Takdir Untukku

Takdir Untukku
Kejutan Ulangtahun


__ADS_3

Sebulan sudah Chelsea menyandang status tunangan Bastian. Setelah berdiskusi dengan Mama Mitha, Chelsea sepakat untuk memberikan kejutan ulangtahun untuk Bastian di hari Sabtu pagi.


Acara sederhana akan diadakan di rumah orangtua Bastian dan hanya dihadiri keluarga inti saja termasuk keluarga Chelsea.


Chelsea datang lebih pagi membantu Mama Mitha menyiapkan makanan sementara Papi dan Mami akan menyusul diantar sopir.


Bastian masih tidur di kamarnya karena baru sampai di a rumah jam 3 subuh sepulang dari Jepang untuk bertemu dengan calon investor yang pernah datang ke Jakarta.


Jam 10 pagi Chelsea naik lantai 2 menuju kamar Bastian. Sayangnya Chelsea tidak bisa langsung masuk kamar Bastian dan membangunkan pria itu karena kamarnya terkunci.


Akhirnya Chelsea mengetuk pintu tanpa memanggil nama Bastian hingga 5 menit kemudian, pintu baru dibukakan.


Dengan penampilan yang berantakan layaknya orang bangun tidur, Bastian belum sadar kalau yang berdiri di depannya bukan bibik melainkan tunangannya.


“Ada apa, Bik ?” tanya Bastian sambil menyugar rambut dan mengucek matanya.


“Selamat ulangtahun Tuan Bastian Anggara.”


Mata Bastian langsung membola saat mendengar suara yang sering membuat hatinya rindu.


“Sea !” pekik Bastian. “Gimana ceritanya kamu sudah ada di sini sepagi ini ?”


“Mau kasih kejutan untuk calon suami,” mata Chelsea mengerjap dan tersenyum menggoda Bastian yang langsung memeluknya.


“Terima kasih, Sayang,”. Bastian menghujani ciuman di wajah dan leher Chelsea hingga gadis itu terkekeh kegelian.


“Jorok, Bas, kamu belum sikat gigi,” Chelsea berusaha melepaskan diri dari pelukan Bastian.


“Nggak bau, tetap wangi, mau langsung dicoba dengan bibirmu ?”


“Mandi dulu sana, aku mau turun lagi bantu Mama.”


“Nggak bisa ! Sudah sampai di depan pintu kamarku nggak boleh pergi begitu aja.”


“Bas !” pekik Chelsea saat Bastian menariknya dan langsung menutup pintu kamar dan menguncinya.


“Bas kamu mau ngapain ?” tanya Chelsea yang sudah berdiri menempel di pintu karena Bastian mengukungnya.


“Mau minta hadiah spesial dari calon istri,” bisik Bastian dengan suara sedikit mendesah di telinga Chelsea.


“Aku bawa kado tapi ada di bawah dan kenapa sampai harus kunci kamar segala ? Nggak enak sama Papa dan Mama.”


“Mereka pasti mengerti,” sahut Bastian kalem. “Malah mereka akan mendukung anaknya yang hari ini berumur 31 tahun kalau mau memberi mereka cucu secepatnya.”


“Dasar !” Chelsea medorong tubuh Bastian yang tertawa-tawa.


“Aku nggak berasa bau, tapi demi calon istri yang sudah cantik ini, aku akan mandi biar kamu nggak bisa menolak wangi tubuhku.”


“Haiiss pede banget kamu,” cebik Chelsea.


Bastian mencuri ciuman di bibir Chelsea sekilas lalu berjalan ke arah kamar mandi.


“Mau nunggu di dalam ?” ledek Bastian dengan posisi hanya kepalanya yang terlihat dari balik pintu kamar mandi.

__ADS_1


“Tunggu 2 bulan lagi. Bukan cuma menunggu, aku akan memandikanmu seperti bayi besar.”


“Jadi tambah nggak sabar,” Bastian menaik turunkan alisnya sambil tertawa.


Chelsea hanya mencibir dan memberi isyarat supaya Bastian segera masuk ke kamar mandi.


Chelsea berkelilig melihat-lihat kamar Bastian. Pertama kalinya Chlesea masuk ke dalam kamar cowok selain Reno.


Kamar Bastian lebih rapi dan warna kamar didominasi warna putih abu-abu dengan wangi maskulin yang sangat tajam.


Chelsea tersenyum saat melihat foto mereka berdua terpampang di atas meja kerja Bastian, foto yang diambil menggunakan handphone.


Chelsea kembali tersenyum saat melihat satu lemari kaca yang memajang aneka mainan anak laki, didominasi robot dan mobil-mobilan. Di lemari lainnya, terpanjang koleksi buku-buku bersampul tebal yang ditulis dalam Bahasa Inggris.


“Kamu lagi ngapain ?” Chelsea yang sedang asyik melihat-lihat tidak sadar kalau Bastian sudah keluar dari kamar mandi dan sekarang memelukny dari belakang.


”Ternyata di balik penampilanmu yang gagah dan maskulin ada sisi anak-anak yang begitu kuat di dalam dirimu,” ujar Chelsea tertawa pelan sambil memegang tangan Sebastian yang dingin.


“Semuanya akan aku wariskan untuk anak-anak kita kelak,” bisik Bastian sambil menciumi leher Chelsea membuat gadis itu menggeliat kegelian.


