Takdir Untukku

Takdir Untukku
Kamulah Takdirku


__ADS_3

“Jangan mondar mandir gitu dong, Ren, biasa aja,” ujar Papa Robert saat melihat putranya nampak gelisah di ruang tunggu pengantin pria.


Sudah seminggu terakhir Reno tidak diijinkan menemui Chelsea dan bisa-bisanya calon istrinya itu benar-benar menerima aturan itu tanpa protes atau mencoba curi-curi kesempatan untuk bertemu Reno.


Bukan itu saja, yang membuat Reno makin gelisah karena Chelsea memblokir nomornya.


“Hanya untuk seminggu,” ujar Chelsea saat Reno mengajukan protes.


“Seminggu itu akan terasa lebih lama dari 4 tahun, Sea.”


“Jangan manja, 4 tahun aja bisa kamu lewati masa hanya 7 hari kamu protes dan merasa berat.”


“Sea…”


“Setelah 7 hari kita akan terus bersama setiap hari dari matahari terbit sampai terbenam, dari musim penghujan beralih ke musim kemarau. Awas aja kalau setelah bersamaku kamu malah gampang bosan !”


Chelsea melotot dan mengepalkan tangannya di udara. Reno buru-buru menggeleng untuk meyakinkan Chelsea kalau ucapannya tidak akan terjadi.


“Anak pintar,” Chelsea mengusap pipi Reno sambil tertawa.


Dan sekarang 7 hari berlalu, hanya tinggal hitungan jam Reno boleh melihat Chelsea. Bukan hanya saat ini tapi gadis itu akan menjadi pendamping hidupnya sampai mati.


Mendadak Reno berhenti mondar-mandir dan senyum-senyum sendiri membuat Papa dan Revan saling menatap lalu tergelak.


“Kamu kok bucin banget sama Sea sih, Ren. Jangan bikin malu keluarga dong,” ledek Revan di sela-sela tawanya.


“Kayak Kakak nggak bucin aja sama Dita.”


“Aku cinta, ya tapi nggak kelihatan sampai bucin kayak kamu. Pas kami menikah aja, aku nggak sampai panas dingin kayak kamu. Iya kan, Pa ?”


“Harap dimaklumi, Van, adikmu takut Chelsea menjadikan kesempatan ini sebagai ajang balas dendam.”


Kedua pria itu kembali tertawa dan berhenti saat Mama, Dita dan Radit masuk ke ruangan yang sama.


“Kok ketawanya mendadak stop ?” tanya Mama dengan tatapan curiga.


“Tuh si Reno gugup karena mau melepas keperjakaannya malam ini,” ledek Revan sambil kembali tertawa.


“Jangan gugup, nanti bisa sendiri kok,” sahut Mama dengan eajah serius.


“Papa, keperjakaan itu apa ? Memangnya mau dilepas kemana ? Kayak ikan Radit dilepas di kolam opa ?”


Spontan semuanya tertawa dan Revan langsung menggendong putranya yang semakin kritis dan banyak bertanya.


“Bukan ikannya Radit tapi ikannya Om Reno.”


“Mas Revan,” Dita memukul lengan suaminya karena asal bicara pada Radit. Bocah 5 tahun itu menautkan alisnya karena bingung, lalu ia menoleh menatap Reno.


“Memangnya Om Reno kapan beli ikan ? Dilepas di kolam opa juga ?”


“Tuh kan !” gerutu Dita sebal melihat suaminya malah tertawa.


“Bukan di rumah opa, tapi di rumahnya Om Reno dan Tante Sea. Besok-besok papa ajak Radit lihat-lihat ke sana.”


Reno langsung melotot karena di rumah barunya tidak ada kolam ikan.

__ADS_1


Belum sempat mengajukan protes, pintu ruangan yang diketuk pun terbuka. Terlihat staf WO meminta Reno untuk bersiap-siap.


***


Di ruangan yang berbeda Chelsea duduk manis di sofa sambil memegang bunga tangan.


