
“Jadi apa yang harus aku lakukan ?” tanya Revan saat Chelsea mengajaknya bicara di teras belakang rumah Robert dan Nina.
Setelah berdiskusi panjang dengan Bastian, akhirnya Chelsea memberanikan diri untuk berbicara dengan Revan, membahas masalah Dita dan Radit.
Awalnya Bastian merasa keberatan Chelsea memilih rumah Robert dan Nina untuk bertemu dengan Revan karena tidak ingin kekasihnya itu bertemu dengan Reno.
Namun setelah Chelsea menjeaskan alasannya dan meyakinkan Bastian kalau perasaannya pada Reno sudah terkikis oleh cinta Bastian, pria itu memberi ijin dengan beberapa persyaratan.
“Tidak boleh menunda lagi kalau sampai aku memintamu menikah,” ujar Bastian sambil menoel hidung Chelsea.
“Berat banget ancamannya,” Chelsea cemberut.
“Karena aku nggak mau kehilanganmu. Aku akan membawamu tinggal bersamaku supaya lebih sedikit peluangmu bertemu dengan Reno.”
“Dasar posesif !” Chelsea mencebik lalu tertawa dan bergelayut manja pada Bastian.
Dan sekarang, setelah mencari waktu yang tepat bersama Revan, Chelsea pun langsung membicarakan soal Dita dan Radit pada mantan tunangannya itu.
“Apa Kak Revan merasa kalau diri Kak Revan lebih baik dari Dita ?”
“Apa maksudmu ?”
“Aku tahu kalau Kak Revan tidak mau belajar mencintai Dita setelah tahu kalau dia seorang janda, kan ? Apa Kak Revan lupa pada diri sendiri ? Setidaknya Dita pernah terikat dan berhubungan dengan satu lelaki sementara Kak Revan sudah berganti-ganti dengan banyak perempuan bahkan sejak Kakak masih sekolah.”
“Jadi Dita bilang begitu padamu ?” tanya Revan dengan senyuman sinis.
“Tidak, Dita tidak bilang apapun soal Kak Revan, tapi aku tahu bagaimana sepak terjang Kak Revan dari Kak Mila. Aku tahu kalau Kak Revan pernah ditolak oleh Kak Mila.”
Revan tersenyum tipis. Sebetulnya ia tidak benar-benar menyukai Carmila tapi sahabat baiknya, sayangnya saat itu Revan memang sudah dikenal sebagai cowok badung dan suka berganti pacar hingga sahabat Carmila menolaknya mentah-mentah.
“Aku tahu kalau Kakak menyayangi Radit, tapi anak itu tidak ada di dunia ini begitu saja. Tidak mudah bagi seorang perempuan seperti Kak Dita untuk melewatinya sendirian. Dan soal masa lalunya, Kak Dita sudah mendapat pelajaran dari keputusannya yang salah lalu berusaha merubah hidupnya dengan Kak Revan.”
“Kamu belajar jadi cenayang ?” ledek Revan sambil tertawa.
“Bukan cenayang tapi kejadian dengan Reno membuat aku belajar untuk melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda. Belajarlah dari pengalaman Reno, Kak, mengabaikan perasaan yang sebenarnya justru membawa akhir yang menyesakkan hati. Jangan sampai Kakak begitu juga, gengsi mengakui kalau mencintai Dita dan Radit akhirnya hanya bisa menyesal saat mereka benar-benar menghilang dan tidak bisa lagi dtemukan.”
“Papa pasti menganggapku anak yang memalukan kalau sampai menikahi perempuan yang pernah menjadi orang ketiga teman bisnisnya.”
“Setiap orang pasti punya sisi gelap dalam hidupnya, Kak, tapi sisi gelap itu tidak akan membuat sisi terangnya memudar selama kita bisa membuat keduanya tetap berada di tempatnya.”
“Sepertinya kamu sudah bukan Chelsea yang manja dan kekanak-kanakan lagi,” ledek Revan tertawa.
”Tentu saja aku harus semakin dewasa setelah melihat kedua tunanganku selingkuh di depan mata. Jelek banget nasibku, Kak,” sahut Chelsea dengan wajah sedih.
“Tapi Tuhan sangat baik padaku, Kak, aku diberikan pengganti kalian yang sangat perhatian dan mencintaiku begitu tulus. Aku tidak perlu mengejarnya seperti waktu dengan Reno atau memaksakan diri seperti waktu dengan Kak Revan.”
