
Sejak pertemuan dengan Mike dan Tamara di lokasi proyek apartemen, Chelsea mulai membatasi diri dengan Reno. Bukan hanya irit bicara tapi saat tidur malam, istrinya itu menjauh dari Reno dan enggan dipeluk seperti biasanya.
Reno mulai terpancing emosinya karena kondisi ini sudah berlangsung selama 5 hari meskipun istrinya tidak menghindari pergi bersama Reno untuk mengurus tanggungjawab mereka di perusahaan.
“Sea, ngambeknya jangan kelamaan dong. Aku minta maaf karena nggak dengerin kamu, tapi jangan ikut mogok makan juga. Kita mampir dulu ke tempat ikan bakar kesukaan kamu, ya ?” bujuk Reno saat keduanya dalam perjalanan menuju lokasi perumahan yang ada di kawasan Tangerang.
“Lagi nggak pingin,” sahut Chelsea dengan nada datar dan pandangannya melihat ke samping mobil.
“Udah 5 hari ini kamu jarang makan nasi atau makanan berat lainnya. Masa hanya buah doang, mana bisa kenyang, Sea. Aku lihat badan kamu agak kurusan, kamu lagi program diet ?”
Chelsea hanya diam dan melahap bekal buah-buahan yang dibawanya. Hari ini selain apel, Chelsea juga membawa satu kotak mangga harumanis kesukaannya.
Chelsea ingin tertawa saat mendengar perut Reno berbunyi, memberi isyarat minta diisi, tapi kalau ingat sikap Reno yang mengabaikan ucapannya soal Mike dan Tamara, Chelsea jadi emosi dan memutuskan untuk membatasi diri bicara dengan Reno.
“Sea, kamu nggak kasihan sama aku ?” tanya Reno dengan nada memelas.
“Salah kamu sendiri ngapain ikutan nggak sarapan,” ketus Chelsea.
“Gimana bisa nelen makanan, Papi ngomel terus gara-gara kamu irit bicara dan nuduh aku yang nggak-nggak, bahkan aku diancam suruh tinggal di rumah Papa sementara kamu tetap di rumah Papi. Sejak nikah sama kamu, rasanya berat kalau harus tidur jauh-jauh dari kamu apalagi sampai berhari-hari.”
Chelsea terdiam dengan wajah cuek tetap menatap ke jendela samping dan mengabaikan perut Reno yang kembali berbunyi.
20 menit kemudian mobil Reno sudah masuk di kawasan komplek perumahan yang sebagian areanya masih dalam tahap pembangunan. Keduanya langsung menuju kantor pengelola untuk mengadakan rapat dengan tim lapangan.
Sepanjang pertemuan siang itu, Reno terlihat gelisah karena perutnya mulai terasa perih namun saat melirik istrinya yang duduk persis di seberangnya, Reno langsung mengerutkan dahi.
Beberapa kali Chelsea memijat pelipisnya dan keringat mulai membasahi keningnya padahal mereka rapat di ruangan yang ber-AC. Akhirnya Reno segera mengakhiri rapat siang itu yang sudah berlangsung selama 1 jam 15 menit.
Reno merapikan laptopnya dan bergegas mendekati Chelsea yang sudah beranjak dari kursinya.
“Sea, kamu…”
Mendadak Chelsea hilang kesadaran dan Reno masih sempat menangkap tubuh istrinya sebelum jatuh ke lantai.
“Sea, Sea, bangun Sayang. Sea,” Reno menepuk-nepuk pipi istrinya yang tidak membuka matanya.
“Tolong bawakan tas saya dan Chelsea punya,” perintah Reno pada Karina yang langsung mendekati mereka.
Beberapa orang langsung membantu membukakan pintu dan menemani Reno yang menggendong Chelsea ke mobil.
“Kamu ikut saya !” perintahnya pada Karina.
Karyawan Reno itu mengangguk dan duduk di kursi penumpang belakang sementara Chelsea duduk di kursi depan yang sudah direbahkan. Secepat kilat, Reno langsung membawa mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Wajah Reno yang cemas langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD. Tidak hanya satu, tapi ada 2 dokter yang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok ?”
“Sepertinya istri Bapak bukan sakit biasa.”
Jawaban dokter membuat Reno langsung menyatukan kedua jemarinya saling meremas untuk mengurangi rasa khawatir yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
“Kenalkan ini Dokter Dewa, SPOG. Tadi saya sengaja panggil kemari karena dugaan saya istri anda sedang hamil.”
“Dan saya sudah memastikan kalau istri anda benar-benar sedang hamil. Usia kandungannya 5 minggu,” timpal dokter Dewa dengan senyuman.
“Selamat, Pak.”
Reno yang semula belum menerima penjelasan dokter dengan baik mengerutkan dahi dan sesaat kemudian wajahnya berbinar, ia baru sadar akan berita yang disampaikan oleh dokter Dewa, spesialis kandungan itu.
“Beneran, Dok ?” tanya Reno dengan tatapan tidak percaya namun senyum bahagia tersungging di bibirnya.
“Iya, 5 minggu. Tolong dijaga emosi dan kesehatannya, karena kondisinya masih rentan di trisemester pertama apalagi saya yakin kalau ini merupakan kehamilan pertama. Sebaiknya dirawat dulu dalam 1-2 hari karena saya yakin kalau istri anda sedang susah makan beberapa hari ini.”
Reno hanya mengangguk-angguk dengan wajah bahagia hingga Karina yang berdiri di dekatnya mengingatkan Reno untuk mengurus kamar inap Chelsea supaya istrinya itu bisa segera dipindahkan dari UGD.
