Takdir Untukku

Takdir Untukku
Cinta Selamanya


__ADS_3

Chelsea bergegas turun dari lantai 2 dan mengambil sepotong roti yang sudah disiapkan oleh Mami.


”Sarapan dulu, Sea. Masih ada waktu, Bastian pasti akan sabar menunggumu.”


“Subuh-subuh udah morning call aja terus telepon lagi pas lagi nunggu di ruang tunggu. Kayaknya Bastian tahu kalau Sea bakal ketiduran,” Chelsea terkekeh lalu meneguk segelas jus yang disodorkan Mami.


“Mulai bucin, deh,” ledek Carmila yang baru kembali dari dapur.


“Bastian tuh yang bucin akut. Semalam telepon nggak mau distop, katanya masih kangen.”


“Kamu sama aja, Sea,” cibir Carmila.


Chelsea tertawa dan mencium pipi Mami sebelum pergi dan pamit pada Carmila. Sesuai info Mami, Papi Agam ada di ruang tamu sedang berbincang dengan Reno.


“Ngapain pagi-pagi kemari ? Mau nebeng sarapan ?”


Bukannya menyapa Reno, Chelsea malah meledek mantan tunangannya membuat Papi Agam tertawa sambil menggelengkan kepala.


“Mau nganterin kamu jemput calon suami.”


“Dih ogah banget. Bisa bikin repot kalau kamu mendadak baper dan tersedu-sedu menyesal karena sudah menyia-nyiakan aku bertahun-tahun.”


Chelsea mendekati Papi Agam dan langsung mencium pipi Papi sebelum pergi serta melambaikan tangannya pada Reno.


Hati Reno berdesir, hubungannya dengan Chelsea semakin membaik dan sebentar lagi gadis itu akan menikah.


Papi Agam sudah bercerita soal Sena dan Jeremi sekaligus curhat kalau sebetulnya Papi dan Mami tidak setuju saat Chelsea memutuskan untuk tetap menikah dengan Bastian.


Namun saat melihat ketulusan dan kesungguhan Bastian ditambah kebahagiaan Chelsea, akhirnya Papi dan Mami setuju.


“Sea, kamu kenapa ?” Reno beranjak bangun dan mendekati Chelsea yang terlihat pucat berdiri di pintu dengan posisi menghadap ke dalam.


Chelsea tidak menjawab malah bergegas masuk ke dalam mengabaikan Reno. Tangannya langsung menekan remote TV dan di layar terpampang siaran langsung tentang kecelakaan pesawat.


“Bastian,” gumam Chelsea dengan linangan air mata yang mulai turun dari kedua sudut matanya.


“Sea,” Papi Agam mendekati putrinya dan merangkul bahu Chelsea.


“Bastian, Pi,” Chelsea mendongak dengan wajah basah.


Papi Agam langsung membawa Chelsea ke dalam pelukannya. Takdir apalagi yang harus dijalani putri bungsunya ini ?

__ADS_1


Reno meminjam handphone Chelsea untuk bicara dengan si penelepon. Ternyata yang menghubungi Chelsea adalah asisten Papa Rudi dan memberi kabar kalau pesawat yang ditumpangi Bastian mengalami kecelakaan 15 menit setelah lepas landas.


“Kita berangkat ke Medan sekarang,” tegas Papi Agam setelah mendapat penjelasan dari Reno.


****


Di hari ketiga setelah kecelakaan yang menimpa Bastian, keluarga itu kembali mendapat kabar duka.


Jeremi yang ternyata sempat kritis pada Jumat malam akhirnya menghembuskan nafas terakhir tanpa bertemu dengan ayah kandungnya.


Ternyata karena kondisi Jeremi yang semakin memburuk, jadwal operasi transplantasi dimajukan ke hari Minggu dan oleh sebab itu kepulangan Bastian dipercepat.


Penerbangan yang seharusnya jam 2 siang dimajukan ke jam 8 pagi. Tujuannya supaya Bastian bisa punya waktu untuk berisitrahat sebelum operasi dilaksanakan.


Kedua orangtua Bastian dan Benny, pulang ke Jakarta untuk menghadiri pemakaman Jeremi. Hanya tinggal Bimo yang tetap tinggal di Medan bersama Chelsea, Papi Agam dan Reno.


Mami dan Carmila ikut pulang ke Jakarta namun beda penerbangan.


Chelsea menatap koper yang baru saja diserahkan oleh pihak penerbangan setelah Bimo bisa membuktikan kalau barang itu adalah milik adiknya.


Tangan Chelsea bergetar saat membukanya dan air matanya kembali mengalir saat melihat tumpukan pakaian Bastian masih utuh hanya sedikit basah karena rembesan air.


Chelsea mengambil satu bingkai foto yang diletakkan paling atas. Foto yang dilihatnya di atas meja kerja Bastian yang ada di kamar. Entah kenapa Bastian sampai membawanya padahal hanya pergi 3 hari. Foto Chelsea dan Bastian.


