Takdir Untukku

Takdir Untukku
Pertengkaran


__ADS_3

Sampai di ruangan Chelsea, tidak ada Nia di sana, hanya ada Nuri sekretaris Papi Agam.


“Sepertinya Chlesea masih rapat,” ujar Nuri sambil berdiri saat melihat kedatangan Reno dan Dio.


“Nggak apa-apa, Nur. Mau kasih kejutan,” sahut Reno tersenyum.


“Saya tunggu di dalam dan tolong jangan bilang kalau saya datang,” pesan Reno sebelum masuk ke dalam ruangan Chelsea diikuti oleh Dio.


Keduanya menunggu di sofa yang ada di dalam ruang kerja Chelsea.


Reno sempat tetidur membayar sisa kantuknya yang baru bisa terlelap jam 4 pagi. Begitu Nia mengirimkan pesan, Dio langsung membangunkan Reno.


Tidak ada waktu lagi untuk Reno membasuh wajahnya karena suara Chelsea yang sedang berbincang dengan Nia sudah terdengar di balik pintu.


Mata Chelsea membola saat meihat 2 pria sedang duduk di dalam ruang kerjanya.


“Kalian mau ngapain ?” ketus Chelsea dengan suara sedikit meninggi.


Dio pun beranjak bangun dan berjalan ke arah pintu, mendekati posisi Chelsea yang berdiri sambil bertolak pinggang.


“Hanya menemani Reno, Sea dan sekarang giliran menemui Nia,” ujar Dio sambil senyum-senyum.


“Jangan bilang kamu sekongkolan sama Nia sebelum datang kemari ?” mata Chelsea menyipit menatap Dio dengan wajah galakknya.


“Cuma nanya jadwal kamu doang, Sea. Sisanya urusan Reno,” sahut Dio dengan senyum menyebalkan.


Asisten Reno itu pun bergegas keluar sebelum mendapat omelan Chelsea lebih banyak lagi.


Dengan wajah ditekuk Chelsea berjalan ke mejanya, meletakkan laptop dan beberapa berkas hasil rapat pagi ini. Chelsea mengabaikan Reno yang sudah memasang wajah terimutnya.


Sadar kalau Chelsea sedang ngambek hanya pada dirinya, Reno pun berjalan ke meja gadis itu dan berdiri persis di samping kursi Chelsea dengan bersandar pada meja.


“Kamu kenapa sih, Sea ? Sudah hampir 3 hari sama hari ini kamu mengabaikan pesanku dan teleponku nggak ada satupun yang dijawab.”


Chelsea diam saja dan mengetik sesuatu di layar laptopnya yang baru saja menyala.


“Kamu ngambek ya gara-gara 3 hari sebelumnya aku nggak kasih kabar apa-apa sama kamu ? Kangen ya ?”


Wajah Reno mendekati wajah Chelsea. Spontan gadis itu menjauh dengan mata melotot.


“Jaga sikapmu !” ketus Chelsea membuat Reno mengerutkan dahi.


Reno menahan kursi Chelsea dan memutar posisinya hingga bersandar pada meja. Ia tidak ingin Chelsea jatuh kalau sampai gadis ini memberontak.


“Kenapa kamu mendadak begini ?”

__ADS_1


Reno mengukung Chelsea yang masih dalam posisi duduk. Wajahnya benar-benar dekat dengan wajah Chelsea yang masih saja tidak bersahabat.


“Mendadak bagaimana ?” tantang Chelsea. “Sudah berkali-kali aku bilang padamu kalau aku ini adalah calon kakak iparmu, bukan lagi Chelsea yang kamu kenal 4 tahun yang lalu.”


“Aku tidak pernah kurang ajar padamu,” sahut Reno dengan wajah tegas.


Chelsea berdecih dan tersenyum sinis.


“Berapa kali kamu seenaknya memeluk aku bahkan sempat mencium aku dan berlagak seolah kamu ingin melindungi aku.”


“Aiu sudah katakan alasannya !”


“Jangan membayar rasa bersalahmu dengan cara menjijikan seperti ini, di saat aku sudah memutuskan untuk menerima cinta Mas Revan. Aku bukan lagi Chelsea yang sama karena aku tidak akan membiarkanmu berulang lagi menyakiti aku seperti yang lalu.”


“Sea, aku sudah bilang…”


Dengan sekuat tenaga Chelsea mendorong Reno yang sedikit lengah hingga pria itu hampir saja jatuh ke lantai.


“Pergi jauh-jauh dari hidupku, jangan mengganggu ketenanganku apalagi membuat aku selalu bimbang dengan ketulusan Mas Revan. Asal kamu tahu Reno kalau semua kebaikanmu itu terlihat palsu di mataku dan tidak lagi membuat hatiku tersentuh.”


“Oh ya ?” Reno mendekati Chelsea dengan senyuman sinis.


Chelsea pun mundur sambil mengangkat tangan, memberi isyarat supaya Reno menjaga jarak dengannya.


“Sekarang katakan kalau sudah tidak ada lagi sisa debaran di hatimu,” ujar Reno sambil mengeratkan pelukannya karena Chelsea terus memberontak.


“Kenyataannya memang begitu,” sahut Chelsea dengan nada emosi.


