
Meskipun pembicaraan terakhir dengan Chelsea berakhir dengan perdebatan, kali ini Reno memaksa diri terus mendekati Chelsea dengan mengirimkan pesan rutin, tidak peduli pesannya dibaca atau tidak.
Reno sadar kalau Chelsea adalah perempuan yang memiliki komitmen tinggi terhadap keputusan yang diambilnya, cenderung keras kepala.
Sudah ada 2 kejadian bersama Reno yang membuktikan keteguhan Chelsea dengan keputusannya.
Pertama, saat Chelsea menunjukkan perasaan cintanya pada Reno, lalu yang kedua saat gadis itu memutuskan melepaskan dan melupakan Reno dengan cara pergi ke Amerika dan tidak pulang sekali pun selama 4 tahun.
Jangan sampai keputusan Chelsea untuk menikah dengan Revan menjadi pembuktian yang ketiga karena sampai kapan pun Reno tidak akan merelakannya.
“Masih nggak ditanggapi sama Chelsea ?” ledek Dio saat melihat Reno yang bolak balik melihat handphone dengan wajah gelisah.
“Nggak tahu kenapa mendadak korslet begini,” keluh Reno sambil menghela nafas.
“Elo pasti buat kesalahan yang membuat Chelsea teringat lagi sama perbuatan elo 4 tahun yang lalu.”
“Ya ampun Dio, elo tahu kan kalau setelah sadar dengan perbuatan gue 4 tahun yang lalu, gue lebih hati-hati dalam menghadapi perempuan bahkan gue belum pernah menjalin hubungan sama siapapun.”
“Namanya juga mengingatkan, Bro,” ledek Dio sambil tertawa.
Keduanya baru saja selesai meeting di lokasi proyek perumahan yang ada di kawasan Tangerang. Kali ini Dio diajak juga oleh Reno untuk menjadi teman bicara selama perjalanan karena jadwal hari ini cukup padat dan suasana hati Reno sedang tidak nyaman untuk mengemudi sendiri karena memikirkan masalah Chelsea.
“Jangan bilang kalau Nia udah kasih bocoran sama elo ?” Reno menoleh dengan mata menyipit, memperhatikan Dio yang sedang mengemudi.
”Nia tetap bersikeras nggak mau buka suara,” ujar Dio di sela-sela tawanya.
“Udah gue bujuk rayu pakai sogokan macam-macam sesuai saran elo , tetap nggak mempan.”
Reno menghela nafas panjang dan mengambil handphonenya lalu mengetik pesan baru untuk Chelsea.
Bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat semua pesan yang dikirim sebelumnya sudah dibaca Chelsea meski tidak ada satupun yang dibalas.
“Kenapa ? Udah dijawab ?”
“Belum, tapi minimal Sea udah mau membacanya,” sahut Reno dengan senyum bahagia.
“Ya ampun Reno, kalau lagi begini elo nggak ada wibawa sama sekali,” ejek Dio sambil geleng-geleng.
“Nggak apa-apa, namanya juga lagi jatuh cinta. Memangnya elo nggak pernah ngalamin sama Nia ?”
“Terus sekarang kita kemana ?”
“Cari makan siang, dimana aja terserah elo,” sahut Reno masih fokus dengan handphonenya.
“Rute berikutnya kemana ?”
Reno tidak menjawab tapi memperlihatkan layar handphonenya yang bergetar karena panggilan telepon masukc
“Udah gue ulur 2 hari tapi nih cewek nggak ada bosannya nelepon dan kirim pesan. Kita samperin aja, mumpung gue kagak sendirian,” sahut Reno dengan wajah malas.
“Aneh seorang Reno menolak gadis cantik,” ledek Dio. ”Daripada capek mengejar calon istri kakak sendiri, lebih baik mempertimbangkan cewek cantik di depan mata.”
“Buat gue Sea lebih cantik,” gerutu Reno. “Dan elo tahu kalau alasan gue melakukan semua ini bukan sekedar demi merebut calon kakak ipar.”
