
Reno mengajak Chelsea ke kawasan pantai yang ada di kota Jakarta. Sama seperti 4,5 tahun yang lalu, Chelsea berusaha tetap terlihat tegar meski hatinya hancur berkeping-keping.
“Menangislah kalau kamu ingin menangis Sea,” Reno menepuk-nepuk bahunya. Keduanya sedang duduk menghadap ke pantai di bawah pohon kelapa.
“Atau kalau kamu mau menjerit berteriaklah, tidak akan ada yang memarahi atau menganggapmu gila.”
“Ternyata biar sudah kuliah sampai ke Amerika, aku masih saja menjadi perempuan bodoh ya ?” Chelsea tertawa getir dengan tatapan lurus ke arah laut.
“Sea, apa yang terjadi di antara kita bukanlah kesalahanmu tapi karena akulah yang sangat jahat padamu. Putusnya pertunangan kita dikarenakan kebodohan, kesombongan dan sikap egoku, Sea.”
Reno berusaha menyentuh jemari Chelsea tapi gadis itu malah beranjak bangun setelah melepaskan sepatunya.
Chelsea tersenyum miris dengan wajah sendu saat kakinya menginjak butiran pasir.
”Rasanya seperi de javu dan apa yang kulihat hari ini lebih mengenaskan lagi dibandingkan dengan kejadian di hotel 4.5 tahun lalu,” Chelsea melirik sekilas ke arah Reno lalu mulai berjalan menuju pantai,
“Sea, maaf soal hari ini. Aku tidak tahu kalau Kak Revan ada di Jakarta dan berada di sana dengan Dita,” Reno menyusul dan menahan lengan Chelsea yang belum jauh melangkah.
“Jadi nama perempuan tadi itu Dita ? Apa mereka sudah menikah ? Apa anak laki-laki itu putra mereka ?”
“Aku akan menceritakan semuanya sambil makan, kita duduk di sana, ya ?”
Chelsea tidak sempat membantah karena Reno sudah menarik tangannya sementara tangan yang lainnya sudah menjinjing sepatu milik Chelsea.
Reno menyuruh Chelsea duduk di salah satu meja yang beratapkan payung besar sementara ia memesankan makanan untuk mereka berdua.
Reno tahu kalau Chelsea pasti enggan makan meski sudah waktunya makan siang, tapi Reno akan memaksanya karena tidak ingin Chelsea sakit:
”Jadi kamu sudah lama tahu kalau Kak Revan memiliki kekasih bahkan punya anak dengan perempuan bernama Dita itu ?”
“Minumlah dulu,” Reno menyodorkan air mineral yang sudah dibukanya untuk Chelsea.
Gadis itu menurut dan meneguk sedikit minuman yang diberikan Reno.
“Apa kamu sengaja tidak menceritakannya sejak awal padaku ? Kamu senang melihat aku mengalami kejadian serupa lagi ? Melihat tunanganku tidur dengan perempuan lain ?” tanya Chelsea bertubi-tubi dengan wajah sendu.
“Sea, aku akan menceritakan semuanya dari awal supaya jelas bagimu, tapi sambil makan ya ? Tidak usah banyak-banyak, yang penting perutmu terisi. Aku akan membelikanmu banyak es krim.”
“Kamu kira aku anak kecil yang bisa disogok dengan es krim ?” ketus Chelsea dengan bibir mengerucut membuat Reno tertawa.
“Setelah tidak bertemu 4 tahun denganmu, aku memang melihat banyak yang berubah darimu tapi lebih condong kepada hal-hal yang berbau lahiriah. Kebiasaan makan makanan manis kalau hatimu sedang galau belum berubah, itu sebabnya aku semakin bersemangat mendekatimu karena tahu kalau kehadiranku sudah membuat hatimu galau.”
“Memangnya ada kebiasaanku yang masih nyangkut dalam ingatanmu ? Lagipula kamu yakin kalau kegalauan hatiku gara-gara kamu kembali rerus mendekatiku ?” gerutu Chelsea pada Reno yang tertawa.
__ADS_1
“Memangnya ada cowok lain lagi yang bisa membuatmu gugup seperti aku ? Mulutmu boleh bilang mencintai Kak Revan, tapi aku masih bisa merasakan tanganmu yang dingin saat aku berada di dekatmu,” ledek Reno sambil tertawa.
