Takdir Untukku

Takdir Untukku
Mendadak Sensi


__ADS_3

“Kamu nggak perlu antar aku sampai ke atas, Reno. Aku lagi hamil bukan sakit,” gerutu Chelsea saat suaminya itu memaksa turun dan mengantarnya ke atas.


“Kamu malu kalau diantar suami ? Justru karena kamu lagi hamil, aku wajib menjaga kalian, kamu dan anak kita.”


Chelsea hanya bisa menghela nafas dan berusaha membuang rasa kesalnya. Sejak keluar dari rumah sakit 5 hari yang lalu, Reno sudah memutuskan untuk mengantar Chelsea setiap pagi sebelum ke kantor dan melarang istrinya membawa mobil sendiri.


Reno mendadak jadi suami yang super posesif hingga memancing Revan dan Papi meledeknya habis-habisan. Tapi suami Chelsea itu tidak peduli bahkan sering meladeni ledekan Papi hingga keduanya berseteru.


“Jangan lupa nanti makan siang yang bener, awas kalau malas makan, aku akan kurung kamu di rumah, nggak boleh kerja,” tegas Reno.


“Reno nyebelin banget sih,” omel Chelsea. “Pesan dokter kan bukan cuma urusan perut tapi juga masalah stress. Kalau kamu begini terus lama-lama aku jadi stress beneran nih.”


“Makanya kamu harus berpikiran positif, berapa banyak perempuan yang berharap diperlakukan istimewa oleh suaminya saat hamil. Aku nih cinta banget sama kamu, Sea. Apa yang aku lakukan sebagai bukti cintaku sama kamu dan menebus waktu yang hilang selama 4 tahun.”


“Iya tapi sejak aku keluar rumah sakit…”


Cup


“Udah jangan kesel hati dan ngomel terus. Kamu mau bikin debay jadi gampang emosian juga ? Jangan-jangan karena maminya suka kesal, begitu lahir muka debay kayak Grumpy*)”


“Ngomong yang benar !” protes Chelsea dengan mata melotot dan memukul bahu Reno.


“Iya Sayang, amit-amit deh,” Reno mengetuk meja kerja Chesea tiga kali.


Reno memeluk Chelsea, mengusap punggung istrinya sambil menciumi pucuk kepala Chelsea.


“Hati-hati pas keluar makan siang sama Nia, kalau bisa jangan jauh-jauh. Kalau ada apa-apa jangan lupa telepon aku, jangan wa doang.”


Chelsea menganggukan kepala dalam pelukan Reno. Kalau sudah diperlakukan begini, hati Chelsea langsung melehoy dan melow, rasanya nggak mau jauh-jauh dari Reno karena nyaman berada dalam dekapan suaminya.


“Hari ini ada jadwal kerjaan sama Tamara ?” tanya Chelsea menatap Reno sambil merenggangkan pelukannya.


“Aku udah bilang sama Papa dan Dio, kecuali ada urusan yang mendesak, proyek apartemen akan diserahkan ke Dio dan Arifin atau Karina. Kamu tenang aja, aku nggak akan lupa dengan omongan kamu. Kamu juga sama, ya, jangan pergi sendirian, harus ada yang nemenin. Kalau dengar cerita kamu soal Mike, aku jadi agak ngeri karena sebagai sesama lelaki aku melihat kalau sosok Mike bukan cuma casanova biasa. Tapi jangan khawatir, aku akan menjaga kalian dan tidak akan membiarkan pria gila itu mendekatimu.”


Chelsea mengangguk dan memeluk Reno kembali. Pria itu tersenyum tipis, tanpa sadar Chelsea tambah manja sejak hamil dan itu semua justru membuat Reno makin bahagia.


“Aku pergi dulu ya, cari uang yang banyak buat anak istri,” ujar Reno melerai pelukannya.

__ADS_1


Chelsea mengangguk dengan mata mulai berkaca-kaca. Reno membungkukan badan, mengusap perut Chelsea yang masih rata, belum terlihat kalau wanita itu sedang hamil.


“Jagain mami ya, debay, papi kerja dulu. Nggak boleh nakal di perut mami.”


Reno mencium perut Chelsea lalu pindah ke kening calon mami itu dengan penuh cinta.


“Nggak boleh sedih,” Reno mengusap pipi Chelsea. “Nanti debay ikutan sedih.”


Chelsea mengangguk-angguk dengan wajah menggemaskan. Kalau sudah begini, anak kesayangan Papi Agam berubah jadi perempuan manja.


