
Rapat di lokasi proyek apartemen baru saja selesai. Reno sempat mengomel karena berpikir kalau urusan pekerjaan bersama tim Tamara sudah diwakilkan oleh gadis itu dengan pertemuan mereka kemarin.
“Reno, boleh minta waktu sebentar,” ujar Tamara mengejar Reno yang terlihat bergegas meninjau bangunan apartemen.
Reno sempat menghela nafas dan memberi isyarat pada Dio untuk berjalan duluan.
“Kenapa kamu kelihatan kesal padaku hari ini ?” tanya Tamara saat keduanya sudah berdiri berhadapan.
“Apa kamu tidak sadar kalau pertemuan hari ini hanya mengulang pembahasan kita kemarin ? Kenapa aku dan Dio sampai harus datang kemari lagi ?”
“Aku tidak bisa menjelaskannya pada tim makanya aku membutuhkanmu untuk menjelaskannya pada mereka supaya tidak ada kesalahan. Kita sama-sama tahu kalau kesalahan kecil dalam pekerjaan ini…”
“Kamu sudah mendapat jawaban atas pertanyaanmu barusan, aku mau lihat ke bangunan dulu.”
“Apa kamu kesal karena Chelsea ?” pekik Tamara saat Reno sudah berjalan 1 langkah.
Reno kembali menghela nafas dan berbalik badan.
“Dia laporan kalau melihat kita sedang berduaan di kafe kemarin ?” Tamara tersenyum agak sinis membuat Reno sebal.
“Dia pasti memarahimu tanpa bertanya dulu. Kamu yakin akan selamanya meladeni sikapnya yang kekanak-kanakan itu ?”
“Apa yang dilakukan Chelsea sudah sewajarnya sebagai calon istriku.”
“Calon istri ?” Tamara nampak terkejut.
Tamara sempat mendengar kalau hubungan Reno dan Chelsea merenggang dengan adanya Bastian dan tidak menduga kalau keduanya akan kembali dekat begitu cepat karena kepergian Bastian belum terlalu lama.
Dan sekarang, Reno bahkan meng-klaim kalau Chelsea adalah calon istrinya ?
“Ya Chelsea adalah calon istriku. Aku cukup kecewa karena sikapmu malah menertawakannya saat melihat Chelsea kesal di kafe kemarin.”
“Aku tidak bermaksud begitu !” protes Tamara.
“Mulanya aku berpikir kalau Chelsea salah melihat senyumanmu sebagai ejekan, tapi dari ucapanmu hari ini ternyata Sea benar kalau kamu melihatnya ada di situ juga.”
“Kamu yakin kalau dia serius menerimamu dan bukan pelarian karena Pak Bastian belum lama meninggal ?”
“Jangan menjatuhkan harga dirimu dengan berusaha menjadi pelakor dalam hubungan kami. Selama ini aku menghargaimu sebagai partner kerja yang baik dan sudah pernah aku jelaskan pula kenapa sampai detik ini aku tidak bisa menerima perasaanmu. Aku mencintai Chelsea sejak dulu, sekarang dan di masa depan.”
Reno meninggalkan Tamara dan melanjutkan langkahnya menuju bangunan proyek. Tamara sendiri masih berdiri di tempatnya beberapa menit dengan wajah geram dan tangan mengepal di samping.
Sudah lebih dari 7 tahun Tamara menunggu Reno membuka hatinya. Dulu saat keduanya masih SMA dimana Reno adakah kakak kelas Tamara, lalu lanjut kuliah di satu kampus, Reno beralasan belum mau pacaran, ingin fokus dengan studinya. Lalu Tamara kembali mengejar Reno yang lulus setahun di atasnya dsn mencari segala cara untuk bisa dekat dengan pria itu.
Hati Tamara sulit menerima penolakan Reno, apalagi selama ini, ia merasa sudah menjadi wanita seperti yang diinginkan Reno.
Tamara bergegas menyusul Reno masuk ke lokasi pembangunan apartemen. Dilihatnya Reno masih di lantai dasar berbincang dengan Dio dan Toni, pengawas lapangan.
“Beri aku waktu sebentar lagi !” ujar Tamara sambil memegang lengan Reno.
Reno masih berusaha bersikap ramah karena tidak ingin membuat malu Tamara. Satu tangannya yang bebas melepaskan jemari Tamara yang yang mencengkram lengannya.
