Takdir Untukku

Takdir Untukku
Usaha Penyelamatan Chelsea


__ADS_3

Penculikan Chelsea belum bisa dilaporkan pada pihak berwajib karena kurang dari 24 jam, tapi dalam pikiran Reno, orang yang mungkin tahu dan terlibat adalah Tamara.


Pagi ini Tamara nampak ketakutan saat dibawa ke ruang rapat yang ada di kantor Papi Agam. Bukan hanya Reno, Dio dan Nia yang ada di situ, tapi Papa Robert, Papi Agam, dua orang polisi kenalan Papa dan 2 orang staf keamanan perusahaan Papi Agam ikut duduk berkeliling di meja rapat.


“Jadi kamu mau bicara sendiri atau perlu dengan cara dipaksa ?” tanya Reno dengan wajah datar namun nada bicaranya terdengar tegas.


“Aku sungguh-sungguh tidak tahu masalah penculikan ini, Reno. Aku berani sumpah demi apapun. Mike hanya bilang kalau dia akan membayangi Chelsea supaya hidupnya tidak tenang. Mike tahu kalau Chelsea sedikit takut padanya karena Bastian pasti pernah menceritakan bagaimana seorang Mike pada Chelsea.”


“Jangan bohong !” Reno menggebrak meja dengan penuh emosi. Tubuhnya dicondongkan mendekati Tamara.


“Selama ini aku selalu bicara baik-baik padamu soal perasaanku, tapi nyatanya hatimu tidak sebaik yang aku kira. Kamu tidak bisa menerima kenyataan kalau kamu tetap berbeda dengan Chelsea,” desis Reno.


“Maafkan aku Reno, tapi aku tidak pernah sampai berniat mencelakai Chelsea. Aku ingin mundur saat Mike bilang akan membuat Chelsea merasakan bagaimana rasanya kehilangan anak.”


“Apa ?” Reno sampai mencengkram kemeja Tamara dan segera Dio menenangkan sahabatnya itu, memintanya melepaskan Tamara


“Dan kamu tidak berniat untuk memberitahukannya padaku ? Itu sama saja kamu bersekongkol dengan Mike untuk mencelakai Chelsea.”


“Aku ingin mundur, Reno, tapi aku yakin kalau Mike tetap akan menjalankan rencananya dengan atau tanpaku. Aku masih berharap bisa mengetahui detil rencana Mike supaya aku bisa memberitahukannya padamu.”


Papa memberi isyarat supaya Dio membawa Reno menjauh dari Tamara dan sebagai gantinya, seorang polisi berpakaian biasa duduk di dekat Tamara.


“Anda yakin kalau Mike, yang anda sebut tadi, tidak pernah menceritakan detil rencananya ? Karena kalau sampai terbukti anda berbohong, maka anda bisa dijerat sebagai kaki tangan.”


“Sungguh saya tidak tahu apapun, Pak. Mike hanya bilang seperti itu pada saya,” wajah Tamara terlihat takut sekaligus cemas.


Reno memukul tembok sambil berteriak frustasi, ia pun menghela nafas sambil menyugar rambutnya dengak kasar.


“Tolong percaya padaku, Reno. Aku mohon,” pinta Tamara yang mulai menangis.


“Aku memang tidak suka pada Chelsea namun tidak pernah berniat mencelakai Chelsea apalagi saat ini dia sedang hamil anakmu.”


“Bisakah kamu menghubungi Mike sekarang ?” tanya Papa.


“Ya, cari tahu kemana Chelsea dibawa,” timpal Papi


“Mike sudah memblokir nomor saya sejak kemarin siang dan saya tidak punya nomor lainnya.”


Tamara mengeluarkan handphone dan memperlihatkan pesan untuk Mike yang tidak bisa terkirim sejak kemarin.


”Apa kamu tahu dimana Mike tinggal ?” tanya polisi yang duduk di dekat Tamara.


Tamara terdiam, ada perasaan takut kalau menjawab tidak tahu lagi tapi kenyataannya dia memang tidak tahu dimana Mike tinggal. Selama ini mereka selalu janjian bertemu di kafe atau restoran.


“Bukankah Mike salah satu pembeli apartemen yang sedang kamu kerjakan ?” tanya Dio.


“Iya tapi aku tidak yakin kalau ia tinggal di alamat yang sama,” sahut Tamara.


“Untuk sementara, anda akan berada dalam pengawasan kami. Tolong anda bisa bekerjasama atau kami menganggap anda sebagai kaki tangan penculik.”


Tamara mengangguk-angguk sambil menghapus air matanya dengan tisu.


Reno kembali menyugar rambutnya, perasaannya semakin tidak tenang karena belum ada titik terang soal Chelsea.


*****


Pagi ini untuk pertama kalinya Chelsea mengalami muntah-muntah sepanjang kehamilannya. Pria yang kemarin membawakan Chelsea makan malam membawanya pindah ke ruangan lain seperti kamar yang dilengkapi dengan kamar mandi di dalamnya.


