
Ternyata apa yang dikatakan Bastian benar-benar terjadi. 3 hari setelah hasil tes DNA keluar, orangtua Bastian datang menemani Papi dan Mami.
“Jadi Bastian sudah punya anak dari perempuan lain ? Apa sebagai orangtua anda yakin tidak tahu sama sekali ? Kenapa juga perempuan itu baru datang di saat Bastian mau menikah dengan putri saya ?”
“Sebetulnya Sena tidak ingin memberitahu kami terutama pada Bastian soal keberadaan Jeremi, tapi saat ini kondisinya sedang sakit parah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya. Sena sudah melakukan tes bersama keluarganya dan tidak ada satu pun yang cocok,” ujar Papa Rudi menjelaskan.
Wajah Papi Agam terlihat kesal, meskipun 2 hari lalu Bastian datang sendiri menemuinya lalu malamnya Chelsea menceritakan semuanya tentang Sena, Jeremi dan keinginan Bastian.
“Apa karena Bastian akan menjadi pendonor, masalah pernikahannya dengan Chelsea perlu dibatalkan ?”
“Kita sama-sama orangtua yang peduli dan sayang pada anak, tentu Tuan Agam mengerti kalau Jeremi tidak hanya membutuhkan donor dari Bastian tapi juga kasih sayang dari orangtua kandungnya. Selain itu kami tidak ingin kehidupan rumah tangga Chelsea dan Bastian terganggu jika suatu saat Jeremi membutuhkan ayahnya.”
“Jadi kalian akan menikahkan Bastian dan perempuan itu ?”
Tatapan mata Papi Agam terlihat sinis sekaligus kecewa karena merasa diremehkan. Kedua orangtua Bastian mengambil keputusan ini secara sepihak, seolah menganggap Chelsea perempuan gampangan.
“Apa masalah ini sudah dibicarakan dengan Bastian dan Chelsea ? Anda pikir keputusan yang diambil secara sepihak ini tidak akan melukai hati putri kami ?”
“Kalau Papi merestui, saya ingin tetap menikah dengan Chelsea dan menjadi pendonor untuk anak itu. Saya tidak akan melepaskan tanggungjawab sebagai ayah kandungnya tanpa perlu menikah dengan ibunya. Sena hanya masa lalu bagi saya dan Chelsea adalah wanita yang saya pilih untuk menemani menghabiskan sisa hidup saya,” tegas Bastian sambil menatap Papi Agam.
“Bastian,” tegur Mama Mitha.
”Apa Mama lupa bagaimana terpukulnya aku dengan kejadian Sena dan Mike ?” Bastian menatap Mama Mitha dengan penuh harap wanita itu akan mengerti perasaan anaknya.
“Masalah keinginanmu itu silakan dibicarakan di rumah sebagai keluarga,” ujar Papi Agam yang tidak ingin mendengar perdebatan keluarga Bastian.
“Terus terang, apa yang anda lakukan saat ini sudah menyinggung keluarga kami meski alasannya untuk kebaikan putri kami sendiri. Kami akan membicarakan dulu dengan Chelsea karena dia sudah bukan anak-anak lagi yang tugasnya hanya menjalankan perintah orangtua. Apalagi masalah pernikahan adalah soal hati, jangan sampai terjadi setelah menikah, Bastian tetap mengganggu Chelsea dan membuatnya tidak tenang.”
“Tapi Jeremi membutuhkan donor secepat mungkin,” ujar Mama Mitha dengan wajah sendu.
“Kami mengerti kekhawatiran anda akan keselamatan anak itu. Bukankah tadi Bastian sudah menegaskan kalau dia bersedia menjadi pendonor tapi menolak menikahi ibu anak itu ? Jadi tidak masalah untuk menjalankan transplantasi tanpa harus menikahkan Bastian cepat-cepat kan ?” tanya Papi Agam dengan emosi.
“Tolong dimengerti Mbak,” Mami Nina ikutan bicara.
“Pernikahan Chelsea dan Bastian sudah di depan mata, persiapannya juga hampir selesai hanya tinggal masalah undangan. Mungkin Mbak dan Mas tidak pernah memiliki anak perempuan jadi agak sulit mengerti bagaimana perasaan anak kami.”
“Maaf Mbak Nina, bukan maksud kami begitu,” sahut Papa Rudi yang merasa tidak enak hati.
“Kalau begitu biarkan kami membicarakan dulu masalah ini dengan Chelsea dan jangan terlalu mendesak putri kami,” ujar Mami Nina.
Merasa suasana sudah tidak nyaman, orangtua Bastian berpamitan pulang tanpa mendapat jawaban yang pasti dari pihak Chelsea.
