
“Terima kasih atas hari ini,” ujar Chelsea saat mobil Reno berhenti di depan gerbang rumahnya.
“Terima kasih juga karena kamu memberi aku kesempatan untuk menemanimu hari ini. Semoga semua klien yang kamu temui hari ini bisa tembus,” sahut Reno sambil tersenyum.
Chelsea hanya tersenyum sekilas dan turun dari mobil, langsung berjalan menuju gerbang tanpa berniat menunggu Reno berbelok ke rumahnya.
“Sayang.”
Chelsea menghentikan langkah dan langsung membalikkan badan saat mendengar suara yang sudah familiar di telinganya.
“Maafkan aku.”
Bastian bergegas mendekati Chelsea dan langsung memeluk tunangannya tanpa mempedulikan Reno yang masih berada di dalam mobilnya.
“Maaf karena hari ini aku tidak sempat membalas pesan apalagi menghubungimi. Seharian aku menemani Papa mengajak investor dari Jepang berkeliling pabrik, makan siang dan membahas pekerjaan. Aku lupa menghidupkan mode getar di handphone jadi tidak mendengar notifikasi apapun. Maaf.”
Bastian merenggangkan pelukannya dan mencium kening Chelsea, membuat Reno menghela nafas dan langsung membelokkan mobil masuk ke dalam rumahnya.
“Yakin sibuk dengan pekerjaan dan bukan sedang berselingkuh di belakangku, kan ?” Chelsea mendongak dan matanya memicing menatap Bastian yang malah tertawa.
“Curiga atau cemburu ? Apa perlu aku minta papa untuk melakukan klarifikasi denganmu ?”
“Tidak perlu bawa-bawa orang tua,” ketus Chelsea. “Terus sekarang mau ngapain kemari ?”
“Memastikan kalau calon istriku tidak CLBK dengan cinta pertamanya,” sahut Bastian sambil kembali tertawa pelan.
“Itu namanya menuduh,” Chelsea melepaskan pelukannya. “Sekarang kamu sudah melihat kalau aku baik-baik saja, jadi pulanglah sekarang karena sudah malam. Jadwal hari ini cukup membuatmu capek, jadi besok lagi ketemunya.”
“Tapi aku masih kangen,” tolak Bastian dengan nada merengek seperti anak kecil.
“Salah sendiri kerja sampai lupa waktu bahkan tidak bisa meluangkan waktu hanya 3 menit untuk membalas pesanku. Jadi hukumannya cukup bertemu sampai di sini, besok ketemu lagi.”
“Sea…”
“Pulanglah Bas, aku juga capek dan ngantuk, akhirnya nanti kita malah berantem kalau membahas masalah yang nggak penting.”
“Oke aku pulang, tapi besok janji makan malam denganku, nggak boleh nolak. Hari ini kamu sudah membuatku sangat cemburu karena menghabiskan tigaperempat waktumu dengan Reno.”
“Oke besok konfirmasi lagi. Otakku terlalu lelah untuk mengingat jadwalku besok.”
Bastian tertawa dan mengacak rambut Chela lalu kembali mencium keninh gadis itu cukup lama.
“Kamu beneran nggak merasakan apapun saat bersama Reno hari ini ?” Bastian memastikan sebelum kembali ke mobilnya.
“Ada sedikit perasaan canggung dan aneh karena harus dekat-dekat dengan Reno, tapi semua itu tidak membuat aku ingin kembali pada Reno,” sahut Chelsea yakin.
__ADS_1
“Terima kasih atas kejujuranmu, sayang. Aku pulang dulu,” Bastian tersenyum sambil membelai kepala Chelsea lalu mencium pipinya sekilas.
“Mandi dan langsung tidur,” pesan Bastian sambil masuk ke dalam mobilnya.
Malam ini Bastian tidak membawa mobil sendiri tapi diantar sopir.
“Kamu masuk duluan,” pinta Bastian sebelum mobilnya meninggalkan rumah Chelsea.
Gadis itu mengangguk dan berjalan menuju gerbang, Chelsea sempat melambaikan tangan sebelum mobil yang membawa Bastian meninggalkan rumahnya.
Di seberang rumah, dari jendela lantai 2 di kamarnya, Reno melihat semua yang terjadi dengan perasaan yang semakin sakit dan berantakan. Namun apa mau dikata, ini semua salahnya sendiri karena pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk mencintai Chelsea.
*****
Chelsea melambaikan tangannya pada seorang pria tampan yang baru saja masuk ke dalam kafe.
Saat makan malam dengan Bastian semalam, entah karena kontak batin atau berjodoh pria tampan ini menghubunginya, memberi kabar baik setelah Chelsea mendapat berita baik dari pihak wanita sebelumnya.
“Hai Sea,” sapa pria tampan itu tersenyum namun wajahnya berubah tegang dan sedikit canggung saat bertatapan dengan wanita yang duduk di sebelah Chelsea.
Pria itu hanya tersenyum tipis dan menarik bangku yang ada di hadapan Chelsea.
“Terima kasih karena kalian berdua sudah mempertimbangkan permintaaku dan bersedia bertemu hari ini. Tugasku hanya sampai di sini, sisanya kalian berdua yang harus memutuskan. Bicarakan baik-baik, jangan hanya mengandalkan emosi.”
“Terus kamu mau pergi begitu aja ?” tanya Revan dengan alis menaut.
Chelsea menarik nafas lega saat berdiri di luar pintu kafe. Setidaknya pasangan siri itu mencoba untuk berdamai dengan hati mereka meski tidak tahu bagaimana ujungnya nanti.
