
Dua minggu berlalu
Hubungan Reno dan Chelsea semakin membaik meskipun Reno masih meneruskan sandiwaranya untuk berhenti membicarakan kata-kata cinta pada Chelsea.
Reno masih bersikap abu-abu antara iya dan tidak hingga membuat Chelsea merasa bingung untuk menafsirkan perasaan Reno padanya. Ingin bertanya pada Reno tapi rasanya akan memalukan bagi Chelsea.
Perubahan sikap Reno padanya mulai membuatChelsea merasa kehilangan akan sosok Reno yang suka nyeleneh, agresif dan sering menggombal. Saat ini di katanya Reno lebih cenderung menjadi sosok pria yang dikejarnya beberapa tahun lalu.
Sabtu ini keluarga Chelsea diundang makan siang di rumah Reno dalam rangka ulangtahun Mama Siska. Tidak ada pesta meriah, hanya acara barbeque di halaman belakang untuk kedua keluarga yang bersahabat sejak dulu.
Chelsea duduk di undakan tangga teras belakang dan mengedarkan pandangannya ke seluruh oenjuru taman rumah keluarga Reno yang cukup luas.
Dekat kolam, terlihat Dita menemani Radit yang sedang belajar berenang dengan Revan. Keduanya sudah menikah sejak 3 bulan setelah meninggalnya Bastian dan sekarang sedang berbahagia karena Dita tengah hamil anak kedua.
Carmila dan Leo yang kebetulan datang ke Jakarta ada di dalam rumah. Carmila dinyatakan positif hamil 4 minggu setelah menikah 3 bulan yang lalu.
“Kok melamun ?” tanya Papi yang langsung duduk di samping Chelsea.
Pria paruh baya ini memang lebih memperhatikan putrinya sejak Chelsea kehilangan Bastian. Seperrti Papi Agam pernah bilang kalau ia melihat emosi Chelsea sering tidak stabil dan Papi sangat khawatir hingga mengijinkan Reno untuk berada di samping Chelsea. Papi yakin kalau ketulusan Reno bisa membantu Chelsea.
Tapi sudah 2 minggu ini wajah Chelsea lebih sering terihat melow. Apa alasannya, Papi tidak mau menebak-nebak dan sayangnya Chelsea juga tidak mau berterus terang seperti biasanya.
“Nggak melamun, tapi mulai lapar. Nggak tahu kapan panggangan itu dinyalakan,” sahut Chelsea sambil tertawa pelan.
Kepalanya langsung bersender ke bahu Papi yang duduk di sampingnya. Hatinya selalu merasa tenang saat menyandarkan kepala di bahu pria kesayangannya ini.
“Reno baru selesai bicara sama papanya, mungkin sebentar lagi dia keluar.”
Chelsea hanya mengangguk-angguk. Bukan tanpa alasan hatinya mendadak melow.
Chelsea datang lebih pagi dari Revan dan Carmila, membantu Mama menyiapkan acara hari ini khususnya urusan dapur. Reno dan Papa yang sedang berbincang serius soal pekerjaan terlambat ke meja makan untuk sarapan.
Tidak sengaja Chelsea mendengar percakapan ayah dan anak itu saat Mama memintanya memanggil kedua pria itu untuk sarapan dan saat itu pintu ruang kerja sedikit terbuka.
“Sepertinya tidak ada pilihan lagi Reno, kamu harus berangkat ke Surabaya dan membantu di sana. Urusan di Jakarta ada Dio dan Karina yang bisa menangani tugasmu. Nanti Papa minta bantuan Pak Johan untuk membantu mereka.”
“Aku akan atur pekerjaan dulu dengan Dio, Pa, Mungkin Selasa atau Rabu aku berangkat ke sana.”
Chelsea menghela nafas dan menjauhi ruang kerja Papa. Rasanya sedih karena Reno akan jauh darinya. Padahal Chelsea merasakan kalau Reno sangat berarti baginya terutama sekarang ini. Reno bisa membuat hatinya nyaman dan tenang bahkan membuat Chelsea mulai berani menata ulang hidupnya.
“Sea, kamu kok melamun lagi ?” Papi Agam membelai lembut wajah putrinya yang diam termenung dengan posisi kepala masih bersandar di bahu Papi.
“Nggak kok, lagi menikmati rasa nyaman setiap kali Sea bisa begini sama Papi.”
