
“Kenapa lagi ?” tanya Reno dengan pandangan tetap pada handphonenya, memeriksa beberapa laporan yang dikirim oleh Dio.
“Nia nanyain dokumen buat Papi, dia curhat kalau Papi mendadak jadi boss galak di kantor. Dikit-dikit maunya marah-marah, udah kayak cewek lagi PMS aja. Kemarin sore Nia habis kena omelan Papi gara-gara meeting yang harusnya diwakili oleh Herman mendadak batal karena klien maunya ketemu aku atau Papi.”
Chlesea langsung duduk di atas pangkuan Reno dan mengalungkan tangan di leher suaminya itu. Reno pun meletakkan handphonenya di atas meja kecil yang ada di samping sofa dan memeluk pinggang istrinya.
“Papi itu sayang banget sama kamu dan berasa kehilangan putri bawelnya,” Reno mencubit hidung Chelsea dengan gemas.
“Aku baru ingat pas kamu pergi ke Amerika, Papi bukan hanya jadi pria yang jutek tapi suka marah-marah melulu. Setiap kali melihat aku kayaknya emosi Papi langsung tersulut padahal aku belum ngomong apa-apa, nyapa aja belum.”
“Itu karena Papi kesal gara-gara kamu aku jadi pilih melanjutkan sekolah di Amerika daripada kuliah di Jakarta.”
“Iya Papi pasti kesal banget bukan karena pertunangan kita batal tapi sudah membuat anak kesayangannya pergi dari rumah dan nggak mau pulang sampai 4 tahun. Makanya rasa sebel Papi udah mendarahdaging dan susah dihilangkan,” ujar Reno sambil terkekeh.
“Tapi yang sempat buat aku bingung saat aku dekat dengan Kak Revan atau Bastian, Papi malah sengaja bikin kamu dekat sama aku. Kamu masih ingat kan kalau Papi lebih suka kamu yang anterin aku pulang daripada Kak Revan yang jemput ?”
“Itu karena Papi sudah punya firasat buruk soal Kak Revan dan Bastian sebagai sesama lelaki, dan terbukti kalau dua-duanya sudah meninggalkan jejak benih mereka dengan perempuan lain.”
“Yakin kamu bukan kayak mereka juga ?” mata Chelsea menyipit, menelisik wajah Reno yang semakin dekat.
“Udah dicoba masa nggak berasa ?” ledek Reno. “Mesin masih gress dan orisinil, belum pernah dipakai bahkan nggak pernah melakukan uji coba.”
Chelsea mencebik lalu terkejut saat Reno malah menggendongnya ke arah ranjang.
“Mau ngapain siang-siang begini ?”
“Mengeluarkan energi biar makan siangnya lebih banyak. Rugi kan dapat jatah makan sepuasnya tapi perut masih agak kenyang sisa sarapan tadi.”
“Tapi ini kan masih siang begini, semalam kamu udah gangguin aku tidur terus,” gerutu Chelsea.
“Namanya juga lagi bulan madu, Sayang, jadi kerjaannya ya santai dan berolahraga di seputaran kamar aja. Lagipula semakin sering aku menabur benih kemungkinan debay di rahim kamu makin cepat. Kita bikin anak yang banyak biar Papi nggak kesepian karena sibuk dengan urusan cucu.”
__ADS_1
“Ide bagus !”
Reno terkejut saat Chelsea yang sudah terbaring di ranjang menarik kaosnya dan langsung mencium bibir Reno penuh semangat.
“Kamu makin nakal dan berani, Sayang,” ujar Reno sambil mencubit hidung Chelsea.
“.Kamu keberatan ?” Chelsea menautkan alisnya.
“Nggak; malah aku suka banget.”
Untuk kedua kalinya Reno dibuat terkejut saat Chelsea mendorong Reno hingga pria itu terbaring di ranjang dan Chelsea berada di atas tubuhnya.
“Kalau begitu biar istri nakalmu ini gantian membuatmu menjerit nikmat,” ujar Chelsea sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Memang bisa ?” ledek Reno sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Kan kamu udah ajak aku nonton film bagaimana caranya membahagiakan suami.”
“Dasar nakal !”
Tidak menunggu lama, suara gelora cinta menggema di dalam vila dan keduanya tidak perlu khawatir terdengar oleh siapapun karena bangunan yang mereka tempati sengaja disiapkan untuk pasangan yang ingin menghabiskan waktu hanya berdua.
Reno tersenyum bahagia saat Chelsea makin pintar memanjakannya.
“Semoga cepat hadir debay di sini,” ujar Reno sambil mengusap perut ramping Chelsea.
Chelsea menggeliat dan memeluk Reno sambil mendusel di dekat ketiak suaminya.
“Sea, jangan gini dong, aku nggak pede lagi keringetan begini.”