__ADS_1
“Serius banget,” ledek Dio sambil terbahak.
Enggan menjawsb panggilan telepon Nadya, Reno hanya mengirim pesan kalau ia akan ke sana setelah makan siang.
Tanpa malu-malu, Nadya mengajak Reno makan siang bersamanya di tempat yang tidak jauh dari lokasi rumah yang akan dibangun.
Merasa Nadya tidak akan macam-macam karena ada Dio, Reno pun menerima ajakan Nadya dan meminta Dio langsung menuju lokasi yang diberitahu Nadya.
Sekitar 45 menit mobil yang dikemudikan Dio sudah terparkir di lokasi yang dimaksud.
“Kayaknya resto mahal, Bro,” ujar Dio saat keduanga turun dan disambut oleh seorang pelayan.
“Biarin Nadya yang bayar,” bisik Reno sambil terkekeh.
Ternyata Nadya sudah menunggu di salah satu meja. Wajahnya yang sumringah mendadak masam saat melihat Reno tidak datang sendirian.
“Perkenalkan Dio, partner kerjaku,” ujar Reno sebelum keduanya duduk.
Dio hanya bisa tersenyum sambil menahan kesal karena Nadya mengabaikan uluran tangannya dan hanya melirik Dio dengan senyum yang dipaksakan.
Keduanya langsung duduk di meja bundar yang awalnya hanya disiapkan untuk 2 orang. Reno mengabaikan wajah Nadya yang terlihat kesal karena bukannya menyuruh Dio mencari meja lain malah mengajaknya duduk bersama mereka.
Keduanya dengan sikap santai dan acuh dengan reaksi Nadya menerima buku menu yang diberikan oleh pelayan.
Mata Dio langsung membola dan menoleh ke arah Reno yang langsung memberi isyarat jangan sampai terlihat Nadya dan dianggap norak.
Tanpa sungkan Dio langsung menunjuk satu menu kegemarannya: sop buntut dengan nasi dan segelas es jeruk murni.
Nadya yang masih kesal hanya mengajak Reno bicara dan mengacuhkan Dio yang terlihat masa bodoh dan asyik menikmati menu makan siang mahalnya.
Dio segera beranjak bangun dan berjalan mendekati Nia yang sedang bersama Chelsea dan 2 orang pria yang tidak dikenalnya.
“Sayang,” panggil Dio saat posisinya sudah dekat dengan Nia.
Bukan hanya Nia yang menoleh, Chelsea dan kedua pria yang bersamanya juga menoleh.
“Dio,” Nia tampak terkejut melihat kekasihnya ada di tempat yang sama. “Kamu sama Reno ?”
Dio mengangguk dan menoleh ke arah meja Reno. Reflek Nia dan Chelsea ikut menoleh ke arah pandangan Reno.
Dahi Chelsea berkerut mencoba memastikan wanita yang duduk bersama Reno. Chelsea menarik satu sudut bibirnya karena matanya sudah memastikan kalau wanita itu adalah orang yang sama yang dilihat Chelsea memeluk Reno di hotel.
“Nona Chelsea,” salah satu pria yang merasa diabaikan memanggil Chelsea.
”Maaf, kebetulan ketemu teman lama,” ujar Chelsea dengan wajah tidak enak hati karena lupa kalau ia datang bersama 2 orang lainnya dari perusahaan yang berniat kerjasama dengan perusahaan Papi Agam.
“Kalau begitu kami pamit dulu,” ujar pria tadi sambil mengulurkan tangannya.
“Sekalian saja saya juga mau kembali ke kantor. Duluan Dio,” Chelsea menganggukan kepala sekilas pada Dio sebelum menarik Nia untuk keluar restoran.
Sampai di luar keempatnya saling bersalaman karena akan kembali ke kantor masing-masing.
Chelsea membiarkan kedua pria tadi berjalan duluan dan tidak lama ia menyusul ke parkiran bersama Nia.
__ADS_1
“Ngapain kalian di sini ?” ternyata Reno ikut keluar dan menahan lengan Chelsea.