Bastian menyalami Papi Agam sambil mengucapkan terima kasih karena masih memberikan kesempatan untuknya, tentu saja tanpa sepengetahuan orangtuanya.
*****
5 hari berlalu sejak kedatangan orangtua Bastian ke rumah, keduanya tidak diijinkan bertemu oleh Papi Agam tapi tidak ada larangan untuk berkomunikasi lewat handphone.
Chelsea sudah memutuskan menerima pinangan Sebastian dengan segala konsekuensinya berkaitan dengan Jeremi dan kemungkinan penolakan dari keluarga Bastian yang lebih memilih Sena untuk menjadi istri putra mereka.
“Sea, Bastian di bawah, ingin bertemu denganmu.”
Chelsea yang baru saja selesai mandi tampak kaget saat melihat Mami Nina masuk ke kamarnya. Sejak Chelsea kembali dari Amerika, Mami jarang mendatangi kamar Chelsea.
“Jadi kamu sudah mantap dengan keputusanmu ?” tanya Mami sambil membelai rambut Chelsea yang masih basah.
“Apa Papi dan Mami keberatan ?”
“Papi Mami mendukung keputusanmu, Sea. Papi melihat kesungguhan Bastian meski sedih karena akhirnya kamu dapat jodoh pria yang sudah punya anak.”
__ADS_1
“Sepertinya takdir Sea nggak jauh-jauh dari pria yang punya masalah dengan perempuan, Mi,” sahut Chelsea terkekeh sambil mengandeng lengan Mami menuruni tangga.
“Asal jangan suami orang aja,” ujar Mami sambil ikut tertawa.
Chelsea langsung ke teras belakang karena Bastian menunggunya di sana.
“Sea,” Bastian beranjak bangun dan langsung memeluk gadis yang dirindukannya selama 5 hari ini.
Chelsea sempat kaget tapi akhirnya membalas pelukan Bastian dan menikmati harum tubuh pria itu. Sama seperti Bastian, ia pun menahan rindu untuk bertemu langsung dengan tunangannya.
“Wangi banget, sih,” Bastian menciumi rambut, wajah dan leher Chelsea membuat gadis itu terkikik kegelian.
“Bas, jangan begini. Geli,” Chelsea mencoba menjauhkan Bastian yang masih betah memeluknya.
“Biarkan aku memelukmu begini, Sea. Aku kangen banget sampai rasanya hatiku ingin meledak.”
“Lebay,” Chelsea terkekeh namun mengeratkan pelukannya juga.
Hingga 5 menit keduanya terdiam dalam posisi saling berpelukan tanpa bicara apapun.
“Bagaimana hasil pemeriksaannya ?” tanya Chelsea yang masih menyandarkan kepalanya di dada Bastian.
“Cocok dan operasinya akan dilaksanakan hari Senin minggu depan,” sahut Bastian sambil melerai pelukannya.
“Selama aku belum sadar, jangan tinggalkan aku sendirian. Aku nggak mau begitu bangun tiba-tina statusku sudah suaminya Sena.”
“Kamu nih aneh-aneh aja, Bas,” ujar Chelsea sambil tertawa.
“Mana bisa melangsungkan pernikahan dengan kondisi salah satu pengantinnya dalam keadaan tidak sadarkan diri.”
“Siapa tahu aku dibuat amnesia dan mereka membuat ingatanku menganggap Sena adalah istriku.”
“Apa sebegitu takutnya kalau Papa dan Mama akan membuatmu menjadi suami Sena ?”
Chelsea mengerutkan dahi saat Bastian mengangguk dengan wajah serius.
“Besok aku akan berangkat ke Medan dan kembali hari Sabtu. Seharusnya Kak Bimo yang pergi, tapi pusing dengan kondisi Mama yang masih saja berusaha memintaku menikah dengan Sena, jadi aku memilih pergi sambil menenangkan diri.”
”Bas, masalah Mama dan Papa harus dihadapi karena tidak akan selesai kalau kamu memilih pergi menghindarinya.”
“Aku tahu, Sea,” Bastian menggenggam jemari Chelsea dengan erat. “Aku hanya ingin menenangkan diri sebelum menjalani operasi di hari Senin nanti. 5 hari ini aku sudah cukup stres karena tidak bisa menemuimu langsung belum lagi menjalani berbagai tes untuk menjadi pendonor.”
“Terus gimana caranya bisa membuat Papi kasih kamu datang kemari untuk menemui aku.”
“Sebagai sesama pria, Papi pasti mengerti bagaimana perasaanku sama anaknya yang bikin aku susah tidur.”
“Gombal deh,” Chelsea mencibir lalu mengerucutkan bibirnya membuat Bastian tertawa dan mencuri kecupan di bibir Chelsea.
