Takdir Untukku

Takdir Untukku
Dari Hati ke Hati


__ADS_3

“Jangan bilang elo putus sama Tamara,” ujar Dio saat keduanya sedang meninjau proyek pembangunan apartemen.


“Putus darimana ? Jadian juga belum, baru coba dekat aja,” sahut Reno.


“Terus ?”


“Dua hari lalu Chelsea datang ke rumah ketemu Kak Revan, nggak tahu membahas soal apa. Gue sama Tamara baru aja sampai di rumah habis jemput Mama belanja di supermarket dan nggak sengaja ketemu. Elo tahu lah gimana keponya Mama kalau anak kesayangannya lagi ada di rumah.


Sea udah kabur aja pas Mama mandi, eh nggak tahu gimana tahu-tahu balik lagi dan ikut makan malam sama cowok tua itu.”


“Bastian maksud elo ?”


“Memangnya ada yang lain ?” omel Reno dan Dio langsung tergelak


“Cemburu nih ?” ledek Dio


“Masih perlu nanya ?” cebik Reno. “Tamara aja langsung mundur, dia bilang susah selama gue belum bisa move on dari Chelsea.”


“Ya iyalah, gue juga akan ambil sikap yang sama kalau ada di posisi Tamara. Buang-buang waktu aja nungguin cowok melow yang berkubang dalam penyesalannya.”


Reno menghela nafas dalam-dalam dan mulai masuk ke bangunan apartemen yang sudah berdiri sampai lantai 5.


“Ren, udah pernah bicara dari hati ke hati sama Chelsea ? Nggak cuma sekedar bicara asal doang. Pernah nanya kenapa Chelsea mau sama Kak Revan padahal tahu kalau dia itu kakak kandung elo ?”


“Belum.”


“Cobalah ajak Chelsea bicara dari hati ke hati selagi dia belum resmi menjadi istri Bastian. Kalau perlu elo bahas masalah sandiwara elo sama Sherly lebih detil, tanya gimana kondisi Chelsea selama di Amerika dan semua hal yang mau elo tanyakan sama dia.


Setidaknya semuanya lebih jelas sebelum kalian benar-benar menempuh hidup dengan orang lain.”


Reno terdiam sambil memeriksa beberapa bagian struktur bangunan di lantai 3. Sepertinya ide Dio harus dipertimbangkan.


“Apa Chelsea mau ?” gumam Reno.


“Segala sesuatu perlu dicoba, lebih baik elo ditolak setelah bertanya daripada menebak-nebak bikin pusing kepala karena nggak pernah bisa ketemu jawaban.”


Reno mengangguk-angguk dan mengeluarkan handphone, langsung mengirimkan pesan pada Chelsea.


*****


“Iya, habis ini aku langsung pulang, Sayang. Ada sopir yang nunggu, nggak bakal diantar Reno,” Chelsea meyakinkan Bastian yang menghubunginya saat menunggu Reno di cafe.


Setelah membahas dengan Bastian, akhirnya Chelsea menerima ajakan Reno untuk bertemu berdua sementara Bastian sedang tugas ke luar negeri.

__ADS_1


“Selesaikan masalah kalian berdua sampai tuntas, aku nggak mau setelah kita menikah Reno datang menemui kamu dan curhat soal penyesalan dia yang nggak ada habisnya,” nasehat Bastian dua hari yang lalu saat Chelsea mengantarnya ke bandara.


Sore ini Chelsea sudah lebih dulu sampai di cafe yang disepakati dengan Reno. Ia langsung memberi kabar Bastian yang memberikan banyak pesan pada Chelsea.


“I love you too, Bas,” balas Chelsea mengakhiri panggilan teleponnya.


“Maaf aku terlambat,” ujar Reno dengan suara sedikit terengah.


“Nggak apa-apa, aku juga belum lama sampai ,” sahut Chelsea sambil tersenyum tipis.


Reno langsung memesan makanan dan minuman saat pelayan membawakan buku menu.