Kemeja itu dipakai Bastian sehari sebelum kepulangannya dan saat itu mereka cukup lama melakukan video call.


”Sering banget kamu pakai kemeja itu, Bas, nggak bosan ?”


“Kemeja keberuntunganku karena ada banyak cinta yang menempel,” sahut Bastian sambil tertawa.


“Bahkan aku merasa jadi cowok paling ganteng setiap kali memakai baju ini karena banyak yang memperhatikan.”


“Itu alasanmu saja, Bas. Bilang aja matamu juga beredar memperhatikan cewek-cewek yang menatapmu dengan wajah mendamba dan menggoda.”


“Sayangnya mereka tidak bisa membuat aku silau karena mataku sudah tertutup oleh cintamu .”


Chelsea semakin terisak sambil menciumi harum tubuh Bastian yang masih menempel di baju itu.


Suara rengekan Bastian yang memaksa Chelsea untuk menjemputnya masih terngiang dalam ingatannya.


Malam itu Bastian bercerita banyak tentang masa kecilnya, kenakalannya di saat remaja dan usaha kerasnya untuk menjadi anak kebanggaan Papa.

__ADS_1


“Aku akan merasa bersalah kalau kamu tidak tahu apapun tentang diriku, Sea. Maaf karena aku melewati bagian itu dalam hubungan kita hingga tiba-tiba muncul masalah Sena dan anaknya.


Semuanya itu membuat aku sadar kalau aku harus menceritakan bagaimana aku menjalani hidup padamu. Masa laluku tidak bisa dirubah, tapi bisa menjadi pinjakan supaya kita bisa saling mengerti kenapa pasangan kita begini dan begitu.”


Papi Agam memberi isyarat pada Reno untuk menenangkan Chelsea karena Papi tidak tega melihat putrinya terus menangis selama 3 hari ini.


”Kenapa takdir cintaku seperti ini, Reno ?”


Reno menatap wanita yang sangat dicintainya itu terluka begitu dalam, sama seperti waktu Chelsea datang ke rumahnya untuk mengembalikan cincin dan membatalkan pertunangan mereka.


“Bastian sangat mencintaimu, Sea. Aku bisa melihatnya setiap kali ia menatapmu dan aku bersyukur karena akhirnya dia datang dalam kehidupanmu. Tapi Tuhan itu Maha Penyayang dan Maha Tahu, Sea. Tuhan ingin cinta Bastian tetap terjaga dengan baik dan sempurna di hatimu.”


Chelsea masih terisak dan mengembalikan pakaian Bastian ke dalam koper lalu menutupnya kembali.


“Kamu boleh membawanya, Sea,” ujar Bimo sambil memegang bahu Chelsea.


”Dia sangat mencintaimu, Sea. Terima kasih karena kamu sudah hadir dan memberikan warna dalam hidup Bastian. Maafkan sikap orangtuaku yang berusaha memisahkan cinta kalian. Bastian sangat tertekan saat dipaksa menikah dengan Sena padahal cintanya sudah beralih padamu.


Sebelum pergi, Bastian meminta bantuanku untuk membuatmu tetap di sampingnya saat dia menjalankan operasi karena dia tidak mau orangtua kami memaksanya menikah dengan Sena.”


“Bastian juga bilang hal yang sama padaku, Kak,” Chelsea tersenyum getir saat mengingat ucapan Bastian yang sama persis dengan yang disampaikan Bimo.


“I love you, Chelsea. Tunggu aku 2 jam lagi. Aku pergi dulu.”


“Kok pergi sih, Bas ? Memangnya kamu mau pergi kemana lagi ? Bukan pergi tapi berangkat.”


“Iya mirip-mirip, yang penting jangan lupa menjemputku di bandara. Rasanya aku sudah nggak sabar ingin memelukmu dan tidak ingin melepaskanmu biar sedetik pun.”


Airmata Chelsea kembali mengalir saat teringat percakapan terakhirnya sebelum Bastian mematikan handphonenya.


Chelsea menengadah, menatap langit biru yang terlihat cerah dan mencoba tersenyum bahagia.


“Selamat jalan Bastian, terima kasih sudah mencintai aku begitu dalam. Maaf karena sempat meragukan cintamu. Jangan pernah takut dan cemas lagi, cintamu akan aku simpan baik-baik di dalam hati ini. Semoga kamu bisa bertemu dengan Jeremi yang ikut menyusulmu.”


Reno, Papi Agam dan Bimo menahan air mata haru mendengar ucapan Chelsea yang masih menengadah ke langit.


“I love you so much Chelsea, my future wife.”


Chelsea mengedarkan pandangannya hingga tubuhnya berputar seperti mencari sesuatu, membuat ketiga orang yang berdiri di dekatnya terlihat bingung.


Chelsea hanya bisa menangis saat mendengar suara Bastian yang mengucapkan kata cinta namun tidak terlihat sosoknya di sudut manapun.

__ADS_1


“I love you too, Bastian. Pergilah dalam tenang bersama cintaku selamanya,” batin Chelsea sambil memejamkan matanya.


__ADS_2