Takdir Untukku

Takdir Untukku
Baby Rachel


__ADS_3

“Reno, bangun ! Perut aku mulasnya nggak mau stop.”


Chelsea mengguncang bahu Reno yang masih tertidur pulas. Sudah 30 menit Chelsea merasakan perutnya mulas namun tidak tega membangunkan Reno, apalagi perkiraan dokter masih minggu depan.


Reno langsung membuka mata dan duduk di atas tempat tidur dengan kondisi masih setengah sadar.


“Udah coba ke kamar mandi, Sea ?”


“Mules bukan mau bab Reno, tapi mau melahirkan.”


Mata Reno langsung membola. Ia bergegas turun dan pergi ke kamar mandi, membasuh wajah dan langsung mengganti baju.


Koper yang berisi perlengkapan Chelsea dan baby sudah siap di dekat pintu dan Chelsea sendiri sudah berpakaian lengkap.


Ternyata sampai di bawah, bukan hanya papi dan mami yang sudah menunggu, papa dan mama ikut datang dan baru saja masuk dari pintu utama.


Rupanya sebelum membangunkan Reno, Chelsea sempat menghubungi mami yang langsung menghubungi mama.


“Biar disetiri sopir, Ren, kamu temani Sea aja.”


Reno menurut dan menuntun istrinya yang sesekali meringis menahan sakit.


“Kenapa yang anter jadi sekampung begini ?” Chelsea masih sempat bercanda dengan orangtua dan mertuanya yang tidak mau ditinggal di rumah.


“Cucu pertama, Sea, harap mengerti,” sahut Papa Robert melirik sahabatnya yang duduk di barisan kedua sementara papa sendiri duduk paling depan sebelah sopir.


“Jangan lupa habis ini buatkan satu cucu laki-laki buat papi,” celetuk papi Agam dengan santai.


“Reno sih oke-oke aja, Pi,” Reno senyum-senyum menatap Chelsea sambil menaikturunkan alisnya.


“Yang ini aja belum melek melihat dunia, Reno !” geram Chelsea dengan mata melotot. Tangannya meremas lengan Reno untuk mengurangi rasa sakitnya.


“Aawww Sea, iya aku nggak akan maksa, tapi jangan dicubit kayak begini dong. Sakit, Sea. KDRT jadinya kalau begini.”


“KDRT darimana Reno ?” Chelsea menggeram kesal, peluh mulai keluar dari sela-sela rambutnya.


“Aku nih lagi nahan mulesnya. Kalau nggak berbagi sama kamu terus sama siapa ? Ini kan anak kamu juga, jangan tahu sebar benihnya doang, giliran panen nggak mau merasakan susahnya.”


Papi Agam dan papa Robert menahan tawa mereka karena pengalaman Reno pernah menjadi pengalaman mereka juga.


“Iya, maaf Sea.”


“Usap punggung Sea, Reno ! Katanya ikut kelas senam ibu hamil, masa belum setahun udah lupa bagaimana cara mengurangi rasa sakit istri !” omel mama Siska yang gemas karena putranya diam saja, hanya membiarkan Chelsea mencubiti lengannya menahan mulas.

__ADS_1


“Gugup, Ma. Gugup. Ini kan pengalaman pertama Reno, jadi lupa deh semua yang dipelajari di kelas senam.”


“Giliran buatnya nggak pernah gugup,” ejek papi Agam sambil mencibir.


“Kalau itu panggilan alam, mana bisa gugup terus-terusan. Awalnya doang, sebentar aja, habis itu fokus merem melek,” sahut Reno dengan wajah bangga membalas ledekan mertuanya.


Mami Nina memutar bola mata sambil geleng-geleng kepala. Sudah takdir kalau suaminya memang senang berdebat dengan menantunya yang satu ini.


Sampai di rumah sakit, niat Reno ingin terlihat gagah menggendong istrinya ke atas brankar seperti di film-film tapi mama Siska dan mami Nina melarangnya dan meminta Chlesea berjalan sendiri.


“Repot kalau kamu mendadak kram dan jatuh berduaan sama Sea, bukannya keren malah malu-maluin,” ujar mama Siska.


Reno cemberut karena kekuatannya diragukan oleh mamanya sendiri. Apa baby yang ada di perut Chelsea belum bisa membuktikan kalau Reno masih cukup tangguh dan kuat untuk menggendong istrinya ?


Semuanya menunggu di depan ruang persiapan dengan gelisah. Seorang perawat mengabarksn kalau Chelsea tidak akan dibawa keluar lagi karena sudah pembukaan 6. Dokter Wanda memintanya tetap menunggu di ruang persiapan.


”Kenapa ?” tanya mami Nina saat melihat menantunya meringis.


“Aku kok jadi ikutan mules, Mi.”