Chelsea hampir tidak bisa menahan diri untuk bertanya kenapa baju Reno basah dan sedikit kotor di beberapa bagian. Setahu Chelsea, Reno selalu membawa baju ganti di mobilnya.


Namun tanpa sadar Chelsea langsung mengambil 2 lembar tisu untuk Reno.


“Hapus dulu keringatmu biar nggak masuk angin,” ujar Chelsea sambil menyodorkan tisu.


Meski suara dan wajah Chelsea terlihat datar, bagi Reno seperti tetesan air hujan di tengah musim kemarau panjang.


“Terima kasih,” ujar Reno tersenyum tulus. Chelsea hanya tersenyum tipis sebagai jawaban.


“Apa yang mau kamu bicarakan ?”


“Kita ?” Chelsea mengerutkan dahinya. “Ada masalah apalagi ? “


“Apa kamu beneran akan menikah dengan si tua… hmmm maksudku Bastian dalam waktu dekat ini ?”


“Ya, aku sudah menerima lamaran Bastian, tinggal menunggu keluarga kami resmi bertemu.”


“Sea…aku…”


Chelsea sengaja diam dan menunggu Reno bicara kembali. Pria yang pernah sangat dicintainya itu tampak gelisah dan kehilangan nafsu makan saat pesanannya diantar pelayan.


“Makanlah dulu supaya pikiranmu lebih tenang kalau sudah kenyang.”


“Boleh aku tanya soal perasaanmu padaku saat memutuskan untuk pergi ke Amerika, Sea ? Bagaimana sampai akhirnya kamu memutuskan untuk menerima Kak Revan ? Aku tahu kalau hatimu pasti sakit, tapi bolehkah aku mendengarnya langsung dari kamu ?”


“Jadi aku kayak mendongeng sementara kamu makan ?” ledek Chelsea sambil tersenyum.


”Jangan membuat hatiku tambah cinta padamu, Sea,” sahut Reno sambil tertawa pelan. Chelsea ikut tertawa pelan.


“Buat apa kamu mendengarkan bagaimana perasaanku saat itu Reno ? Nanti malah menciptakan penyesalan baru yang tidak bisa dirubah lagi. Aku sudah memastikan hatiku, Reno. Kamu adalah pria yang menjadi cinta pertamaku tapi Bastian akan menjadi pelabuhan terakhirku.”

__ADS_1


“Aku akan lebih menyesal kalau hanya berandai-andai, Sea. Setidaknya aku mendengar semuanya langsung dari mulutmu.”


Chelsea tersenyum getir dan meneguk minumannya.


“Itulah yang aku rasakan saat aku ada di sana Reno, bertahun-tahun aku mengharapkan kamu datang dan bicara langsung padaku, tapi yang datang berulang kali malah Kak Revan,” Chelsea tertawa pelan namun ada kepahitan dalam suaranya.


“Papa dan Om Agam tidak mengijinkan aku untuk menemuimu, Sea. Aku sempat menemui Om Agam di tahun kedua kamu pergi, tapi tetap tidak diberi ijin untuk menemuimu,” nada Reno terdengar mulai emosi.


“Kamu pasti tahu bagaimana dalamnya cintaku padamu sebelum bertemu dengan Bastian, Reno. Aku mengharapkan dengan cara apapun kamu akan menemuiku bahkan saat kamu berdiri di depanku dan aku menolakmu, kamu tetap menunggu di tempatmu sampai hatiku luluh. Kamu tidak pernah memaksa dan memohon pada Nia untuk memberikan nomor teleponku. Aku ingat kamu pernah sekali ikut video call diam-diam tanpa sepengetahuan Nia dan sudah sering Dio bercerita tentang kondisimu yang diliputi penyesalan. Tapi itu semua hanya kata orang, Reno, aku tidak mendengar langsung dari mulutmu yang berlari mengejarku.”