“Bas, jangan begini,” Chelsea berusaha melepaskan pelukan Bastian.


“Kenapa, kamu takut tergoda ?” tanya Bastian sambil melepaskan pelukannya.


”Bukan begitu,” Chelsea berbalik dan matanya langsung melotot melihat pria di depannya hanya menggunakan handuk sebatas pinggang.


”Kenapa ?” tanya Bastian tertawa melihat ekspresi Chelsea yang langsung merona dan tersipu.


“Tentu saja belum,” sahut Chelsea cepat dan menjauh dari Bastian yang masih tertawa-tawa.


“Yakin ?” Bastian menahan lengan Chelsea dan menarik gadis itu hingga terjembab ke dalam pelukannya.


Chelsea mengangguk dengan posisi kepalanya menempel di dada Bastian yang terbuka.


Bastian melerai pelukannya dan mengangkat dagu Chelsea yang menunduk.


“Aku mau minta kado spesial darimu,” ujar Bastian lembut sambil tersenyum.


“Kado apa ?” Chelsea menautkan alisnya. “Jangan minta yang aneh-aneh.”


“Maksud kamu ?” Bastian mengernyit sengaja ingin membuat Chelsea bertambah gugup.


“Bas,” Chelsea melotot untuk meredakan rasa canggungnya.


Wajah Bastian semakin mendekat dan Chelsea bisa menduga apa yang terjadi selanjutnya. Masih ada ganjalan yang ingin ditanyakannya hingga Chelsea menahan dada Bastian.


“Bas, ada yang ingin aku tanyakan padamu.”


Bastian menjauhkan wajahnya dan menatap Chelsea dengan dahi berkerut.


“Berpakaianlah, aku menunggumu di sana,” ujar Chelsea lembut sambil menunjuk ke arah sofa.


Bastian menurut dan melepaskan Chelsea yang berjalan menuju sofa.

__ADS_1


“Kamu mau tanya apa ?” tanya Bastian duduk di samping Chelsea setelah berpakaian lengkap.


“Sebelum menikah denganmu, aku ingin tahu apakah hubunganmu dengan Sena sudah lebih dari sekedar ciuman ? Maksudku apakah kalian pernah tinggal bersama ?”


“Sea, perlukah kamu menanyakan itu ?”


“Maaf Bas, aku punya 2 pengalaman buruk dengan pria dan selama ini aku sangat menjaga kehormatanku sendiri. Aku ingin mengenalmu sebelum menjadi suamiku dan memberikan milikku yang paling berharga.”


“Aku memang sudah tidak perjaka, Sea, apakah kamu akan membatalkan pernikahan kita kalau aku bilang kamu bukanlah perempuan pertama yang pernah tidur denganku ?” nada bicara Bastian terdengar kesal.


“Bas, ceritamu tidak akan membuat pernikahan batal kecuali Sena tiba-tiba datang menemui kamu dan mengatakan punya anak denganmu,” ujar Chelsea tertawa pelan.


“Bagaimana mungkin kami punya….”


“Itu sebabnya aku ingin tahu sejauh mana hubunganmu dengan Sena atau perempuan lain yang pernah kamu…..”


Chelsea sedikit canggung untuk meneruskan kalimatnya.


“Yakin hanya itu alasanmu ?” mata Bastian memicing, ingin memastikan hati Chelsea yang langsung mengangguk penuh keyakinan.


“Apakah kamu dan Sena sudah lama hidup bersama ?” Chelsea merubah pertanyaannya.


“Sea…”


Bastian tidak melanjutkan ucapannya karena pintu kamarnya diketuk.


“Bukakan pintunya dulu, Bas. Mungkin ada hal penting.”


Dengan malas Bastian berjalan ke nakas dan mengambil kunci kamar yang sempat ditaruhnya di sana. Chelsea ikut bangun dan langsung menuju pintu, berdiri di samping Bastian.


“Ada tamu mencari Tuan muda.”


“Tamu ? Siapa ?”


Chelsea menoleh ke arah lain dan berpikir kalau Mama Mitha sudah siap dengan kejutan mereka. Namun matanya langsung membola begitu mendengar kalimat bibik selanjutnya.


“Ada Non Sena datang bersama Tuan dan Nyonya Haris.”


Bastian mengangguk dan memberi isyarat pada bibik untuk turun duluan. Ia langsung menoleh menatap Chelsea yang menatapnya dengan tatapan penuh tanya.


“Aku tidak tahu mau apa mereka kemari, Sea.”


“Kalau begitu lebih baik kamu turun dan mencari tahu alasannya.”


“Temani aku”, Bastian langsung menggandeng Chelsea keluar dari kamarnya.


“Tapi Bas…”


“Kamu calon istriku, Sea. Sena adalah masa laluku dan kamu masa depanku. Aku tidak ingin ada rahasia di antara kita sekalian aku ingin menunjukkan padanya kalau aku sudah punya calon istri.”


Chelsea hanya menurut dan membiarkan Bastian membawanya ke ruang tamu, menemui wanita yang baru saja ditanyakan oleh Chelsea.


Ada firasat buruk di hatinya, namun Chelsea segera menepis perasaan itu. Ia berpikir kalau traumanya begitu dalam hingga mudah curiga dengan wanita-wanita yang dekat dengan tunangannya.

__ADS_1


__ADS_2