“Tanpa sadar aku banyak menyimpan kenangan tentangmu, Sea, makanya begitu kamu pergi semua ingatan itu menyiksaku karena aku merasa begitu bodoh telah menyia-nyiakan kesempatan denganmu.”
Chelsea hanya mencebik dan meneguk air mineral kembali. Hatinya sedikit berdebar mendengar pengakuan Reno. Apa yang dikatakan Reno memang banyak benarnya, sampai saat ini masih hanya Reno yang bisa membuat Chelsea berdebar sampai panas dingin.
Perbincangan mereka terputus saat seorang pelayan mengantarkan 2 nasi goreng pesanan Reno.
Chelsea langsung menarik piring nasi gorengnya dan mengambil sambal hingga Reno menahannya di sendok ke-5.
“Sea, kalau sampai perutmu mulas yakin bisa buang air di toilet sini ?”
Chelsea menoleh ke sekeliling dan membenarkan ucapan Reno hingga akhirnya tangannya langsung meletakkan sendok sambal di tempatnya.
Reno tersenyum saat Chelsea menyuap makanannya meski dengan wajah terpaksa.
“Aku sudah makan nih,” Chelsea menunjuk mulutnya yang masih mengunyah.
Reno tertawa dan membersihkan sebutir nasi yang tertinggal di sudut bibir Chelsea.
“Aku ini sudah seperti anak tiri sejak pertunangan kita batal, Sea. Papa jarang bicara denganku dan di awal aku bekerja di perusahaan, aku belajar sendiri karena Papa tidak mau mendampingiku. Aku masuk ke perusahaan seperti layaknya karyawan biasa hanya saja tidak melewati proses wawancara, namun aku bersyukur karena Papa masih mengijinkan Dio bekerja denganku.”
“Setahun setelahnya, Revan yang jarang menginjakkan kakinya di perusahaan mulai sering datang. Sebelumnya aku sempat mendengar berita miring tentang kakakku itu, tentang usahanya yang mulai menurun dan kehidupan pribadinya yang agak kacau dan sedikit gila. Tapi aku tidak peduli dengan semua itu dan aku tidak mau mencampuri urusan pribadi Kak Revan apalagi memberinya nasehat karena aku sendiri merasa sudah gagal mempertahankan perempuan yang aku cintai.”
Reno menjeda sejenak dan tersenyum saat melihat Chelsea masih melanjutkan makannya.
(Flashback)
“Sepertinya sudah waktunya kamu bekerja di perusahaan Papa bergabung dengan Reno. Papa yakin kalian bisa menjadi tim yang bagus kalau sama-sama bisa meredam ego.”
“Sebetulnya aku memang ingin bicara dengan Papa soal itu. Setelah dipikir-pikir sayang juga menghabiskan uang sekitar 75 juta hanya untuk biaya sewa kantor. Apalagi pekerjaanku sedang tidak stabil dan agak berkurang.”
Saat itu Reno tidak tahu Revan sedang kebingungan karena Dita mengaku hamil anak Revan dan menolak untuk menggugurkan kandungannya bahkan mengancam Revan akan menceritakan bagaimana kelakuan Revan di luaran.
“Keputusan yang bagus, boy. Papa setuju dan akan Papa siapkan satu lantai untuk menjadi kantormu. Tidak usah lagi pusing memikirkan sewa dan biaya operasional karena kamu akan menjadi bagian perusahaan ini.”
Wajah Papa Robert terlihat sumringah mendengar keputusan putra sulungnya yang sudah lama dinantikannya.
“Apa Reno tidak masalah kalau tiba-tiba Papa memberikan aku satu lantai untuk tempat kerjaku sementara dia masuk kemari merintis dari bawah ?”
“Tidak usah kamu pikirkan masalah adikmu yang telah bikin malu keluarga dengan perbuatannya terhadap Chelsea. Biar sekarang dia menanggung akibat perbuatannya. Sudah bagus Papa masih mau memberinya kesempatan untuk merintis pekerjaan di sini,” ketus Papa dengan wajah kesal mengingat perbuatan Reno.
