
Reno menatap layar handphonenya. Sudah 2 hari terakhir semua pesan yang dikirim untuk Chelsea tidak ada yang terbaca.
Panggilan telepon Reno juga tidak ada yang dijawab. Kalau saja tidak terbentur masalah jadwal pekerjaan rasanya ingin Reno berlari menemui Chelsea di kantornya.
Jalur koneksinya tidak mempan meski Dio yang bertanya langsung pada Nia. Asisten pribadi Chelsea itu mengaku kalau bossnya sekaligus sahabatnya baik-baik saja selama di kantor dan tidak tahu kenapa Chelsea mengabaikan Reno.
Tidak tahan dengan keresahan hatinya karena didiamkan oleh Chelsea, sepulang dari proyek, Reno langsung menyeberang jalan dan memencet bel kediaman rumah Agam dan Nina.
“Non Chelsea belum pulang, Den,” ujar bibik yang membukakan pintu.
Reno menerobos masuk ke halaman meski sudah diberitahu oleh bibik.
”Saya mau ketemu dengan Om Agam atau Tante Nina,” ujar Reno sambil mengedarkan pandangannya ke arah garasi.
Berjajar 2 mobil di dalam garasi dan 1 lagi di luar, minus 1 mobil yang biasa dipakai Om Agam untuk pulang pergi kantor termasuk menjemput Chelsea.
”Tuan dan Nyonya sedang pergi keluar. Ada acara gater apa itu.”
“Gathering.”
“Nah iya betul, Den.”
“Memangnya Sea nggak bawa mobil sendiri ke kantor, Bik ?”
“Tadi pagi berangkat sama Tuan.”
Reno menghela nafas panjang dan kembali ke rumahnya dengan langkah gontai. Entah mengapahati kecilnya mengatakan kalau Chelsea ada di rumah tapi tidak mau menemuinya.
Reno naik ke kamarnya dan langsung berdiri di depan jendela yang berhadapan langsung dengan kamar Chelsea.
Tidak terlihat apa-apa karena sudah lama tirai itu selalu tertutup menjelang sore dan tidak pernah lagi gadis cerewet yang manja memanggil nama Reno hampir setiap malam sebelum kejadian 4 tahun lalu.
Reno pun memilih membersihkan diri dan berencana akan bangun pagi-pagi untuk menemui Chelsea, kalau perlu sarapan di rumahnya.
***
Reno menggerutu sambil meraih handphone yang ada di nakas. Getaran benda pipih tanpa suara yang tidak berhenti membuat tidurnya terganggu.
Matanya menyipit lalu cepat membelalak saat melihat nama Dio dan waktu menunjukkan pukul 08.30 pagi di layar handphonenya.
“Sh*t !” maki Reno sambil bergegas turun dari ranjangnya.
Panggilan Dio ia abaikan dan Reno bergegas masuk ke kamar mandi. Rencananya menemui Chelsea pagi-pagi sekali gagal total.
Sambil memesan ojek motor online, Reno mengambil sepotong roti yang sudah disiapkan Mama Siska.
”Kok nggak ada yang bangunin aku, Ma ?”
__ADS_1
”Papa bilang kamu akan langsung ke proyek dan tidak mampir ke kantor lagi.”
“Ada rapat jam 9 di kantor. Reno pergi dulu, Ma.”
Yakin kalau ia pasti akan terlambat kalau membawa mobil sendiri, akhirnya Reno memesan ojek motor online. Kali ini dia tidak boleh terlambat datang karena klien yang akan ditemuinya cukup disiplin dan sedikit rewel.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Reno mengutuki dirinya yang tidak bisa tenang semalaman. Bolak balik mengintip dari jendela kamarnya, menunggu Chelsea pulang tapi saat mobil Om Agam masuk ke dalam rumah seberang Reno harus menelan kekecewaan karena hanya ada kedua orangtua Chelsea tanpa gadis itu.
Berulang kali Reno memandangi jendela kamar Chelsea sambil mengirim pesan, namun gadis itu tetap mengabaikannya. Jangankan membalas, pesan Reno sama sekali tidak dibaca.
“Jangan bilang kalau elo ketiduran di depan pintu kamar Chelsea,” cecar Dio saat Reno sampai di ruangannya dengan kaos yang sedikit basah.
“Bukan di depan pintu kamarnya tapi di depan jendela kamar, gue nungguin dia ngintip keluar.” gerutu Reno sambil membuka kaosnya dan menggantinya dengan kemeja.
“Om Billy sudah menunggu di ruang meeting, Nadya ikutan juga.”
“Sudah pasti diajak, kan dia yang ngurus renovasi rumahnya.”
Dio cekikikan sambil mengikuti langkah Reno menuju ke ruang meeting.
“Cari cara dong buat bujuk Nia supaya kasih bocoran masalah Sea,” ujar Reno dengan nada memaksa.
“Kalau perlu gue modalin buat beli bunga atau kado apapun atau kalau perlu ajak makan ke restoran yang bagusan.”
“Elo kira pacar gue cewek apaan ?” cebik Dio lalu tertawa pelan.