__ADS_1
“Maaf aku harus memantau sampai ke lantai 5., kita bisa cari waktu lain waktu.”
“Hanya sebentar,” Tamara malah menarik tangan Reno hingga akhirny Reno mengikuti Tamara dengan sedikit terseok.
“Tamara, awas !” Reno mendorong tubuh Tamara menjauh dan akibatnya satu balok kayu menimpa kepala lalu punggung Reno hingga pria itu terjembab ke tanah.
“Reno !” pekik Tamara yang sempat tersungkur karena didorong Reno.
Dio dan Toni bergegas mendekati Reno dan dibantu beberapa orang yang ada di situ mengangkat balok penopang kuda-kuda yang menimpa tubuh Reno.
Dio langsung menghubungi ambulans karena Reno bukan hanya pingsan namun terlihat darah keluar dari pelipisnya.
***
Ditemani Nia dan Papi Agam, Chelsea langsung menuju ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari Dio soal kecelakaan yang menimpa Reno.
Sempat terkena macet hingga ketiganya langsung menuju ke ruang rawat inap karena prosedur di ruang IGD sudah selesai.
Papa Robert yang langsung meninggalkan rapat sedang dalam perjalanan, begitu juga dengan Mami dan Mama yang berangkat bersama dari rumah.
Chelsea menghela nafas saat melihat Tamara ditemani Tino sedang duduk di kursi yang letaknya tidak jauh dari kamar Reno. Chelsea hanya melirik ke arah pergelangan kaki gadis itu yang dibebat dengan perban karena terkilir. Berarti kondisi yang dialami Reno ada kaitannya dengan gadis yang tertawa mengejeknya kemarin pagi.
Chelsea mengabaikannya dan langsung masuk ke dalam kamar dimana Reno berada dan Dio duduk di sofa.
“Jangan bilang kalau ini semua gara-gara perempuan itu,” geram Chelsea dengan wajah kesal.
“Sea, jangan emosi begitu, namanya juga resiko pekerjaan,” ujar Papi Agam mencoba menenangkan putrinya.
“Kata dokter kondisi Reno gimana, Yo ?” tanya Chelsea dengan wajah khawatir,
Dalam percakapannya di WA Dio menjelaskan kalau tidak ada tulang Reno yang retak, hanya lebam di bagian punggunynya. Pelipis Reno hanya pendarahan luar tidak ada penggumpalan di dalam yang perlu dikhawatirkan.
Nia hanya bisa menarik nafas melihat kekasihnya sedang bersandiwara. Ia sempat melirik Papi Agam yang juga terlihat santai, hanya Chelsea yang terlihat panik.
Tidak lama pintu kamar diketuk dan terlihat Toni muncul dari balik pintu. Pria yang sedikit lebih tua dari Reno menghampiri Chelsea dan membisikkan sesuatu.
“Tolong kabarin gue kalau Reno sudah sadar,” pesan Chelsea pada Nia sebelum ia berjalan keluar mengikuti Toni.
Papi Agam dan Dio tersenyum melihat wajah Chelsea seperti orang yang siap berperang. Papi Agam juga sudah mendapat kabar kalau kondisi Reno baik-baik saja. Hasil MRI tidak menunjukkan hal-hal yang mengkhawatirkan.
“Apa ada yang mau kamu jelaskan ?” tanya Chelsea dengan wajah tidak bersahabat.
Keduanya duduk berhadapan di kafe yang ada di lobby rumah sakit.
“Aku minta maaf atas kejadian hari ini. Tadi Reno berusaha menyelamatkan aku dan akhirnya malah dia sendiri yang jadi korban,” lirih Tamara sambil mengusap kedua sudut matanya.
“Ada lagi ?”
“Chelsea, aku benar-benar tulus minta maaf padamu.” Chelsea tersenyum sinis.
“Aku tidak terlalu percaya dengan ucapanmu. Wajahmu terlihat terlalu menyesal, jadi aku yakin kalau ada unsur kesengajaan di sini.
__ADS_1
“Bisa-bisanya kamu berpikir sepicik itu !” protes Tamara dengan wajah emosi.
