
Reno dan Chelsea baru 3 hari yang lalu kembali dari bulan madu dan Papi masih saja jutek hingga akhirnya pasangan pengantin baru ini memutuskan untuk tinggal di rumah keluarga Chelsea seminggu ke depan.
“Bokap elo benar-benar kayak cewek pms, Sea, gaya senggol bacok. Selalu aja ada celah untuk marahin orang dan bilang salah,” gerutu Nia dengan bibir komat-kamit saat Chelsea mengajaknya makan siang di Mal dekat kantor.
”Kata Reno kayak habis ditinggal pacar,” sahut Chelsea sambil terkekeh.
“Ditinggal kawin sama pacar,” gerutu Nia membuat Chelsea tergelak.
“Tenang, pawangnya udah pulang jadi elo nggak bakal kena semprot lagi. Reno bilang harus cepat-cepat dikasih cucu biar ada kesibukan.”
“Wuuiihhh Reno langsung gas pool demi memberikan cucu buat Om Agam. Gimana rasanya, Sea ? Beneran sakit banget terus enak-enak gitu ? Reno kelihatan macho nggak, Sea ?” Nia mencondongkan tubuhnya, menatap Chelsea sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum dengan tatapan mesum.
Chelsea menelan makanan yang ada di mulutnya dan menyempatkan diri untuk meneguk minuman sebellum menjawab Nia.
“Elo memang sahabat terbaik gue, Ni. Tapi untuk urusan yang satu ini tetap R-A-H-A-S-I-A. Makanya terima lamaran Dio untuk cepat-cepat nikah biar bisa merasakan langsung gimana sensasinya.”
“Sombong !” cebik Nia.
“Biarin, mau dibilang sombong atau apapun, tetap masalah yang satu itu jadi rahasia dapur, nggak boleh ada yang tahu.”
“Yakin Reno nggak bakal nyombong sama best friends nya ?”
“Awas aja kalau sampai Dio tahu dari Reno !” ujar Chelsea sambil menyatukan kepalan tangannya.
“Akan gue suruh Dio cari bocoran dari Reno langsung,” ledek Nia dengan senyuman liciknya.
“Coba aja kalau bisa ! Reno bakal lebih pilih istri daripada sahabatnya,” balas Chelsea dengan senyuman meledek.
Karena masih jam kantor, keduanya tidak bisa terlalu lama meninggalkan pekerjaan. Seteah menghabiskan makanan mereka dan melakukan pembayaran, keduanya beranjak bangun dan keluar dari restoran.
Chelsea dan Nia masih asyik berbincang menuju pintu keluar Mal, namun di depan sebuah kedai kopi terkenal mendadak langkah Chelsea terhenti membuat Nia yang sempat melangkah akhirnya ikut berhenti dan balik mendekati Chelsea.
“Kenapa Sea ? Elo lihat siapa ?”
Bukannya menjawab, Chelsea yang sadar dari rasa terkejutnya buru-buru mengeluarkan handphone dan mengambil foto ke arah kedai kopi itu.
Setelah mengambil beberapa gambar, Chelsea pun segera menarik tangan Nia menuju pintu keluar. Nia masih mengerutkan dahi, bingung dengan tingkah laku Chelsea tapi sampai mereka menyusuri trotoar menuju kantor, wanita di sebelahnya malah sibuk dengan handphonenya.
“Ni, tolong hubungi Dio dan tanyain Reno lagi ada dimana, soalnya handphone Reno nggak bisa dihubungi dan pesan yang gue kirim cuma centang 1.”
Nia menurut tapi sama seperti Chelsea, panggilan ke nomor Dio juga tidak diangkat meskipun tidak langsung masuk ke kotak suara seperti ke nomor Reno.
“Elo kenapa sih, Sea ?”
“Nanti aja ceritanya begitu sampai di kantor. Dio gimana ?”
“Teleponnya nggak diangkat tapi gue udah kirim pesan, centang 2 hanya saja belum dibaca.”
__ADS_1
Chelsea mengangguk dan mempercepat langkahnya menuju kantor, terlihat pembawaannya gelisah sejak di depan kedai kopi tadi tadi Nia tidak tahu penyebabnya.
“Sebetulnya elo ngeliat siapa, Sea ?” tanya Nia saat keduanya sudah duduk di dalam ruangan Chelsea.
“Tamara dan Mike.”
Nia mengerutkan dahi karena tidak mengenal nama pria yang disebut oleh Chelsea.
“Mike itu mantan suami Sena. Waktu gue ketemu Sena hampir 4 bulan yang lalu, dia bilang mantan suaminya itu lagi sakit makanya Sena berangkat ke Amerika untuk merawatnya. Tapi kenapa sekarang ada di sini tanpa Sena malah sama Tamara.”
“Mungkin mereka memang kenal satu sama lain.”
“Gue nggak tahu juga tapi firasat gue mengatakan kalau mereka ketemu karena ada hubungannya sama gue dan Reno. Gue yakin kalau pertemuan tadi itu bukan yang pertama soalnya gue sempat melihat Mike di pesta pernikahan gue. Dia lagi ngobrol sama perempuan yang gue yakin Tamara juga.”
“Ya udah sih, mungkin Mike mendekati Tamara karena suka sama tuh cewek. Kan elo pernah cerita kalau Mike itu cowok casanova dan mereka nggak sengaja ketemu di nikahan elo.”
“Tapi udah gue pastiin ke Reno kalau dia nggak undang Mike, kenal aja nggak.”
“Terus sekarang mau gimana ?”
“Gue bisa minta tolong Dio ? Sampai semuanya jelas, minta tolong Dio ikut dalam semua meeting Reno terutama yang berhubungan dengan Tamara. Gue bakalan ngomong juga sama Papa, minimal Reno nggak pergi sendirian.”