Reno hanya mendengus kesal karena keduanya sudah sampai di depan ruang meeting.
Reno sebetulnya enggan menangani proyek pembangunan rumah mewah milik Om Billy. Sebelum menerobos jalur Papa Robert, Nadya, putri tunggal Om Billy sudah menemui Reno.
Reno sudah menolaknya dengan alasan banyak proyek perumahannya yang sedang dikejar deadline serah terima. Bukan menolak rejeki, tapi Reno tahu kalau ada udang di balik batu dari permintaan wanita yang sebetulnya cantiknya 5 poin di atas Chelsea.
Meski sudah pernah berhadapan dengan perempuan agresif seperti Nadya ini, tapi Reno melihat wanita di hadapannya berbeda jauh bila dibandingkan dengan Chelsea.
Sikap agresif Nadya lebih menunjukkan ambisinya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, bukan karena ia benar-benar jatuh cinta pada Reno.
“Jadi untuk masalah budget jangan khawatir, Ren. Tolong ikuti saja maunya Nadya gimana,” ujar Om Billy di akhir percakapan mereka.
“Sebetulnya tidak bisa juga tanpa plafon budget, Om, akan terlalu membengkak dan seringkali jadi tidak konsisten dengan design yang sudah diinginkan pada proses awal. Akan lebih baik kalau Nadya sepakati dulu dengan arsitek sebelum pembangunan dimulai,” sahut Reno dengan wajah serius dan hanya melirik Nadya.
“Sudah aku bereskan masalah itu, Ren. Kamu bisa mulai segera,” sahut Nadya dengan senyuman menggoda.
Dio sempat memperhatikan sikap Reno yang menghindari tatapan Nadya dan bersikap canggung pada Om Billy.
Kalau saja bukan Papa Robert yang mengharuskannya lebih baik Reno mengurus pembangunan 1 cluster yang tingkat kepusingannya tidak seberapa dibandingkan dengan tuntutan gadis seperti Nadya.
Pertemuan yang hampir tidak membahas apa-apa tidak juga berakhir apalagi tidak lama kemudian Papa Robert ikut bergabung.
__ADS_1
Dio undur diri sementara Nadya pindah duduk di sebelah Reno, berhadapan dengan kedua ayah mereka.
“Sepertinya akan menyenangkan kalau kedua anak kita bisa saling menjalin hubungan,” ujar Om Billy di sela-sela perbincangan.
“Nadya sih nggak keberatan, Dad,” sahut gadis itu tanpa ragu dan sengaja memasang wajah tersipu.
“Kalau aku sih setuju saja, Bil.”
Reno sempat mengerutkan dahi mendengar jawaban Papa Robert yang sedang tertawa dengan rsut wajah bahagia.
Ia pun terkejut saat tangannya sudah dirangkul Nadya. Gadis itu langsung menunjukkan sikap manjanya dengan ekspresi malu-malu kucing.
Reno berusaha melepaskan tangan Nadya tapi gadis itu malah mengeratkan pegangannya. Reno pun bergegas mengambil handphonenya dan tersenyum saat nama Dio muncul di layar.
Semuanya sudah diatur oleh Reno dan Dio demi menghindari acara makan siang dengan ketiga orang yang ada di ruang rapat.
“Maaf Pa, Om Billy, saya harus jalan sekarang. Sudah ada janji di lokasi proyek karena ada sedikit masalah di sana.”
“Aku ikut !” Nadya ikut bangun saat melihat Reno beranjak dari kursinya.
“Jangan !” tolak Reno cepat. Otaknya langsung mencari alasan yang tepat untuk menenangkan wajah Nadya yang langsung cemberut.
“Lokasi proyeknya belum ada jalan yang bagus, masih berbatu dan penuh tanah liat. Tidak tepat banget membawa kamu dengan penampilan seperti ini ke sana.”
Om Billy mengerutkan dahi saat melihat putrinya cemberut dan Papa Robert menelisik penampilan Nadya untuk memastikan ucapan Reno.
“Reno benar, Nadya, jangan ikut ke lokasi proyek yang sekarang. Mungkin lain waktu kamu bisa janjian sama Reno.”
Dengan tidak rela Nadya melepaskan tangannya dari lengan Reno dan tanpa membuang waktu lagi,
Reno pun pamit dan bergegas kembali ke ruangannya.
Dio sudah merapikan mejanya dan terlihat kunci mobil tergeletak di atas meja kerjanya.
“Chelsea ada di kntornya, kan ?”
“Mereka masih rapat dan akan selesai sebelum jam makan siang.”
“Kita berangkat sekarang !”
Dio mengangguk dan membuntuti Reno yang sudah berjalan menuju lift..
“Giliran diminta nganter ke kantor Sea biar panas begini langsung semangat,” ledek Reno sambil tertawa.
“Kan tanggungjawab asisten,” sahut Dio dengan wajah sok serius. “Sisanya itu karena gue pandai memanfaatkan situasi. Siapa tahu elo butuh dukungan gue saat membujuk Chelsea supaya nggak ngambek lagi.”
Reno tertawa dan keluar dari lift beriringan dengan Dio menuju parkiran mobil.
__ADS_1