ada sisa kesedihan yang menusuk-nusuk di hati kala ingatannya terusik oleh sosok Bastian.


“Mau kayak mereka ? Aku bisa mewujudkannya,” bisik Reno yang sudah berdiri di sampingnya.


“Mau tapi nggak sama kamu,” Chelsea mencibir.


“Kalau sama aku sudah terjamin, Sea, nggak akan mengecewakanmu dan sudah teruji cintanya,” ujar Reno sambil terkekeh.


“Pede banget, Om.”


“Disyukuri aja kalau kedua kakak kita menikah duluan, Sea, paling tidak kita bisa menghemat biaya pelangkah.”


“Memangnya Kak Revan minta apa kalau sampai kamu nikah duluan ?”


“Macam-macam, Sea, listnya panjang pakai ada prioritas segala. Kakak matere.”


“Sama banget kalau gitu. Terakhir kali Kak Mila minta mobil terbaru lengkap dengan catatan merek, tipe dan warnanya segala,” ujar Chelsea sambil tertawa pelan.


Reno tersenyum tipis, bahagia melihat Chelsea masih bisa dipancing untuk tertawa. Melihat wajah sendunya saat berdiri sendirian, hati Reno ikut sakit.


“Cari makan yuk, Sea. Lapar nih,” Reno langsung menggandeng tangan Chelsea, mengajaknya ke meja hidangan utama.


“Aku nggak terlalu lapar, mau makan buah atau puding aja,” tolak Chelsea namun masih belum sadar kalau tangannya digenggam Reno.


“Temani aku ambil makan dulu, Sea, nanti gantian. Rasanya aneh sendirian di tengah pesta begini.”


“Bukannya ada Dio ?”


“Sibuk pacaran sama Nia,” gerutu Reno membuat Chelsea kembali tertawa pelan.


Chelsea menurut karena seperti kata Reno, tidak enak sendirian di tengah pesta seperti ini meskipun Chelsea adalah adik kandung Carmila.


Selesai mengambil hidangan utama, Reno gantian menemani Chelsea ke meja snack.


“Sea, boleh titip kue yang itu.”


Chelsea mengambil beberapa macam kue dan buah untuk mereka berdua


“Makan sedikit ya, Sea, nanti kamu sakit. Kamu kurus banyak Sea, tetap cantik tapi kelihatan kayak orang sakit.”


“Terus kalau jelek kenapa masih ajak nikah ?”


“Kan aku bilang tetap cantik,” sahut Reno sambil tertawa


“Sekarang tuh penampilan kamu kayak orang punya penyakit parah, kelihatan pucat, pipi kamu tirus dan kurang bersemangat. Aku tahu hatimu masih sakit, tapi Bastian pasti akan sedih melihat kamu kayak menyiksa diri sendiri.”


Chelsea terdiam mendengar nama itu disebut. Semangat hidupnya memang sedikit menghilang setelah Bastian pergi untuk selamanya.


“Sea, tetaplah menjadi Chelsea yang selalu bersikap optimis dan aku bersedia menjadi tempat bersandar kalau kamu membutuhkannya.”


Chelsea mendongak menatap Reno yang tersenyum dan satu tangannya mengusap kepala Chelsea.


“Aku suapi ya ? Aku udah ambil lebihan, ada menu sapi lada hitam kesukaanmu.”

__ADS_1


Chelsea diam, tapi tidak menolak saat Reno menyodorkan sendok nasi dan lauknya.


Dio dan Nia yang berjalan dari arah belakang Chelsea melihat isyarat yang diberikan oleh Reno dan mengerti maksudnya.


Nia, sahabat sekaligus asisten Chelsea melihat bagaimana gadis itu benar-benar terpukul dengan kepergian Bastian.


Dalam 6 bulan, berat badan Chelsea turun 7 kg dan kadang-kadang Chelsea suka mual dan muntah di tengah-tengah makan karena dilanda depresi.


Sambil makan berdua, Reno sengaja mengajak Chelsea bicara tentang hal-hal menyenangkan yang pernah mereka lalui saat masih kanak-kanak dimana Reno masih dekat dan sering bermain dengan Chelsea.


Reno berharap Chelsea bisa kembali menjadi gadis yang ceria dan selalu berpikir positif.


“Dicari-cari dekat pelaminan malah mojok berduaan nih,” ledek Nia sambil merangkul bahu Chelsea.