“Ya udah, nanti gue ngomongin ke Dio.”
“Thanks Ni.”
****
Akhirnya Chelsea pulang dengan Papi dan makan malam tanpa Reno yang masih belum tiba di rumah hingga pukul 7 malam.
Chelsea masih gelisah di kamarnya, menunggu Reno yang belum juga sampai di rumah hingga pukul 9 malam. Handphone Reno dan Dio sama-sama mati karena kehabisan daya.
Terlalu lelah dengan rasa khawatir akhirnya Chelsea tertidur dengan posisi memegang handphone. Reno yang baru tiba menjelang jam 10 malam tersenyum melihat istrinya yang tetidur meringkuk tanpa memakai selimut.
Setelah menyelimuti Chelsea, Reno memutuskan untuk membersihkan diri sebelum mencium istrinya itu. Hingga 20 menit kemudian, saat keluar dari kamar mandi, Reno terkejut saat melihat Chelsea sedang terisak.
Bergegas ia mendekati istrinya yang ternyata mengigau karena matanya masih terpejam namun air matanya keluar membasahi wajahnya.
“Dia ada di sini, Bas. Aku takut, aku takut ia akan melakukan hal yang sama padaku dan Reno. Aku nggak mau seperti Sena, aku nggak mau kehilangan Reno. Tolong aku, Bas. Tolong aku !”
Kalimat yang keluar dari mulut Chelsea membuat Reno mengerutkan dahinya. Chelsea pasti bermimpi bertemu dengan Bastian.
“Sayang,” Reno menyentuh pipi Chelsea yang basah, berusaha membangunkan Chelsea.
Istri Reno itu masih menggumam, mengucapkan permintaan tolong pada Bastian. Ada sedikit rasa cemburu dalam hati Reno karena berpikir kalau istrinya ini masih mencintai mantan tunangannya.
“Chelsea, bangun !” suara Reno sedikit lebih keras dan tangannya lebih intens mengusap pipi Chelsea.
__ADS_1
Perlahan mata Chelsea terbuka dan mengerjap menyesuaikan dengan cahaya kamar. Begitu melihat sosok Reno, Chelsea langsung beranjak dan memeluk suaminya itu.
“Baru pulang ? Kok malam banget ? Udah makan ?”
Reno balas memeluk Chelsea dan mengusap kepalanya, masih ada sisa rasa cemburu yang belum bisa dibuangnya.
“Kamu mimpi apa ? Ketemu Bastian ?”
Chelsea melepaskan pelukannya dan menatap Reno dengan wajah bingung. Pria itu mengambil tisu yang ada di meja nakas dan membersihkan wajah Chelsea yang basah.
“Kamu tahu darimana ?”
Jawaban Chelsea membuat Reno tambah cemburu namun ia masih berusaha bersikap biasa saja di depan istrinya. Secara tidak langsung Chelsea mengakui kalau ia bermimpi bertemu Bastian.
”Kamu panggil-panggil nama Bastian barusan. Kamu kangen sama dia ?”
“Nggak,” Chelsea menggeleng. Matanya kembali mengerjap dan masih sedikit berair karena sisa-sisa air mata yang belum kering.
Reno tidak bertanya lagi, hanya menunggu penjelasan Chelsea yang juga diam dan menundukkan kepala, melihat ke arah tangannya yang memilin ujung piyamanya.
Reno menghela nafas dan hendak beranjak bangun namun tangan Chelsea mencegahnya.
“Bisa nggak kamu mengalihkan pada Dio atau siapapun, semua pekerjaan kamu yang ada hubungannya dengan Tamara ?”
“Kenapa ?” Reno menautksn alisnya dan kembali duduk di tepi ranjang.
Chelsea terlihat ragu namun akhirnya ia bercerita soal Mike dan Tarnara yang diyakininya pernah bertemu di pesta mereka dan hari ini kembali bertemu di kedai kopi.
Chelsea juga memperlihatkan foto yang diambilnya tadi siang namun sayang wajah Tamara tidak terlihat jelas.
“Jangan berpikiran negatif dulu, siapa tahu mereka memang saling kenal atau ada urusan perkerjaan. Lagipula apa yang harus kamu takutkan ?”
Reno membelai kepala Chelsea dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
“Kamu sudah tidak ada hubungan lagi dengan Bastian dan Sena bahkan dengan keluarga mereka. Rumah yang kamu terima adalah pemberian Bastian yang tidak kamu ketahui sebelumnya, jadi tidak ada alasan untuk berbuat macam-macam sama kamu.”
“Tapi kenapa Tamara yang harus dekat dengan Mike ?” protes Chelsea dengan nada kesal.
“Namanya juga kebetulan.”
“Aku yakin kalau ini semua bukan kebetulan Reno. Mengingat latar belakang Tamara sama kamu, firasatku bilang kalau Mike memang sengaja mendekatinya.”
“Sepertinya aku merasakan hawa-hawa cemburu,” Reno tertawa sambil mencubit hidung Chelsea.
Istrinya langsung cemberut karena merasa Reno tidak mengganggap serius rasa khawatirnya.
“Daripada pusing karena cemburu, bagaimana kalau kita fokus pada rencana memberi Papi cucu ?”
__ADS_1
Reno menaikturunkan alisnya sambil senyum-senyum namun Chelsea malah mencebik. Reno tertawa dan tanpa mempedulikan kekesalan Chelsea, ia pun mulai mencium bibir istrinya yang masih mengerucut.
Chelsea yang semula berusaha menolak akhirnya pasrah saat sentuhan Reno mulai membuatnya melayang dan perlahan mampu mengurangi kegelisahan hatinya.