“Bicara yang jujur, jangan sampai aku bertindak lebih jauh untuk membuktikan kalau kamu berbohong,” tegas Reno.


“Siapa yang bohong.? Lepaskan aku Reno, jangan buat aku semakin membencimu !”


Chelsea terus memberontak meski tahu usahanya tidak akan mudah karena berhadapan dengan pria yang lebih tinggi dan bertubuh atletis di depannya.


Reno malah mengeratkan pelukannya dan menahan tengkuk Chelsea lalu mencium bibir gadis itu dengan sedikit kasar.


Chelsea memukul-mukul dada Reno namun pria itu malah semakin agresif dan sedikit liar menciumi bibir Chelsea bahkan lidah Reno terus menerobos masuk di dalam rongga mulut Chelsea.


Chelsea tidak lagi memberontak bukan karena menikmati ciuman Reno, namun hatinya justru terasa sakit dan tanpa mampu ditahan, pipinya mulai basah dengan air mata hingga akhirnya Reno yang merasakan pipinya ikut basah melepaskan ciumannya.


“Sea,” lirih Reno. “Maafkan aku.”


Reno memeluk tubuh ramping Chelsea dengan penuh cinta. Segumpal penyesalan menyeruak dari dalam hatinya.


“Maaf, Sea, maaf,” ujar Reno berulang kali sambil menciumi pucuk kepala Chelsea sementara satu tangannya mengusap punggung gadis itu.

__ADS_1


Chelsea menghela nafas panjang dan melepaskan pelukan Reno, Kepalanya mendongak menatap Reno dengan penuh luka.


“Apa tidak cukup kamu menyakiti aku 4 tahun yang lalu, Reno ? Apa belum puas memperlakukan aku semena-mena selama bertahun-tahun saat tahu kalau aku menyukaimu ? Kenapa kamu hanya bisa menyakiti aku Reno !”


Suara Chelsea makin lama makin meninggi dan air matanya kembali mengalir. Perasaan marah, benci dan sakit hati bercampur aduk dalam hati Chelsea.


“Pergilah dari hidupku, Reno. Semua keputusanku tidak menganggu hidupmu. Aku akan menjauh dari kehidupanmu setelah menikah dengan Mas Revan, jadi jangan memaksakan diri untuk membayar rasa bersalahmu.


Semuanya sudah berlalu dan aku menganggapnya impas. Tidak ada lagi hutang apapun di antara kita.”


“Sudah aku katakan kalau aku tidak akan memaksamu untuk menerima aku kembali, Sea, tapi aku juga tidak akan membiarkan kamu disakiti oleh Revan,” tegas Reno.


“Jangan bertindak melebihi orangtuaku, Reno. Hanya aku yang tahu dan merasakan apakah Mas Revan menyakiti aku atau tidak. Sikap sok pahlawanmu membuat hidupku malah tersiksa.”


“Karena kamu masih mencintai aku, Sea,” desis Reno.


“Anda percaya diri sekali, Tuan Reno,” desis Chelsea. “Bukan karena aku masih mencintaimu tapi karena kamu berusaha merusak diriku dan membuatku seolah mengkhianati cinta Mas Revan di belakangnya. Bukan tidak mungkin sikapmu ini akan membuatku terlihat buruk di mata calon suamiku dan keluarganya.”


“Tidak akan seperti itu, Sea. Tidak akan ada satu orang pun yang boleh menganggapmu wanita gampangan.”


Chelsea menatap Reno dengan tatapan sinis dan tersenyum tipis.


“Kamu adalah orang pertama yang melakukannya padaku.”


Reno terhenyak mendengar ucapan Chelsea yang menusuk hatinya. Ternyata tanpa sadar Chelsea merasa terluka dengan perlakuan Reno selama ini hingga menyisakan jejak yang sulit dihapuskan dari dalam hati gadis itu.


Reno menghela nafas panjang dan menatap Chelsea dengan sendu dan penuh penyesalan.


“Akan aku buktikan kalau semua ucapanku bukan sekedar untuk menebus rasa bersalah tapi demi kebaikanmu. Silakan kamu memutuskan sendiri saat mengetahui kebenarannya.”


Chelsea tidak menggubrisnya bahkan membuang pandangan ke arah lain karena bertatapan dengan Reno membuat hatinya marah dan terluka.


“Kapan Revan pulang ?” tanya Reno saat kembali mendekati Chelsea


“Kamu adiknya dan kalian masih tinggal serumah,” ketus Chelsea.


“Aku akan membuktikan ucapanku secepat mungkin,” tegas Reno sebelum melewati Chelsea menuju ke pintu.


Chelsea masih terpaku di posisinya menghadap ke meja kerja saat Reno membalikkan badan sebelum membuka pintu.


“Maafkan sikapku barusan, Sea. Apa yang aku lakukan bukanlah karena nafsu semata. Aku cemburu, Sea. Aku cemburu mendengarmu akan menikah dengan Reno. Aku cemburu karena aku benar-benar mencintaimu.


Chelsea memejamkan matanya dan membiarkan air mata kembali membasahi pipinya.


Lamunannya buyar saat mendengar handphonenya bergetar di atas meja. Sambil menghapus air matanya, Chelsea berjalan menuju meja kerjanya dan alisnya menaut saat melihat nama Revan di layar handphonenya.

__ADS_1


__ADS_2