Takdir Untukku

Takdir Untukku
Dita Menghilang


__ADS_3

Revan baru saja tiba di apartemen yang ditempati oleh Dita dan Radit. Sehabis pulang dari rumah orangtuanya, Revan tidak langsung datang menemui Dita melainkan pulang ke apartemen miliknya yang ada di tengah kota.


Hatinya merasa belum siap membawa Dita dan Radit menemui Papa dan Mama karena tahu kalau ujung-ujungnya ia akan diminta menikah dengan Dita sebagai bentuk pertanggungjawaban.


Revan masuk ke dalam apartemen yang lebih sepi dari biasanya. Dipikirnya Dita sudah keluar membawa Radit berjalan-jalan. Ia pun langsung menuju dapur dan mengambil sebotol air mineral dingin dari dalam kulkas.


Revan langsung tersedak begitu matanya melihat bingkai kosong tergantung dekat meja makan. Foto keluarga yang biasa tergantung di dinding tidak terlihat.


Bergegas ia menuju kamar utama. Tidak ada sisa wangi sabun mandi yang tercium di dalam kamar. Revan pun langsung membuka kamar lain yang biasa digunakan Radit bersama pengasuh atau Ibu Ami saat Dita harus meninggalkan bocah itu.


Meja yang digunakan untuk menaruh berbagai perlengkapan Radit termasuk botol-botol susu tidak ada. Meja itu dalam keadaan bersih.


Revan langsung memeriksa lemari pakaian Radit dan tidak ada satupun yang tersisa di dalam laci-lacinya.


“Shi**t !” maki Revan sambil melayangkan tinju di udara.


Revan langsung mengambil handphone dan menekan nomor Dita tapi bukan sekedar tidak diangkat, nomor Revan sudah diblokir oleh istri sirinya itu.


Revan pun langsung menekan nomor Ibu Ami yang biasa dimintai bantuan untuk mengasuh Radit. Namun kondisinya sama, nomor Revan juga sudah diblokir.


“Dasar perempuan kurang ajar ! Bisanya selalu bikin pusing dan merepotkan,” omel Revan dengan wajah kesal.


Revan kembali ke kamar utama untuk memeriksa lemari pakaian Dita. Terlihat separuh pakaian sudah tidak ada di sana, sebagian lagi sengaja ditinggal.


Saat sedang berpikir kemana Dita pergi, mata Revan menangkap sebuah amplop di atas meja rias. Ia pun mengambil amplop itu dan mulai membaca tulisan tangan Dita.


Dear Mas Revan,


Terima kasih atas 3 tahun yang telah berlalu dan membiarkan Radit tetap hidup sampai detik ini. Maaf karena kehadiran kami berdua telah merusak mimpi dan kebahagiaan Mas Revan.


Maaf kalau semua uang dan barang berharga yang Mas Revan berikan saya bawa untuk memenuhi kebutuhan hidup kami berdua sampai saya mendapat pekerjaan.


Semoga Mas Revan hidup berbahagia dengan wanit pilihan orangtua.


Salam,


Dita dan Radit


Revan menggeram kesal dan surat yang ditinggalkan Dita langsung diremasnya.


Terbayang sudah kalau Papa dan Mama pasti akan memaksanya untuk mencari Dita dan Radit.


Revan kembali mengeluarkan handphonenya, menghubugi seseorang yang mungkin tahu keberadaan Dita dan Radit. Untung saja orang itu tidak memblokir nomor Revan.


“Temui aku di kafe Trigonal 30 menit lagi !”

__ADS_1


“…..”


“Terlalu lama, 30 menit jangan lebih. Tinggal pesan ojol. Saya transfer ongkosnya sekarang.”


Belum juga lawan bicaranya selesai bicara, Revan sudah memutus panggilan teleponnya.


Dahinya berkerut saat keluar dari kamar dan menatap ke arah lemari pajangan. Semua foto yang ada di sana juga sudah tidak ada, hanya tinggal bingkai-bingkai kosong saja.


Revan menghela nafas dan bergegas keluar dari apartemen. Sepanjang lorong menuju lift, Revan membuka galeri foto yang ada di handphonenya.


Ia tersenyum karena masih menyimpan beberapa fotonya berdua dengan Radit. Entah sejak kapan Revan merasa sayang pada bocah itu, namun hatinya belum merasakan cinta untuk ibunya.


***


Revan melambaikan tangan saat melihat seorang perempuan yang dikenalnya celingukan.


Revan juga langsung memanggil pelayan dan menyuruh perempuan yang duduk di depannya memesan makanan dan minuman.


“Jadi Bapak tidak langsung ditendang dari perusahaan ?” tanya Nuri dengan suara menyindir.


”Belum,” sahut Revan singkatd dengan wajah datar.


“Bapak janji kalau saya tidak akan terseret sampai sejauh ini tapi sekarang saya malah dipecat dengan tidak hormat oleh Pak Agam bahkan dipersulit hntuk mendapatkan pekerjaan yang selevel.”


“Ternyata sejak Chelsea bekerja di lantai yang sama, diam-diam Pak Agam memasang CCTV tanpa diketahui siapapun bahkan Chelsea sendiri. Tujuannya untuk melindungi Chelsea dari para karyawan nakal yang mungkin menggodanya. Apalagi Pak Agam tahu kalau Chelsea suka kerja lembur.”


“Terus alat penyadap di dalam ruangan Sea ?”


“Pak Agam memanggil orang yang ahli soal itu. Saya kaget begitu dipanggil dan ditunjukkan bukti kalau saya terlibat.”