“Aku tidak peduli dengan pendapatmu soal diriku. Satu hal yang harus kamu ketahui kalau aku dan Reno sama-sama saling mencintai dan kedua orangtua kami sudah memberikan restu. Jangan mencoba jadi pelakor karena kamu berhadapan dengan Chelsea yang berbeda, bukan gadis polos seperti 5 tahun yang lalu.
Jangan berusaha keras untuk memisahkan kami karena sekali kamu tertangkap basah, bukan hanya tidak akan melepaskanmu, aku akan membuat hidupmu penuh dengan penyesalan karena mencoba merusak jalanku dan Reno.”
Chelsea berdiri tidak peduli dengan ekspresi Tamra
yang berusaha meredam emosinya sambil mengepalkan kedua tangannya.
Chelsea menarik nafas berkali-kali mencoba meredakan emosi yang memenuhi rongga hatinya. Firasatnya terbukti kalau Tamara masih berharap mendapatkan cinta Reno.
“Awas aja kalau berani bertindak lebih jauh lagi !” gumam Chelsea pada dirinya sendiri sambil berjalan kembali menuju kamar Reno.
Chelsea urung masuk ke dalam kamar saat mendengar ada gelak tawa dari dalam. Ia pun mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.
Matanya berkeliling melihat sudah ada Papa, Mama dan Mami sedang duduk di sofa sementara Dio dan Nia duduk di samping ranjang Reno.
Tangkapan mata berikutnya membuat emosi Chelsea langsung naik lagi ke ubun-ubun dan bibirnya komat kamit menggerutu sendiri.
Ternyata Reno sudah sadar dan sedang dalam posisi setengah berbaring di atas ranjangnya. Kekasih Chelsea itu sedang menikmati kue yang dibawa oleh Mami dan berbincang sambil tertawa dengan semua yang ada di kamar.
“Jadi Chelsea belum tahu kalau sejauh ini kamu hanya mengalami cedera punggung sementara yang lainnya baik-baik saja ?” tanya Mami sambil geleng-geleng kepala
.”Sekali-kali biar Sea khawatir sama aku, Mi. Sudah lama Sea nggak menunjukkan sikap manisnya padaku.”
“Salah sendiri kenapa kamu membiarkannya bosan terus baik padamu dan akhirnya sekarang jadi gampang curiga sama kamu,” ledek Papi sambil tertawa mengejek.
“Tolong kali ini dibantu dong, Pi. Kan sandiwaranya bukan untuk menjauhkan Sea tapi demi membuktikan hatinya yang sudah 1000 persen kembali mencintaiku.”
“Awas saja kalau kamu berani menyakitinya sekali lagi !” ancam Papi dengan tangan terkepal.
“Nggak berani, Pi. Ancaman Sea dan Papi bakal bikin hari-hariku bagaikan hidup enggan, mati tak mau.”
Semua tertawa mendengar ucapan Reno dengan ekspresi wajah yang dibuat lucu
“Sepertinya ide bagus membuat hidupmu begitu !” suara galak Chelsea membuat semua yang ada di kamar terdiam dan nampak terkejut melihat gadis yang mereka bicarakan sedang berdiri di depan pintu sambil bertolak pinggang.
”Sea,” gumam Reno lalu berusaha tersenyum.
Kali ini Chelsea bukan menangis dan lari karena sudah dikerjai oleh Reno.
“Bagus ya bikin sandiwara lain bahkan sampai ajak-ajak satu kampung,” Chelsea sudah berdiri di samping ranjang Reno.
Dio dan Nia pun sempat mendapat pelototan galak gadis itu bahkan ancaman untuk pasangan itu diucapkan dengan nada komat kamit di bibir Chelsea.
“Sea, nggak ada maksud begitu. Lagian ini semua usulnya Dio. Aku lagi sakit begini mana bisa berpiikir mau isengin kamu,” Reno nyengir kuda lalu memasang wajah memelas.
Chelsea hanya melotot sambil bertolak pinggang, tidak ada ucapan Reno yang ditanggapinya.
Papi Agam yang sudah tidak bisa lagi mrnahan diri untuk tidak tertawa buru-buru beranjak dari sofa dan keluar kamar.
__ADS_1
“Biar kamu merasakan gimana susahnya membujuk Chelsea setelah kamu bikin dia patah hati,” ujar Papi sambil tertawa sendiri.
Ia menertawakan calon menantunya harus berpikir dan berusaha keras untuk membuat putri bungsunya tidak kesal lagi.