Berkali-kali Carmila memuji adiknya yang terlihat berbeda dan sangat canrik dengan dandanannya hari ini.


“Itu karena aku nggak suka dandan, Kak. Lagipula kayaknya bawaan debay nih sukanya melihat yang cantik-cantik.”


“Tapi menurut dokter anak kami itu laki-laki,” ujar Leo yang ada di ruangan itu bersama Papi dan Mami juga.


“Justru itu, artinya sejak masih dalam kandungan aja, anak kalian sudah tahu bagaimana melihat wanit cantik,” ledek Papi Agam sambil tertawa.


Leo mengangguk-angguk sementara Carmila memitar bola matanya sambil geleng-geleng mendengar ucapan Papi-nya. Mami pun hanya tertawa pelan.


“Sea, kamu udah yakin sama si Rendang kan ? Soalnya kalau kalian sudah dinyatakan sah, agak repot menendang si Rendang kalau kamu berubah pikiran.”


“Papi iihh,” Mami langsung menepuk bahu suaminya.


Entah kenapa Papi Agam masih suka membuat Chelsea bimbang soal Reno padahal sudah hitungan menit keduanya akan mengikat janji sehidup semati.


“Biarin aja, Mi,” sahut Chelsea. “Papi tuh sebelnya di mulut doang, padahal kalau ada apa-apa langsung yang dicari tuh Reno, apalagi kalau sudah menyangkut soal Sea. Papi malu kalau kelihatan sayang sama menantunya yang satu itu.”


“Eeiitss masih calon menantu belum sah jadi mantu,” protes Papi sambil menggoyangkan telunjuknya.


“Pi, kalau orang pacaran tuh Papi udah termasuk kategori bucin sama Reno,” ledek Carmila sambil tergelak.


“Mana bisa begitu !” protes Papi dengan wajah kesal sementar yang lainnya hanya tertawa.


“Pelit amat sama Papi sendiri,” gerutu Papi yang mengundang kembali tawa yang lainnya.


Tidak lama staf WO pun mengetuk ruangan Chelsea dan langsung membuka pintu, meminta pengantin wanita bersiap-siap karena acara akan segera dimulai.


***


Janji suci sudah diucapkan Reno dan Chelsea dengan segenap rasa cinta yang memenuhi seluruh hembusan nafas mereka.


Perlahan Reno membuka selubung wajah Chelsea dengan senyuman yang terus mengembang di wajahnya.


Perlahan dikecupnya kening Chelsea lalu turun ke kedua pipi dan akhirnya sampai di bibir. Hanya kecupan singkat namun Chelsea bisa merasakan ketulusan cinta yang mengalir lewat sentuhan Reno.


“I love you, Sea. Terima kasih memberikan aku kesempatan kedua untuk hidup dalam cintamu,” ucap Reno dengan suara pelan sambil menggenggam tangan istrinya.


“I love you too Reno, terima kasih karena sudah mencintai aku sepenuh hati dan tidak pernah melepaskan aku saat menjauh darimu.”


“Aku bahagia karena pada akhirnya kita memang berjodoh,” ucap Reno dan diangguki oleh Chelsea.


Sementara di bangku tamu, Dio sedang membujuk Nia yang sebentar-bentar menangis.


“Udah jangan nangis begini dong , Sayang. Orang bisa salah paham, menyangka kamu mantannya Reno dan nggak rela lihat dia menikah sama Chelsea.”


“Biarin aja orang mau mikir apa, masa aku harus kasih pengumuman kalau aku terharu karena Chelsea akhirnya bisa nikah sama Reno,” omel Nia dengan mata sembab.


“Waktu aku bilang mau melamar kamu aja, kamu nggak terharu malah minta waktu setahun lagi,” gerutu Dio.

__ADS_1


“Elo melamarnya kurang romantis sih, Yo, udah gitu berliannya 'kurang gede,” ledek Tomi yang duduk di sebelah Dio.