“Mandi dan beristirahatlah sebentar. Ada pakaian ganti untukmu dalam kantong itu.”


Pria itu menunjuk satu kantong kertas berwarna cokelat yang diletakkan di atas ranjang berukuran 160 meter.

__ADS_1


”Jangan mencoba kabur karena kamar ini terletak di lantai 2, bahaya untuk kamu yang sedang hamil.”


“Apakah Mike yang melakukan semua ini ?” tanya Chelsea dengan wajah pucat.


Pria itu diam saja dan melihat ke arah lain. Chelsea tidak bisa melihat wajahnya karena pria itu masih menggunakan masker, namun dari tatapan matanya Chelsea yakin kalau pria ini adalah orang baik.


”Bersabarlah dan jangan melakukan tindakan bodoh, semua akan berakhir segera,” ujar pria itu setengah berbisik dengan kedua tangannya memegang bahu Chelsea dan posisinya seolah ingin mencium wanita itu.


“Ingat CCTV,” bisiknya lagi sambil berdehem.


Pria itu sempat membelai wajah Chelsea dan berjalan keluar meninggalkan Chelsea kembali sendirian. Terdengar suara kunci diputar dari luar membuat Chelsea hanya bisa menghela nafas.


Hampir 30 menit Chelsea baru keluar dari kamar mandi. Ia kembali muntah-muntah dan kepalanya pusing setelah membersihkan diri. Ia sedikit bingung karena pakaian yang diberikan pas dengan ukuran badannya termasuk sepasang pakaian dalam baru yang masih ada label merknya. Chelsea sempat mengerutkan dahi namun belum sempat berpikir perutnya sudah kembali mual.


Chelsea pun menikmati sarapan yang sudah tersedia di meja kecil yang ada di dalam kamar, sebelum ia dibawa keluar ke ruangan lain diantar orang yang berbeda. Pria dengan masker hitam itu tidak terlihat lagi.


”Mike,” desis Chelsea saat masuk ke ruangan lain dengan tatanan seperti ruang kerja.


“Apa kabar Chelsea ? Aku yakin kalau kamu tidak akan terkejut melihatku di sini.”


“Kamu sudah tahu jawabannya, tapi kenapa kamu melakukan ini padaku ?”


Mike tertawa dan berjalan mendekati Chelsea yangmasih berdiri di dekat di sofa.


“Kamu perempuan yang menarik,” Mike mencengkram dagu Chelsea. “Lebih menarik dari Sena. Pantas saja Bastian lebih memilihmu daripada Sena, karena bukan hanya cantik dan berani, bahkan aku dengar dari Sena kalau kamu masih perawan.”


Chelsea hanya diam dan menatap Mike tanpa perasaan takut sedikitpun. Mike tertawa dengan tatapan liciknya.


”Lalu apa gunanya untukmu ?” Chelsea tersenyum sinis dan menepis tangan Mike dengan sedikit kasar.


“Aku tidak yakin kalau semua ini kamu lakukan untuk Sena, mantan istri yang sudah kamu sia-siakan selama 4 tahun.”


“Sebagau mantan suami istri, sudah pasti kami masih punya ikatan batin. Saat aku sakit ia masih peduli dan bersedia merawatku, maka di saat dia menderita karena masalah Bastian, sudah sepantasnya aku membalas rasa sakit hati Sena.”


“Apakah kamu tahu bagaimana depresinya Sena karena kehilangan anaknya ? Kamu pasti akan lebih mengerti kalau sudah merasakan hal yang sama.”


Mike melirik ke arah perut Chelsea. Wanita itu langsung sadar dan mundur beberapa langkah hingga terbentur sofa.


“Jangan mencari kambing hitam untuk membenarkan keputusan Sena yang terlambat menemui Bastian. Lagipula kecelakaan yang menimpa Bastian bukanlah keinginanku dan di luar kehendakku. Dan anak ini tidak ada hubungannya dengan Sena dan Bastian,” suara Chelsea meninggi untuk menutupi rasa khawatir yang memenuhi hatinya.


Mike semakin mendekati Chelsea dengan seringainliciknya lalu dengan sigap menahan tangan Chelsea yang mencoba menghindar.


“Mau kabur kemana ?”


“Aku tidak akan membiarkanmu berbuat macam-macam pada annakku. Aku bukanlah Sena yang menunggu anaknya kritis baru mencari solusinya.”


“Sudah aku bilang…”


“Maaf mengganggu, Boss. Sepertinya ada tamu tak diundang sudah mengepung tempat ini.”


Mike tidak menyelesaikan ucapannya karena seorang pria bertubuh tinggi besar dan tanpa menggunakan masker langsung masuk setelah mengetuk pintu sebelum dipersilakan masuk.


Chelsea mengerutkan dahi namun segera ia sadar kalau yang dimaksud pria itu antara polisi atau musuh Mike.


Mike yang masih memegang tangan Chelsea menarik wanita itu menuju pintu ruangan.


“Lebih baik saya yang mengurus Nona ini, Tuan,” ujar pria bermasker yang tiba-tiba sudan ada di depan pintu ruangan.


