Takdir Untukku

Takdir Untukku
Hadiah Kejutan


__ADS_3

Chelsea menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan saat memasuki rumah keluarga Bastian ditemani seorang pelayan yang langsung mrmpersilakan duduk di ruang tamu.


Dipandangnya foto keluarga yang baru saja menjadi penghuni ruangan itu, karena setahun yang lalu saat Chelsea datang untuk terakhir kalinya, foto itu posisinya ada di ruang tengah.


Chelsea tersenyum memandangi wajah Bastian dan diangkatnya jemari kiri sekilas lalu tangannya memutar-mutar cincin emas yang melingkar di jari manisnya.


“Akhirnya aku melabuhkan hatiku pada Reno, Bas. Aku percaya kalau kamu nggak akan keberatan karena Reno adalah pria baik dan tulus yang selalu mencintaiku dan aku pun ternyata masih mencintainya. Terima kasih atas kelimpahan cintamu yang memberi warna indah dalam hidupku meski hanya singkat, Bas. Aku selalu berdoa semoga kamu bahagia di tempatmu yang indah.”


“Chelsea, senang bisa ketemu kamu lagi,” suara Tante Mitha membuyarkan lamunan Chelsea.


“Senang juga melihat Tante dalam keadaan sehat,” Chelsea tersenyum dan membalas pelukan Tante Mitha.


“Bagaimana kabarmu ?”


Chelsea tersenyum dan duduk bersebelahan dengan Tante Mitha.


“Sebentar lagi saya akan menikah,” Chelsea memperlihatkan jari manisnya.


“Ooohh,” Tante Mitha tampak terkejut saat melihat cincin melingkar di jari manis Chelsea.


Belum sempat Chelsea menanggapi, Om Rudi dan seorang pria paruh baya keluar dari dalam rumah.


Chelsea kembali berdiri dan menganggukan kepala menyapa papa Bastian itu.


“Apa kabar, Chelsea ?”


“Baik, Om. Senang bisa bertemu lagi dengan Om dan Tante dalam keadaan sehat.”


Om Rudi menepuk-nepuk punggung tangan Chelsra yang berjabatan dengannya.


“Kenalkan ini Om Rahmat, pengacara keluarga kami.”


Chelsea mengangguk sambil tersenyum lalu ganti menjabat tangan pria yang diperkenalkan padanya.


Dahi Chelsea sempat berkerut saat mendengar kata pengacara dan sempat berpikir untuk apa menemuinya dengan pengacara keluarga Anggara.


“Duduklah !”


“Sebentar lagi Chelsea akan menikah,” kalimat pembuka yang diucapkan Tante Mitha membuat Om Rudi nampak terkejut dan menatap Chelsea untuk memastikan.


“Iya Om, kapan-kapan saya akan memperkenalkan calon suami saya pada Om dan Tante.”


“Secepat itu,” gumam Tante Mitha dengan wajah sendu.


“Saya percaya kalau Bastian akan mengerti, apalagi setelah saya bertemu dengan Sena dan baru menerima surat yang Bastian tinggalkan untuk saya. Surat yang seharusnya saya terima setelah kembali dari Medan,” sahut Chelsea dengan senyuman tipis.


Kali ini Chelsea tidak terlalu peduli dengan perasaan kedua orangtua Bastian bukan dengan maksud ingin kurang ajar, tapi menyampaikan kekecewaan hatinya mengingat bagaimana Om Rudi dan Tante Mitha bersikeras pada keputusan akan menikahkan Bastian dengan Sena meski putra mereka sudah menolak keras karena ingin tetap menikahi Chelsea.


“Surat itu dititipkan Bastian pada asistennya dan kami baru tahu setelah urusan Bastian dinyatakan selesai,” ujar Tante Mitha.


“Semua itu sudah tidak penting karena tidak akan membuat Bastian kembali dan saya percaya kalau Bastian lebih bahagia di sana karena tidak perlu menjalankan hidup yang bertentangan dengan keinginan hatinya.”

__ADS_1


”Maafkan kami yang sudah membuat kalian berdua merasa sakit hati,” ujar Om Rudi.


“Sebagai orang tua kami berharap Bastian bisa menjadi pria yang bertanggungjawab pada putranya dan membesarkan anaknya dalam keluarga yang lengkap.”


“Saya sangat mengerti soal itu, Om dan saya harap kepergian Bastian memberikan pelajaran yang berharga untuk kita semua.”


Chelsea tersenyum sambil menatap kedua orangtua Bastian bergantian. Ia pun sempat melirik ke arah foto yang terpampang di sisi kirinya.


Semoga semua ucapanku itu bisa menggambarkan bagaimana perasaanmu pada mereka, batin Chelsea


“Dan sekarang apa boleh saya tahu soal hal penting yang ingin Tante sampaikan pada saya ?”


Tante Mitha melirik suaminya yang langsung mengangguk dan tersenyum.


“Biar Om Rahmat yang langsung menyampaikan padamu.”


Pria yang berstatus pengacara itu pun memindahkan satu map yang ada di atas sofa ke atas meja.


“Ini untuk Nona Chelsea.”


Chelsea mengerutkan dahi sambil menatap Om Rahmat.


“Bukalah dan lihat isinya,” pinta Tante Mitha.


Chelsea menurut dan mengambil map biru itu lalu membaca isinya.


“Saya tidak pernah merasa membeli rumah ini.”


“Ini adalah peninggalan Tuan Bastian. Sudah lama Tuan Bastian membeli sebidang tanah untuk persiapan sebelum berkeluarga dan menjelang pernikahannya dengan Nona, kepemilikan rumah ini dialihkan atas nama Nona dan diwariskan sepenuhnya menjadi milik Nona.”