“Elo kira gue si Reno yang bisa beli berlian kapan aja dia mau,” sahut Dio dengan ketus.


Edo yang duduk di sebelah Tomi ikut tertawa pelan.


“Eh, aku bukan cewek matere ya !” protes Nia sambil melotot menatap kedua sahabat kekasihnya.


Tidak lama para sahabat Reno dan Chelsea itu dipanggil untuk berfoto bersama. Begitu sampai di depan Nia langsung memeluk Chelsea dengan air mata yang kembali mengalir.


“Nia, elo kenapa sih ?” tanya Chelsea dengan wajah bingung. Ia sempat melirik Dio yang hanya mengangkat bahu.


“Orang pikir elo mantan pacar gue lagi,” bisik Chelsea yang mengundang tawa keempat pria di dekatnya.


“Seharusnya gue -yang sedih, Nia. Cinta gue harus terkubur karena Chelsea tetap milih Reno,” ledek Edo memasang wajah sendu.-


“Belum bisa move on, Bro ?” Tomi ikut meledek.


“Hati bggak bisa bohong, Tom. Kutunggu jandamu, Chelsea,” Edo melirik Chelsea dan mengedipkan sebelah matanya.


“Asem lo !” Reno melotot pada sahabatnya itu yang sejak dulu sering menyatakan cinta pada Chelsea namun tidak pernah ditanggapi oleh istri Reno itu.


“Chelsea ini memang takdir gue dari masih bayi sampai sekarang, jadi mau cinta elo sedalam lautan dan setinggi gunung manapun, Chelsea memang tercipta buat gue.”


“Puitis banget sih, bikin aku melehoy dan -jadi wanita paling bahagia sedunia, suamiku,” Chelsea bergelayut manja di lengan suaminya.


“Sea, ini Chelsea yang gue kenal kan ?” Nia mengerutkan dahinya mendekatkan wajahnya ke hadapan Chelsea.


“Eh jangan terlalu dekat, nanti orang beneran salah paham,” cegah Reno yang disambut tawa Edo dan Tomi sementars Dio langsung menarik kekasihnya.


“Pacar gue masih normal, Reno ! Dasar bucin akut !”


“Biarin, yang penting gue nikah duluan dari elo !” cebik Reno.


“Jangan lups dicek dulu knalpot elo masih aman nggak, jangan-jangan nggak pernah dipakai dan kurang perawatan, begitu on langsung turun mesin,” ledek Edo.


“Udah masuk bengkel minggu lalu buat pengecekan total,” ledek Dio.


“Ngecek dimana ? Jangan bilang kamu bikin pesta lajang tanpa bilang sama aku ?” Mata Chelsea menyipit, menatap Reno dengan posisi sedikit berjarak.


“Ke bengkel uji coba emisi lah, Sea,” ledek Edo. “Untuk memastikan knalpot Reno masih aman.”


“Jangan didengerin, Sayang, aku nggak pernah coba sama siapapun dan dimana pun. Jangan dengerin mereka yang sengaja mau bikin kamu kesal. Apa kamu nggak dengar kalau Edo memang mengharapkan jandamu ?”


Tomi, Edo dan Dio langsung tertawa melihat wajah Reno yang memelas demi membujuk Chelsea yang menatapnya curiga.


“Awas kalau ketahuan bohong ! Bukan cuma nggak ada jatah malam pertama, tapi ancaman Papi langsung berlaku 1x24 jam !”


“Ancaman apa, Sea ?” tanya Nia dengan wajah polosnya.


Reno buru-buru membekap mulut Chelsea dan menggeleng saat gadis itu menatapnya dengan mata membola.


“Jangan-jangan knalpot Reno bakal dicopot sama mertua kalau berani macam-macam sama putri kesayangannya,” ledek Dio


Reno melotot dan yang lainnya kembali tergelak melihat wajah Reno yang galak pada mereka tapi langsung berubah manis saat bertatapan dengan Chelsea.

__ADS_1



__ADS_2