“Nggak apa-apa, aku suka baumu dalam keadaan apapun, apalagi kalau habis olahraga begini. Baunya seksi,” ujar Chelsea dengan nada manja dan suara mende-sah.
”Dasar istri nakal, suka banget menggoda suaminya.”
Chelsea memekik saat Reno sudah berada di atas tubuhnya. Rasanya masih capek tapi Reno tidak memberinya kesempatan untuk menolak.
“Gantian suamimu ini yang akan memanjakanmu ?” bisik Reno sambil menggigit daun telinga Chelsea sebelum memulai babak kedua.
*****
Saat Reno dan Chelsea sedang menikmati bulan madu mereka, di Jakarta, Mike kembali mengajak Tamara untuk bertemu.
“Jadi sudah memutuskan mau bagaimana ?”
__ADS_1
“Kenapa harus Chelsea yang disalahkan atas kerjadian yang menimpa mantan istrimu dengan Bastian ? Bukan Chelsea yang membuat Bastian meninggal hingga tidak bisa menjadi pendonor untuk putranya. Lagipula aku pernah baca di internet, selain ayah kandung, keluarga kandung dari ayah kemungkinan besar bisa juga jadi pendonor.”
“Bastian menundanya terlalu lama karena saat itu statusnya sudah bertunangan dengan Chelsea. Seharusnya sebagai wanita yang memiliki perasaan, ia akan mendorong Bastian untuk segera menjadi pendonor untuk putra kandungya, apalagi Jeremi sudah dirawat di ICU. Aku yakin Chelsea yang menjadi penyebab Bastian bimbang dan tidak bisa langsung mengambil keputusan.”
“Siapa nama mantan istrimu ?”
“Sena.”
“Apa Sena yang menceritakan hal itu padamu ?”
“Aku sudah bercerai lama dengan Sena, lebih tepatnya saat Jeremi masih berusia dua minggu karena terbukti dia bukan anak kandungku. Kami baru bertemu lagi 3 bulan yang lalu saat ia datang ke Amerika menjengukku yang sedang sakit. Sena sempat merawatku karena kedua orangtuaku sudah meninggal 2 tahun yang lalu dalam kecelakaan mobil. Saat aku menanyakan kabar Jeremi, Sena pun bercerita bagaimana ia harus kehilangan putranya itu. Sena sempat depresi dan sering mengigau saat tidur di malam hari dan berkali-kali ia menangis sambil memohon-mohon pada Bastian.”
“Bagaimana kamu bisa menghakimi Chelsea sebagai penyebab Sena depresi ? Lagipula kenapa juga kamu harus peduli dengan wanita yang sudah kamu abaikan bertahun-tahun lalu ?”
“Terlalu bertele-tele bicara denganmu, aku menawarkanmu untuk bekerjasama demi mendapatkan apa yang kita inginkan. Aku hanya ingin membalas kebaikan Sena yang sudah peduli dan merawatku di saat tidak ada satu orangpun yang memikirkan nasibku. Dan aku yakin kalau Sena akan bahagia saat melihat Chelsea hancur sama seperti dirinya di saat harus kehilangan Jeremi.”
“Aku tidak berminat karena sepertinya rencanamu itu akan masuk kategori kriminal dan bisa jadi aku malah terjerat masalah hukum. Aku memang mencintai Reno, tapi kalau resikonya sampai berurusan dengan polisi dan penjara, aku tidak ingin terlibat dengan tawaran gilamu itu.”
“Kita akan melakukannya dengan ini,” Mike menunjuk pelipisnya. “Jangan bermain kasar dan tentu saja aku akan menghindari semua resiko yang bisa menjerat kita dalam urusan hukum. Kuncinya kamu harus percaya diri untuk meyakinkan dirimu kalau Reno lebih pantas denganmu bukan Chelsea.”
“Memangnya apa rencanamu ?” Tamara menautkan alisnya menatap Mike yang tersenyum smirk ke arahnya.
“Aku tidak akan mengatakannya kalau kamu masih bimbang dan tidak yakin akan kemampuan dirimu sendiri,” sahut Mike dengan senyuman mengejek.
Tamara masih menatap Mike dengan intens, memastikan kalau pria di depannya ini serius dengan ucapannya bukan malah menjebaknya.
“Baik, aku akan ikut permainanmu dengan satu syarat saat semuanya ini sudah menjurus ke arah pelanggaran hukum, aku akan mundur dan menganggap kalau kita tidak pernah bertemu apalagi kenal.”
“Setuju ! Aku janji kalau semuanya akan berhasil tanpa merugikan salah satu di antara kita.”
Tamara sempat merasa ragu saat Mike mengulurkan tangannya, namun akhirnya ia menjabat tangan itu juga dan tersenyum tipis saat hatinya tidak tenang karena menangkap sesuatu yang buruk dari tatapan pria di depannya.
__ADS_1