“Jadi selama kita menjalin hubungan kamu membohongi aku soal perasaanmu ?” tanya Revan dengan mata memicing.
”Tidak sepenuhnya bohong. Aku senang saat Kakak memperhatikan aku dan berkali-kali mengatakan mencintaiku, tapi sekeras apapun aku berusaha, rasa cinta itu tidak sama dengan yang aku rasakan seperti waktu dengan Revan.”
“Dan yang sekarang ?”
“Kak Revan, tujuan aku kemari untuk membahas masalah Kak Revan dan Mbak Dita, bukan soal perasaanku pada kalian, pria-pria kurang ajar,” gerutu Cilla membuat Revan tertawa.
__ADS_1
”Jadi bagaimana ? Kalau Kak Revan akan menemui Mbak Dita dan Radit hanya karena permintaan Tante Siska dan membawa mereka kemari hanya untuk mengambil Radit, maka aku akan jadi orang pertama yang menentangnya.”
“Kamu malah pro sama Dita ?”
“Bukan masalah pro atau kontra. Kakak sama saja dengan Reno, mengutamakan gengsi daripada mendengarkan perasaan sendiri. Penyesalan selalu ada di belakang, jangan sampai tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki semuanya.”
“Aku akan memikirkan dulu,” ujar Revan.
“Jangan kelamaan nanti keburu Mbak Dita nya berubah pikiran atau ada laki-laki lain keburu datang yang mau menerima mereka dan menjanjikan kebahagiaan yang nggak bisa Kakak berikan.”
“Pengalaman pribadi, Neng ?” ledek Revan sambil tergelak.
“Capek deh ngomong sama anaknya Om Robert. Aku pulang dulu, Kak, kasih kabar secepatnya kalau sudah sadar dengan hati Kakak sendiri. Nanti kelamaan keburu aku menikah dan nggak bisa bantuin Tante Siska lagi.”
“Kamu beneran mau menikah dalam waktu dekat, Sea ?” tanya Revan dengan dahi berkerut.
Chelsea beranjak bangun sambil tersenyum dan mengangguk.
“Tidak bisakah kamu memberikan Reno kesempatan sekali lagi, Sea ?”
“Maaf Kak, aku benar-benar ingin melepaskan hidupku dari keluarga kalian, itu sebabnya aku memutuskan untuk memanggil orangtua Kakak dengan sebutan Om dan Tante lagi. Aku pulang dulu, Kak.”
Revan terdiam dan membiarkan Chelsea meninggalkannya di teras belakang. Ada penyesalan dalam hati Revan. Kalau saja dia tidak egois karena serakah dengan harta dan kuasa yang dijanjikan Papa dan melepaskan Chelsea untuk Reno, adiknya pasti akan mendapatkan kesempatan kedua dari Chelsea.
Bukan hanya Revan tapi kedua orangtuanya dan oangtua Chelsea melihat juga kalau sebelum bertemu Bastian, gadis itu masih memiliki cinta untuk Reno.
Chelsea yang berjalan sedikit tergesa karena inginmenghindari Reno tampak terpaku begitu sampai di ruang tengah.
“Sayang, kamu lagi di sini juga ?” Mama Siska yang baru saja datang tampak senang melihat Chlesea akhirnya datang lagi ke rumahnya.
“Apa kabar Tante ?” sapa Chelsea berusaha bersikap biasa saja
“Baik dan senang ketemu kamu di sini.”
Mama Siska langsung merentangkan tangannya dan mendekati Chelsea lalu memeluknya.
“Mami bilang kamu sibuk belakangan ini,” ujar Mama Siska sambil melerai pelukannya.
”Biasa anak baru belajar, Tante,” sahut Chelsea sambil tertawa untuk menghindari rasa canggungnya
Deheman dari arah belakang Mama Siska membuat wanita paruh baya itu sadar kalau ia tidak pulang sendirian.
“Sampai lupa, kamu sudah kenal dengan temannya Reno ?”
“Sudah, sudah pernah makan siang bareng juga, Tante. Apa kabar Tamara ?”
Chelsea menganggukan kepala sambil tersenyum. Anggukan kepala juga dilakukannya untuk Reno yang baru datang dan tadi berdehem.
“Terus sekarang mau kemana ?” tanya Mama Siska.
“Tadi habis ada perlu sama Kak Revan dan sekarang Sea mau balik dulu, Tante. Ada janji.”
“Makan malam di sini dulu, mumpung anak-anak Mama lengkap semua. Mama udah kangen sama kamu, sekarang sibuk banget sampai nggak suka makan bareng di sini.”