Chelsea tersenyum getir dan meneguk kembali minumannya. Ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha menahan emosi yang berujung air mata saat membahas masa lalu dengan Reno.


“Selama di sana aku terus berharap kamu yang datang menemuiku, Reno, tapi selalu saja Kak Revan yang datang. Kalau akhirnya aku menerima Kak Revan karena aku mulai merasa kalau Kak Revan serius dan tulus, namun sayang ternyata Kak Revan sebelas duabelas sama kamu, malah lebih parah karena statusnya sudah beristri dan memiliki anak,” ujar Chelsea sambil terkekeh.


“Sea, aku selalu merindukanmu dan hidup dalam penyesalan setiap hari sejak kamu pergi. Aku hanya fokus dengan pekerjaan dan ingin menjadi pria yang lebih baik saat bertemu denganmu kembali. Aku berharap dengan batalnya pernikahanmu dengan Kak Revan, aku mendapat kesempatan untuk mendekatimu lagi, lalu tiba-tiba Bastian datang dan kamu langsung jatuh cinta padanya.”


“Reno, aku berterima kasih atas bantuanmu yang membuka masalah Kak Revan dengan Dita. Satu hal yang membuat hatiku maju mundur karena kamu tidak memberikan kepastian untukku, hanya kata-kata sindiran. Kamu kurang gigih dan tegas menyatakan perasaanmu padaku, Reno. Itu yang membuat aku jadi bimbang apalagi trauma akan kejadian di hotel membuat aku tidak mau menduga-duga lagi.”


“Sea, maaf atas semua sikapku padamu dan tolong beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya. Aku memang bilang tidak ingin memaksamu menerima cintaku lagi tapi hati kecilku ternyata tidak bisa menyangkal kalau aku sangat-sangat mencintaimu.”


“Reno, tolong jangan paksa aku lagi. Aku benar-benar mencintai Bastian dan dia pun sangat mencintai aku. Sudah aku katakan berkali-kali kalau Bastian adalah lelaki yang bisa membuatku merasakan cinta yang hilang 4.5 tahun yang lalu. Kalau kamu benar mencintai aku, lepaskan aku dan biarkan aku bahagia dengan pilihanku saat ini.”


“Sea…”


“Kamu hanya ingin mendengar ceritaku, Reno, bukan untuk membuat semuanya kembali ke awal lagi. Tolong lepaskan aku. Tamara gadis yang baik dan tulus, cobalah kamu membuka hati untuknya. Dia sama seperti aku, setia menunggu cintamu, menantikan kamu membuka hati untuknya, jadi aku yakin kalau cintanya sangat dalam padamu.”


Reno terdiam karena tidak ingin berdebat soal Tamara dan tidak bisa memaksa Chelsea untuk menerima kembali cintanya.


“Ada lagi yang ingin kamu bicarakan padaku ? Aku berjanji pada Bastian untuk tidak berlama-lama denganmu.”


Reno masih terdiam dan tidak ingin melanjutkan pembicaraan dengan Chelsea.


“Habiskan makananmu, aku akan menemanimu sampai selesai.”


Reflek Reno langsung mendongak dan menatap Chelsea yang buru-buru menggoyangkan kedua telapak tangannya.


“Jangan salah sangka, aku hanya tidak mau kamu sakit dan menemanimu hanya sebagai teman kecilmu, tidak lebih.”


“Kalau begitu suapi aku sebagai teman kecil,” ujar Reno dengan wajah datar.


“What ?” mata Chelsea membola dan ia menggerutu tidak jelas lalu mengambil gelas minumannya dan meneguknya sampai tandas.


“Mau aku temani atau aku pulang sekarang ?” tanya Chelsea dengan mata melotot.

__ADS_1


Reno tersenyum tipis dan mendekati piring makannya lalu mulai menyuap kembali nasi dan lauk pesanannya. Meski terasa getir, minimal masih bisa memandangi wajah Chelsea dari dekat.


__ADS_2