“Dipaksa makan nih sama Reno,” gerutu Chelsea sambil melirik Reno yang tertawa.


“Biar cantiknya makin bersinar,” sahut Reno sambil membersihkan noda saos di sudut bibir Chelsea.


“Aku udah kenyang, Reno,” ujar Chelsea saat Reno hendak menyodorkan nasi dan lauk lagi.


“Nanti perutnya nggak muat diisi kue,” Chelsea mengangkat piring yang dipegangnya.


Dio dan Nia saling bertatapan sambil tersenyum, setidaknya Reno bisa membuat kondisi Chelsea semakin membaik.


Sejak Bastian dinyatakan meninggal dalam kecelakaan pesawat dan Chelsea langsung menutup diri karena stress, Reno selalu menemani Chelsea.


Reno selalu ada di samping Chelsea saat gadis itu menyibukan dirinya dengan segudang pekerjaan supaya tidak ada celah untuk memikirkan Bastian.


Bukan ingin memanfaatkan situasi, tapi Reno berharap Chelsea bisa kembali membuka hatinya untuk Reno. Seringkali Reno menyalahkan dirinya sendiri menjadi penyebab semua masalah yang menimpa Chelsea.


Kalau saja pertunangan mereka tidak batal, Chelsea akan tetap bersamanya, tidak terpaksa menerima Revan dan akhirnya bertemu Bastian. Tapi Reno tidak ingin larut dan diam dalam penyesalan karena semua itu tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk Chelsea.


Selesai makan hidungan utama, Reno memberi isyarat supaya Chelsea gantian menyuapi Reno buah dan kue.


“Cie cie… sepotong kue berdua nih,” ledek Dio saat melihat Reno memakan kue yang ada di tangan Chelsea.


“Kayak situ nggak begini,” sahut Reno sambil mencebik.


“Iya sih Reno, ini ada yang baru kenapa kamu makan bekas aku ?”


“Nggak apa-apa, kan kata kamu sama aja kayak ciuman,” ujar Reno sambil terkekeh dan menyodorkan potongan kue yang sudah dimakannya setengah.


“Iiihh siapa yang bilang begitu ?” cibir Chelsea dan terpaksa menerima kue yang disodorkan Reno ke dalam mulutnya.


“Kamu nggak ingat kalau kita ke kafe atau makan bareng sama keluarga, kamu sengaja minum dari gelasku. Kata kamu serasa ciuman sama aku.”


“Itu dulu, waktu aku masih polos dan bo**doh sampai mengabaikan cowok-cowok tampan yang mendekati aku.”


“Akhirnya elo sadar juga, Sea,” Nia menarik nafas lega. “Dulu kayak pakai kacamata kuda, cuma bisa lihat Reno doang.”


“Masih untung sadarnya sekarang, sayang, masih ada kesempatan untuk lihat-lihat yang lain. Umur kalian aja belum 25. Edo masih suka nanya-nanya kamu, Sea. Boleh Edo mendekati kamu lagi ?”


“What ?” mata Reno langsung melotot menatap Dio yang malah tertawa.


“Kayak nggak ada cowok lain aja,” omel Reno. “Mau bikin hidup Chelsea punya cerita seri ke-4 ?”


Chelsea tertawa pelan melirik Reno yang masih memasang wajah kesal.

__ADS_1


“Jangan mau sama Edo, Sea, aku nggak rela dan kasih ijin. Kadal buntung itu nggak bisa setia sama satu cewek.”


“Posesif amat sih Bang Reno,” ledek Nia. “Jadi nerlaku ketentuan kalau calon pacarnya Chelsea harus lolos seleksi Bang Reno dulu ?”


“Hati-hati kalau Reno jadi penasehat kamu, Sea soalnya dia mantan biangnya kadal buntung.”


Belum sempat Reno protes, namanya dan Chelsea dipanggil untuk mendekati pelaminan. Rupanya acara lempar bunga pengantin akan dimulai dan Carmila yang meminta supaya Chelsea dan Reno dilibatkan.


Reno mengangguk pelan saat Carmila memberi isyarat. Dio dan Nia yang ternyata ikut juga menangkap isyarat Carmila dan berniat membantu Reno.


Dengan tubuhnya yang tinggi Reno berhasil menangkap lemparan bunga yang sudah diatur oleh Carmila.