“Kamu siapanya aku ? Kenapa harus tahu apa kegiatanku ?” Chelsea malah balik bertanya dengan tatapan galak.
Nia yang melihat suasana mulai memanas perlahan menyingkir hendak menghampiri Dio yang berdiri dekat pintu.
“Nia mau kemana ?” tegur Chelsea yang melihat pergerakam asistennya itu.
“Sebentar mau ketemu Dio, lupa tadi ada yang mau diomomgin,” sahut Nia berbohong dengan senyuman canggungnya.
Chelsea berusaha melepaskan cengkraman Reno namun pria itu malah semakin kuat memegang lengannya.
“Masih marah padaku sampai membalas pesanku saja nggak bisa ? Atau sibuk lagi pendekatan dengan 2 cowok tadi ?”
Chelsea menghela nafas dengan wajah juteknya.
”Sudah aku bilang jangan menganggu hidupku karena sebentar lagi aku akan menjadi kakak iparmu. Berhentilah sok peduli padaku dan pikirkan hidupmu sendiri saja. Bukannya kamu sudah menemukan belahan hatimu jadi berhenti ikut campur urusanku !”
Chelsea kembali berusaha melepaskan cengkraman Reno yang langsung menautkan alisnya. Tangannya enggan dia lepaskan dari Chelsea.
“Jangan bilang kamu cemburu pada Nadya ?” wajah Reno malah mendekati Chelsea dan menatap gadis itu dengan senyuman smirk-nya.
“Kamu gila ? Buat apa aku cemburu padamu ? Aku ini calon kakak iparmu bukan kekasihmu !” ketus Chelsea.
“Tapi kenapa aku mencium bau-bau cemburu ?” Reno malah menyipitkan mata dan tersenyum menggoda Chelsea.
“Ge-er !” Chelsea melotot dan nampak terkejut saat kedua hidung mereka bersentuhan.
“Sepertinya aku tahu alasan mantan tunanganku ini ngambek mendadak,” ujar Reno sambil terbahak apalagi melihat Chelsea buru-buru menjauhkan wajahnya hingga hampir terjatuh dan dengan sigap Reno menahan pinggang gadis itu.
“Reno !” pekikan Nadya membuat Chelsea berusaha melepaskan pelukan Reno namun pria itu malah mengeratkan pelukannya.
“Makan siangmu belum selesai,” ketus Nadya saat sudah berdiri di dekat Chelsea dan Reno.
Wajahnya terlihat tidak bersahabat saat meihat tangan Reno masih memeluk pinggang ramping Chelsea bahkan Nadya bicara sambil melotot menatap gadis di samping Reno
.”ini siapa ?” tanya Nadya dengan ketus dan wajah cemberut.
“Aku…”
“Kenalkan calon istriku,” ujar Reno cepat memotong ucapan Chelsea sambil tersenyum menatap gadis pujaannya.
“Calon istri ?” Nadya megerutkan dahi.
“Ya calon istriku,” Reno mengangguk tanpa ragu. “Namanya Chelsea.”
“Sayang, kenalin ini yang namanya Nadya, anaknya teman Papa dan akan memakai jasa kami untuk membangun rumahnya,” ujar Reno sambil memandang Chelsea penuh cinta.
Reno memberi isyarat pada Chelsea supaya menuruti sandiwaranya. Sambil menghela nafas Chelsea tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Nadya mengerutkan dahi dan menyipitkan matanya tanpa membalas senyuman Chelsea.
“Sepertinya aku pernah melihatmu,” desis Nadya.
__ADS_1
Reno hanya tersenyum melihat wajah Chelsea yang terlihat canggung. Reno yakin, seyakin-yakinnya kalau Chelsea marah karena melihat Nadya memeluknya di dekat kolam renang yang ada di hotel.
Fixed kamu masih punya rasa untukku, Sea, batin Reno. Kalau nggak mana mungkin mau sampai sekesal ini melihat aku pelukan sama cewek lain.