“Jangan lebay, jangan sok kontak batin sama istri. Kamu mulas karena mikirin bayar biaya rumah sakit kalau sampai Chelsea harus operasi caesar,” ledek papi Agam.


“Papi !” Mami Nina memukul bahu suaminya yang mulutnya selalu gatal saat berada dekat Reno.


“Tolong bilang sama dokter kalau aku mau menemani Sea di ruang bersalin,” pesan Reno pada siapapun yang mendengar ucapannya.


Tidak sampai 5 menit ternyata Reno sudah kembali lagi. Benar kata papi Agam, mulesnya bukan karena mau ke belakang, tapi gelisah menunggu Chelsea yang mau melahirkan.


“Tuan Reno, anda diminta masuk.”


Reno mengangguk dan degup jantungnya semakin berdetak cepat. Antara takut dan ingin menemani Chelsea, Reno hanya bisa berdoa dan berharap dirinya bisa kuat mendampingi Chelsea yang akan melakukan persalinan normal.


“Kamu yakin mau fsn sanggup menemani aku, Reno ?”


Sebelum gerakan tubuhnya melawan keinginan otaknya, Reno mengangguk cepat-cepat.


“Terus kenapa muka kamu pucat begitu.”


“Namanya juga pengalaman pertama, Sea, nervous lah, apalagi melihat jejeran gunting dan pisau bedah begitu,” Reno melirik dan menunjuk satu meja dorong yang sudah disiapkan di dekat kaki Chelsea.


“Kalau begitu kamu tunggu di luar aja, aku bisa sendiri.”


“Sea jangan begitu dong, aku kan juga mau jadi suami keren yang mendampingi istrinya melahirkan.”

__ADS_1


“Hais Reno…”


Belum sempat Chelsea menyelesaikan ucapannya, dokter Wanda masuk bersama timnya.


“Aku akan tetap di sini menemanimu !” tegas Reno dengan tatapan terpaku pada dokter yang baru saja masuk bersama dokter Wanda.


Chelsea meringis tapi masih sempat mengikuti gerakan mata Reno dan ia langsung geleng-geleng kepala.


”Dasar posesif ! Lagi sakit begini mana aku mikir mau selingkuh sama dokter tampan itu,” gerutu Chelsea masih sambil meringis.


Proses kelahiran baby Anastasia Rachel Juanda berjalan lancar, malah acara Reno yang hampir pingsan membuat repot beberapa perawat.


“Sudah aku bilang kalau nggak kuat jangan ikut temenin, untung aja kamu nggak pingsan beneran. Bisa-bisa jadi bahan ejekan papi seumur hidup,” gerutu Chelsea saat suaminya sudah bisa berdiri tegak di atas kakinya sendiri meski wajahnya masih pucat.


”Kamu tega laporan sama papi kalau aku hampir pingsan ?” tanya Reno dengan wajah memelas.


“Nggak aku cerita sepertinya papi sudah bisa menduga melihat muka kamu pucat begitu. Cuci muka dulu sebelum keluar, biar lebih segar.”


Reno mengangguk dan berniat meninggalkan Chelsea yang sedang melewati proses akhir, namun Reno urung melangkah saat dokter tampan itu mendekat ke arah mereka.


“Bayinya cantik sepertinya maminya,” dokter itu hendak memberikan baby Rachel ke dalam pelukan Chelsea.


”Saya mau gendong duluan,” Reno mengulurkan tangan memberi isyarat supaya dokter itu menyerahkan baby Rachel padanya bukan pada Gaby.


“Bayi ini akan diberikan ASI pertamanya.”


“Apa ? Di sini ? Nggak ada ! Tunggu sampa istri saya di bawa ke kamar aja.”


Dokter itu tersenyum dan mengangguk-angguk lalu berpamitan pada Chelsea dan meninggalkan ruangan persalinan.


“Kamu bukan suami pertama yang cemburu sama dokter Steven,” ujar dokter Wanda yang sudah selesai dengan tugasnya.


“Lagian punya tampang cakep begitu bukannya jadi foto model atau bintang film malah jadi dokter, dokter anak pula, calon pebinor emak-emak muda,” gerutu Reno dengan wajah kesal.


“Reno !” Chelsea mencubit lengan suaminya. “Jangan bikin malu ! Dokter Steven sudah menikah dan punya anak. Dia itu penilik rumah sakit ini juga.”


“Terus ? Pokoknya dia nggak boleh jadi dokternya Rachel.”


Dokter Wanda yang masih tertawa menghampiri pasangan orangtua baru ini untuk memberi selamat.


“Informssi aja kalau dokter Steven itu duren mateng yang lagi mencari ibu pengganti untuk anaknya,” ledek dokter Wanda sambil terkekeh.


“Tuh kan !” Reno langsung melotot menatap istrinya.

__ADS_1


Chelsea memutar bola matanya, menggerutu kesal karena suaminya tambah posesif padahal sudah punya anak 1.


__ADS_2