Takdir Untukku

Takdir Untukku
Tentang Sena dan Jeremi


__ADS_3

Ditemani Chelsea, Bastian akhirnya datang membesuk Jeremi. Tangan pria itu tidak lepas menggenggam Chelsea yang sempat canggung saat bertemu dengan Sena dan kedua orangtuanya.


“Terima kasih karena kamu berhasil membujuk Bastian untuk datang kemari,” ujar Sena dengan tulus.


Bastian tengah berbincang dengan Gama sementara Chelsea masuk ke dalam ruangan PICU (ruang ICU khusus untuk pasien bayi, balita dan anak hingga berumur 17 tahun).


Chelsea hanya tersenyum dan memandang bocah laki-laki berusia 4 tahun yang terbaring lemah dengan mata terpejam dan berbagai alat bantu dipasang di tubuhnya.


“Aku bahagia karena kamu yang menjadi calon istri Bastian. Aku sudah melukainya begitu dalam hingga tidak berani datang memberitahu soal Jeremi saat mantan suamiku pergi setelah melakukan tes DNA. Bastian pria yang baik, jangan sampai masalah ini membuat pernikahan kalian batal.”


Lagi-lagi Chelsea hanya tersenyum. Bagaimana bisa membiarkan Bastian melupakan anaknya sendiri ? Meski wajah Jeremi merupakan perpaduan Sena dan Bastian, tapi bocah ini tetap darah daging Bastian.


Melihat Jeremi membuat Chelsea teringat pada Radit. Perbedaannya Radit tidak diharapkan oleh Revam sedangkan Jeremi tumbuh tanpa ayah karena Bastian tidak tahu sama sekali kalau janin yang dikandung Sena adalah benihnya.


Tanpa bicara sepatah kata, Chelsea keluar ruangan dan langsung menghampiri Bastian. Ia meminta Bastian melihat Jeremi sebentar. Chelsea ingin melihat bagaimana reaksi Bastian saat melihat putra kandungnya terbaring tak berdaya.


Setelah bernegosiasi panjang akhirnya Bastian menurut dengan syarat Chelsea yang menemaninya masuk ke dalam.


“Mata dan hidungnya mirip denganmu, Bas. Rambut ikalnya juga,” ujar Chelsea sambil menatap Jeremi dan Bastian bergantian.


“Darimana kamu bisa melihat matanya kalau dia sedang terpejam begitu,” gerutu Bastian.


“Karena aku membayangkan dirimu,” sahut Chelsea sambil terkekeh.


Bastian mendengus dan berjalan keluar. Hatinya tidak nyaman saat melihat Jeremi terbaring dengan selang terpasang di sana sini.


Tidak lama setelah keluar dari ruangan PICU, Bastian mengajak Chelsea pulang.


“Terima kasih Chelsea,” mama Sena memeluk Chelsea dengan tulus. “Semoga Bastian terketuk hatinya dan pernikahan kalian bisa berjalan lancar.”


Chelsea hanya tersenyum tidak ingin memberikan jawaban apapun saat membahas soal pernikahan dan hubungannya dengan Bastian.


“Mau makan dimana ?” tanya Bastian saat keduanya sudah di dalam mobil.

__ADS_1


“Apa saja, kamu tahu kalau aku bukan pemilih,” sahut Chelsea dengan santai dan tersenyum.


Hati kecilnya tercubit karena sejak melihat Jeremi, wajah Bastian sedikit berubah dan pria itu lebih banyak diam.


Bastian membawa Chelsea ke rumah makan dengan menu khas Indonesia dan tempatnya bernuansa alam. Pria itu memilih bale-bale sebagai tempat makan mereka.


“Sea, apakah kamu tetap bersedia menjadi istriku ?” tanya Bastian dengan wajah sendu.


“Aku akan melakukan tes DNA tapi bukan berarti aku bersedia menjadi donor untuk anak itu. Papa dan Mama memintaku untuk memastikan dugaan Sena dan apapun hasilnya, aku ingin pernikahan kita tetap belangsung karena aku sangat mencintaimu.”


“Dan kamu akan mengabaikan Jeremi sebagai anakmu ? Bagaimana mungkin sebagai perempuan yang kelak mempunyai anak, aku tega membiarkan kamu melakukan itu ? Bagaimana kalau Jeremi tetap membutuhkan pengobatan lain meski kamu sudah menjadi donor untuknya ? Kamu akan membiarkan Sena berjuang sendirian untuk anak kalian ?”


“Sea, aku…” Bastian terlihat bimbang.


“Bas, aku tahu betul soal perasaan cintamu pada Sena di masa lalu karena aku pernah merasakannya dengan Reno. Apalagi kalian sudah begitu dekat dan tinggal bersama layaknya suami istri, aku yakin tidak akan mudah bagimu untuk melupakannya. Dan sekarang, kamu tidak bisa menyangkal kalau hubungan kalian membuahkan Jeremi.”


“Sea, semua itu sudah berlalu dan sekarang aku hanya mencintaimu, menginginkanmu menjadi istriku !” tegas Bastian dengan suara meninggi.


“Bas, bagaimana kalau kamu memaafkan kekhilafan Sena dan menerimanya kembali sebagai ibu dari anakmu ?”


Chelsea terdiam, meraih gelasnya dan meneguknya sampai setengah.


