Takdir Untukku

Takdir Untukku
Bertemu Lawan


__ADS_3

Tiga minggu berlalu dan kekhawatiran Chelsea tidak terbukti, membuat Chelsea kesal karena Reno terlihat mengganggap sepele permintaannya.


Kalau saja firasat buruk itu bisa disingkirkan dalam pikiran dan hati Chelsea, rasanya ia ingin mengabaikan semuanya itu.


 


Chelsea terkejut saat mendapati Dio mengantar Nia kembali ke ruangannya. Rupanya Nia pergi makan siang dengan kekasihnya. Chelsea yang sedang kesal tidak memperhatikan ucapan Nia saat minta ijin makan siang di luar.


 


“Reno kemana ?” tanya Chelsea dengan wajah khawatir.


 


“Reno ada lunch meeting sama Om Robert dan rencananya langsung ke lokasi apartemen, ada buyer yang ingin bertanya soal konstruksi bangunan,” sahut Dio.


 


“Kamu nggak nemenin ?”


 


“Reno bilang nggak usah karena dia nggak akan lama juga, habis itu rencananya langsung balik kantor karena ada rapart internal.”


 


Rasa khawatir Chelsea yang mendadak sudah di ubun-ubun membuatnya bergegas masuk kembali ke dalam ruangannya semetara di luar, Nia dan Dio saling menatap dan mengangkat kedua bahu mereka karena sama-sama tidak mengerti akan sikap Chelsea 3 minggu ini.


 


Tidak lama Chelsea sudah keluar sambil menyandang tas dan memegang kunci mobilnya.


 


“Mau kemana, Sea ?” tanya Nia saat melihat bossnya bergegas keluar. Ia pun memberi isyarat pada Dio untuk menyusul Chelsea dan kalau perlu menemani wanita itu.


 


“Aku antar, Sea,” ujar Dio yang bergegas masuk ke dalam lift yang hampir tertutup.


 


“Nggak usah, nggak penting juga. Aku hanya ingin membuktikan pada Reno kalau firasatku benar karena selama ini ia hanya menganggap kau cemburu buta.”


 


“Tapi Sea…”


 


“Aku jalan dulu, Di.”


 


Chelsea bergegas keluar dari lift dan hanya melambaikan tangan pada Papi dan Papa yang baru saja masuk di lobby. Berarti Reno juga sudah jalan ke lokasi proyek apartemen.


 


Suasana jalan yang agak padat di area dekat lokasi apartemen membuat Chelsea terus membunyikan klakson mobilnya berkali-kali lalu masuk ke area parkiran dengan terburu-buru.


 

__ADS_1


Untung saja bebeapa petugas sekuriti sudah mengenali Chelsesa hingga prosedur ijin masuk bisa dilewatinya tanpa bertele-tele.


 


“Reno,” panggil Chelsea saat melihat sosok suaminya tengah berbincang dengn 3 orang di lantai dasar.


 


Keempat orang itu menoleh dan mata Chelsea langsung membola saat melihat dua di antaranya adalah mereka yang membuat hidupnya galau tiga minggu ini.


 


“Mike,” sapa Chelsea pada pria yang berdiri di sebelah Tamara.


 


Reno tampak terkejut karena pria yang sudah berbincang dengannya sejak 10 menit lalu ternyata adalah Mike yang dimaksud Chelsea karena saat berkenalan tadi, pria itu mengaku bernama Bill.


 


Reno mengerutkan dahi berusaha mencocokan pria di depannya itu dengan foto yang pernah diperlihatkan Chelsea. Sayangnya ingatan Reno tidak cukup bagus untuk mengenali wajah yang ada di foto itu karena agak buram dan diambil dari jarak jauh.


 


“Saya Bill,” ujar pria berambut agak pirang itu dengan logat campuran.


 


“Ya Mike Bill,” sahut Chelsea yakin sambil menatap tajam pria di depannya yang masih memakai kacamata hitam. Pria itu tertawa dan sempat memandang ke arah lain sambil tersenyum sinis.


 


“Sea.” Reno menyentuh lengan istrinya dan Chelsea hanya menoleh sekilas lalu kembali fokus menatap Mike yang berdiri di depannya.


 


“Sepertinya kita belum pernah bertemu tapi anda sudah mengenal dan tahu nama panjang saya. Apa saya cukup tampan untuk menyita perhatian anda, Nona….”


Mike melepas kacamata hitamnya dan tersenyum menebar pesona pada Chelsea yang menatapnya dengan wajah datar. Tidak ada lagi logat kebarat-baratan terdengar dalam ucapan cowok blasteran ini seperti sebelumnya.


 


“Tidak usah basa-basi, saya yakin kalau anda juga sudah mengenal saya dari Sena dan saya tidak tertarik untuk menyukai pria lain karena suami saya sudah tampan.”