***
“Sayang, kamu udah sadar ?” sapaan Reno yang tersenyum langsung menyambutnya saat mata Chelsea terbuka dengan sempurna.
“Aku ada dimana ?”
“Di rumah sakit, tadi kamu pingsan selesai rapat.”
“Aku nggak kenapa-napa, kan ?” wajah Chelsea terlihat khawatir. Diedarkan pandangan ke arah sofa dimana sudah ada kedua orang tua mereka sedang berbincang santai di sana.
“Kamu akan segera jadi mami,” sahut Reno sambil mengusap kepala Chelsea dengan penuh cinta.
“Jangan bercanda, Ren.”
“Beneran, aku nggak bercanda. Kamu nggak lihat kalau sejak tadi susah banget menahan bibirku untuk nggak tersenyum.”
Papi, Mami, Mama dan Papa mendekat ke ranjang Chelsea dengan wajah penuh kebahagiaan.
“Mi, beneran aku udah hamil ?” tanya Chelsea dengan alis menaut.
“Justru harus dipertanyakan kalau kamu nggak hamil-hamil, Sea,” Papi yang menyahut sambil melirik tajam ke arah menantunya.
__ADS_1
Mami Nina menghela nafas sambil memutar bola matanya. Suaminya selalu sigap mengambil kesempatan untuk mengejek menantunya.
“Memangnya kenapa, Gam ?” tanya Mama Siska dengan wajah bingung.
“Nggak tahu kalau anakmu itu kalau malam berubah jadi vampir ? Hampir setiap hari ada aja tanda baru di leher Chelsea. Yang lama belum juga hilang, udah ada lagi yang baru,” gerutu Papi dengan wajah sebal.
“Itu artinya anakku sungguh perkasa, Gam,” sahut Papa dengan wajah bangga dan merangkul bahu Reno.
“Kamu nggak lupa kunci kamar kan, Sea ?” tanya Papa meledek menantunya yang sudah merona menahan malu.
“Kalau soal itu nggak boleh lupa, Pa,” Reno yang menyahut.
“Bisa-bisa satpam bawah main nyelonong masuk aja begitu dengar anaknya teriak. Padahal teriakan enak bukan disiksa,” gantian Reno melirik mertuanya sambil tersenyum meledek.
“Dasar menantu kurang ajar nih, seenaknya bilang mertuamu satpam.”
“Kenapa Papi yang marah, memangnya Papi merasa tersindir ?”
“Eh Rendang, mau Papi kasih larangan masuk kamarnya Sea dan balik ke kamar kamu di seberang ?”
Papa Robert tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Entah kenapa sahabatnya itu menyayangi Reno dengan cara yang tidak biasa. Padahal kalau sudah urusan Chelsea, Papi Agam selalu mencari Reno untuk disuruh ini itu dan terlihat lebih tenang kalau putrinya itu sudah bersama Reno.
Perdebatan keduanya tidak dilanjutkan karena terdengar isak tangis Chelsea yang sudah menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
“Sayang, kamu kenapa ?” Reno langsung mendekat istrinya dan mencoba menarik selimut Chelsea.
Mami Nina mengomeli suaminya tanpa suara dan sempat mencubit pria baya itu sampai meringis namun tidak berani mengoceh.
“Papi tega pisahin cucu papi dari ayahnya ? Memangnya Papi mau Sea nggak bisa tidur semalaman kalau jauh dari Reno ?” omelan Chelsea membuat Papi Agam hanya bisa nyengir kuda.
“Papi kan bercanda, Sea, jangan serius gitu dong. Mana mungkin Papi tega bikin Sea jadi janda kembang di usia muda.”
“Papi !” bentak Mami Nina langsung menjewer kuping suaminya. “Kalau ngomong tuh pakai filter, udah tahu omongan orangtua itu doa. Sembarangan aja kalau ngomong ! Udah lupa gimana stressnya papi saat Chelsea patah hati ?”
“Bercanda, Sayang, bercanda,” ujar Papi sambil berusaha melepaskan tangan Mami yang masih menjewernya.
“Mau Mami bikin jadi macan buntung ?” ancam Mami dengan tatapan galaknya.
Reno tertawa namun berusaha menahan agar jangan sampai tergelak saat melihat Papi hanya nyengir kuda sambil menggeleng. Rupanya ide menciptakan gajah buntung itu datangnya dari mami dan Papi juga terancam jadi macan buntung kalau berani macam-macam dengan mami.
“Udah tua nggak apa-apa juga dibuat jadi macan buntung, Mi jadi nggak bisa macam-macam di luar, ” ledek Reno yang langsung mendapat pelototan dari Papi.
Hampir saja Papi menyemburkan omelan pada menantu kurang asem namun ditundanya saat melihat Chelsea yang sudah duduk di atas ranjang, mulai tersenyum dan perlahan tertawa sambil merangkul lengan Reno dan menyandarkan kepala di bahu suaminya itu.
Papi ikut tersenyum, rasanya begitu cepat waktu berlalu. Bukan hanya sudah menjadi istri, sebentar lagi putri kecilnya akan menjadi seorang ibu.
Papi Agam membuang pandangan ke samping, tidak ingin ada yang melihat matanya mulai berkaca-kaca. Nina yang ada di samping suaminya langsung merangkul lengan Agam, mencoba menenangkan suaminya yang masih berat melepas putri kesayangannya itu.
__ADS_1