Reno mencium bibir Chelsea sebelum keluar dari ruangan istrinya. Kalau diperpanjang, sudah pasti Reno batal pergi ke kantor.


“Titip istriku, Ni,” pesan Reno saat bertemu Nia di depan ruangan Chelsea.


“Asiaapp Pak Boss,” Nia mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.


***


“Kenapa lagi sih, Sea ? Elo berantem sama Reno ?” tanya Nia saat melihat wajah sahabatnya melow dan sendu.


Keduanya sedang menunggu pesanan makan siang mereka di kafe yang ada di dekat kantor. Sejak semalam mendadak Chelsea ingin makan cumi cabai garam yang menjadi menu favoritnya di tempat ini.


“Kemarin elo ngomel-ngomel seharian, komplain dan kesal karena Reno makin posesif. Kemana-mana elo harus laporan sama dia bahkan sebisa mungkin Reno yang anter. Nah sekarang keinginan elo terkabul, Reno nggak rempong nanyain elo tapi elo nya malah melow.”


“Gue juga nggak tahu kenapa sekarang suka begini, Ni. Gue juga nggak mau bikin susah elo, Dio atau Reno.”


Nia menarik nafas dalam-dalam dan masih berusaha tersenyum menatap sahabatnya yang semakin sendu.


Semoga gue nggak kayak gini pas hamil nanti, batin Nia


“Terus sekarang maunya gimana ?”


“Mau dengar suara Reno,” lirih Chelsea.


Nia mengambil handphonenya, mengirimkan pesan ke Dio menanyakan soal Reno dan jawaban singkat dari Dio : rapat.


“Mereka lagi rapat, Sea.”

__ADS_1


Chelsea hanya diam dan mulai menikmati makan siangnya tanpa bicara apa-apa lagi.


“Halo Chelsea, kebetulan sekali bisa ketemu kamu di sini.”


Chelsea langsung tersedak saat melirik sosok pria yang berdiri di dekat mereka. Nia buru-buru menyodorkan gelas air putih untuk sahabatnya dan menahan tangan pria bertampang blasteran yang hendak menyentuh Chelsea.


“Maaf membuatmu kaget.”


Tanpa permisi, Mike langsung menarik kursi dan duduk di meja yang ditempati Chelsea dan Nia.


“Senang bisa bertemu denganmu lagi,” lanjut Mike dengan senyuman tampannya.


“Saya sedang makan siang dan tidak suka diganggu. Tolong anda cari meja lain atau saya yang akan pindah.”


“Sorry kalau mengganggu,” Mike masih tersenyum meski Chelsea berbicara dengan nada ketus.


“Aku sudah selesai makan kok, Chelsea, jadi aku saja yang pergi. Boleh aku minta nomor handphonemu ? Rencananya aku ingin ngobrol soal kejadian yang sebenarnya tentang Bastian dan Jeremi supaya aku bisa memberi nasehat yang tepat pada Sena.”


“Masalah Bastian dan Jeremi bukanlah urusan saya karena status saya adalah tunangan belum istri Bastian, jadi keputusan yang dibuat oleh Bastian bukanlah wewenang saya. Lagipula keduanya sudah pergi dengan tenang.”


“Tapi Sena belum bisa menerima kepergian Jeremi.”


“Kalau begitu bicarakan kembali dengan keluarga Bastian karena selama ini mereka yang mengurus soal Sena dan Bastian.”


“Kalau begitu…”


“Maaf, anda menganggu makan siang kami. Bukankah Chelsea sudah bilang kalau dia tidak ingij diganggu ?” potong Nia yang mulai kesal dengan sikap pria asing ini.


Meski belum berkenalan langsung, Nia yakin kalau pria yang duduk di meja mereka tanpa ijin adalah Mike, mantan suami Sena.


“Sorry, sorry.”


Mike pun beranjak dari kursinya masih dengan wajah tersenyum. Nia menatapnya dengan tatapan tidak suka sementara Chelsea mengabaikannya dan menikmati makan siangnya.


“Chelsea…”


Chelsea hanya melirik saat Mike memanggilnya karena nama yang terpampang di layar lebih penting daripada sosok Mike.

__ADS_1


“Halo Reno.”


Mike segera berlalu tanpa sempat berpamitan pada Chelsea yang langsung semangat menerima panggilan telepon dari suaminya.


__ADS_2