__ADS_1
“Maaf Sea udah ada janji, Tante,” Chelsea berusaha menolak dengan sopan dan sedikit risih saat Mama Siska merangkul bahunya, hendak mengajaknya ke ruang makan.
Chelsea benar-benar serba salah, bukan karena hatinya tidak nyaman melihat Reno membawa Tamara di rumah keluarganya tapi Chelsea ingat akan janjianya pada Bastian.
Tolong telepon, Bas. Tolong aku sekarang, batin Chelsea.
“Jangan takut soal jatah makanan, Mama sudah minta bibik masak lebihan.”
“Bukan begitu Tante, tapi saya ada janji makan malam juga,” Chelsea masih berusaha menolak namun Mama Siska seperti tidak mendengarkan.
“Ajak temanmu makan malam di sini juga, nggak akan kekurangan. Mama tinggal sebentar dan nggak boleh menghilang begitu Mama kembali.”
Chelsea tertawa canggung dan seperti biasanya susah baginya untuk menolak permintaan Mama Siska.
Begitu Mama Siska berlalu, Revan yang sejak tadi melihat kecanggunggan Chelsea langsung tergelak
“Memangnya bisa anak kesayangan menolak permintaan Mama ?” ledek Revan masih tertawa.
Chelsea mencibir sementara Reno sudah mengajak Tamara naik ke atas menuju kamarnya. Chelsea tersenyum getir dalam hati, biasanya Mama melarang teman wanita Revan atau Reno dibawa ke kamar kecuali Chelsea.
Tapi Reno tidak pernah membiarkan Chlesea masuk ke kamarnya kalau si pemilik sedang di rumah. Pernah Chelsea memaksa dan Reno langsung mendorongnya hingga jatuh ke lantai di depan pintu kamar.
“Kenapa ? Cemburu ?” ledek Revan saat melihat Chlesea sempat melirik Reno dan Tamara yang menghilang di balik pintu kamar Reno.
“Nggak, udah nggak ada rasa apa-apa,” Chelsea menggeleng. “Malah bersyukur karena Reno udah ada kemajuan, nggak jutek lagi sama perempuan.”
“Yakin ?” Revan yang duduk di sofa ruang tengah masih meledeknya.
“Yakin banget,” Chelsea mengangguk mantap.
Chelsea bersyukur saat handphonenya berbunyi dan nama Bastian tertera di layar.
“Aku pulang dulu, Kak. Tolong bilang Tante, acara makannya besok-besok aja, soalnya calon suami datang,” ujar Chelsea sambil terkekeh.
Ia sempat memperlihatkan tulisan nama My Dear di layar handphonenya pada Revan.
Chelsea bergegas hendak meninggalkan rumah namun ucapan Revan menahannya.
“Kalau kamu nggak ikut malam ini maka semua orang di rumah ini terlebih Reno akan menganggap kamu cemburu karena masih menyimpan rasa sama Reno.”
Chelsea menghela nafas dan membalikkan badannya.
“Aku nggak ikut makan pun kalian susah percaya kalau aku sudah tidak punya rasa lagi sama Reno. Aku sudah menemukan pengganti Reno yang benar-benar membuatku bahagia berkali lipat dibandingkan saat mengejar cinta Reno. Aku permisi dulu, Kak.”
Di lantai 2, Reno yang bersembunyi di balik tembok hanya tersenyum getir mendengar ucapan Chelsea.
Pintu kamarnya tidak tertutup rapat dan Reno bergegas keluar setelah mengantar Tamara masuk ke kamarnya.
Tidak ada niat untuk membiarkan Tamara membersihkan diri di kamarnya, semua Reno rencanakan spontan saat melihat Chelsea di rumahnya.
Setelah. Chelsea berlalu, Reni bergegas menuju jendela besar yang menghadap ke rumah gadis itu. Reno hanya bisa merasakan sakit saat melihat tanpa sungkan Chelsea berpelukan dengan Bastian di samping mobil pria itu.
Wajah Chelsea tampak bahagia membuat hati Reno tercubit karena pernah membiarkan tawa kebahagiaan Chelsea berganti dengan air mata.
__ADS_1
Tamara yang sudah berdiri di depan pintu kamar Reno juga menghela nafas. Reno berjanji akan berusaha belajar membuka hatinya untuk Tamara, namun sepertinya bayangan Chelsea begitu kuat tertanam dalam hati Reno.
.