Mike terlihat ragu-ragu untuk melepaskan Chelsea namun suara gaduh di lantai dasar membuat Mike akhirnya menyerahkan Chelsea pada pria itu.


“Bawa mereka ke rumah tiga,” perintah Mike sambil bergegas masuk kembali ke dalam ruangan untuk mengambil handphone dan laptopnya.

__ADS_1


Pria bermasker itu menarik tangan Chelsea dan membawanya turun ke lantai dasar melewati tangga lain yang tembus ke dapur.


Chelsea sempat mengernyit saat melihat beberapa wanita dengan tangan terikat dan mulut disumpal, digiring ke arah pintu yang lain. Namun pandangannya tidak terlalu jelas karena posisinya terhalang tembok pembatas dapur.


“Siapa mereka ?” tanya Chelsea pada pria yang masih menggandeng tangannya.


“Ceritanya panjang, sekarang waktunya untuk memikirkan keselamatan Nona.”


Keluar dari dapur, pria itu membawa Chelsea ke samping rumah dan menyibakkan ranting pohon yang ternyata menutupi satu gerbang kecil. Pria itu mengeluarkan kunci dan segera membuka gembok yang terpasang di situ.


Chelsea sempat mual kembali dan ingin muntah. Ia menutup mulutnya untuk meredam suara supaya tidak terdengar.


“Bertahanlah sebentar lagi, setelah melewati gerbang ini, Nona bisa pergi dari sini dan bebas dari Tuan Mike.”


Chelsea mengangguk dan berusaha menguatkan hatinya sambil membatin supaya anaknya memahami situasi yang sedang dihadapi.


“Jangan menoleh,” perintah pria itu saat keduanya sudah sampai di jalan raya.


Chelsea menurut. Peluh yang membanjiri kening dan mulai membasahi kaosnya membuat rasa mual Chelsea makin hebat dan kepalanya mulai terasa pusing.


“Tolong bertahan sebentar lagi, hanya tinggal belok di depan, Nona akan benar-benar bebas.”


Dengan langkah terseok, Chelsea menuruti permintaan pria yang masih menggandengnya. Begitu sampai di belokan, terdengar suara letusan senjata api membuat Chelsea terkejut, apalagi gerakan pria itu seperti mendorong tubuhnya.


Chelsea menoleh dan matanya membola saat melihat lengan kaos hitam pria itu basah.


“Kamu ber… darah..” ujar Chelsea terbata.


“Tidak masalah. Tolong percepat langkah Nona.”


Pria itu kembali menggandeng Chelsea menuju mobil sedan hitam yang sudah menunggu.


“Masuk !” perintah pria itu dengan tegas.


Chelsea menurut , namun ia tampak panik saat pria misterius yang terluka itu malah menutup pintu mobil dan memukul mobil sebagai isyarat supaya sopir yang sudah duduk di kursi depan melajukan mobilnya.


“Kenapa dia tidak ikut ?” tanya Chelsea pada dua pria yang duduk di kursi depan dan sama-sama memakai masker.


“Kenapa dia tidak ikut ? Dia terluka !” pekik Chelsea dengan wajah panik, khawatir pria itu akan ditembak kembali.


“Tugasnya mengeluarkan Nona dari rumah itu sudah selesai, selebihnya bukan urusan kami,” sahut pria yang duduk di kursi penumpang depan.


“Tapi dia terluka karena ditembak. Bagaimana kalau si penembak mengikutinya dan melakukan sesuatu padanya.”


Kedua pria di depan itu hanya diam membuat Chelsea frutasi dan akhirnya memilih bersandar pada pintu. Kepalanya bertambah sakit dan perutnya semakin mual. Ia mencoba memejamkan mata namun rasa mual itu malah semakin menjadi.


Hingga 20 menit kemudian, mobil itu masuk ke area parkiran sebuah rumah makan cepat saji yang cukup ternama.


“Tugas kami hanya mengantar Nona sampai di sini jadi tolong turun dari mobil.”


Chelsea terlihat bingung, kakinya mulai terasa perih karena tersangkut ranting yang menutupi gerbang.


“Sebenarnya siapa kalian ? Siapa yang menyuruh kalian untuk menolong saya ?”


Kedua pria berkaos dan bermasker hitam itu tidak menyahut.


“Tolong Nona segera turun karena ada tugas lain yang harus kami selesaikan.”


Chelsea ingin bertanya lagi namun matanya menangkap sosok Reno yang baru saja keluar dari dalam rumah makan.


“Tolong anda segera turun Nona,” tegas salah satu pria itu saat dilihatnya Chelsea masih bergeming.

__ADS_1


Akhirnya Chelsea menurut karena selain ingin segera bertemu Reno, yang ada dalam pikirannya kedua orang ini akan kembali menolong temannya yang tertembak tadi.


Begitu Chelsea turun dengan sempurna, mobil itu langsung melesat pergi tanpa menunggu Reno yang datang bersama Dio.


__ADS_2