“WaSea bilang…” keduanya secara bersamaan mengucapkan dua kata yang sama hingga mereka saling bertatapan dengan mata membola.
“Kamu dulu,” kembali keduanya mengucapkan kata yang sama hingga akhirnya Dita memilih diam dan meraih gelasnya, meneguk sedikit minumannya.
“Apa kabar Radit ?” Revan akhirnya bertanya duluan.
“Baik dan sehat,” sahut Dita sambil menatap Revan sekilas.
“Terima kasih karena kamu sudah mau menemui aku hari ini,” ujar Revan dengan suara pelan namun tidak ada nada terpaksa di dalam suaranya.
“Chelsea bilang kalau kamu mencariku karena kedua orangtuamu ingin bertemu dengan Radit,” Dita memberanikan diri menatap Revan.
“Bukan hanya ingin bertemu dengan Radit, tapi bertemu dengan mamanya Radit juga.”
“Bertemu untuk mengambil alih hak asuh Radit ?” nada suara Dita terdengar agak sinis.
Revan terdiam dan meraih gelas minuman yang baru saja diantar oleh pelayan.
__ADS_1
“Orangtuaku tidak sejahat itu, mereka malah memintaku untuk menikahimu.”
“Memaksamu maksudnya ?” sindir Dita. “Kedua orangtuamu pasti tahu kenapa sampai saat ini Radit tidak pernah dikenalkan sebagai anakmu.”
“Aku ingin kita menikah resmi secara hukum dan agama,” ujar Revan tanpa ragu membuat Dita terkejut.
“Kenapa ? Papamu akan membatalkan semua janjinya dan membuatmu jadi pria miskin kalau sampai kamu tidak menikahi aku dan bertanggungjawab atas Radit ?”
”Saat ini aku belum berani bicara cinta padamu, tapi aku ingin membuat hidupku lebih baik dan memulai semuanya dari nol bersamamu dan Radit.
Chelsea membuat egoku langsung jatuh saat ia bilang kalau aku bukanlah seorang lelaki yang baik karena kamu bukanlah wanita pertama dan satu-satunya dalam hidupku tapi berharap mendapat istri yang masih suci dan polos.”
“Setidaknya ego mu masih mau mengakuinya,” sindir Dita.
“Menikahlah denganku Dita dan berikan aku waktu untuk belajar mencintaimu. Aku menyayangi Radit dan tidak pernah menyesali kalau dia adalah darah dagingku. Yang sempat membuatku menyesal adalah perbuatanmu yang menjebak aku dan menjadikan Radit sebagai alasan untuk mengikatku.”
Revan menatap Dita yang malah membuang muka ke lain arah karena merasa tidak enak mendengar ucapan Revan yang memang betul.
“Kamu yakin kalau keputusanmu ini bukan demi harta dan kedudukan seperti saat bertunangan dengan Chelsea ?”
”Aku baru mau bilang kalau ada baiknya sebelum memutuskan, kamu harus tahu kalau ada kemungkinan aku akan menjadi pria miskin dan sebagai istri, kamu harus bisa hidup sesuai dengan gaji suamimu.”
“Alasan aku mengejarmu bukan sekedar kamu anak orang kaya, tapi karena aku menyukaimu. Aku suka dengan pembawaanmu meski terlihat seperti casanova karena suka membawa perempuan yang berbeda setiap datang ke club.”
“Jadi faktor uang menjadi salah satu alasanmu juga ?” tanya Revan sambil tertawa mengejek.
”Materi bukan alasan yang utama,” protes Dita. “Tapi karena kamu cakep, supel dan membuatku penasaran apa yang kamu lihat dari perempuan yang kamu bawa ke club karena mereka berbeda setiap waktu.
Banyak pria berusaha merayuku karena bentuk fisik tapi kamu terlihat masa bodoh dan tidak mudah tergoda dengan tubuh wanita.”
“Aku tertarik karena mereka cantik dari segi fisik dan agresif menawarkan diri padaku. Kata orang mana ada kucing yang bisa tahan kalau disodorkan ikan,” sahut Revan sambil terkekeh.
“Meski banyak orang bilang tubuhmu seksi tapi rppenampilanmu sedikit tertutup, hanya rok pendek yang membuat kamu seperti menggoda pria. Bagiku yang terlihat mata lebih menggoda.”
“Dan nyatanya kamu tidak pernah menemukan kepuasan dalam diri mereka kan,” ejek Dita.
“Karena aku tidak pernah fokus mencarinya,” tukas Revan dengan wajah sombongnya.
“Aku tidak menyesal dengan keputusanku mempertahankan Radit dan membesarkannya karena setidaknya aku memiliki sedikit bagian dari cintaku meski caraku salah dan tidak bisa dibenarkan untuk alasan apapun. Maaf,” ujar Dita dengan tulus.
“Penyesalan kita berdua tidak akan membuat orang lain terutama Radit bahagia. Jadi kamu mau bersabar menunggu aku yakin dengan perasaanku soal cinta.”
“Bagaimana kalau sampai bertahun-tahun kamu tetap tidak bisa mencintaiku dan memilih tetap hidup sebagai casanova ? Aku tidak mau menikah dengan seorang casanova.”
“Kamu ingat pepatah yang mengatakan kalau cinta itu datang karena terbiasa. Sepertinya 3 tahun ini aku mulai terbiasa denganmu dan Radit hingga tidak mudah tergoda untuk menanggapi perempuan lain.”
__ADS_1
“Semoga bukan sekedar di mulut saja,” ujar Dita dengan senyuman mengejek.