“Maaf kalau aku tidak memberitahumu kalau aku pernah hidup bersama Sena selama beberapa tahun. Kami berpacaran sejak kelas 3 SMA, meneruskan kuliah di negara yang sama dan memutuskan untuk bertunangan setahun sebelum aku menyelesaikan studi dan kembali menetap di Jakarta. Sena sudah lebih dulu kembali ke Indonesia sementara aku masih melanjutkan studi untuk mengambil gelar Master.


Hubungan kami begitu sempurna dan membuat banyak orang iri, tapi sayang 3 bulan sebelum pernikahan kami dilangsungkan, aku menyaksikan Sena dan Mike bergulat di apartemen, di atas ranjang kami. Mike adalah teman kuliahku dan seorang pria bajingan yang suka merebut pacar orang. Aku sudah memperingati Sena tapi ia tidak mendengarkan ucapanku bahkan Sena bilang kalau ia mulai sesak karena aku semakin posesif menjelang pernikahan kami.”


Bastian mengusap wajahnya sendiri, mengingat pertengkaran demi pertengkaran yang kerap terjadi menjelang pernikahannya dengan Sena.


“Sena juga sempat bilang kalau aku berubah dan lebih mengutamakan pekerajaan daripada meluangkan waktu untuknya. Saat peristiwa itu terjadi, aku baru saja pulang menemani Papa dan Kak Benny ke Jepang sekalian belajar soal bisnis.


Kejutan yang aku siapkan untuk Sena ternyata menjadi bumerang buatku karena perbuatan Sena dan Mike membuat aku yang terkejut.”


“Kenapa kamu tidak bilang kalau pernah bertunangan dan hampir menikah ? Kamu hanya bilang dikhianati kekasihmu bukan tunanganmu.”

__ADS_1


“Maafkan aku, Sea,” Bastian meraih jemari Chelsea dan menggenggamnya dengan erat.


“Bagiku apapun statusnya, posisi Sena sudah tidak penting lagi dan aku tidak ingin mengingatnya sedikit pun. Itu sebabnya aku tidak banyak bercerita padamu karena aku benar-benar ingin menghapusnya dari ingatanku.”


“Jadilah pendonor untuk Jeremi, Bas. Aku bisa melihat dari matamu kalau hatimu tersentuh saat melihat Jeremi, apalagi kamu pernah membayangkan akan memiliki buah hati bersama Sena.”


“Sea, aku dan Sena…”


“Bas, seperti kamu bilang kalau hubungan kalian sangat harmonis bahkan pernikahan kalian sudah di depan mata. Bohong kalau kalian tidak pernah membicarakan soal masa depan, akan punya anak berapa, rencana-rencana kalian setelah menikah. Aku mengerti semua itu, Bas, tidak usah membohongi dirimu sendiri di depanku.”


Bastian menghirup nafas dalam -dalam dan menghembuskannya perlahan. Apa yang dikatakan Chelsea tidak bisa disangkalnya, itu sebabnya kenapa Bastian merasa hancur dan hidupnya runtuh saat melihat perbuatan Sena dan Mike.


“Ambillah waktu untuk berpikir dengan tenang dan dengarkan suara hatimu dengan baik, Bas. Jangan berusaha menghindar apalagi menyangkalnya. Kita tidak akan bertemu dulu supaya kamu bisa fokus mengambil keputusan.”


“Sea aku tidak butuh waktu tenang atau apapun ! Cukup katakan kalau pernikahan kita tetap akan berjalan sesuai rencana dan aku akan menuruti apapun permintaanmu termasuk menjadi donor !” suara Bastan yang semakin meninggi membuat Chelsea mengerutkan dahi.


“Masalahnya aku tidak bisa membiarkan kamu menyangkal Jeremi sebagai anak kandungmu, Bas. Kalau itu aku lakukan maka sepanjang hidup perkawinan kita hanya ada perasaan bersalah karena memisahkan Jeremi dari ayah kandungnya.”


“Sea, tolong jangan membatalkan pernikahan kita hanya karena masalah bocah itu. Aku tidak bisa menghapus kenyataan kalau setelah tes DNA, aku terbukti sebagai ayah biologisnya. Tapi kamu dengar sendiri kan perkataan Sena dan orangtuanya ? Mereka hanya mengharapkan donor dariku untuk anak itu dan tidak meninta aku menjadi suami Sena untuk membesarkan anak itu sebagai orangtua kandungnya.”


“Bas, tolong antar aku pulang,” pinta Chelsea dengan senyuman tipis, enggan berdebat lebih jauh dengan Bastian.


“Sea…”


“Sepertinya besok kita tidak usah bertemu dulu karena aku membutuhkan waktu sendiri untuk memikirkan masalah ini.”


“Sebetulnya aku ingin kamu menemaniku untuk melakukan tes DNA. Bukan di rumah sakit tadi, tapi di tempat lain milik teman papa. Mau menemani aku, Sea ?”


“Hanya menemani dan tidak perlu kamu antar jemput, biar aku pergi dengan sopir. Tolong kabari aku waktunya malam ini supaya aku bisa minta Nia untuk mengatur jadwalku.”


“Sekalian makan siang, Sea.”


“Tidak ada makan siang, Bas. Kalau kita terus bersama, kapan kita bisa mencari waktu untuk berpikir rasional ?”

__ADS_1


Bastian hanya menghela nafas dan mengikuti Chelsea menuju parkiran mobil. Tunangannya itu tidak mau digandeng dan Bastian hanya bisa menatap punggung Chelsea dengan perasaan yang campur aduk.


__ADS_2