Hati Reno tercubit saat mendengar ucapan Papa namun tidak bisa membantah karena apa yang dilakukannya pada Chelsea memang sungguh-sungguh keputusan yang bodoh.
__ADS_1
“Kalau saja Chelsea mau membuka hatinya untukku,” ujar Revan sambil tertawa pelan.
”Memangnya kamu suka sama Chelsea ?” Papa Robert mengerutkan dahi sambil menatap Revan.
“Chelsea memang gadis yang menarik, Pa. Sebetulnya sudah lama aku tertarik padanya, tapi aku sadar kalau Sea hanya sukanya sama Reno.”
“Kamu yakin ?” Papa tertawa meledek. “Kalau menurut Papa bukan tidak mungkin Chelsea bisa menyukaimu. Kamu yakin benar-benar menyukainya ?”
“Memang Om Agam akan merestui kalau aku mendekati Sea lalu membuat dia membuka hatinya untukku ?” tanya Revan sambil tertawa pelan.
“Masalah Om Agam menjadi urusan Papa, kamu fokus dengan Chelsea. Kejarlah hatinya kalau memang kamu menyukainya.”
“Tunggu dia kembali, Pa.”
“Kenapa harus menunggu ? Papa akan memberimu modal untuk menemui Chelsea dan lakukan segala sesuatu yang bisa membuatnya jatuh cinta padamu. Papa sangat ingin bisa berbesanan dengan Om Agam.”
“Aku tidak ingin merepotkan Papa,” ujar Revan masih berusaha menolak tawaran Papa Robert.
“Diberi kesempatan untuk bisa berkantor di sini saja aku sudah sangat bersyukur, Pa.”
“Kamu ini anak Papa juga, Revan. Mana ada anak yang merepotkan orangtuanya.
Papa bangga karena selama ini kamu sudah cukup mandiri untuk berusaha, wajar kalau orangtua ingin membantu di saat anaknya membutuhkan. Adikmu saja yang sering bertingkah dan membuat malu itu masih Papa urusi dan diberi kerja di sini, apalagi kamu.”
Reno yang berdiri di pintu kembali menghela nafas panjang. Inilah arti nila setitik rusak susu sebelanga, karena perbuatannya merusak hubungan dengan Chelsea, Papa sudah menganggap Reno bukan lagi anak yang bisa membanggakan orangtuanya.
“Papa serius mau mendukung aku mendekati dan mendapatkan hati Chelsea ?”
“Bukan sekedar mendukung lagi, Papa akan langsung memberikan setengah saham perusahaan ini dan menjadikanmu orang kedua di sini kalau kamu menikah dengan Chelsea,” tegas Papa dengan wajah yakin.
Reno terkejut mendengarnya dan ia sempat mengintip, melihat bagaimana Revan tersenyum senang saat mendengar pernyataan Papa.
Papa tidak ragu langsung mengambil buku cek dan menuliskan sejumlah angka yang cukup fantastis untuk diberikan pada Revan.
“Terima kasih atas kepercayaan Papa,” tanpa terduga Revan langsung memeluk Papa membuat pria setengah baya itu terkejut namun tersenyum bahagia dan menepuk-nepuk bahu Revan.
Reno menarik nafas berat kembali. Hatinya sedih mendengar keputusan Papa yang menjadikan Chelsea alasan memberikan harta dan kedudukan untuk Revan tanpa tahu bagaimana tingkah laku Revan di luar sana.
“Aku akan mendapatkan hati Sea bukan karena saham dan jabatan yang Papa berikan tapi karena aku sungguh-sungguh menyukainya,” ujar Revan dengan senyuman smirk sambil memeluk Papa.
“Papa sungguh-sungguh bangga padamu dan percaya kalau kamu bisa mengobati kekecewaan hati Papa dan Om Agam akibat perbuatan Reno pada Sea,” ujar Papa dengan senyuman bangga saat melerai pelukan Revan.
Kedua tangan Papa memegang bahu Revan dan menepuk-nepuknya dengan wajah bangga membuat Reno yang melihatnya hanya bisa tersenyum miris.
__ADS_1
Bahkan saat Reno bisa menjadi lulusan terbaik saat SMA dulu, Papa tidak pernah menunjukkan rasa bangganya seperti pada Revan saat ini.
(Flashback off)