“Sudah waktunya kamu belajar membuka hati lagi, Sea. Menyiksa diri seperti ini tidak akan membuat Bastian hidup kembali. Kalau dia bisa bicara padamu, pasti dia sedih melihat kamu kayak gini,” ujar Papi sambil tertawa pelan.
“Sea nggak menutup diri kok, Pi, hanya saja belum menemukan orang yang tepat.”
“Termasuk yang itu ?” Papi Agam memberi isyarat dengan dagunya ke arah Reno yang terlihat sedang menyalakan pangganggan.
__ADS_1
Chelsea benar-benar melamun hingga tidak tahu kapan Reno melewatinya menuju ke area yang disiapkan untuk acara siang ini.
“Reno sepertinya mulai capek dengan sikap Sea yang selalu menolaknya bahkan sampai marah-marah. Udah 2 minggu ini sikap Reno sama Sea juga berubah.”
“Kamu sudah pernah ada di posisi Reno, kan ? Jangan menyangkal lagi perasaanmu. Mencintai Reno tidak membuatmu jadi tukang selingkuh. Tuhan pasti tahu yang terbaik hingga memutuskan untuk memisahkanmu dengan Bastian dengan cara seperti ini,” Papi melirik Chelsea yang mengangkat kepalanya.
“Terima kasih nasehatnya, Pi,” Chelsea memeluk lengan Papi dan kembali bersandar dengan manja.
Mami dan Mama yang melihat adegan itu saling menatap dan tersenyum. Sebagai seorang ibu yang sama-sama menyayangi Chelsea, keduanya merasa sedih juga melihat Chelsea yang harus menjalani semua masalah ini.
Panggilan Reno yang cukup keras membuat Sea beranjak bangun dan menghampiri cowok itu. Ternyata Reno menyuruh Chelsea membantunya meski sudah ada seorang pelayan melayani Reno.
Sejak tadi Reno juga memperhatikan wajah sedih gadis itu. Hatinya malah kesal karena berpikir kalau Chelsea sedang teringat pada Bastian. Ada rasa cemburu yang tidak bisa Reno tahan meski tahu ingatan Chelsea tidak akan membuat hubungannya dengan Bastian bisa kembali.
“Dagingnya dicelup-celup lagi ke dalam bumbu sebelum ditaruh di panggangan dong, Sea ! Mana enak kalau kering begitu !”
”Sosisnya harus dibolak balik, Sea. Lihat tuh jadi gosong !”
“Sea, tiriskan sebentar dagingnya sebelum kamu taruh di atas api, lihat tetesan bumbunya berceceran kemana-mana !”
Omelan demi omelan Reno tidak membuat Chelsea terpancing untuk menjawabnya dengan nada ketus. Gadis itu selalu menjawab dengan kata maaf dan mengikuti permintaan Reno.
“Reno lagi PMS, Van ? Dari tadi kerjanya ngomelin adik gue terus,” gerutu Carmila yang duduk bersama suaminya, Revan dan Dita.
“Mungkin banget atau emosinya meningkat karena tongkat saktinya menuntut supaya dipergunakan,” sahut Revan sambil terkekeh.
“Yang bener ?” mata Carmila membola. “Adik elo masih perjaka ?”
“Baguslah kalau Reno nggak kayak kamu,” sindir Dita sambil mencibir.
“Setidaknya cuma sifat jaim kalian aja yang sama dan nggak perlu Reno menyandang gelar buaya buntung kayak kamu,” lanjut Dita.
Carmila dan Leo yang duduk semeja langsung tergelak. Leo adalah pria asli Indonesia yang sudah menjadi warganegara Singapura dan masih bisa mengerti dan berbicara Bahasa Indonesia.
“Sayang jangan ungkit-ungkit masa lalu, dong,” sahut Revan dengan senyuman manisnya. “Aku sudah melepaskan gelar buaya buntungku.”
Revan mencium pipi Dita dari samping membuat wanita itu langsung melotot karena malu ada Carmila dan Leo.
“Jangan sok pamer kemesraan di depan umum,” ketus Chelsea yang datang menghampiri dengan 2 piring makanan yang baru matang.
Chelsea menarik kursi kosong yang ada di samping Revan dan mengambil tisu untuk menghapus peluhnya.
“Jomblowati yang merindukan belaian cinta,” ledek Revan. “Jangan kelamaan semedinya, umur nggak bisa ditahan dan kerutan nggak bisa dicegah. Mau sampai kapan sembunyi di goa ?”
“Siapa juga yang sembunyi ?” ketus Chelsea. “Kalau Kak Revan nggak bolak balik ganggu aku di Amerika, mungkin aku sudah berbahagia dengan bule tampan.”