“Sayangnya tidak bisa seperti itu, Nona. Surat pengalihan ini dibuat secara hukum dan penetapan kepemillikan atas nama Nona juga disahkan secara hukum, jadi hanya Nona yang bisa merubahnya. Itu pun tidak bisa dihibahkan pada Tuan dan Nyonya Anggara karena hubungan anda bukan sebagai orangtua dan anak.”


“Tolong diterima pemberian Bastian ini, Chelsea,” pinta Om Rudi. “Anggaplah ini sebagai kado pernikahanmu kelak.”


“Tapi Om…”


“Chelsea, kami minta maaf karena membuat hubunganmu dengan Bastian sempat renggang dan kami sangat menyesal memaksa Bastian untuk tetap menikahi Sena demi Jeremi. Maafkan kami, Chelsea,” timpal Tante Mitha.


“Kami percaya kalau Bastian akan lebih bahagia kalau kamu tidak menolak pemberian terakhirnya.”


Chelsea terdiam dengan pandangan mata menatap satu berkas akta kepemilikan yang ditulis atas namanya. Bastian adalah pria penuh kejutan, yang memberikan bukti cintanya dengan berbagai cara.


“Saya minta waktu untuk membicarakan dengan calon suami saya dulu dan kalau boleh saya bisa minta alamat rumah yang tertera dalam akta ini.”


Om Rahmat mengambil selembar kertas yang mencantumkan sebuah alamat lengkap dengan peta petunjuknya.


“Ini adalah kartu nama saya, silakan hubungi saya saat Nona ada waktu untuk menerima warisan dari Tuan Bastian ini.”


Chelsea terdiam dan mengangguk dengan pandangan tetap menatap berkas yang ada di depannya.


*****

__ADS_1


“Sudah beres urusannya ?” tanya Reno saat Chelsea masuk ke dalam mobil.


Tadi Reno yang mengantar Chelsea ke rumah orangtua Bastian dan sekarang ia juga yang menjemputnya.


“Boleh membahasnya sambil makan, perutku lapar banget.”


Reno tertawa sambil mengacak poni Chelsea saat gadis itu menepuk-nepuk perutnya sendiri dengan wajah menggemaskan.


“Memangnya mantan calon mertuamu tidak menyuguhkan apapun ?”


“Jangan berharap, saat masih calon menantu saja mereka berniat menyingkirkan aku dan menggantinya demi alasan cucu.”


Reno tergelak melihat wajah Chelsea ditekuk dengan bibir cemberut. Tanpa banyak bertanya, Reno membawa Chelsea ke rumah makan yang letaknya 20 menit dari rumah Bastian.


“Jadi gimana ceritanya ?” tanya Reno saat keduanya sudah duduk dan memesan makanan.


Chelsea pun menceritakan apa yang terjadi di rumah keluarga Bastian.


”Terus ?”


“Reno, tadi di akhir cerita kan aku udah bilang kalau aku akan membicarakannya dulu dengan kamu, aku nggak mau gegabah juga.”


Reno terdiam dan memandangi Chelsea dengan posisi kedua tangan terlipat di depan dada.


“Jangan menatapku seperti itu,” protes Chelsea.


“Kamu masih mencintai Bastian ? Gimana perasaan kamu begitu tahu kalau Bastian sampai memikirkan untuk menyiapkan rumah untuk kalian dan memberikannya sebagai milikmu.”


“Reno, sepertinya udah nggak penting lagi membahas soal Bastian. Kalau soal kenangan, aku nggak akan bohong kalau hubunganku dengan Bastian meskipun singkat tapi sangat berkesan dibandingkan dengan saat bersama Kak Revan. Untuk soal cinta, setelah aku memikirkannya baik-baik, cintaku pada Bastian nggak sebesar perasaanku sama kamu.”


Reno tertawa pelan sambil mencibir, meledek jawaban Chelsea.


“Gombal ? Terserah kamu aja. Jujur saat bersama Bastian aku sering merasa bersalah karena tanpa sadar aku suka membandingkannya denganmu dan beberapa momen yang pernah terjadi di antara kami sering terganggu dengan ingatanku pada dirimu yang menyebalkan.”


“Beneran ?” ledek Reno sambil tertawa pelan.


“Terserah !” ketus Chelsea. “Kalau aku benar-benar sudah melupakan cintaku dan membencimu, sudah pasti nggak akan ada ini,” Chelsea mengangkat tangan kirinya.


“Bisa aja itu karena udah nggak ada pilihan,” Reno masih meledek Chelsea.”


“Suka-suka kamu deh, aku nggak mau perpanjang soalnya perut aku lagi lapar, bisa-bisa emosiku mengalahkan cinta dan logika,” ketus Chelsea dengan bibir kembali cemberut.


Reno tergelak dan membiarkan pelayan menata pesanan mereka. Reno pun mengambilkan Chelsea dua macam lauk yang mereka pesan.


“Kamu nggak makan ?” tanya Chelsea melihat di piring Reno hanya ada nasi putih.


”Hari ini aku khawatir sekaligus kangen banget sama kamu, jadi pinginnya memandangi kamu terus.”


Chelsea memutar bola matanya dan mencibir namun tidak menjawab karena mulutnya masih penuh dengan nasi dan lauk.


“Kita terima rumah pemberian Bastian, anggap saja sebagai kado pernikahan darinya dan tanda kalau Bastian mendukung dan merestui pernikahan kita. Kata orang rejeki itu nggak boleh ditolak.”

__ADS_1


“Aku ikut apa katamu, calon suami.”


Reno tertawa dan kebahagiaan terpancar di wajahnya, menghapus segala kekhawatiran yang sempat dirasakannya saat meninggalkan Chelsea di rumah keluarga Bastian.


__ADS_2