 


Mike tertawa dan dalam hatinya ia memuji kecerdasan Chelsea yang langsung mengenali wajahnya. Mike melihat kalau tidak akan mudah membuat Chelsea berpaling dan Tamara bukanlah lawan yang tangguh untuk wanita ini.


 


“Jadi anda langsung mendapatkan pengganti Bastian dan menikah ?”


 


“Bukan urusan anda, Mike. Dari sekian banyak apartemen mewah yang  ada di Jakarta, kenapa juga kamu harus memilih bangunan yang masih setengah jadi ini ?”


 


“Chelsea, Tuan Bill ini bukanlah pembeli biasa di sini. Beliau…” Tamara pun ikutan buka suara.


 

__ADS_1


“Aku tidak peduli berapa banyak uang yang kamu hamburkan untuk membeli apartemen di sini karena itu adalah hakmu. Tapi aku peringatkan pada kalian,” Chelsea menjeda menatap Mike dan Tamara bergantian.


 


“Aku tahu kalian sudah bertemu beberapa kali bahkan kamu Mike, datang juga ke pesta permikahan kami sebagai tamu yang tidak diundang. Aku tidak tahu rencana busuk apa yang sedang kalian siapkan, tapi aku tidak akan membiarkan rumah tanggaku terusik dengan ulah kalian. Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan Bastian dan Tamara, tolong terimalah takdir hidupmu kalau Reno bukanlah jodohmu.”


 


Tamara sedikit terkejut mendengar ucapan Chelsea sementara Mike hanya tertawa dan terdengar nada mengejek dari suaranya.


 


“Itu sama saja dengan fitnah, Nona Chelsea.”


 


“Bukan fitnah, tapi peringatan,”


 


Chelsea masih memasang wajah datar sementara Reno mengamati kejadian itu dengan seksama, ingin memastikan kalau firasat Chelsea mungkin ada benarnya.


 


 


****


 


“Wanita yang menarik dan berani,” ujar Mike saat ia duduk berhadapan dengan Tamara di sebuah rumah makan.


Selesai dengan urusan apartemen, Mike mengajak Tamara untuk minum kopi di salah satu kafe yang ada di dekat lokasi.


“Ternyata Chelsea bukanlah gadis manja, lemah dan penakut seperti yang aku kira. Benar-benar wanita yang sangat menarik. Pantas Bastian lebih memilih dia,” ujar Mike kembali.


“Jangan bilang anda tertarik dengan Chelsea,” sindir Tamara dengan senyuman mengejek.


“Kalau memang dia tertarik, kenapa tidak ?” sahut Mike sambil tertawa pelan.


“Jadi tujuannu untuk membalaskan sakit hati mantan istrimu atau mengejar cinta Chelsea ?”


“Seperti ada pepatah, sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui. Kalau memang tindakanmu mendapatkan 2 hasil sekaligus, dengan senang hati aku menerimanya. Bukankah rejeki tidak boleh ditolak ?” sahut Mike sambil tertawa.


“Sepertinya aku harus berpikir ulang kalau tujuan anda sudah bias seperti ini ?”


“Bukan karena aku yang bias, tapi kamu terlihat cemas dan kalah set dengan Chelsea. Ekspresi wajahmu begitu mudah terbaca,” ejek Mike.


“Jangan bilang kamu akan mundur dari rencana kita hanya karena kalimat Chelsea yang bilang kalau kamu tidak berjodoh dengan Reno.”


Tamara terdiam, hatinya memang sempat goyah saat mendengar ucapan Chelsea namun sekaligus tersentil dan menganggap Chelsea sedikit congkak karena statusnya sekarang adalah istri Reno.


 “Jangan lupakan bagaimana Reno memanfaatkan perasaanmu untuk membuat Chelsea cemburu. Apa kamu lupa bagaimana Reno mencampakkan cintanu setelah 2 bulan kalian pacaran ?” Mike kembali menyindir Tamara dengan senyuman mengejek.


“Jangan terlalu naif dan ingatlah kalau apa yang akan kita lakukan bukan bermaksud menghancurkan rumahtangga mereka, tapi memberikan satu ujian untuk melihat sejauh apa cinta sejati yang mereka gaungkan dengan bangga.


Kita hanya menyemburkan sedikit percikan api, apakah api itu akan membesar atau padam atau membakar sebagian dan menyisakan bara, itu semua pilihan Reno dan Chelsea.


Sama seperti yang pernah aku ceritakan padamu soal bagaimana Bastian memperlakukan Sena dan anak mereka. Chelsea mungkin tidak membakar langsung  tapi melemparkan percikan api yang sangat kecil namun mampu membakar emosi Bastian hingga dia menunda-nunda bahkan menolak untuk menjadi pendonor.”


 

__ADS_1


“Apakah kejadian hari ini sudah bisa dianggap sebagai awal percikan api tadi ?” tanya Tamara dengan senyuman tipis.


Mike tertawa dan menatap ke arah lain, jiwa casanovanya meronta saat bertatapan langsung dengan Chelsea.


__ADS_2