Revan mendadak gemas dengan bibir Chelsea yang mengerucut saat mengoceh. Tangannya langsung mencubit kedua pipi Chelsea.
“Bule mana yang mau sama cewek bau asap dan suka ngomel ini ?”
__ADS_1
Chelsea berusaha melepaskan tangan Revan yang mencubit kedua pipinya sambil menggoyang-goyangkannya.
“Revan, lupa kalau Sea itu mantan tunangan elo ? Kalau dia baper mau dikemanain istri elo yang lagi tekdung ?” ledek Carmila di tengah gelak tawanya.
“Istri gue bukan pencemburu lagian Chelsea nggak pernah cinta sama gue jadi mana mungkin dia baper.”
Revan meringis saat tangan Chelsea memukuli bahunya sambil menggerutu.
“Udah tahu aku nggak cinta kenapa malah maksa ?” omel Chelsea.
“Kamu kan udah tahu alasannya bocil,” sahut Revan yang kembali iseng mengacak-acak rsmbut Chelsea.
“Kak Revan iiihh ! Jahil banget sih ! Dita ajak suami kamu kelonan di kamar lagi deh, siapa tahu debaynya bisa langsung nambah 1 lagi,” gerutu Chelsea merapikan rambutnya yang berantakan.
“Sembarangan kamu, Sea,” ujar Carmila sambil tertawa.
“Mungkin Revan berharap anak keduanya mirip kayak kamu, Sea,” ujar Dita sambil terkekeh.
“Jangan ! Kalau mirip aku bisa-bisa disangka orang aku selingkuhannya Kak Revan. Lagian rugi banget wajah cantik kayak aku punya bapak kayak begini.”
Chelsea menjulurkan lidahnya dengan posisi sudah berdiri dan berniat menjauhi Revan. Terlalu tergesa Chelsea sampai menabrak Reno yang sedang berjalan ke arah mereka.
Untung saja Reno tidak sedang membawa makanan tapi karena hantaman Chelsea cukup kuat dan Reno tidak siap menerimanya akhirnya keduanya terjembab ke tanah.
Ciuman bibir tidak bisa dihindari membuat mata Chelsea yang sempat memejam langsung membola. Kedua bibir mereka masih menempel membuat semua yang melihatnya langsung senyum-senyum.
“Reno, kamu minta dinikahkan sekarang karena sudah berani berbuat mesum sama putri Papi ?” pekik Papi sengaja memasang tampang galak, padahal tadi ia ikut tersenyum.
“Aku setuju, Gam. Mana boleh pria sejati berlaku semena-mena sama perempuan,” timpal Papa.
Dita menyenggol bahu Revan yang langsung nyengir kuda dan merangkul bahu istrinya. Ucapan Papa lebih cocok ditujukan pada dirinya.
Chelsea yang sadar jadi pusat perhatian bergegas bangun dari atas tubuh Reno, namun tangan pria itu menahan pinggangnya.
“Papi dan Papa bilang aku harus bertanggungjawab karena sudah menciummu barusan di depan umum,” ujar Reno membuat mata Chelsea semakin membola.
“Reno ngawur,” gerutu Chelsea berusaha melepaskan diri dan bangun kembali.
Wajahnya memerah karena malu dan tidak berani membalikkan badan saat posisinya sudah berdiri tegak berhadapan dengan Reno.
“Jadi bagaimana pertanggungjawaban kamu, Reno ? “ tanya Papi kembali.
“Saya akan bertanggungjawab, Pi.”
Mata Chelsea langsung membelalak mendengar jawaban Reno dan menggerutu tidak jelas. Reno hanya meliriknya dengan senyuman tipis.
Chelsea melengos dan dengan wajah kesal ia berbalik badan dan bergegas masuk ke dalam rumah. Wajahnya merona dan tambah padam saat mendengar tawa orang-orang yang hadir di sana termasuk Radit yang belum mengerti tapi ikutan tertawa.
Reno hanya tersenyum dan mengusap tengkuknya sendiri. Ternyata Chelsea langsung kembali ke rumahnya. Bukan untuk melarikan diri tapi mandi dan berganti baju untuk menghlangkan bau asap yang menempel dari ujung rambut hingga ke jari kaki.
__ADS_1
Siapa tahu pertanggungjawaban Reno langsung dieksekusi oleh kedua orangtua mereka dan Chelsea tidak mau melewati momen itu dengan tubuh bau asap.