“Terima kasih sudah menerima aku apa adanya, Sea. Aku bahagia banget dan hidup ini jadi indah karena membayangkan akan menikah dan menghabiskan sisa hidupku denganmu.”
Chelsea menggamit lengan Bastian dan menyandarkan di bahu kekar pria itu.
“Awas kamu CLBK sama Sena, ya !” suara Chelsea yang galak membuat mata Bastian membola, menatap wajah Chelsea yang mendongak hingga posisi keduanya sangat dekat.
“Galak banget nih calon istriku,” ujar Bastian sambil terkekeh dan mencubit pipi Chelsea.
“Akan aku buat pusakamu tidak berguna kalau berani selingkuh atau CLBK dengan mantanmu !”
“Nggak akan sayang karena aku ingin memanfaatkan kesaktian pusakaku untuk memiliki anak sebanyak mungkin denganmu.”
__ADS_1
“Jangan terlalu banyak nanti susah mencari waktu berduaan,” sahut Chelsea sambil mengerjapkan matanya.
Bastian tidak mampu lagi menahan godaan wajah gadis cantik di depannya. Tangan Bastisn terulur dan memegang pipi Chelsea lalu mencium bibir gadis itu.
Ciuman lembut yang penuh kehangatan dan mengalirkan desiran aneh di seluruh tubuh Chelsea sampai akhirnya terlepas karena Bastian melihat Chelsea seperti kehabisan nafas.
“Bernafas biasa, Sea,” ujar Bastian sambil tertawa.
“Aku belum biasa, memangnya kamu yang sudah berpengalaman ?” sahut Chelsea sambil cemberut.
“Katanya ciumanku bukan yang pertama. Memangnya Reno nggak pernah ngajarin kamu ?”
“Ngapain bawa-bawa nama orang, lagian aku bukan cewek segampang itu.”
Bastian tergelak dan memeluk Chelsea yang masih cemberut.
“Rasanya aku malas pergi kalau sebahagia ini di samping kamu.”
“Lagian kenapa pakai acara gantiin Kak Bimo segala ?”
“Jadi kamu keberatan dan masih mau dekat sama aku ? Gimana kalau aku nginep aja dan bobo sama kamu ?”
“Mau ditendang sama Papi dan dibatalkan persetujuan nikahnya ?”
Bastian tertawa dan mengangguk-anggukan kepala. Ia melihat penunjuk waktu di layar handphonenya. Terlalu bahagia di samping Chelsea sampai tidak sadar waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.
Chelsea agak bingung karena Papi Agam tidak bawel menyuruh Bastian pulang.
“”Aku pulang dulu, Sayang. Besok pesawatku jam 7 pagi berarti harus sampai di bandara sekitar setengah enam.”
“Banyak istirahat dan tenangkan pikiranmu supaya operasi hari Senin bisa berjalan lancar.”
Bastian mengangguk dan mencium kepala Chelsea. Begitu sampai di teras, Bastian kembali memeluk Chelsea dengan erat.
“Berat banget rasanya mau pergi, tapi udah nggak mungkin membatalkan dan dikembalikan ke Kak Bimo.”
Chelsea gantian tertawa melihat wajah Bastian yang ditekuk berjalan ke mobilnya yang terparkir di depan teras.
“Bastian !”
Bastian yang baru saja membuka pintu mobil menoleh dan terkejut saat Chelsea menghambur ke dalam pelukannya.
Bastian tersenyum dan membalas pelukan Chelsea. Baru kali ini gadis itu berinisiatif memeluknya terlebih dahulu.
“Jangan takut atau cemas lagi karena aku nggak akan kemana-mana. Aku akan selalu berada di sini, menunggu dan akan menemanimu kapan pun kamu membutuhkan aku.”
Chelsea mengusap wajah Bastian sambil tersenyum. Bastian mengangguk dan balas tersenyum lalu menundukkan kepala, kembali mencium bibir Chelsea.
“Kalau saja keadaan tidak lagi rumit, aku akan minta ijin Papi untuk mengajakmu menemaniku.”
“Udah pulang sana, nanti kamu kesiangan bangun dan telat ke bandara.”
“Biar aja telat jadi ada alasan untuk tidak pergi,” Bastian tertawa sambil masuk ke dalam mobilnya.
“Jangan nakal ! Kerja yang benar kalau mau cepat-cepat menikah sama aku.”
“Iya calon istri, aku nggak akan biarkan hidupmu menderita saat bersamaku.”
Chelsea tertawa dan melambaikan tangannya, memberi isyarat supaya Bastian melajukan mobilnya karena waktu terus bergerak dan Chelsea tidak ingin Bastian kelelahan bekerja karena kurang tidur.
__ADS_1
Chelsea tersenyum sambil menatap mobil Bastian yang perlahan meninggalkan rumah keluarga Chelsea.