“Saya tidak lupa pada janji saya untuk memberimu jaminan pekerjaan. Tunggulah beberapa saat, saya akan minta bantuan teman saya yang memiliki perusahaan sendiri.”


“Lalu pertunangan Bapak tidak terganggu, kan ?”


“Tujuan saya memanggilmu adalah menanyakan keberadaan Dita. Saya yakin kalau kamu tahu kemana Dita membawa Radit pergi.”


“Jadi Pak Reyhan sudah merasa kalau mereka penting di saat ini ?” tanya Nuri sambil mengerutkan dahinya.


”Jangan berlebihan. Saya yakin kalau Dita sudah menceritakan semuanya, bagaimana tunangan dan adik saya datang ke apartemen dan melihat kalau kami berdua memiliki hubungan dengan adanya Radit di antara kami.”


“Bukankah akan lebih baik kalau Dita pergi supaya Pak Revan bisa melanjutkan pertunangan lalu menikah dan menjalani sebagai pria normal lainnya ?”


Revan menghela nafas sambil menyandarkan punggungnya pada kursi sementara seorang pelayan mengangtarkan pesanan Nuri.


“Pertunangan saya sudah berakhir dan kedua orangtua saya sudah mengetahui semuanya. Mereka ingin menemui Dita dan Radit.”

__ADS_1


“Untuk mengambil Radit sebagai cucu mereka dan membuang Dita karena dia hanya wanita kotor yang pernah menjadi selingkuhan pria beristri ?” sindir Nuri sambil tersenyum sinis.


“Saya tidak tahu soal itu, tapi yang pasti orangtua saya ingin bertemu dengan keduanya.”


”Jadi hanya karena alasan orangtua, Pak Revan mencari Dita dan Radit ?” Nuri tertawa miris. “Saya pikir karena Bapak sudah sadar kalau Dita adalah istri siri Pak Revan yang sudah memberikan keturunan bocah lelaki yang tampan.”


“Saya tidak suka bertele-tele dan membahas masalah perasaan saya dengan orang lain, jadi tolong katakan kemana Dita pergi membawa Radit ? Orangtua saya ingin secepatnya menemui mereka.”


“Kalau hanya karena alasan orangtua lebih baik Bapak tidak usah lagi mencari Dita atau Radit. Saya berani jamin kalau Dita tidak akan menuntut apapun dari Bapak di kemudian hari.”


“Tapi orangtua saya tetap ingin menemui mereka.”


“Katakan saja kalau Dita sudah berjanji tidak akan masuk lagi dalam hidup Bapak sampai kapan pun, bahkan ia akan mengatakan pada Radit kalau papanya sudah meninggal dan tidak perlu dicari lagi.”


“Kamu yakin kalau Dita akan melakukan hal seperti itu ?” tanya Revan sambil tersenyum sinis. “Bahkan ia membawa semua foto-foto kami.”


“Itu karena Dita tidak ingin meninggalkan jejak apapun dalam kehidupan Pak Revan. Ia tahu kalau ditinggal pun semua foto itu akan berakhir di tong sampah. Baginya lebih baik ia yang membakarnya dan mengubur kehidupannya demi masa depan Radit.”


”Tidak bisakah kamu berhenti menasehati saya panjang lebar ?” ujar Revan dengan wajah kesal.


“Saya tidak menasehati tapi minta Bapak berhenti berpikir negatif tentang Dita. Kami memang datang dari kampung untuk memperbaiki tingkat ekonomi keluarga dan diri kami sendiri, tapi bukan berarti kami menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kami inginkan.”


“Tapi kenyataannya Dita menjebak saya sampai hamil dan mengikat saya dengan kehadiran Radit.”


“Dalam hidupnya, Dita baru 2 kali jatuh cinta. Dengan pria beristri yang menjanjikan surga kepadanya dan kepada Pak Revan yang begitu dicintainya sampai membuat Dita menjadi wanita penuh obsesi.”


Revan berdecih dengan tatapan sinis dan meneguk minumannya lagi.


“Kepergiannya kali ini sebagai bukti kalau ia sadar tentang cinta tidak akan pernah bisa dipaksakan dan sesuatu yang dimulai dengan kebohongan tidak akan berjalan dengan baik.”


“Akhirnya dia sadar juga,” Revan tersenyum sinis.


“Iya Dita akhirnya sadar kalau penantiannya selama 3 tahun tidak akan berujung dengan kata bahagia. Jadi tolong Bapak tidak usah mencarinya lagi.”


Handphone Nuri berbunyi, membuat Revan melirik sejenak berharap nama Dita yang muncul di layar namun yang terlihat hanya deretan angka tanpa nama.


“Maaf saya permisi sekalian mau angkat telepon ini. Siapa tahu panggilan kerja,” Nuri beranjak bangun dan tersenyum sambil menganggukan kepalanya sekilas.


“Saya menunggu kabar baik dari Pak Revan soal pekerjaan. Saya masih butuh uang untuk dikirim ke kampung, tapi tentu saja pekerjaan yang halal.”


Revan menarik nafas dalam-dalam sambil menatap


Nuri yang meninggalkannya sambil berbicara si telepon.


Sepertinya Revan harus memikirkan cara dan mencari alasan supaya kedua orangtuanya tidak lagi mendesak untuk membawa Dita dan Radit apalagi menyuruhnya mencari tahu keberadaan mereka kalau sampai Papa dan Mama tahu kalau Dita menghilang sambil membawa Radit.

__ADS_1


__ADS_2