“Sudah punya kekasih, Reno ?” tanya pembawa acara sambil mendekati Reno yang memegang bunga pengantin dan menanyakan pria tampan yang langsung jadi pusat perhatian gadis-gadis muda yang ikut acara itu.


“Bukan sekedar kekasih tapi calon istri,” sahut Reno penuh keyakinan. Tangannya menarik Chelsea dan memeluk pinggang ramping gadis itu.


“Calon suaminya Chelsea ?” mata si pembawa acara membola karena tidak tahu kalau Chelsea sudah memiliki kekasih bahkan calon suami.


“Iya,” tegas Reno sambil tersenyum bangga. Bunga pengantin itu langsung diberikan pada Chelsea yang ragu-ragu menerimanya.


“Kita lagi jadi sorotan, Sea, tolong diterima dulu,” bisik Reno sambil pura-pura mencium pelipis Chelsea.


“Kamu udah gila ?” mata Chelsea melotot. “Kalau aku terima berarti aku mengiyakan ucapan kamu soal…”


“Terima kasih, Sayang,” Reno sengaja memotong ucapan Chelsea dan mencium kening gadis itu di depan para tamu dan keluarga yang menatap ke arah mereka.


“Jangan lupa saya dipanggil lagi untuk jadi MC,” ujar pembawa acara di sela tawanya lalu kembali ke podium.


Selesai acara, dengan santai Reno menggandeng Chelsea ke pinggir ruangan.


“Aku mau bicara !” mata Chelsea kembali melotot menatap Reno dengan wajah kesal.


“Boleh, mau dimana ? Diajak ngobrol di kamar juga boleh,” sahut Reno sambil terkekeh.


Chelsea mendengus kesal dan menarik lengan Reno keluar ballroom, mencari tempat yang sepi.


“Apa maksudmu bicara seperti itu di depan umum ? Kamu meniru kelakukan Kak Revan waktu melamarku ?”


“Sea, Kak Revan melamarmu di depan umum dengan tujuan supaya kamu tidak enak untuk menolaknya sedangkan aku melakukan yang tadi karena tulus mencintaimu.”


“Aku sudah katakan padamu kalau rasa traumaku…”


Reno langsung mengecup bibir Chelsea membuat gadis itu terkejut dan berusaha mejauhkan diri dari Reno tapi pria itu malah memeluknya setelah melepaskan ciumannya.


“Sea, aku nggak lupa dengan ucapanmu tapi aku nggak bisa membohongi hatiku kalau aku sangat mencintaimu. Apa yang kulakukan tadi adalah bukti kalau aku akan menunggumu membuka hati kembali. Aku tidak peduli berapa lama aku harus menanti kamu bisa kembali mencintaiku seperti dulu. Aku akan menunggu, Sea, hanya kamu yang akan menjadi pendamping hidupku.”


“Bagaimana kalau aku jatuh cinta dengan pria lain lagi ?”


“Akan aku tunggu jandamu, Sea,” sahut Reno sambil tertawa pelan.


Chelsea sedikit mendorong tubuh Reno supaya melepaskan pelukannya dan Reno pun membiarkan Chelsea memberi jarak.


“Jadi kamu nyumpahin aku nggak bisa langgeng kalau sampai menikah dengan cowok lain ?” tanya Chelsea dengan wajah ditekuk.


“Nggak Sea, aku cuma mau bilang sekalipun kamu memilih pria lain menjadi suamimu, aku nggak akan mencari penggantimu. Aku berdoa semoga kamulah yang akan menjadi takdir untukku, Sea.”


Chelsea terdiam, menghela nafas dan menundukkan wajahnya. Perlahan Reno mendekat dan memeluk Chelsea yang tidak menolaknya meski tidak membalas pelukannya.

__ADS_1


“Kamu boleh terbang kemana pun untuk mencari kebahagiaanmu dan aku akan selalu berada di tempat yang sama, menunggumu jika sewaktu-waktu kamu membutuhkan tempat bersandar untuk melepaskan rasa sesak di hatimu. Tidak perlu mencari alasan setiap kamu datang padaku karena aku akan selalu ada untuk mencintaimu.”


Chelsea mendongakkan kepalanya, menatap Reno yang sedang tersenyum padanya. Senyuman pria pertama yang mengisi mimpi-mimpi Chelsea begitu menyentuh dan mulai menciptakan kembali desiran aneh di hati Chelsea.


__ADS_2